Selma adalah seorang janda dengan 3 orang anak. Dia berkerja di sebuah perusahaan swasta yg hampir bangkrut..
Dengan gaji pas-pasan dia berusaha mencukupi kebutuhan sekolah dan hari-hari mereka.. Tapi di kantor sudah tersebar surat edaran bahwa akan ada pengurangan karyawan,dia harap itu bukan dirinya. Karna jika itu dia,maka dia tidak tau harus bekerja apa lagi,di kota sebesar ini mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yg mudah. Apalagi mengingat statusnya seorang janda yg memilikki dasar pendidikan yg rendah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audwibill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesetaraan
"Jika tidak ingin mengajakku,mengapa memandangku seperti ingin mengajak pergi,dasar Pria aneh" Selma mengomel sebelum akhirnya terdiam memandang anaknya yang tertidur..
Pintu kamar terbuka, itu adalah Dokter dan perawat yang akan memeriksa Alex..
"semuanya baik" kata Dokter kepada perawat.. Dan menuliskan beberapa resep obat. Lalu memberikannya lagi kepada Perawat..
"Nyonya tidak perlu khawatir. Kita hanya menunggu ia sadar,ia masih dalam pengaruh obat bius.." kata Dokter menenangkanku yang masih terlihat sedikit khawatir
"Terimakasih Dok.."
Selma sedikit tenang mendengar penjelasan dari Dokter. Dan segera merapikan semua barang yang ia bawa tadi..
Tidak lama kemudian anak-anaknya sudah kembali.. Mereka membawa banyak sekali belanjaan. Selma langsung berdiri dan menarik tangan anak sulungnya..
"Kak kenapa membeli begitu banyak camilan.."
"bukan kami bu,tapi Paman itu yang membelinya" kata Si Sulung sambil menunjuk kearah Andreas..
"Aku tidak tau apa yang harus kubeli,jadi ku ambil yang menurutku kalian suka" katanya sambil meletakkan barang belanjaan di atas meja..
"kalian lekaslah tidur.. kalian harus bangun pagi-pagi untuk kesekolah" Kata Selma memberi perintah kepada anak-anaknya.. Kedua gadis kecil itu menurut dan pergi kekamar yang berada disebelah ruang perawatan..
Kamar Pemulihan itu cukup besar,ada dua ruangan,satu ruangan Perawatan dan satunya adalah ruangan tunggu keluarga yang juga tersedia sebuah kasur..
Selma mendekati meja,bermaksud untuk merapikan barang belanjaan..
"Makanlah dulu,kau pasti lapar. Aku sudah membelikanmu makanan.. Makanlah ketika masih panas" Kata Andreas yang acuh sambil memainkan ponselnya...
Selma menurut dan membuka kantong plastik.. Lalu berdiri hendak pergi menjauh dari Andreas... Tiba-tiba Andreas berkata..
"mau kemana?? makanlah disini!" Kata-kata itu seperti perintah yang tidak terbantahkan..
Selma akhirnyaa duduk di sofa yang sama dengan Andreas..
Cukup lama mereka terdiam,Selma sendiri pun tidak begitu menikmati makanannya..
"kenapa? tidak suka?" Andreas tiba-tiba memecahkan keheningan diantara mereka berdua...
"ah.. tidak.. aku suka"
"lalu mengapa kau makan dengan sangat hati-hati"..
"aku sedikit tidak selera makan"
"kenapa"Selma terdiam kembali..
"Alex sudah dalam masa penanganan Dokter apalagi yang kau khawatirkan?"
"aku tau" Selma berbicara dengan menundukkan kepala.
"Lalu?... Kau harus tetap makan dan tegar.. anakmu tidak hanya satu.. kau tau apa yang kau lakukan malam ini?? Kau membuat anakmu yang lain kelaparan.. Itu bukan cara yang benar.. Mereka semua adalah anak-anakmu.. Sama-sama membutuhkan perhatianmu dan juga dirimu.." Kata-kata Andreas menyadarkan Selma yang sudah lalai terhadap anaknya yang lain.. Karena itu Selma meneteskan airmata sambil menahan suara tangisannya..
"Diberitahu malah nangis" Andreas menyadari itu.. Lalu beranjak pergi meninggalkan Selma Sendiri...
Selma tetap menangis dan melepaskan makanan di tangannya.. Segera berlari kekamar. Melihat anak perempuannya dan memandangi mereka yang sedang tertidur..
"Maaf". Selma bicara sangat pelan takut membangunkan anak-anaknya.. Lalu berdiri kembali dan meninggalkan mereka...
Selma menyadari apa yang dikatakan Andreas adalah benar. Ia lalai akan suatu hal. Bahwa mereka bertiga adalah anak-anaknya. Tidak perduli siapa yang lebih membutuhkan mereka tetap pada posisi yang sama. Sebagai anak mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang sama.. Mengapa Selma tidak menyadari itu..
Merasa sedikit penak dikamar sendirian.. Selma keluar, mencoba mencari udara yang segar dengan secangkir kopi di tangannya..