Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.
Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.
Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Aku terus berlari menapaki jalanan sunyi menembus dinginnya malam menuju sebuah gedung kosong tempat Arshaka saat ini berada.
Sesekali suara benda jatuh atau sekedar gesekan dahan dan dedaunan membuatku terkejut dan merasa takut, tapi bayangan Arshaka yang terluka hatinya lebih kuat menarikku untuk segera menemuinya. Aku ingin menjadi penyembuh untuk Arshaka, obat atas luka-lukanya, bukan orang yang justru menghancurkan dirinya.
"Arshaka!" aku masuk, ke dalam gedung yang bercahaya remang karena bias sinar rembulan, yah gedung kosong ini tak beratap, itulah kenapa meski tak ada lampu, sekeliling masih bisa terlihat dengan jelas.
"Arshaka," aku meraih tubuh Arshaka yang limbung, bau alkohol menyeruak menusuk hidung, tubuh Arshaka berada di pelukanku sekarang.
Lamat-lamat mata Arshaka terbuka, ia menatapku sayu, dan senyumnya mengembang, bukan senyum manis seperti biasanya, melainkan senyum sinis penuh kebencian.
"Kau datang," lirihnya mengerjap lemah.
Aku mengangguk sambil menangis, aku merasa bersalah karena menggeser posisinya sebagai bintang sekolah, pasti saat ini keluarganya kecewa dengan Arshaka, dan Arshaka pasti merasa gagal dan tak berharga.
"Maaf," lirihku tulus, aku ingin membanggakan Lek Nasir, tapi bukan berarti ingin menjatuhkan Arshaka. Kenapa kami tidak bisa berada di atas bersama? Hingga kami bisa saling menguatkan dengan bergandengan tangan.
"Sstt,,,, jangan katakan maaf, itu terdengar mengerikan," ucap Arshaka ngelantur, jari telunjuknya ia tempelkan di bibirku agar aku tak lagi bicara.
"Ayo, aku antar pulang," ucapku berusaha mengangkat tubuh Arshaka, menopangnya agar Arshaka kuat berdiri.
Namun tenagaku yang lemah membuat kami kembali terjerembab ke lantai kotor yang dingin.
"Eca,,,," lirih Arshaka parau.
"Iya, Ka?"
"Apa kau mencintaiku?"
Aku mengangguk, masih sambil menangis.
"Iya, Ka. Aku mencintaimu,"
"Kalau begitu cium aku, Ca. Kita sudah berpacaran dan kau tak pernah mau memberikanku sebuah ciuman." Arshaka menekan tengkukku agar bibir kami bertemu, tapi aku menahannya.
"Jangan seperti ini, Arshaka. Aku tidak mau." Aku kembali menolaknya, aku punya prinsip, tidak akan melakukan kontak fisik apapun termasuk ciuman sebelum menikah.
"Aaahh!" teriak Arshaka.
"Cyack!"
Arshaka melempar botol minuman yang telah kosong hingga membentur dinding dan pecah. Belingnya berserakan.
"Aahh,,,," takut, aku menutup kedua telingaku dengan tangan.
Arshaka memegangi tanganku membukanya paksa.
"Arshaka?" kaget. Aku terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba.
"Kau tahu, Ca? Orang tuaku sudah mengurus keberangkatanku ke luar negeri, aku akan kuliah di Amerika. Apa kau tahu itu artinya apa?"
"Kau akan pergi?" tanyaku terkejut dengan apa yang dikatakan Arshaka.
Sungguh, aku merasa takut jika Arshaka harus berada jauh dariku, takut jika kami tak lagi bertemu, takut jika nanti Arshaka bertemu dengan gadis lain yang lebih menarik dariku, takut jika Arshaka meninggalkanku.
"Iya, aku akan pergi, Ca. Jauh, lama. Jadi kumohon berikan aku satu ciuman dan merasa jika kau memang mencintaiku, jika kau memang milikku."
"Arshaka!" Aku memeluknya, ini adalah pertama kalinya aku menjatuhkan diri dalam pelukan Arshaka.
"Please, jangan pergi, kamu bisa kuliah di sini, aku akan masuk ke kampus mana saja yang sama dengan kamu, asal jangan ke luar negeri,"
"Kalau begitu cium aku, Ca. Bagaimana aku bisa percaya kau mencintaiku, jika kau tak pernah membiarkanku menciummu?"
Aku mendongak, melepas pelukan kami, melihat Arshaka dengan tatapan dalam penuh arti, aku mencintainya, sungguh, namun, haruskah aku membuktikannya dengan sebuah ciuman? Tidak bisakah seseorang saling mencintai cukup dengan menjaga hati?
"Eemmpphh!"
Tiba-tiba Arshaka menyerangku, melu.mat bibirku dan mendorong tubuhku hingga aku rebah di atas lantai semen yang dingin dan kotor penuh debu.
"Ar-sha-ka eemmpphh!" aku terus mendorongnya sekuat tenaga namun aku tak berdaya.
"Plak!"
"Aahh!"
Arshaka menamparku, ya Tuhan,,,, apa yang terjadi? Buliran-buliran bening air mataku lolos satu persatu. Itu adalah sebuah tamparan pertama seumur hidupku.
"Arshaka hentikan! Ennghh!"
