Ilona, gadis jalanan yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Kehidupan jalanan memaksanya menjadi gadis kuat dan pemberani. Berbeda dengan Ayyara, seorang gadis culun yang selalu menjadi sasaran bully di sekolahnya. Selain penampilannya yang culun dan dianggap jelek, dia sedikit gagap saat berbicara. Bahkan kakak dan sepupunya tidak suka padanya.
Hingga suatu hari, terjadi kecelakaan yang membawa perubahan dalam hidup keduanya. Ilona terbangun dalam raga Ayyara. Kecelakaan itu mengubah semua jalan hidup keduanya. Ilona yang tidak memiliki orang tua dan kehidupannya yang susah, berubah mendapatkan kasih sayang orang tua dan kehidupan layak. Dan Ayyara, dia berubah menjadi gadis yang tak mudah ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali
Pak Tanto melajukan mobil tanpa berbicara apapun. Ayyara juga hanya terdiam. Dibelakang mobil mereka, ada mobil Deon bersama Gian di dalamnya.
"Jangan ngomong apa-apa sama Papa, Pak." Ujar Ayyara, membuat Pak Tanto mendongak sebentar melalui spion.
"Iya, neng. Bapak ga akan ngomong apa-apa sama tuan. Tapi, maaf ya neng, bapak ikut campur. Emang kenapa neng Ayya bisa sampe di ruangan belakang gedung sekolah gitu? Ditambah, tangan eneng terluka lagi."
"Cuman masalah salah paham aja, Pak." Pak Tanto hanya mengangguk. Suasana berubah menjadi hening kembali. Hingga tak terasa, mereka tiba di rumah.
Ayyara dengan cepat turun dan masuk rumah. Ia bersyukur, Abima dan Mala belum kembali. Dia bisa mencari alasan untuk lukanya nanti.
***
Beberapa hari berlalu, luka di telapak tangan Ayyara sudah sembuh. Ayyara berhasil memberikan alasan pada Abima dan Mala. Keduanya membawa Ayyara ke dokter.
Malam ini akan ada acara pesta ulang tahun perusahaan Antara, perusahaan milik Abima, Papa Ayyara.
"Ayya sayang, ayo nak turun! Tamu udah pada dateng." Panggil Mala didepan pintu kamar Ayyara.
"Iya, Ma." Gadis itu membuka pintu kamarnya.
"Cantik banget anak Mama. Ayo, tamunya udah mulai rame."
Ayyara dan Mamanya segera turun. Banyak pasang mata yang menatap Ibu dan anak itu dengan perasaan kagum. Balutan dress selutut yang melekat di tubuh Ayyara, semakin menambah kecantikan gadis itu.
Deon, Gian dan Kenzo yang keluarganya juga di undang pun menatap tak berkedip ke arah Ayyara. Gadis itu menarik banyak perhatian para tamu yang hadir.
"Cantik banget putri Papa," Puji Abima.
"Makasih Pa. Oh ya, Pa, Ayya mau ambil minum dulu. Haus." Gadis itu segera menjauh dari kedua orang tuanya. Sebenarnya dia risih dengan tatapan-tatapan orang-orang di sekitarnya.
Tak lama Ayyara pergi, seorang rekan bisnis Abima tiba. Lelaki yang masih sangat muda itu menghampiri Abima dan Mala bersama sang Paman.
"Selamat ya om, tante." Ujar Alden Bagaskara, pemilik Bagaskara Group, orang yang baru beberapa minggu lalu melangsungkan kerja samanya dengan Abima.
"Sama-sama, Alden."
"Abima." Lukman, Paman Alden, langsung memeluk sahabatnya Abima. Dia turut bahagia dengan keberhasilan sahabatnya itu.
"Selamat atas keberhasilamu. Antara Corp akan selalu berdiri tegak dengan jiwa kepemimpinanmu."
"Terima kasih Lukman. Kamu juga ikut andil atas suksesnya perusahaanku." Abima dan Lukman melepas pelukan mereka. Mata Lukman mengarah pada Mala.
"Mala, selamat!"
"Terima kasih, Kak." Balas Mala. Dia mengenal Lukman sejak SMA. Lelaki itu adalah kakak kelasnya. Dia juga yang mengenalkan Abima padanya.
"Oh ya, dimana anak-anak kalian? Ayo, perkenalkan mereka pada aku dan Alden. Supaya mereka bisa menjalin persahabatan. Bukan hanya orang tua, anak-anak juga harus saling bersahabat." Ujar Lukman.
"Iya, kamu benar." Balas Abima. Deon dan Gian yang kebetulan menatapnya, di panggilnya dengan jentikkan jari. Sementara Ayyara, dia meminta Mala untuk mencarinya.
"Perkenalkan, ini kedua putra saya." Ucap Abima. Deon dan Gian segera mengulurkan tangan mereka untuk menyapa Lukman dan Alden.
"Saya Deon om,"
"Saya Gian,"
"Lukman, sahabat Papa kalian." Jawab lelaki itu sambil bergantian menjabat tangan Deon Gian.
Perhatian mereka teralihkan pada Alden yang hanya diam. Lelaki itu hanya menatap Deon Gian yang sedang bersalaman dengan Pamannya.
"Gue Deon," cowok itu mengulurkan tangannya terlebih dulu. Alden masih terdiam. Ia seolah enggan untuk berkenalan dengan kedua cowok itu. Tapi, beberapa detik kemudian, dia menerima uluran tangan Deon.
"Gue Alden."
"Gue Gian,"
"Alden."
Abima, Lukman, Deon dan Gian mulai terlibat dalam pembicaraan. Sedangkan Alden, ia hanya terdiam menyaksikan. Sesekali ia melihat handphonenya.
