Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Mengagumi Dalam Diam
Aisyah sedikit terkejut, namun tidak di pungkiri dirinya juga merasa senang jika dirinya mendapatkan beasiswa ini. Namun siapa yang akan menemani ibunya dan mencari uang untuk keperluan ibunya? Itulah yang Aisyah khawatir jika dirinya pergi dari rumah untuk melanjutkan studi.
"Saya pikir-pikir dulu Pak. Lagipula saya juga harus bicara sama Ibu terlebih dahulu. Jika nanti kepergian saya hanya menjadi beban untuk Ibu, lebih baik saya tidak pergi, saya tidak ingin membuat Ibu saya susah" Jawab Aisyah.
"Panggil saya Abang. Jangan Bapak lagi" Ujar Pak Rangga lagi mengingatkan setelah mendengar panggilan Pak dari mulut Aisyah.
Aisyah terkekeh kecil, "Maaf a-abang" Balas Aisyah ragu. Wajahnya nampak bersemu merah karena merasa malu harus memanggil Pak Rangga dengan sebutan Abang.
"Saya akan menghargai keputusan kamu Aisyah. Namun saya sarankan, jangan menyia-nyiakan kesempatan ini" Ujar Pak Rangga lagi. Kali ini ia berbicara sedikit serius.
"Baik Pak, eh Abang"
"Ya udah bang. Yuk kita masuk, kasihan teman-teman masih duduk di dalam" Ajak Aisyah cepat. Karena merasa tidak nyaman dan gugup berdekatan dengan Rangga, Aisyah segera mengajak Rangga untuk masuk ke dalam.
"Sebentar Aisyah!" Cegah Rangga tiba-tiba.
"Kamu habis menangis? Saya lihat matamu merah?" tanya Pak Rangga.
Aisyah nampak terdiam, enggan untuk menjawab pertanyaan itu, namun seperdetik kemudian ia kembali tersenyum.
"Nggak kok Bang. Saya hanya kelilipan" Jelas Aisyah berbohong.
"Benarkah?" tanya Pak Rangga memastikan.
"Iya, saya baik-baik saja. Teman-teman sudah menunggu, sebaiknya kita masuk dulu" Ajak Aisyah lagi mengalihkan pembicaraan.
Pak Rangga mengangguk mengiyakan, lalu mereka berdua kembali masuk.
Tidak berapa lama setelah itu, teman-teman Aisyah berpamitan untuk pulang, begitupun dengan Pak Rangga.
Mereka semua pun pulang setelah berpamitan kepada Aisyah dan juga keluarganya.
****
Di tempat lain.
Lebih tepatnya di sebuah rumah kontrakan milik Pak Rangga.
Bukannya tidak punya rumah, namun Rangga lebih suka tinggal sendiri dan hidup mandiri dari pada menumpang di rumah orang tuanya. Oleh sebab itu Rangga mengontrak di kampung halamannya sendiri saat ini.
"Gimana? Kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu?" tanya Haris penasaran, sahabatnya Rangga.
Rangga menggeleng, "Belum, aku belum berani mengatakan perasaan ku" Jawab Rangga dengan sedikit tersenyum kecut.
"Kenapa? Apa karena dia masih sekolah dan kamu gurunya?" tanya Haris lagi.
"Itu juga salah satunya. Namun ada hal lain yang aku pikirkan tentangnya. Aku tidak ingin membuat Aisyah mengenal cinta dan membuatnya melupakan cita-citanya untuk sekolah ke perguruan tinggi. Jika aku mengatakannya sekarang, Aisyah akan tidak fokus sama sekolahnya, dan aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin dia mencapai cita-citanya hingga dia sukses" Jawab Rangga.
Haris terdiam sejenak, "Hmmmm, aku salut sama cintamu kepada Aisyah. Mencintai juga tidak harus memiliki, memikirkannya dalam diam adalah cara terbaik untuk kepentingan bersama, tanpa harus mendahulukan ego" Ucap Haris, lalu di sambut dengan anggukan kepala oleh Rangga. Walaupun mencintai dalam diam itu sakit, namun Rangga tidak mau egois dan membuat Aisyah melupakan cita-citanya untuk sekolah ke perguruan tinggi.
Sesungguhnya cinta itu memabukkan, Rangga tidak ingin tersesat oleh cinta yang tidak di Rhido oleh Allah.
"Aku akan selalu mendoakan mu, agar kamu bisa membuat kedua orang tua mu bangga kepadamu Aisyah. Aku akan selalu ada untuk mu" Batin Rangga dengan penuh tekad.
****
Sementara itu, ditempat lain. Aisyah terlihat sedang duduk sembari tersenyum bahagia. Membayangkan wajah Rangga, sang guru matematika yang tampan itu, sungguh membuat hatinya berbunga-bunga. Aisyah tidak tau, perasaan apa yang ia rasakan ini? Namun setiap kali ia memikirkan sang guru, ia merasa sangat bahagia, dan hanya dengan mengingat wajahnya saja bisa membuat senyum di bibirnya melukis begitu saja.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