Aku berusaha berontak, mencoba menghentikan tindakan Arshaka yang di luar batas. Namun karena pengaruh alkohol dan hasrat jiwa mudanya yang membara, Arshaka gelap mata.
Tangan Arshaka bergerak kasar mengoyak baju yang kukenakan, ia merobek bahu dan menyentak kancing bajuku bagian depan hingga terlepas berhamburan, menyembulkan dadaku yang selama ini selalu kututup rapat, saat Arshaka menarik paksa bra nude yang kukenakan.
"Aahh,,,, Arshaka!" jeritku tertahan saat Arshaka langsung melu.mat puncak da.daku, tubuhku menegang, darahku berdesir hebat, aku sangat takut sekarang, Arshaka tak terkendalikan, dia sudah sangat keterlaluan.
"Arshaka, sadarlah, lepaskan aku! Hiks hiks hiks." aku hanya bisa menangis kala Arshaka menjelajah ke dua dadaku secara bergantian, kiri dan kanan.
Bibirnya terus mengecup, mengecap dan menyesap setiap inci kulitku, leher, dada, perut, meninggalkan begitu banyak jejak kepemilikan, dan ia merambah ke bawah.
Aku hanya bisa menangis, setiap kali melawan maka satu tamparan kudapatkan, sakit, tubuhku sakit, dan hatiku lebih sakit lagi.
Entah bagaimana, Arshaka sudah berhasil meloloskan celana da.lamku, mengangkat rok yang kukenakan sampai batas pinggang, dan Arshaka menin.dihku. Merenggangkan tanganku ke sisi kiri dan kanan, ia kembali mengecupi seluruh wajahku, melu.mat bibirku dan menggigitnya hingga kurasakan cairan anyir darah di lidah.
"Arshaka, lepaskan aku, sakit!" lirihku saat Arshaka membuka resleting celananya, dan satu tangannya masih memegangi satu tanganku, sedang tanganku yang bebas hanya mampu memukuli perutnya pelan karena tenagaku sudah hilang entah ke mana.
"Plak!"
"Aahh!"
Habis sudah pertahananku, rasa cintaku, kepercayaanku, dan kehormatanku. Arshaka mengangkat kakiku, aku tidak tahu apa yang ia lakukan, tapi aku masih mencoba melawan. Hingga kurasakan sesuatu di bawah sana yang keras dan tegang menyentuh area inti tubuhku, digesek pelan dan,
"Aahhhhh! Sak-kiiiittt,,,,"
Aku memejamkan mata erat, merasakan sakit yang teramat sangat di bawah sana, sesuatu kurasakan telah robek dari dalam diriku, Arshaka merenggutnya, sesuatu yang kujaga selama ini, Arshaka telah merusaknya.
"Ahhhh!" de.sah Arshaka penuh naf.$u.
"You're such a delicious fuc.king, *****." de.sah Arshaka tak dapat mengendalikan diri.
Ja.lang, benarkah saat ini aku telah menjadi seorang ja.lang?
Aku menangis menahan sakit, tak menanggapi ucapan Arshaka yang merasa enak saat ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat, membuat tubuhku tersentak hebat.
Yang kurasakan hanyalah sakit, dan sangat sakit, rasanya aku tidak tahan setiap kali Arshaka menggerakkan tubuhnya di bawah sana, itu terlalu sakit, hingga tubuh Arshaka mengejan, dan aku tahu itu apa, kala kurasakan semburan yang hangat mengisi tubuhku.
Nafas Arshaka tersengal, ia ambruk di atas tubuhku, dan aku mendorongnya sekuat tenaga hingga ia jatuh di sampingku dan tertidur.
Tangisku semakin lirih, menyadari sesuatu yang berharga yang setiap gadis jaga telah terenggut paksa, aku diper.kosa oleh Arshaka. Aku telah ternoda.
Kutinggalkan Arshaka di gedung kosong itu seorang diri setelah kukumpulkan seluruh tenagaku yang tersisa, kurasakan sakit dan ngilu di area inti tubuhku yang teramat sangat, menahannya untuk terus melangkah, aku tak ingin ada orang yang melihatku seperti ini, nama baik Lek Nasir bisa tercemar, dan Mak Eva akan menanggung malu seumur hidupnya. Aku harus segera pulang sebelum pagi datang, aku harus segera sampai di rumah, biarlah yang sudah terjadi ini terjadi, aku akan menyimpannya seorang diri.
Namun, saat aku sampai di rumah Lek Nasir, membuka pintu dan hendak masuk ke dalam kamar, rupanya Lek Nasir ada di ruang tengah, ia baru saja menunaikan shalat malam, terlihat dari sarung, peci dan baju kokoh yang ia kenakan.
"Eca,,,," serunya terkejut, melihatku datang dengan keadaan berantakan, rambut acak-acakan, baju robek di beberapa bagian, serta lebam di wajah dan pipiku, juga tanda-tanda merah ke keunguan hampir memenuhi seluruh tubuhku, aku tak dapat mengendalikan diri, saat melihat Lek Nasir yang menatapku, nyalang.
"Lek,,,, hiks hiks hiks."
***
Alhamdulillah,,,, saya bisa log in. Terimakasih, admin. 😭🙏 Mampir juga di Mainan Ranjang Tuan. akun PC. Priyanka Chandler 😭🙏
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,