NovelToon NovelToon
Dinikahi Pewaris Tahta

Dinikahi Pewaris Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cintamanis
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Stefhany 22

Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.

Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!

Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Mala mencoba mengubur rasa penasarannya yang setengah mati, bahkan gadis itu masih bergelut dalam benaknya. Memikirkan perkataan Opa Johan tadi. Ah sudahlah, lagipula itu juga bukan urusan Mala. Tapi karena tadi mereka menyebut nama Danzel, yang sekarang adalah suaminya. Membuat Mala ingin tahu.

Mala memelototkan matanya saat tiba di lantai satu. Lihatlah si pria yang rasa percaya dirinya selangit itu, batu ditinggal sebentar saja sudah asik dansa dengan yang lain.

"Ehm," Mala turut bergabung di sofa bundar yang melingkar. Ia duduk disamping salah seorang gadis cantik.

"Kamu istrinya Danzel ya?" Suara anggun itu mengalun pelan di telinga Mala. Ia menoleh ke samping kanan dan bersitatap dengan gadis tersebut. Wajahnya tak asing. Sepertinya pernah melihat sekelebat di majalah atau di televisi. Entahlah, dia lupa.

"Ehm, iya. Siapa namamu?" Mala mengulurkan tangan dan menarik sudut bibirnya ramah. Hendak berkenalan lebih jauh.

Diluar dugaannya, perempuan cantik itu seolah tak ada niatan untuk sungguh sungguh menyapanya. Dia hanya menatap diam, wajah datar tanpa ekspresi.

Berusaha menetralkan ekspresinya, Mala kembali menarik tangannya yang tergantung di udara. Ternyata memang tak semua keluarga Fernandez menerimanya dengan tangan terbuka. Benar kata salah satu sepupu Danzel tadi.

"Hidupmu tak akan tenang karena memiliki kak Danzel, sebagian sepupu kami pasti iri padamu." Perkataan gadis ramah yang tadi bercengkrama dengannya terngiang di telinga.

"Apa dia mencintaimu?" Tanya perempuan itu lagi yang bagaikan pukulan telak untuk Mala yang membuatnya membisu. Jawabannya, tentu saja tidak. Tapi kalau ia jujur, pasti semua orang akan bertanya. Kenapa kalian menikah kalau tidak saling cinta?. Dan, yang akan disudutkan tentu saja dirinya. Sebagai seseorang yang tidak berkedudukan apapun di keluarga ini.

Atau mungkin saja mereka berdua akan dituduh menyepelekan pernikahan. Salahkan saja Danzel itu, sejak awal Mala memang tidak mau, tapi tak ada pilihan lain.

Gadis itu menghela napasnya kasar. Perempuan di depannya ini pandai bersilat lidah, wajahnya saja yang cantik. Tapi lidah tajamnya benar benar digunakan untuk membuat jatuh mental orang lain. Senyuman percaya diri Mala lemparkan pada orang di depannya.

"Kenapa kau tidak tanyakan saja itu pada Danzel? Menurutmu, apakah laki laki seperti dia akan asal memilih pendamping hidup?. Danzel punya segalanya yang bisa menarik perempuan manapun untuk dijadikan kekasih, jadi dia pasti memilih dengan teliti kan siapa yang akan menjadi istrinya. Yang aku tahu, bahkan dia tidak mau mendekati gadis yang bukan seleranya." Skak mat, lihatlah raut wajah perempuan berpakaian merah terang yang ingin menjatuhkannya. Diam seperti patung. Sepertinya tengah berkutat dengan pikirannya mencari alternatif jawaban. Tapi terlambat, Danzel sudah menarik tangan Mala dan membawanya ke sudut lain. Sofa khusus orang tua, dimana dad Arthur dan mami Aisha juga ada disana.

"Kemana?" Mala berkata pelan saat lelaki itu menggeretnya kesana.

"Daddy memanggil, ada yang ingin dibicarakan." Danzel menjawab singkat.

Mala bersyukur, setidaknya terhindar dari percakapan menyebalkan dengan sepupu suaminya. Kini mereka duduk bersebelahan. Daddy masih mengobrol ringan dengan salah satu lelaki yang Mala kenali sebagai pamannya Danzel.

"Ah Mala, kenalkan ini namanya Devan. Dia kakak tertua Danzel." Lagi lagi mami Aisha mengenalkan satu persatu anggota keluarga padanya. Wanita itu benar benar paham rasanya menjadi orang baru di tengah keluarga besar.

Sedangkan Danzel sudah dongkol dalam hati. Moodnya sudah memburuk sejak pertama kali melihat kakak sulungnya itu disini.

"Ayo jabat tangan!" Seru mami Aisha. Devan tanpa ragu mengulurkan tangannya dengan sopan. Menyebut namanya seraya tersenyum simpul namun sangat lembut. Dengan cepat Mala menyambut uluran tangan itu.

