Pesona yang ditawarkan seorang Rindu terkadang membuat para laki laki tidak dapat menahan perasaannya.
Bahkan adik kandung Papanya sendiri begitu menggilainya hingga mengklaim bahwa Rindu adalah wanitanya.
"Rindu.. sayang.."
Dirga menatap dalam wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdenyut.
"Uncle aku takut"
Jawab Rindu dengan bola mata berkaca kaca.
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia atau bahkan sebaliknya?!.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR YAA MAKKKK...
LIKE, KOMENT, VOTE DAN JUGA FAVORITKAN MAKKK 🙏🙏🙏🙏
Happy reading dan untuk para readers 💙💙💙💙💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahyuma_Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
D&R 14
🍂Happy Reading Makkk....🍂
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nih, minum dulu"
Segelas coklat panas diberikan Ninda untuk Rindu.
Setelah beberapa waktu mereka berdua tertidur pada akhirnya mereka terbangun pada siang hari.
Ninda duduk didepan Rindu, sambil menyamakan gerakan seperti Rindu yang menyesap minuman di meja makan bulat tersebut.
"Terus masalahnya dimana, kan mereka sudah jadi mantan dan sekarang, lu kan yang jadi pacarnya"
Ucap Ninda saat tahu kenapa Rindu pagi pagi sudah bertandang kerumahnya.
"Gue gak paham lah Nin, gue cuma ngerasa kalau Dirga sedang bohongin gue"
Jawab Rindu sambil mengaduk aduk coklat panas.
"Buat apa coba dia nutupin itu dari gue, kalau merasa dia udah gak ada apa apakan tinggal bilang jujur"
Lanjutnya lagi.
"Iya juga sih.. terus sekarang mau lu gimana? gue yakin sebentar lagi nih, si om om itu bakalan kesini buat jemput lu"
"Dirga gak akan kesini"
Jawab Rindu.
Gadis itu beranjak dari duduknya, berjalan mendekat kearah sofa.
"Come, kita jalan ke mall hari ini, kita habisin saldo atm gue"
Rindu bergerak memasang tali sepatunya sambil sesekali melihat pada temannya itu.
"Serius nih.. aaaaa temen gue baik deh, ok gue ganti baju sebentar"
Dan sesaat kemudian kedua sahabat itu terlihat antusias untuk jalan jalan hari ini, begitu mereka masuk kedalam mobil Rindu, keduanya langsung melaju meninggalkan gedung apartement Ninda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Persis apa yang dikatakan oleh Rindu jika Dirga tidak akan datang menemuinya, sebab telah terjadi sebuah tabrakan saat mobil Dirga melaju kearah apartement Ninda.
Kemacetan panjang telah terjadi, laki laki terlihat menggeram hingga beberapa kali memukul setir mobilnya.
Oh shi.t
mereka bodoh atau bagaimana, kenapa tidak segera membawanya ke rumah sakit
laki laki itu keluar dari mobilnya, berniat untuk melihat apa sebenarnya yang diributkan didepan sana.
Begitu Dirga sampai dikerumunan orang yang terkena tabrakan, matanya membulat, terkejut.
Lenna.!
Perempuan itu pingsan dengan pelipis yang mengeluarkan darah.
Secepat kilat Dirga meraih tubuh perempuan itu, dimana semua orang bertanya pada dirinya apa Dirga mengenal perempuan ini.
Alih alih perduli menjawab pertanyaan orang Dirga membawa Lenna masuk kedalam mobilnya, bergegas menuju kerumah sakit terdekat.
Sesampainya dirumah sakit laki laki itu berlari tergesa gesa, dengan Lenna dalam dekapannya Dirga menuju Instalasi gawat darurat.
"Bagaimana keadaan dia dokter?"
Tanya Dirga pada dokter laki laki yang baru keluar tersebut, setelah beberapa saat Lenna masuk kedalam ruangan IGD dan mendapat penaganan.
"Dia hanya pingsan saja kemungkinan karena syok dan juga sedikit luka memar dikepalanya yang sudah kita obati"
Jelas sang dokter tersebut.
"Setelah sadar nanti dan dia merasa sudah baik baik saja kamu bisa membawanya pulang, tapi setelah menyeselaikan administrasi nya"
Dirga menganggukan kepalanya, dia fikir ada hal buruk yang terjadi dengan perempuan itu tapi setelah mendengar penjelasan dokter tadi akhirnya Dirga bisa bernafas lega.
Secara perlaha Dirga membuka pintu kaca yang berada didepannya itu, dan terlihat jelas Lenna masih dengan setia memejam kan matanya.
Tanpa sadar tangan Dirga mengusap lembut kepalanya sambil memindai wajah perempuan tersebut hingga sudut bibirnya tertarik tipis.
Dasar ceroboh.!
apa kamu tidak bisa menghilangkan sifat panikmu saat sedang terdesak
Lenna terlihat membuka matanya pelan, sedikit tertegun karena mendapati Dirga ada didepannya, matanya menatap sekeliling memastika dia berada dimana.
Ini dimana.? rumah sakit...
memang ada apa.?!.
"Akhirnya kamu bangun juga"
Dengan nada sinis, Dirga mulai berbicara.
"Hm, kenapa aku ada disini.. tadikan aku.."
Suara Lenna tertahan sesaat setelah merangkai kejadian sebelum dirinya berada disini, dia menatap Dirga tidak percaya.
"Sudah menginggatnya?"
Lenna mengaggukan kepalanya pelan.
"Bagus kalau begitu"
"Hmmm apa kamu yang membawaku kemari"
Alih alih menjawab Dirga melipat kedua tangannya sambil menatap jengah perempuan yang masih berada diatas bangkar tersebut.
"Menurut kamu"
Laki laki itu balik bertanya dengan ujung alis yang terangkat.
"Kata dokter, setelah kamu sadar dan tidak merasa ada yang sakit, kamu boleh pulang"
"Oh begitu yaa, sepertinya aku juga sudah merasa baik baik saja sekarang"
Secara perlahan Lenna turun dari ranjang putih mendominasi tersebut, kemudian menatap Dirga yang tengah memperhatikan nya.
"Maaf kalau membuat kamu susah, tapi kamu juga tidak perlu repot repot untuk menunggui ku, cukup tadi kamu antar kesini setelah itu kamu bisa kembali"
Ucap Lenna sambil menundukkan kepalanya.
Jari jemarinya saling bertautan, takut akan reaksi berlebih yang ditunjukan laki laki itu.
"Sudah bicara omong kosongnya? apa kita bisa pergi pulang sekarang, aku tidak mempunyai banyak waktu"
Setelah berkata begitu Dirga membalikan tubuhnya, menyeret langkahnya pergi dari sana dengan diikuti Lenna dari belakang dengan senyum smirk.
Gotcha.!