NovelToon NovelToon
Dokter Cantik, Pelakor

Dokter Cantik, Pelakor

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Cintapertama / Dokter / Tamat
Popularitas:821.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Di desak oleh jantung ibunya yang harus segera di operasi, seorang calon dokter bernama Adinda Sofiana rela membuat kesepakatan dengan pria asing meski harga dirinya di pertaruhkan.

Pria asing itu meminta Dinda menjadi pihak ke tiga dalam hubungan putrinya dengan Adam, kekasih putrinya. Tak ada pilihan lain, akhirnya ia menyetujui kesepakatan itu dengan imbalan dua ratus juta.

Sejak saat itu Adinda mendekati Adam dengan berbagai cara hingga membohongi orang tua Adam untuk menghancurkan hubungan Adam.

Akibatnya kebencian Adam jatuh padanya dan balas dendam dalam bentuk pernikahan pun terjadi.

Bagaimana nasib Adinda yang sudah mencintai Adam? Apa yang terjadi ketika cinta mulai bersemi tetapi kesepakatan itu justru terungkap? Dan akankah Adam mempercayai cinta Adinda?


Tak ada yang menjamin, kalau menjaga hati itu mudah. Tapi tak sulit jika kita memiliki pendirian yang kuat. (Adinda)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setuju untuk menikah

Entah sudah berapa kali Dinda melirik jam yang tergantung di dinding. Merasa hari ini waktu berjalan begitu lambat ,dia ingin jam kerjanya segera berakhir dan bisa pulang untuk mengistirahatkan badan yang sudah terlampau letih. Tapi sebelum pulang, dia harus menemui Adam terlebih dahulu.

Selagi menunggu jam kerja yang hanya tersisa tak kurang dari satu jam, Adinda menyibukkan diri dengan memeriksa rekam medis para pasiennya.

Hingga jam kerja berakhir, wanita itu segera bersiap dan mengemasi barang-barangnya.

Baru saja bangkit dari duduknya, terdengar notif chat masuk ke ponselnya.

Mas Adam : "Sudah pulang?"   (16:02) Wib.

Dinda menatap layar ponsel selama beberapa saat. Ada keraguan saat akan membalas pesannya.

Mas Adam : "Aku di depan, di tempat parkir"  (16:03) Wib.

Mata Dinda mengerjap tak percaya membaca pesan kedua dari Adam. Setelah memastikan dengan membaca kembali pesan darinya, Dinda akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas kemudian beranjak dari ruangannya dan melangkah menuju tempat parkir di mana Adam telah menunggu.

Adam berdiri bersandar di samping pintu penumpang bagian depan. Ketika melihat Dinda tengah berjalan menghampirinya, pria itu langsung mematikan rokok yang sempat di isapnya.

Langkah Dinda kian dekat, sementara sorot mata Adam terus terarah padanya.

"Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan, mas" kata Dinda saat sudah berdiri di hadapannya.

"Assalamu'alaikum" Alih-alih menjawab pertanyannya, Adam justru membalas dengan ucapan salam sambil membuang puntung rokok lalu menginjaknya.

"Wa'alaikumsalam" Sahut Dinda tak berani menatap Adam. Pandangannya jatuh pada kancing kemeja bagian dada.

"Kita bicara di taman"

"Kita duduk di sana!" balas Dinda cepat dan langsung melangkahkan kaki menuju area taman. Jantungnya berdebar selagi melangkah, perasaannya juga mulai gelisah. Sempat ragu sejenak, akhirnya Dinda duduk di bangku yang beberapa saat lalu ia tunjuk.

"Apa aku sudah setuju duduk di sini?" tanya Adam yang sudah berdiri di depan Dinda.

"Memangnya kenapa?" wanita itu mendongak menatap Adam. "Aku ingin duduk di sini, apa itu masalah?" 

"Pindah kesana!" Adam menunjuk dua bangku kecil dengan dagunya. "Aku lebih suka duduk berhadapan dengan lawan bicara"

Mendengar ucapannya, Dinda menelan ludah dengan susah payah. Wanita itu tak sempat menolak sebab Adam sudah lebih dulu jalan menuju bangku pilihannya. Mau tak mau Dinda pun mengekor dan duduk menghadap Adam yang sudah terlihat nyaman di posisinya.

