Sebuah kecelakaan yang terjadi enam bulan lalu membuat Baby Corn harus kehilangan sebelah kakinya. Ia juga sempat mengalami koma selama tiga bulan. Sementara kekasihnya Lucky meregang nyawa di lokasi kecelakaan.
Seorang dokter bernama Maxime, memantau perkembangan kesehatan Baby dari mulai terapi sampai ia dinyatakan sembuh. Perlahan timbul rasa suka pada Baby. Karena berstatus duda, ia tak pernah mengakui jika dirinya jatuh cinta pada Baby.
Setelah siuman, Baby tinggal di Paris, Perancis, sebuah kota yang penuh keromantisan. Ia berharap bisa melupakan kenangan pahit setelah kehilangan sebelah kaki dan juga kekasihnya.
Cita-citanya terhenti karena fisik yang cacat, membuat Baby harus membuat kaki palsu. Di saat yang sama, perjuangan cinta dokter Maxime diuji ketika Baby memutuskan untuk masuk dunia modeling.
Bagaimana perjuangan dokter Maxime dalam meraih cintanya, apa Baby bisa menjadi supermodel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. MULAI BUCIN
Perjalanan kali itu semakin terasa menegangkan. Hingga tibalah mereka di Mansion Rose.
"Terima kasih sudah diantar."
"Sama-sama."
Sesaat kemudian Maxime kembali melajukan arahnya menuju apartemen. Cukup waktu dua puluh menit hingga ia sampai di sana.
Sepanjang perjalanan ke kamar, pikiran Maxime tentang Baby kembali terngiang-ngiang. Ketika sampai, Maxime segera menuju kamar mandi untuk mendinginkan kepala dan juga Maxime juniornya.
Derasnya air shower tak membuatnya tertidur, hingga terpaksa Maxime menuntaskan hajatnya dengan bantuan sabun. Setelah mereda, Maxime menuju pantry. Diambilnya sebuah apple hijau dan segera ia makan saat itu juga.
Ingin hati mengajak Baby makan bareng tapi karena kecelakan tadi sore membuat semua rencananya berantakan. Ponsel Maxime menyala dan terlihat sebuah notif di sana.
Keningnya berkerut, "Jas Jus?"
Message
"Uncle, maaf Jas Jus belum bisa menginap di sana. Aku masih melepaskan semua kerinduanku dengan my bestie," pamitnya.
Maxime segera mengirimkan pesan balasan pada Jas Jus, " Oke, terserah kamu, yang penting kamu happy."
"Terima kasih Uncle, Perkasa."
"Sama-sama."
Setelah sambungan telepon terputus, Maxime menghabiskan apple-nya lalu berganti baju di kamarnya. Beruntung Maxime juniornya sudah terlelap, hingga Maxime merasa tenang.
Jas Jus sebenarnya sangat beruntung mempunyai paman seperti Maxime. Selain sosoknya yang lembut, penyayang, dia juga sangat menghormati wanita. Tak ada garis hitam yang mencoreng namanya sampai saat ini. Hanya saja kegagalan pernikahannya membuatnya sedikit berbeda.
Maxime yang awalnya hangat beberapa tahun terahir seperti tembok es. Dingin dan ucapannya selalu menusuk sampai relung hati. Bukan menyakiti tetapi tepat sasaran. Tetapi setelah ia bertemu dengan Baby, perlahan sikapnya kembali seperti dulu.
"Tapi aku berharap, Uncle tidak akan mudah disakiti wanita lagi," doa Jas Jus dalam hatinya.
Beruntung saat ia liburan di Paris, ada Maxime di negeri paling romantis itu, sehingga ia tak perlu menginap di hotel. Setiap masalah yang melanda Baby selama di Paris, Jas Jus sudah mengetahuinya dari Maxime.
Maxime memang tidak akan memberi tahunya, tetapi Jas Jus lah yang lebih intens menghubungi Maxime. Apalagi Jas Jus memang berniat untuk mendekatkan mereka berdua.
Jas Jus mengusap foto mereka saat kemarin masih berada di Paris. "Semoga nggak ada lagi kesedihan di wajah kamu Baby."
🍂Beberapa hari kemudian.
Setelah kepulangan Jas Jus, terpaksa Baby harus menjalani kehidupannya sendiri lagi. Tetapi wejangan dari Jas Jus berhasil membuat dr. Maxime dekat dengan Baby kembali.
Dengan telaten, Maxime kembali mengantar dan menjaga Baby selama ia latihan di agency model. Tak banyak waktu memang, tapi membuat Maxime dan Baby sama-sama Bahagia. Setidaknya Baby tak merasa kesepian lagi.
"Habis latihan, temani aku makan siang, bisa?"
Baby yang kesulitan melepas sepatunya sedikit menoleh ke dr. Maxime, "Bisa, sebentar ya."
