Kehidupan setelah menikah pasti bahagia menurut sebagian orang karena adanya cinta. Namun, tidak dengan kenyataan yang justru akan banyak ujian dan juga konflik yang terjadi setelah menikah. Seperti Dinda, yang kehidupan rumah tangganya begitu menyedihkan. Rey, suami yang tak berguna karena tidak bisa di andalkan baik dalam materi atau perhatian Rey, yang hanya bisa memberikan uang sedikit untuk kebutuhannya juga anaknya. Saat di minta uang Rey, selalu bilang tidak punya hingga Dinda, harus meminjam uang pada teman dan tetangganya. Tidak hanya dalam masalah uang Rey, juga tidak perhatian pada Dinda, juga anaknya. Saat anaknya sakit dan Dinda, meminta uang untuk biaya rumah sakit Rey, hanya bilang 'Nanti ku telepon lagi' itu saja yang Rey, ucapkan tanpa rasa khawatir. Rey, suami yang tak berguna juga pelit tetapi Rey, berani royal pada wanita lain.
Bagaimanakah cara Dinda, menghadapi Rey, suami yang tak berguna? Konflik apa lagi yang terjadi pada rumah tangga mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 ( Karma Berlaku )
"Hari ini aku lelah sekali," ujar Karin, yang meregangkan otot-ototnya seraya berjalan memasuki rumahnya.
Setelah membawa Syena, Karin, mengantarkan Dinda, pulang ke rumah ibunya. Lalu membawa Dinda, menemui pengacaranya. Karin, meminta pengacaranya untuk membantu menyelesaikan masalah perceraian Dinda, dan hak asuh Syena, agar hak asuh Syena, jatuh ke tangan Dinda.
"Dasar dua bodyguard yang bodoh. Di kasih uang yang lebih besar mereka berani menentang perintah bosnya. Memang uang sangat di pentingkan zaman sekarang. Kasihan sekali Dinda, dia harus melewati masalah ini." Karin, terus menggerutu sepanjang langkahnya hingga langkahnya terhenti tepat di depan kamarnya.
Karin, melihat Vikram, yang menatap gawainya sambil tersenyum. Karin, yang merasa aneh dan langsung menghampiri Vikram.
"Ada apa dengannya. Kenapa tertawa seperti itu," batin Karin.
"Apa yang membuatmu senang hingga tertawa seperti itu?" tanya Karin, membuat Vikram, terkejut dan langsung menyimpan gawainya.
"Eh, sayang kamu sudah pulang. Aku hanya bermain game sebentar. Kamu terlihat sangat lelah sayang."
"Banyak yang harus aku lakukan hari ini. Jadiku sangat lelah," imbuh Karin.
Karin, pun duduk di bibir ranjang seraya memijat-mijat lehernya. Vikram, mendekat dan langsung membantunya memijat-mijat punggung Karin.
"Biarku bantu kamu pasti sangat lelah. Setelah aku bekerja aku merasakannya selama ini tidaklah mudah mendapatkan uang. Jadi bagaimana jika kamu berhenti dan aku yang bekerja."
"Berhenti!. Lalu siapa yang akan mengurus perusahaanku."
"Biar aku saja. Aku akan mengurus perusahaanmu dengan baik, aku tidak ingin melihatmu lelah, istirahatlah atau pergilah berlibur, untuk menghilangkan penat."
"Sehari menjadi manajer kamu sudah yakin mengurus perusahaan. Sedangkan kamu tidak punya pengalaman lihat saja saat aku pulang kamu kembali bermain game. Apa itu pekerjaan seorang CEO. Aku tidak yakin kamu bisa melakukannya."
Vikram, tertegun merasa Karin, sudah menghina dan merendahkannya. Namun, Vikram, tidak bisa mengatakan apa pun karena memang benar jika dirinya tidak ada pengalaman dalam bisnis.
"Aku mau mandi dulu." Karin, beranjak lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Iya, sayang." Sahut Vikram.
"Ah sial dia merendahkanku. Dia pikir aku tidak berguna." Vikram, menggerutu.
****
Dinda, menidurkan Syena, seraya menepuk-nepuk punggungnya. Baginya Syena, adalah harta yang sangat berharga. Dinda, tidak ingin kehilangan putri semata wayangnya.
Dulu, saat dirinya hamil Rey, begitu bahagia mendengar kabar kehamilannya. Kehadiran Syena, adalah anugerah yang terindah. Rey, begitu menyayangi Dinda, rasa antusiasnya menjadi seorang ayah terlihat jelas dari perhatiannya dulu. Menemaninya membelikan pakaian bayi, membuatkan susu hamil untuknya, apa pun itu perhatian kecil selalu Rey, berikan.
Namun, setelah melahirkan Rey, semakin berbeda. Mulai tidak ada waktu untuknya, jarang perhatian dan mengurangi uang belanja. Rey, mendadak berubah dan tidak peduli pada Dinda, atau pun Syena.
"Dinda," panggil Asih, mengejutkan lamunannya.
"Iya, Bu," sahut Dinda.
"Syena, sudah tidur. Bisa kita bicara."
"Hm … sebentar lagi aku keluar."
"Ibu tunggu di ruang tengah."
Asih, melangkah keluar kamar. Sedangkan Dinda, mengecup kening Syena, terlebih dulu. Setelah itu merapikan selimutnya lalu pergi menemui Asih, di ruang tengah.
