Buku ke-2 dari The Ragen.
Baca dulu The Ragen : Escape From Zombie Apocalypse
Hari-hari setelah kemenangan pasukan Venus atas Demon membawa harapan baru bagi umat manusia. Para Ragen dan MoRag melemah, memberi kesempatan bagi Army untuk membasmi mereka dengan lebih mudah. Beberapa wilayah berhasil disterilkan dan kembali layak huni. Pangkalan Venus terus menyiarkan pesan ke seluruh negeri, menawarkan perlindungan bagi para penyintas.
Namun, di balik kemenangan itu, ada pihak-pihak yang diam-diam memanfaatkan situasi. Mereka memburu serum MoRag peninggalan Demon demi keuntungan, menjualnya kepada negara-negara tertentu untuk menumbangkan saingan mereka. Salah satu target utama mereka adalah UK, negeri yang menyimpan banyak harta berharga dari era sebelum perang nuklir.
Akankah Leo dan kawan-kawannya kembali ke tanah air mereka untuk menyelamatkan rakyatnya? Mampukah mereka mempertahankan negara itu dari kehancuran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Hasil yang membingungkan
Mendengar nama Selena kembali disebut, hati Matthew kembali dihantam perasaan yang sulit dijelaskan. Ada amarah, kesedihan, dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. Sejak perang berakhir, ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan gadis itu, meyakinkan dirinya bahwa Selena hanyalah bagian dari masa lalu. Namun kenyataan bahwa jasadnya tidak pernah ditemukan selalu menyisakan sebuah pertanyaan yang mengganggu di benaknya.
Di dalam laboratoriumnya yang sunyi, Matthew memandang hasil penelitiannya yang berserakan di meja. Anti virus Ragen yang telah ia ciptakan memang membantu, tetapi masih jauh dari kata sempurna. Meskipun anti virusnya berhasil menyelamatkan mereka yang terinfeksi dalam tahap awal, ia belum menemukan cara untuk menolong mereka yang sudah terjangkit parah.
Bahkan penelitian itu tidak mampu mengalihkan pikirannya dari percakapan barusan. Ia mengepalkan tangannya, mencoba menenangkan gejolak hatinya, tetapi itu justru membuatnya semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, Matthew akhirnya menghela napas panjang. Keputusan pun dibuat. Ia melangkah keluar dari laboratoriumnya, menyusul Balthier dan Arvent. Ia melangkah keluar gedung dan menemukan mereka berdua masih berdiri di depan monumen peringatan para pejuang yang gugur.
Saat Matthew mendekat, ia bisa mendengar perdebatan kecil di antara kedua pria itu.
"Kalau Selena melihat patungnya terpajang di monumen ini, aku yakin dia akan marah besar," ujar Arvent dengan nada yakin, menatap pahatan wajah gadis itu di batu monumen.
Balthier terkekeh. "Marah? Aku justru berpikir dia akan merasa bangga. Kau tahu bagaimana dia, bukan? Dia akan semakin besar kepala karena merasa diakui sebagai pahlawan."
Arvent mendengus, menatap patung yang berada di batu monumen dengan tatapan rumit. "Tidak mungkin. Selena tidak pernah menganggap dirinya pahlawan. Dia hanya ingin melindungi orang-orang yang ia sayangi. Kalau dia masih hidup, dia pasti akan menertawakan ini."
Mendengar itu, Matthew merasakan hatinya semakin sesak. Ia berdiri diam di belakang mereka, memandang ukiran nama dan wajah Selena yang terpahat di monumen. Senyumnya yang khas, mata tajam yang penuh tekad. Semuanya masih terasa begitu nyata dalam ingatannya.
Tanpa sadar, tangannya mengepal erat. Ada pertanyaan yang selama ini ia pendam, yang selama ini takut untuk ia hadapi. Jika Selena benar-benar sudah tiada, mengapa tidak ada satu pun yang menemukan jasadnya? Jika memang dia gugur dalam pertempuran, bukankah seharusnya ada bukti yang lebih jelas? Ataukah... mungkinkah ada sesuatu yang lebih besar, yang disembunyikan dari mereka semua?
Arvent dan Balthier akhirnya menyadari kehadiran Matthew. Mereka saling pandang sebelum Balthier angkat bicara.
"Jadi, kau memutuskan untuk ikut?"
Matthew mengalihkan pandangannya dari monumen dan menatap mereka dengan sorot mata tajam. "Aku ingin tahu kebenarannya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Selena."
Arvent tersenyum kecil, kali ini bukan senyuman mengejek seperti biasanya, melainkan sebuah ekspresi memahami. "Baguslah. Kalau begitu, ayo berangkat."
Balthier menepuk bahu Matthew ringan. "Jangan berpikir terlalu dalam, kawan. Apa pun yang kita temukan nanti, bersiaplah menghadapi kenyataan."
