Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.
Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.
Apakah pesan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalikan
Farhan terjatuh ke lantai setelah menerima pukulan keras dari Fadel.
"Rin ... Arini." Fadel segera merapikan rambut Arini yang menutupi wajahnya.
"Satpam pada ke mana sih?" Fadel berteriak marah. Dengan hati-hati, Fadel memapah Arini untuk duduk di atas kursi.
"Pahlawan kesiangan sudah datang rupanya."
"Dasar banci!" Fadel mendorong tubuh Farhan.
"Lo keluar atau gue hajar lagi. Pergi sekarang juga!"
"Lo pikir Lo di mana? Ini rumah gue dan keluarga gue! Sadar gak Lo?"
"Jika tidak keluar secepatnya, polisi akan segera datang buat bawa Lo ke penjara. Keluar atau gue panggil polisi," ancam Fadel sambil mencengkeram kerah baju Farhan. Pria itu tertawa sinis lalu menepis tangan Fadel.
"Heh!" Farhan memanggil Arini. Melihat sikap Farhan, Fadel semakin emosi.
"Balikin mobil, dan juga uang rumah ini. Inget itu!" Farhan berteriak sambil menunjuk-nunjuk Arini.
"Dasar pengecut! Lo bahkan meminta kembali barang yang udah Lo kasih? Gua bayar semuanya! Kalau perlu, Lo ambil rumah dan semua isi rumah ini. Gue bisa kasih lebih buat Arini dan Lean."
"Cari muka Lo!"
"Stop!" Arini berteriak saat Fadel hendak memukul Farhan lagi.
"Sudah, cukup. Hentikan semua ini, tolong. Farhan, aku akan kembalikan semua barang yang kamu berikan. Tabungan Lean, mobil, dan separuh uang kamu yang kamu berikan untuk membeli rumah ini. Sekarang, pergilah."
"Aku beri waktu kamu tiga hari."
"Besok gua balikin anj*ng!'
"Fadel ... udah." Arini menarik tangan Fadel yang bersiap menghantam Farhan. Amarah Fadel memuncak melihat kelakuan Farhan.
Nafas Fadel ngos-ngosan menahan amarah yang sudah seperti lahar gunung merapi yang siap meletus.
Setelah Farhan benar-benar pergi, barulah Fadel bisa meredakan emosi dan langsung memperhatikan Arini.
"Mama yang sakit? Coba mana aku lihat," tanya Fadel dengan suara gemetar. Dia menyibakkan rambut Arini agar wajah wanita itu terlihat jelas.
"Aku baik-baik saja, Fad."
Fadel menarik tubuh Arini ke dalam pelukannya. Mengusap kepala Arini dengan perasaan cemas dan takut.
"Aku benar-benar takut saat Mba menelpon."
Arini kembali menangis di dalam pelukan Fadel. Berbagi perasaan bercampur aduk di dalam hatinya.
"Mama!"
Fadel melepaskan pelukannya saat Lean datang.
"Lean." Arini duduk di lantai untuk menyambut buah hatinya. Mereka saling memeluk degan deraian air mata.
"Mama baik-baik aja? Mana yang sakit? Coba sini aku lihat," tanya Lean sambil memindai seluruh wajah Arini.
Arini menoleh pada Fadel, dan Fadel pun tertawa. Laki-laki itupun ikut duduk bersama mereka.
"Sehati itu tidak perlu memiliki darah yang sama bukan?" gumamnya. Arini melirik, sementara Lean masih sibuk melihat wajah Arini. Memastikan kondisi ibunya.
Demi berjaga-jaga, Fadel menyewa bodyguard yang sudah dia percaya, agar tidak bisa lagi disuap oleh Farhan seperti yang dia lakukan pada satpam rumah Arini.
Fadel pun mengajukan cuti selama empat hari ke rumah sakit agar Arini bisa istirahat. Sementara itu, setiap pagi Fadel datang untuk menjemput Lean, dan mengantar Lean pulang dengan aman dan selamat.
"Waaah, masak apa hari ini?" tanya Fadel saat mengantar Lean pulang sekolah. Dia selalu makan siang di rumah Arini bersama Arini dan anaknya.
"Jangan, Om. Itu punyaku."
"Eh, kata siapa? Ini punya Om lah!"
Lean dan Fadel selalu saja berebut makanan saat makan. Mereka akan membuat keributan di atas meja makan. Rengekan Lean seolah menjadi permainan yang seru buat Fadel. Laki-laki itu senang melihat bocah tampan itu yang hampir menangis.
"Ck, Fad. Kamu tuh ya. Mbok ya ngalah sama anak kecil."
"Mama ...." Lean akan mengadu dan meminta bantuan pada ibunya jika Fadel tidak mau mengalah.
Keceriaan yang membuat rumah menjadi kembali hangat dan ceria.
Setelah memastikan Lean tidur siang, Fadel baru akan pergi dari rumah Arini.
"Besok mobil baru kamu akan datang. Jadi kamu tidak perlu cemas lagi mikirin kendaraan buat kerja. Jam berapa kemarin mobil butut itu dibalikin? Kenapa gak bakar dulu, sih!"
"Sssst, udah. Jangan emosi terus ah. Cepet tua nanti."
"Ada ya laki-laki pengecut seperti dia di dunia ini?"
"Ada. Nahasnya dia adalah ayah dari anakku. Miris!"
"Terus, uang buat balikin pembelian rumah ini gimana? Astagaaaa, aku bahkan merasa geli membahas ini. Masa iya, beli rumah patungan. Udah gitu ngasihnya cuma sepertiga dari harga, lah dia minta balik."
"Kamu tuh, ya. Udah jangan marah terus." Arini mencubit pipi Fadel gemas.
"Ajaib itu orang. Makhluk langka tau."
"Lestarikan sana."
"Udah. Istrinya lestari kan?"
"Eeeh, ya gak gitu juga kali. Eh, tapi kok bisa pas, ya." Arini tertawa lepas.
Melihat Arini tertawa lepas sampai air mata keluar dari sudut matanya, membuat Fadel sedikit lega dan bahagia. Dia tersenyum melihat Arini tertawa.
Aku akan membuat kamu tertawa seperti ini setiap hari. Aku akan memastikan tidak ada lagi air mata setelah hari itu. Aku janji, Rin.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
lestari alamku lestari desaku....