Ziel Alexander, pewaris satu-satunya Keluarga Alexander, terpaksa menikah dengan seorang wanita akibat perjodohan yang disiapkan oleh sang kakek, Romano Alexander.
Athena Beatrice Greene, wanita cantik yang dijodohkan dengan Ziel. Ia menerima perjodohan itu untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Pertemuan pertama antara Ziel dan Athena, membuat Athena tak ragu menerima perjodohan itu juga. Namun, ia tak menyangka sikap dan sifat Ziel langsung berubah setelah pernikahan mereka.
Penderitaan bertubi-tubi mulai dirasakan oleh Athena. Namun rasa yang telah timbul membuat ia menerima semuanya. Hingga suatu ketika ia menemukan dan mengetahui sesuatu yang membuatnya jatuh dan sakit tak terkira.
Ia pun bertekad untuk membuat Ziel menyesal dan merasakan sakit seperti yang ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
“Kamu tetap istriku, sampai aku sendiri yang menceraikanmu!!”
Athena bisa melihat dengan jelas wajah Ziel yang penuh dengan kemarahan. Namun ia tetap menatap mata Ziel, tanpa rasa takut. Bagi Athena, pria di hadapannya bukanlah siapa-siapa lagi.
Semua yang dilakukan pria itu sudah membuat Athena jatuh ke dasar jurang. Apapun yang pria itu perbuat, baginya tak akan sesakit saat ia mengetahui bahwa ia akan sulit memiliki anak, ia tak bisa menjadi seorang Mom. Dan itu semua dilakukan oleh pria yang dulu adalah suaminya.
Athena tersenyum dan memandang Ziel dengan mengejek, “Apa anda merasa malu karena diceraikan? Kalau begitu anda tinggal mengubah surat tersebut jadi anda yang mengajukan cerai. Bukankah itu hal yang mudah bagi seorang Ziel Alexander? Anda saja bisa mengubah takdir seorang wanita, hingga tak bisa memiliki anak.”
Mendengar perkataan Athena, Ziel terdiam sesaat. Ia memang tak menyangka bahwa pil penunda kehamilan miliknya bisa menyebabkan Athena mengalami gangguan seperti itu.
Athena mendorong tubuh Ziel dan berpindah duduk ke sofa. Ia mengeluarkan beberapa contoh produk kosmetik milik NatKing Beauty.
“An, maafkan aku. Aku tak pernah menyangka bahwa pil itu bisa berakibat fatal padamu. Aku …”
“Maaf, Tuan Alexander. Kedatangan saya ke sini hanya untuk menjelaskan produk-produk ini. Sebaiknya kita tidak membahas masalah pribadi yang tak ada sangkut pautnya dengan kerja sama kita,” kata Athena sebelum Ziel melanjutkan perkataannya.
Ziel membuang nafasnya kasar. Ia tak suka Athena menceraikannya, tapi ia juga menyesal saat mengetahui bahwa akibat perbuatannya, Athena tak bisa mengandung.
“Silakan jelaskan,” kata Ziel pada akhirnya.
Ziel tak mendengar apapun yang dijelaskan oleh Athena. Ia hanya terus memandangi wanita itu. Hingga ketika Athena selesai menjelaskan, ia melihat ke arah Ziel yang ternyata sedang menatapnya.
“Sepertinya anda tak mendengarkan penjelasan saya, Tuan Alexander. Kalau begitu saya akan meninggalkan semua produk dan detail masing-masing produk di sini. Siapa tahu anda ingin mempelajarinya lebih lanjut,” kata Athena. Ia merapikan semua contoh produk di atas meja, kemudian mengambil tas miliknya.
“Saya permisi dulu, Tuan Alexander,” Athena bangkit dan berjalan ke arah pintu. Namun tangannya ditahan oleh Ziel.
“Tetap duduk di sana. Kamu tidak akan ke mana-mana.”
“Tuan Alexander,”
“Atau kamu mau aku mengatakan pada Natalie bahwa pegawainya tidak kompeten? Dalam sekali jentikan jari, aku bisa menghancurkan perusahaan itu dan aku tidak pernah main-main,” kata Ziel.
“Anda mengancamku, Tuan Alexander?” Athena mulai sedikit meninggikam suaranya.
“Kalau menurutmu itu ancaman dan bisa membuatmu tetap berada di sini, maka anggaplah seperti itu.”