"Apa yang mau di bicarakan?" Tanya Dinda sembari menguatkan mental.

"Bukannya kamu sudah tahu apa yang akan kita bicarakan?"

"Bukannya sudah ku bilang, itu tidak perlu?"

Kemudian hening. Mereka sama-sama diam dengan kondisi batin yang mungkin berlawanan. Dinda yang di selimuti was-was karena sudah menjebak Adam, sementara Adam yang tampak santai dan berniat menikahinya.

Beberapa menit Berlalu, Dinda yang duduk dengan gelisah di buat makin resah karena fokus Adam tak teralihkan menatap dirinya.

"Sepertinya kamu ini adalah wanita yang keras kepala dan susah di ajak diskusi" Kata Adam akhirnya.

Dinda merasa kalau saat ini tengah di hakimi melalui sorot mata Adam.

"Katakan apa yang ingin mas diskusikan denganku"

Tak langsung menjawab, Adam tampak menilai atau mungkin menyusun kata-kata yang pas untuk mengawali diskusi mereka.

"Aku akan membawamu ke hadapan orang tuaku dan memperkenalkanmu sebagai calon istriku"

"Sepertinya itu nggak perlu mas"

"Sudah ku bilang kan, kalau keputusanku sudah bulat"

"Kalau keputusan mas menikahiku untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan, lebih baik urungkan niat mas" Jantung Dinda rasanya berdetak lebih cepat saat mengatakan itu. "Aku punya trik agar hubungan kita tidak menghasilkan anak, jadi mas tidak perlu bertanggung jawab"

Adam terdiam sambil lekat menatap wanita di depannya.

"Lagi pula, ini bukan hanya kesalahan mas, ini kesalahanku juga, jadi aku yang akan menanggung resikonya sendiri"

Adam masih bertahan menatap Dinda tanpa suara, dan jujur saja kondisi ini membuat Dinda mulai geregetan sebab pria yang tadi mengajak diskusi justru hanya diam ambigu.

"Pembicaraan kita selesai, Permi_"

"Duduk" potong Adam cepat ketika melihat Dinda bangkit. "Kita belum selesai bicara"

Menarik napas panjang, Dinda pun mengalah dan akhirnya kembali duduk.

Ada jeda sekitar lima detik sebelum kemudian Adam bersuara. "Kenapa kamu bilang seperti itu?"

"Karena aku nggak mau menikah dengan pria yang masih mencintai kekasihnya. Jadi lebih baik, kita lupakan semuanya anggap saja kita tidak pernah saling kenal, akan ku pastikan kalau aku tidak hamil"

"Aku tahu kamu seorang dokter, mudah bagimu membuat hubungan itu tidak menyebabkan hamil. Tapi hamil nggak hamil, aku akan tetap menikahimu"

"Berapa kali harus ku bilang, jangan karena kita sudah melakukan itu, lantas membuat mas terpaksa menikahiku dengan dalih bertanggung jawab. Aku tahu persis seberapa besar cinta mas ke Prilya"

Adam sempat terlihat kaget setelah mendengar ucapan Dinda, tetapi dalam hitungan detik, wajahnya kembali normal.

"Kamu bilang begitu seolah-olah kamu sangat tahu perasaanku seperti apa"

"Memang faktanya seperti itu" lirih Dinda, sangat lirih seraya menunduk. Namun masih bisa di tangkap oleh telinga Adam. Secara reflek, pria berusia dua puluh delapan tahun itu langsung mengangkat satu alisnya.

"Maksudku, maaf karena aku sudah merusak rencana mas untuk melamar Prilly"

"Aku sarankan kamu jangan terlalu banyak protes"

"Protes?" pungkas Dinda cepat sambil kembali mengangkat kepala. "Ini bukan protes, aku cuma nggak mau menikah kalau pada akhirnya bercerai dengan alasan hubungan rumah tangga yang datar karena pernikahan yang di dasari atas pertanggungjawaban saja"

"Jadi secara tersirat, kamu menilaiku sebagai pria yang suka mempermainkan hubungan, hubungan yang sakral, begitu?"