Dengan langkah mantap, Matthew meninggalkan laboratoriumnya dan semua keraguannya di belakang. Kini, satu tujuan baru tertanam dalam benaknya. Mencari kebenaran tentang Selena, meski itu berarti menggali luka lama yang belum benar-benar sembuh. Namun di balik tekadnya, ada satu ketakutan yang belum ia akui, apakah ia siap menghadapi jawaban yang akan ia temukan?
***
Kerajaan UK
Kerajaan UK masih diselimuti suasana tegang setelah serangan besar yang terjadi beberapa hari lalu. Di setiap gerbang utama, para prajurit dan petugas keamanan masih terus siaga, mengamati setiap laporan pergerakan Ragen yang dikirimkan oleh tim pengintai. Meskipun saat ini para Ragen tampaknya tidak lagi menunjukkan perilaku yang mengancam, tetapi tidak ada yang bisa menjamin mereka tidak akan kembali menyerang secara mendadak. Oleh karena itu, kesiapan pasukan tetap menjadi prioritas utama.
Di gerbang barat, bagian yang sempat mengalami kerusakan akibat serangan telah mulai diperbaiki. Para insinyur dan pekerja bangunan bekerja tanpa henti untuk memperbaiki tembok luar yang sempat jebol. Material pertahanan baru yang lebih kuat mulai diterapkan untuk memperkuat struktur yang rusak. Beruntung, kerusakan tersebut masih terbatas pada gerbang luar, sehingga pertahanan utama kerajaan tetap aman. Tembok lapisan dalam yang dilindungi oleh kubah energi transparan masih berfungsi dengan baik, memberikan perlindungan tambahan bagi seluruh rakyat di dalam kerajaan.
Sementara itu, di gerbang timur, jumlah pengungsi yang masuk mulai berkurang. Penyeleksian yang ketat dan penyaluran mereka ke tempat-tempat aman telah membantu mengendalikan arus masuk yang sebelumnya sempat membludak. Meski begitu, Leo tetap merasa waspada. Sebagai seorang raja, ia tidak bisa membiarkan ketenangan ini membuatnya lengah. Keamanan rakyatnya tetap menjadi prioritas utama, dan ia tahu bahwa gerbang timur masih menjadi titik paling rentan karena fungsinya sebagai jalur masuk utama bagi para pengungsi dari luar wilayah kerajaan.
Dalam sebuah pertemuan darurat dengan para menterinya, Leo menyampaikan kekhawatirannya akan kemungkinan serangan mendadak di masa depan.
“Kita mungkin sedang mendapatkan waktu untuk bernapas, tetapi bukan berarti ancaman telah hilang sepenuhnya. Kita harus bersiap jika keadaan kembali memburuk,” ucap Leo dengan nada serius, tatapannya menyapu ruangan penuh ketegasan.
Jenderal Aldrich, mengangguk setuju. “Saya telah menugaskan tim patroli tambahan di sekitar perbatasan, terutama di titik-titik yang masih rentan. Jika ada pergerakan mencurigakan, kita bisa segera bertindak.”
Menteri Pembangunan, Lord Maximilian, menambahkan, “Kami juga telah mulai membangun tempat perlindungan darurat di dalam kerajaan sesuai perintah Anda, Yang Mulia. Lokasi-lokasi strategis sudah ditentukan, dan konstruksi sedang berlangsung. Kami memastikan bahwa setiap lokasi memiliki pasokan makanan dan kebutuhan darurat yang cukup untuk bertahan dalam kondisi kritis.”
Leo mengangguk, sedikit lega mendengar laporan tersebut. “Bagus. Kita tidak boleh menunggu sampai keadaan mendesak untuk bertindak. Pastikan perlindungan ini cukup kuat dan bisa menampung warga jika diperlukan. Aku tidak ingin ada yang terlantar jika situasi memburuk.”
Menteri Keuangan, Lord Theodore, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Pembangunan tempat perlindungan dan perbaikan pertahanan membutuhkan sumber daya yang besar, Yang Mulia. Kita harus memastikan keuangan kerajaan tetap stabil. Saya menyarankan kita meningkatkan kerja sama dengan para pedagang besar untuk memastikan suplai bahan bangunan dan kebutuhan pokok tetap terpenuhi.”
Leo memahami kekhawatiran tersebut. “Lakukan yang perlu dilakukan, tetapi jangan sampai rakyat merasa terbebani. Jika ada cara lain untuk memastikan sumber daya tetap mengalir tanpa mengorbankan kestabilan ekonomi, gunakan cara itu.”
Dengan keputusan tersebut, semua pihak kembali bekerja dengan tugas mereka masing-masing. Para insinyur melanjutkan pembangunan perlindungan, pasukan militer terus melakukan patroli, dan Leo tetap mengawasi setiap laporan yang masuk. Ia tahu bahwa ketenangan ini hanyalah sementara. Mungkin tidak hari ini, mungkin tidak besok, tetapi suatu saat ancaman besar pasti akan kembali datang. Dan ketika itu terjadi, ia harus memastikan bahwa kerajaannya siap menghadapi apa pun yang menanti mereka di luar sana.