Athena mulai merasa kesal dengan sikap Ziel yang tak profesional. Akhirnya Athena duduk kembali di sofa. Ia bukan tak punya pendirian, tapi ia tak ingin Nona Natalie mendapat masalah karena dirinya. Ia tak ingin masalah antara dirinya dengan Ziel membuat orang lain terkena getahnya.
“Maaf, Tuan Alexander. Apa sekarang saya perlu menjelaskan ulang semuanya?” tanya Athena.
“Tidak perlu. Aku hanya perlu kamu duduk diam di sana, sementara aku bekerja,” jawab Ziel.
Athena mencebik kesal. Ia hanya akan dijadikan layaknya sebuah patung di dalam ruangan.
Menyebalkan! - gerutu Athena dalam hati.
“Jangan mengumpatku,” kata Ziel.
Bahkan dia tahu apa yang kupikirkan. Dasar pria gila! - batin Athena.
“Aku memang gila dan ini semua akibat perbuatanmu.”
Athena diam. dia tak ingin memikirkan apapun lagi. Ia tak mau Ziel sampai membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Ia pun mengambil ponsel dan memeriksa kerja divisinya, karena ia harus meninggalkan mereka pagi ini.
**
“Cepat makan!” Perintah Ziel saat mereka sudah duduk dengan banyak makanan di atas meja.
“Aku tidak lapar. Aku harus segera kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaanku,” kata Athena.
“Makan atau aku akan melaporkan sikapmu yang tidak menghargaiku.”
Athena kembali menghela nafas panjang. Sejak pagi hingga sekarang, raaanya tak terhitung sudah berapa kali ia menghela nafas kesal. Ziel benar-benar aneh bagi Athena.
“Tapi berjanjilah kalau aku bisa pulang setelah makan siang ini.”
“Aku tak akan pernah menjanjikan apapun padamu. Jadi cepatlah makan … atau aku perlu menyuapimu?” tanya Ziel.
Pada akhirnya Athena menyantap makanan tersebut. Perutnya memang merasa lapar sejak tadi, namun ia menahannya dengan minum air mineral yang ia bawa. Athena tidak tahu bahwa Ziel memperhatikannya sejak pagi, yang kadang mengusap perutnya.
**
“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Ziel. Ia ingin mengetahui di mana Athena tinggal karena selama ini agak sulit menemukannya.
“Saya membawa mobil sendiri, Tuan Alexander. Anda tidak perlu repor-repot mengantarkan saya. Terima kasih.”
“Ikut denganku. Biar mobilmu dibawa oleh Evan,” tatapan Ziel menyiratkan bahwa tak boleh ada bantahan.
Akhirnya Athena naik ke dalam mobil Ziel, sementara Evan mengendarai mobil miliknya dan mengikuti mereka dari belakang. Athena menyebutkan nama sebuah apartemen.
Ouuu jadi selama ini kamu tinggal di sana. Aku tak pernah menyangka kamu bisa mempunyai apartemen mewah di sana. Apa ia telah mengambil uang Keluarga Alexander sedikit demi sedikit? - batin Ziel.
“Terima kasih, Tuan Alexander. Maaf merepotkan anda,” kata Athena sebelum turun dari mobil. Athena membuka seatbelt-nya kemudian membuka pintu dan turun.
Namun seketika mata Ziel memicing ketika melihat seorang pria yang tengah menunggu Athena. Athena pun langsung tersenyum melihatnya dan memeluknya. Hati Ziel terasa panas dan tangannya mengepal kemudian memukul kemudi.
Pria itu memeluk dan mengusap bahu, kemudian mengecup pucuk kepala Athena.
“Bas, kamu menungguku di sini?”
“Ya, saat kamu mengirim pesan bahwa Ziel menahanmu di perusahaannya dan memaksamu pulang bersamanya, aku tak tenang. Jadi langsung ke sini untuk memastikan dia benar-benar mengantarmu,” jawab Bastian.
“Aku baik-baik saja, hanya aku tak nyaman berada di dekatnya.”
“Kalau begitu, ayo kita masuk,” ajak Bastian.
Bastian kembali merangkul Athena dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Sedari tadi Bastian tahu bahwa Ziel masih berada di sana dan memperhatikan mereka. Oleh karena itu, ia bersikap sedikit mesra pada Athena, agar Ziel tahu bahwa pria tak hanya dirinya saja dan membiarkannya merasa hebat.
🌹🌹🌹
👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