Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kodok
Wajar, wajah Akhmar yang memang sudah terlihat bengis, membuat lawan bicara menjadi gentar. Dia memang jauh lebih muda dari supir jika diukur dari usia, tapi potensi menjadi penguasa sudah ia dapatkan dari segi fisik dan suaranya.
Akhmar turun dari motor dan naik ke angkot, matanya meneliti wajah-wajah di angkot, mayoritas penghuninya Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Mereka hanya diam menatap Akhmar yang celingukan.
Akhmar ingin memberi pelajaran pada supir angkot, namun melihat wajah- wajah tua yang menenteng keranjang hendak berbelanja ke pasar, Akhmar mengurungkan niatnya.
Motor Akhmar huyung ke samping sesaat setelah serempetan dengan sebuah angkot. Lalu tubuh Akhmar terpental dari motor akibat menabrak pohon di tepi jalan.
"****!" Akhmar menatap supir angkot kesal.
Supir Angkot membunyikan klakson.
"Jangan sembrono di jalan raya! Sembarangan aja!" pekik supir angkot marah. Ia tak mau memperpanjang masalah, lalu kembali menjalankan mobilnya.
"Woi, tunggu! Jangan kabur! Urusan kita belum selesai!" hardik Akhmar kemudian menunggangi motor dan mengejar angkot.
Angkot sudah di depan mata. Ia menyalip dan menjajari angkot, mengegas- ngegas motor di sisi angkot.
Supir angkot dibuat kesal oleh ulahnya. Akhmar juga menggedor- gedor kaca mobil dengan tangan kirinya.
Kesal, supir akhirnya menghentikan angkotnya.
“Woi, lu tadi yang salah, main kebut dan nyalip mobil gue sampe nyerempet begitu. Apa yang mau lu cari sekarang? Cari mati lu?” bentak supir emosi, kepalanya melongok keluar melalui jendela.
“Diem lo!” Akhmar balas menghardik sangat keras.
Gertakan Akhmar yang lebih beringas membuat supir mati kutu, kalah gertak.
Wajar, wajah Akhmar yang memang sudah terlihat bengis, membuat lawan bicara menjadi gentar. Dia memang jauh lebih muda dari supir jika diukur dari usia, tapi potensi menjadi penguasa sudah ia dapatkan dari segi fisik dan suaranya.
Akhmar turun dari motor dan naik ke angkot, matanya meneliti wajah-wajah di angkot, mayoritas penghuninya Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Mereka hanya diam menatap Akhmar yang celingukan.
Akhmar ingin memberi pelajaran pada supir angkot, namun melihat wajah- wajah tua yang menenteng keranjang hendak berbelanja ke pasar, Akhmar mengurungkan niatnya.
“Mas, saya buru- buru. Apakah urusannya sudah selesai?” ujar salah seorang Bapak tua dengan sopan.
Bola mata Akhmar melirik ke Bapak tua itu kemudian turun.
“Dasar, anak muda nggak punya sopan santun. Orang tuanya nggak becus ngurus anak,” lirih supir gedeg sekali.
“Apa lo bilang?”
Supir terkejut mendengar hardikan Akhmar yang kini berdiri di dekat pintu seberang kemudi. Sepertinya Supir itu tadi bicara lirih, namun Akhmar menangkap ucapannya dengan jelas. Tajam sekali pendengaran anak muda itu.
“Ah, kagak!” balas supir masih kesal.
Akhmar tidak berhenti sampai di situ, ia memukul-mukul pintu mobil hingga akhirnya terjadi adu mulut antara Akhmar dan supir.
Sebuah mobil elit berhenti tepat di belakang angkot mengingat arus jalan yang akan dilalui terhalang oleh angkot yang berhenti, ditambah lagi motor Akhmar yang teronggok sembarangan di tengah jalan, menambah sempit badan jalan.
Kaca bagian belakang mobil elit terbuka dan wajah paruh baya sosok lelaki berpenampilan alim menyembul keluar.
“Aduuuh… Ini ada apa ribut- ribut?” tanya lelaki paruh baya yang mengenakan kopiah putih di kepala. Ia terlihat wibawa mengenakan sorban yang terlilit di dada serta baju koko putih yang membalut tubuhnya.
Akhmar melirik ke lelaki berpenampilan seperti ustad itu.
Bersambung