Sesuai rapat dengan para menterinya. Leo tidak langsung pergi. Dalam sebuah ruangan tertutup yang hanya diterangi cahaya dari lampu gantung di tengah langit-langit, Leo duduk di kursinya dengan ekspresi serius. Di sekelilingnya, Ignis, Jimmy, dan Tony juga duduk dengan wajah tegang. Pertemuan ini diadakan secara diam-diam tanpa melibatkan pihak lain, karena informasi yang akan mereka bahas terlalu sensitif untuk disebarluaskan sebelum ada keputusan yang jelas.
"Jadi, bagaimana hasil penyelidikan kalian?" Leo membuka percakapan dengan nada tenang, meskipun ada ketegangan yang jelas dalam suaranya.
Jimmy, yang ditugaskan menyisir gerbang utara, menjadi yang pertama memberikan laporannya. "Gerbang utara relatif aman. Para Ragen yang terlihat masih dalam keadaan pasif, sama seperti sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda perilaku tak normal. Mereka hanya berkeliaran tanpa arah dan tidak menunjukkan keagresifan."
Leo mengangguk, lalu beralih ke Tony. "Bagaimana dengan timur?"
Tony menghela napas sebelum menjawab. "Situasi di timur juga tidak jauh berbeda. Aku sempat mengamati kamp pengungsian di luar, dan anehnya. Meskipun ada beberapa Ragen yang terlihat di kejauhan, mereka sama sekali tidak menyerang para pengungsi, bahkan saat ada yang mendekatinya. Seolah-olah mereka tidak tertarik. Ini berbeda dari perilaku mereka yang kita ketahui sebelumnya."
Leo menautkan kedua tangannya di atas meja, merenungkan informasi tersebut. "Itu cukup aneh... Biasanya mereka akan langsung menyerang manusia tanpa berpikir. Lanjutkan, bagaimana dengan selatan?"
Ignis, yang bertugas menyelidiki pegunungan selatan, menimpali. "Tidak ada yang mencurigakan di sana. Tidak ada tanda-tanda aktivitas Ragen, bahkan pergerakan hewan liar juga tampak normal. Aku sudah menyisir beberapa titik yang menurut laporan sebelumnya berpotensi menjadi tempat persembunyian, tapi nihil. Sejauh ini, selatan adalah yang paling aman."
Leo mengangkat alis. "Berarti hanya barat yang menunjukkan kejanggalan?"
Jimmy dan Tony saling berpandangan sebelum mengangguk pelan. "Ya," jawab Jimmy. "Di dalam hutan bagian barat, kami menemukan beberapa kelompok Ragen yang menunjukkan perilaku agresif. Mereka lebih cepat bereaksi terhadap suara, bahkan mencoba menyerang tim pengintai kami meskipun mereka tidak mengeluarkan suara yang terlalu mencolok."
Tony menambahkan, "Aku juga mendapatkan informasi dari beberapa pasukan yang sempat bertugas di barat bahwa ada suara-suara aneh yang terdengar di malam hari. Seperti suara lolongan atau erangan panjang yang tidak biasa. Dan lebih buruknya lagi, jumlah Ragen di daerah itu tampaknya meningkat dibanding sebelumnya."
Leo mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, merenung. "Ini bisa berarti dua hal. Entah ada sesuatu di dalam hutan barat yang mempengaruhi mereka... atau seseorang sedang mengendalikannya."
Ruangan itu menjadi sunyi untuk beberapa saat, semua orang mencerna kemungkinan mengerikan yang baru saja Leo katakan.
Ignis akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Kalau benar ada seseorang di balik ini, berarti kita menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang kita duga."
Leo menatap tajam ke arah mereka bertiga. "Kita tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut. Aku ingin tim khusus dibentuk untuk menyelidiki hutan barat lebih lanjut. Kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum keadaan semakin memburuk. Aku sendiri akan turun tangan jika diperlukan."
Jimmy dan Tony langsung mengangguk, sementara Ignis terlihat sedikit ragu sebelum akhirnya menyetujui rencana itu.
"Baik, Leo," jawab Ignis. "Tapi kita harus berhati-hati. Aku punya firasat buruk tentang ini."
Leo menghembuskan napas panjang. "Aku juga... Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum semuanya terlambat."
Dengan keputusan itu, pertemuan tertutup mereka berakhir, tetapi perasaan gelisah yang menyelimuti mereka belum juga hilang.
lalu ada kota² dan desa² nya. dan di setiap kota/desa dilindungi tembok. aku kepikiran ini pas baca yg bagian evakuasi raja ke zona utara.
mungkin kalo di lihat dari udara. UK di novelmu penampakannya mirip punggung kura². dg garis² nya sebagai benteng tiap kota/desa.
coba donk thor. next update bikinin peta UK kalo dilihat dari udara
anaknya selena cewek
pas gede, mereka berjodoh.
fix, leo jadi besan dg mantan pacarnya😁
bisa kembali muncul ketika leo akhirnya bertemu lagi dg selena