"Pa, ini Ayya." Mala yang datang membawa Ayyara pun membuat kelima lelaki itu menoleh, termasuk Alden yang menunduk memerhatikan hpnya tadi.
"Lo?" Ayyara langsung membuka suara saat melihat Alden. Tuhan telah mempertemukannya kembali dengan cowok menyebalkan yang menolongnya tempo hari.
Alden hanya menatapnya datar. Namun dalam hatinya ia tersenyum. Bersyukur pada Tuhan yang mempertemukannya kembali dengan cewek itu. Dan ternyata, dia adalah putri dari sahabat Pamannya, dan juga rekan bisnisnya.
"Kamu kenal sama Alden, nak?" Mala merasa bingung dengan putrinya. Tidak hanya Mala, Abima, Lukman, Deon dan Gian juga. Pertanyaan Mala mewaklili mereka.
"Dia yang nolongin Ayya, Ma. Waktu Ayya di hadang sama preman." Jawab Ayyara.
Dia cowok nyebelin yang pengen Ayya tabok wajahnya. Lanjut Ayyara dalam hati.
"Jadi, kamu Alden yang nolongin Ayya? Terima kasih banyak nak, sudah nolongin anak tante."
"Iya, Alden. Om sangat berterima kasih. Seandainya tidak ada yang menolong Ayya waktu itu, om ngga bisa bayangin lagi. Om ga bisa kehilangan putri om lagi."
"Sama-sama, om tante. Saya hanya kebetulan lewat sana."
Deon dan Gian kembali terlibat perbincangan kecil bersama Lukman. Abima dan Mala menyambut beberapa tamu yang baru datang. Sementara Alden dan Ayyara, kedua hanya terdiam dengan tampang dingin masing-masing.
Beberapa menit kemudian, Abima mulai menyampaikan beberapa kata penyambutan dan mepersilakan tamu-tamu untuk menikmati acara.
"Ayyara kan nama lo?" Alden mengulurkan segelas minuman pada Ayyara.
"Gue bisa ambil sendiri."
"Oke." Alden meletakkan kembali minuman tersebut ke meja. Ia kemudian duduk di anak tangga bersama Ayyara.
"Maaf gue marah-marah sama lo waktu itu." Ayyara menoleh padanya. Hanya sekilas, dia lalu berbalik menatap ke arah lain.
"Tempo hari lo minta maaf soal panggilan om kan? Udah gue maafin." Ayyara terdiam sejenak. Cowok disampinya ini mendengar apa yang dikatakannya hari itu. Seharusnya dia tidak marah padanya. Dia harusnya memaafkannya dan berterima kasih karena sudah menolongnya.
Ayyara menarik nafasnya pelan, lalu menoleh ke arah Alden. "Iya, gue maafin lo. Gue juga minta maaf tiba-tiba kesel gini sama lo. Makasih juga udah nolongin gue waktu itu."
Alden tersenyum kecil. "Sama-sama. Udah gue maafin. Jadi?"
"Apa?"
"Berteman?" Alden mengulurkan tangannya.
"Eemm.... Oke." Ayyara menerima uluran tangan tersebut. Keduanya saling melempar senyum.
"Oh ya, kenapa om Abima bilangnya ga mau kehilangan lo lagi?"
"Gue kecelakaan. Ga sadar sebulan."
"Koma?"
"Hmm..."
"Kenapa?"
"Jatoh dari balkon sekolah." Alden terdiam mendengar jawabn Ayyara. Entahlah, ia jadi ingin mencari tahu penyebab jatuhnya Ayyara dari balkon sekolah.
"Kalo lo?" Alden menatapnya dengan kening mengerut. "Maksud gue, kenapa lo bisa di undang Papa? Lo kenal dekat sama Papa?"
"Paman gue sahabatan sama Papa lo. Papa lo juga rekan bisnis gue."
"Bisnis?"
"Ya. Gue kerja di Bagaskara Group." Ayyara terdiam sejenak. Dia pernah membaca tentang Bagaskara Group. Tapi dia lupa siapa pemimpin perusahaan itu.
"Perusahaan terkenal itu?"
"Hmm..."
"Bagian apa?"
"CEO."
"Seriusan?"
"Iya. Itu perusahaan milik almarhum Papa gue. Karena kedua orang tua gue udah ga ada. Gue yang hendel semuanya."
"Jadi, perusahaan itu milik lo?" Alden mengangguk. "Berapa usia lo?"
"21 hampir 22."
"Usia semuda ini, lo mimpin perusahaan? Gila!"
"Gue di bimbing sejak kecil sama paman. Perusahaan di pegang paman waktu itu. Saat gue tepat 20 tahun, semuanya di serahin ke gue. Tapi, masih ada campur tangan Paman yang terus bantu gue."
Ayyara dan Alden terus berbincang. Tanpa mereka sadari, Abima, Mala dan Lukman memperhatikan mereka sejak tadi. Lukman bersyukur, ia bisa melihat ponakannya yang pendiam itu sedikit banyak bicara. Ia juga melihat senyum di wajah ponakannya. Semoga ini bisa menjadi hal baik untuk Alden yang sudah menanggung beban berat sejak kecil.
Sementara itu, Deon dan Gian menatap tak suka ke arah Ayyara. Cewek itu dengan mudah mengajak bicara Alden. Tapi mereka, Alden hanya terdiam dan menatap dingin. Bahkan lelaki itu begitu lama menerima uluran tangan mereka saat berkenalan tadi.
Disisi lain ada Kenzo. Cowok itu mengepal kuat tangannya melihat Ayyara yang berbicara berduaan dengan Alden. Hatinya seolah terbakar melihat gadis itu tersenyum menanggapi Alden. Ada rasa tak rela yang mendiami hatinya saat Ayyara terlihat begitu nyaman bersama Alden.