Melihat Baby kesusahan melepas sepatunya, dr. Maxime rela berjongkok dan membantu Baby melepas sepatunya. Lalu setelahnya membantunya mengganti dengan sepatu kets. Karena postur tubuh Baby yang jenjang, ia memang jarang menggunakan sepatu high heels.
Baby menatap intens pada lelaki di depannya itu. Meski tak disadari Maxime, tetapi Baby mulai mencuri pandang padanya. Sesekali ia mengagumi ketampanan dokter di depannya itu.
"Nah, sudah."
"Terima kasih."
"Sama-sama," ucap dr. Maxime sambil tersenyum.
"Dilihat dari segi mana pun, nih dokter emang tampan, baik pula!"
Terlihat sekali pikiran Baby yang tiba-tiba meracau tak jelas. Oleh karena itu ia tak berani berkata banyak dan hanya menurut saat dr. Maxime mengajaknya pergi.
"Ayo pergi, katanya sudah selesai."
"Eh, iya."
Baby segera bangkit dan menerima uluran tangan dari Maxime yang menggandeng tangannya sampai di tempat parkir. Sesudahnya ia pun membukakan pintu mobil untuk Baby.
"Apa dr. Maxime benar-benar menganggap jika waktu itu ucapanku sungguh-sungguh dan memasukkannya ke dalam hati."
"Aah, kenapa aku jadi malu sendiri, tapi semuanya tampak nyata."
"Baby, seat belt-nya dipasang dulu," ucap Maxime mengingatkan.
Tetapi sepertinya Baby tak mendengar ucapanya. Tanpa permisi, Maxime mencondongkan tubuhnya ke arah Baby untuk memasangkan seat belt-nya.
Kaget dong, Baby reflek memegang tangan Maxime dan menoleh. Blush, seketika wajah Baby memerah menahan malu saat bertatapan dengan dr. Maxime.
"Eh, bi-biar aku aja dokter."
"Lah, kenapa dia jadi gugup begitu?" batin Maxime.
"Ya sudah, ayo kita berangkat."
"Iya."
Debaran jantung Baby makin berdisco kali ini. Hembusan nafas mint yang menyegarkan, tatapan teduh dari Maxime lembut menyentuh kalbu Baby. Membuat Baby merasakan hal yang tak pernah ia dapatkan setelah kepergian Lucky.
Setelah selesai latihan, Baby memenuhi janjinya untuk makan siang bersama dr. Maxime. Awalnya semuanya berjalan lancar, sampai di mana saat ada sisa dessert yang menempel di ujung bibir Baby, membuat Maxime ingin membantu mengelapnya.
Maxime berdiri lalu mendekati Baby yang terlihat lahap memakan dessertnya, sampai tak sadar ada sisa krim di sudut bibirnya. Dengan sebuah tisu, Maxime mengusap sisa makanan yang menempel di sudut bibir Baby. Sontak saja tangan Baby memegang tangan Maxime. Kaget, bercampur malu tentunya.
Di tempat makan mewah seperti ini, ia tidak bisa menempatkan posisinya. Bahkan sampai makan pun belepotan.
"Dokter tadi ngapain?"
"Bersihin sisa kue kamu, tuh makannya belepotan!"
Maxime menunjuk ke sudut kanan bibir Baby.
"Ha-ah ...."
"Ma-maaf," cicit Baby.
Meski terkejut bercampur malu, Baby menikmatinya. Perhatian kecil dari dr. Maxime membuat memory tentang Lucky kembali terngiang. Belum lagi ucapan dr. Maxime yang menyuruhnya untuk makan secara perlahan-lahan.
"Kalau makan, nggak usah buru-buru, lagian nggak ada yang bakal merebut makanan kamu, kok."
Sejenak Baby menatap intens duda kece di depannya itu sambil bermonolog dalam hati. "Salah nggak sih, jika aku ada rasa sama dia?"
Tetapi perhatian dari dr. Maxime terkadang membuatnya risih. Apalagi ia ingat jika Cherry bisa saja menyerangnya lebih parah lagi setelah ini.
"Tuhan, berikanlah jodoh terbaik untuk dokter duda kece di depanku ini, Ya Allah, Aamiin."
.
.
Risih karena perhatian berlebih dari seorang dokter membuat Baby Corn harus memutar otaknya ketika bertemu dengan dr. Maxime. Ia ingin menjaga jarak aman daripada harus pasrah menerima semua perhatian dari dokter.
Tapi sepertinya membalas kecemburuan Cherry dengan makin dekat sama Maxime tidak ada salahnya. Mungkinkah perhatian dari Baby nanti akan disalahkan artikan oleh Maxime. Semoga saja tidak.
Saat ini Baby berjanji tidak melibatkan hatinya saat bersama Maxime, terlebih ia belum yakin pada hatinya. Bukan takut jika ditolak, tetapi Baby begitu takut jika dokter serius padanya. Bisa-bisa ia disuruh untuk menikah muda oleh Mama Marrie dan Daddy Oreo.
.
.
...🌹Bersambung🌹...