"Ada apa Bu? Apa yang ingin Ibu, bicarakan."
"Ibu sadar kita tidak sedekat ini. Kita tidak pernah bercerita apalagi berbagi duka. Ibu ingin tahu apa yang terjadi padamu dan Rey. Jika di lihat selama ini hubungan kalian baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk bercerai."
"Ibu lebih tahu seperti apa masalah yang aku alami saat ini. Tidak jauh berbeda dengan Ibu dan Ayah."
"Apa kamu menyalahkan Ibu. Ibu tahu kamu yang paling terluka saat Ibu dan ayah harus berpisah. Namun tidak ada yang lebih baik dari bercerai saat itu. Dari pada harus menahan luka setiap hari akan lebih baik jika kami berpisah. Cukup hanya Ibu yang merasakan, tapi jangan pernah kamu merasakannya. Bercerai itu tidaklah mudah, dengan bercerai bukan berarti luka yang tertanam di hati akan hilang. Hingga saat ini luka itu masih Ibu rasakan."
"Namun Ibu berharap kamu tidak mengalaminya. Jika masalah yang kalian hadapi masih bisa di selesaikan jangan jalan cerai yang di pilih. Ibu ingin kamu bahagia Dinda, apalagi Syena, dia harus bahagia."
Dinda, tersenyum getir seraya membuang nafas kasar.
"Bahagia. Apa Ibu pernah memikirkan itu saat aku kecil." Dinda, menatap Asih.
"Aku menangis, berteriak memanggil ayah. Namun dia sama sekali tidak melirik dan terus berjalan. Dia mengabaikanku, dan pergi tanpa mengucapkan sedikit kata pun. Ibu tidak pernah menahan kepergiaan ayah saat itu, Ibu malah membawa aku pergi tidak peduli apa yang aku rasakan saat itu. Apa Ibu bertanya aku bahagia."
"Sama seperti sebelum bercerai. Hampir setiap hari yang aku lihat hanyalah perdebatan antara kalian. Disaat semua orang berlibur dengan orangtuanya aku hanya duduk menangis di dalam kamar. Dan hal yang paling menyakitkan aku harus melihat tamparan yang ayah berikan."
"Kamu melihat itu." Asih, merasa terkejut karena setahunya selama bertengkar dengan suaminya tidak pernah ada Dinda, yang melihat.
"Dari sekolah aku begitu bahagia sepanjang jalan aku tersenyum, tertawa, tidak sabar ingin menunjukan nilai ujianku. Dan ku berharap aku mendapatkan hadiah dari kalian. Seperti temanku tapi yang ku dapatkan hanyalah pertengkaran kalian."
"Mungkin itu juga yang akan terjadi pada Syena. Aku tidak ingin Syena, melihat apa yang aku lihat saat kecil. Lebih baik bercerai saat ini selagi Syena, masih kecil setidaknya Syena, tidak akan terluka sepertiku dan harus melihat perdebatanku dengan Rey."
"Ibu tidak pernah berpikir jika kamu akan mengalami hal yang sama." Asih, terlihat sedih.
"Apa Ibu pernah dengar, jika karma berlaku. Mungkin saja itu adalah karma. Karma dari perlakuan kalian. Tapi Ibu tenang saja aku tidak menyalahkan Ibu dengan semua yang aku alami saat ini. Aku tidak pernah menganggap ini karma, jalan hidup orang itu berbeda-beda. Mungkin saja ini jalan hidupku."
Dinda, menghela nafas sejenak.
"Aku harus kembali ke kamar. Takut Syena, bangun." Dinda, beranjak dari kursi lalu melangkah meninggalkan Asih, yang masih terdiam.
****
"Maafkan Mama, sayang. Mama tidak akan pernah membuatmu terluka, Mama akan selalu menjagamu. Mama menyayangimu sangat menyayangimu Syena," ucap Dinda.
Dinda, merebahkan tubuhnya di samping Syena, mengelusnya, dan memeluknya. Syena, begitu terlelap, pipi chuby, bibir mungil semerah ceri, bulu mata yang lentik, alis yang tebal dan hidung yang mancung, begitu menggemaskan. Membuat Dinda, selalu ingin berada di sampingnya.
Begitupun dengan Rey, yang saat ini sedang menatap potret putri kecilnya yang menggemaskan. "Papa, merindukanmu sayang," ucapnya.
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan pengacaramu saja."
Velove, merangkul manja pada Rey, mengecup tengkuk lehernya.
"Jika Dinda, ingin tetap bercerai kamu harus mengajukan syarat, mendapatkan hak asuh Syena. Dengan begitu Syena, akan tinggal bersamamu dan Dinda, tidak akan bisa merebut kembali Syena, darimu."
Rey, tertegun dan langsung melirik Velove, yang memeluknya. Velove, hanya tersenyum lalu mengecup bibir Rey, di sampingnya.
...----------------...
Jangan lupa like dan komentarnya ya
Akan author usahakan setiap hari akan update. Jangan lupa semangat untuk author like, komentar, vote, hadiah dan favorit
Salam sayang
Dini_ra
Dari tokohnya juga sangat mengisnpirasi untuk tetap sabar dalam menjalani cobaan.
enak skli laki2 kyk gitu sllu main perempuan trus punya anak2 di mna,
bayakin cerita dinda sma willy dong thor
males cerita.rey mulu