"B-bukan begitu mas?"

"Lantas apa?"

Dinda diam dengan sedikit agak tegang, sepasang netranya tertuju pada dagu Adam sebab ia sama sekali tak berani menatap pria di depannya.

"Kamu ngobrol sama siapa? Aku akan senang jika lawan bicaraku berbicara sambil menatap mataku"

Wanita itu langsung paham kalau Adam sedang menyindirnya yang tak menatapnya ketika bicara. "Tidak ada alasan untuk tidak menatapku, dokter Dinda. Sekarang tatap aku"

Menelan ludah, butuh hingga lima detik untuk Dinda mengarahkan atensinya ke wajah Adam.

"Menikahlah denganku Din!" Pinta Adam ketika pandangan mereka saling bersirobok. "Aku janji akan melupakan Prilly, dan kita akan mulai hidup baru" lanjut Adam dengan nada menegaskan. "Aku sadar, aku dan Prilly memang tidak bisa bersatu. Selain status sosial yang sangat berbeda, dia harus memenuhi wasiat ibunya untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya"

Dinda hanya diam sambil lekat menatapnya.

"Aku memang menikahimu sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatan yang sudah ku lakukan padamu, tapi setelah kita menikah, kita pasti akan saling mencintai, kita akan saling membutuhkan satu sama lain, karena di dalam pernikahan hanya ada aku dan kamu" 

Wanita itu sadar kalau manik hitamnya saat ini tengah bergerak gelisah.

"Akan aku pikirkan" Rahang Adinda sempat terkatup rapat, menahan sesuatu yang tiba-tiba menyerbu. "Akan ku kabari lagi nanti"

"Apa lagi yang harus kamu pikirkan?"

Tadinya Dinda ingin menjawab pertanyaannya, tetapi melihat Adam menatapnya begitu dalam, sepertinya memang ada kesungguhan lewat pancaran matanya yang begitu sungguh-sungguh ingin menikahinya.

"Kita menikah, Din!"

Satu detik, dua detik...

"Baiklah" Akhirnya, Dinda menurut dan setuju dengan rencana Adam.

Bersambung...

Sampai di sini gimana???

Ada feelnya??

Dinda atau Prilly yang akhirnya menikah dengan Adam???

1
N Wage
Luar biasa
N Wage
lah ngapa gak langsung di sergap saja mereka berdua dam?ini malah kabur...kan lebih bagus lebih kuat alasanmu utk meninggalkan prily.

ini si prilly katanya cinta mati ma si adam kok bisa2nya bobok duluan ma z8dan?di awal mungkin saking kecewanya sm adam dan berniat m3mbalas perbuatan adam dan dinda.
yaaaahhhm...
Angga Gati
bagus ceritanya
Danny Muliawati
hmmmm kpn beres nya ini
Danny Muliawati
kacau yah ....
Danny Muliawati
sgl cara di lakukan Prilly. .... 😆😆
Danny Muliawati
Dinda mah msh di di segel di PK Adam ....
Danny Muliawati
smga ada balasan nya utk Prilly yah
Danny Muliawati
Luar biasa
Danny Muliawati
yaa Allah gmn ini selanjut nya
Danny Muliawati
prihatin SM Dinda JD dilema smga ada jln yg terbaik
Danny Muliawati
knp ga terus terang yah .... apa pertimbangan dinda
Danny Muliawati
kasian Dinda yah JD serba salah. ... smga yg terbaik yah Dinda
Rubiyanti
Luar biasa
reti
bnran uda tamat ini kak?
reti
super jahat n licik prily..
semakin berusaha menghancurkan adam n dinda semakin kuat cinta mereka
reti
ceroboh bngt adam. kok gak curiga klo prily cari tahu lewat anak buahnya.
pinteran prily dr adam 😀
reti
jgn minta kompensasi ke birawa din.
berusaha sendiri..
nanti km malah dimanfaatkan sm birawa
reti
krn kelicikan birawa,dinda, adam, prily n zidan jadi kena getahnya.
trutama dinda, kasihan.
krn butuh uang buat mamanya jadi dibenci prily
Te HUTU
karya yang luar biasa 👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!