Pesona laki laki di depannya ini memang tak perlu diragukan lagi. Sorot matanya yang tegas mencerminkan sosok pemimpin yang tangguh. Kharismanya serta wibawanya mampu menarik perhatian semua wanita, termasuk Mala. Rasa kekaguman itu tak dapat ia tutupi dari wajahnya kala Devan bersikap dengan sangat sopan pada wanita. Pria ini berbeda. Berbanding terbalik dengan Danzel yang urakan. Dia lebih pendiam, tapi kharisma yang terpancar darinya sungguh memikat. Ah, kenapa Mala malah membandingkannya dengan suami menyebalkannya itu. Tidak lihat tatapan Danzel yang sudah setajam silet?.

Berkenalan singkat dengan Devan, lalu Mala kembali diam di tempatnya. Lelaki itu terlihat berbincang ringan dengan Dad Arthur. Daddy tampak menepuk pundaknya, seolah memberikan dukungan.

"Senang sekali kamu kenalan sama dia?" Bisikan Danzel yang pelan itu masih tertangkap di indra pendengaran gadis itu. Kepalanya menoleh, melemparkan sorot mata bingung. Seolah bertanya apa maksud lelaki itu. Mulut Mala baru saja akan terbuka saat Daddy Arthur angkat bicara.

"Danzel, dengarkan baik baik." Lelaki paruh baya itu membenahi posisi duduknya. Memandang putra bungsunya lekat. "Devan mendapatkan tender besar di Indonesia. Kakakmu sungguh hebat." Hah, sudah kuduga. Pasti tidak jauh jauh dari membanggakan keberhasilan putranya itu padaku. Gumam Danzel dalam hati.

"Lalu apa hubungannya denganku?" Laki laki itu bertanya to the point. Malas membahas topik ini terlalu lama.

"Dengarkan dulu, Daddy belum selesai bicara. Jadi, Devan akan menetap disini untuk mengerjakan proyek ini. Dan, karena kamu baru belajar bisnis, maka Daddy memintamu untuk mendampingi Devan selama mengerjakannya. Hitung hitung sekalian belajar, agar kamu bisa jadi seperti dia." Ujar Daddy Arthur.

"Maksud Daddy aku akan jadi bawahannya begitu?" Ketus Danzel menyahut. Tak sadar perkataannya barusan membuat semua yang tadinya berbincang bincang ringan terdiam. Para paman Danzel ikut tegang. Jangan sampai ada keributan di tengah pesta yang tenang ini.

Aisha menatap suaminya, memberi kode untuk bersikap bijak dan tenang dalam menghadapi putra bungsunya. Mau bagaimana lagi, sifat pencemburu akut Danzel itu juga menurun dari ayahnya. Sekarang justru Arthur yang dibuat pusing menghadapi putra kandungnya yang seolah menjiplak segala sifat buruknya di masa lalu. Aisha teringat akan kesalahan pahaman beberapa puluh tahun lalu antara ia dan suaminya yang hampir membuat mereka berpisah. Akar masalahnya hanya satu, sebuah rasa yang disebut cemburu.

Dad Arthur menghembuskan napas pelan, mengatur emosinya. "Bukan begitu, Daddy hanya ingin kau meniru Devan. Menjadi pebisnis handal sepertinya. "

Mami Aisha memejamkan matanya singkat. Ia lupa mengajari Arthur cara memilah kosakata yang baik agar tak menyinggung hati putranya yang sensitif itu.

"Aku tidak mau dad, aku tidak bisa menjadi orang lain. Aku bukan dia, aku Danzel dan tidak akan pernah meniru orang lain!." Dada Danzel bergemuruh, entah mengapa ia tak bisa mengendalikan diri jika sudah dibandingkan seperti ini.

"Daddy melakukan ini semua untuk kebaikanmu!" Suara pria itu agak tinggi dari sebelumnya. Namun tidak sampai membentak karena tak mau mengacaukan suasana yang sebenarnya sudah kacau.

Mala yang tak tahu apapun tentang apa yang terjadi hanya diam, menyaksikan percekcokan itu. Sesekali melirik rahang suaminya yang mengeras.

"Daddy selalu berkata seperti itu sejak dulu, menyuruhku menjadi seperti dia." Keras kepala Danzel benar benar sama seperti Arthur saat masih muda dulu. Jika sudah marah, susah sekali mengendalikannya.

"Kau tidak bisa seperti itu terus. Menghasilkan uang hanya dengan balapan, kau harus belajar tanggung jawab apalagi sekarang kau sudah punya istri!"

"Aku tahu tanggung jawabku dad, terimakasih sudah mengingatkan. Aku permisi." Lelaki itu bangkit dari duduknya. Ia menggenggam tangan Mala dan mengajaknya berlalu darisana. Inilah yang Danzel benci, dibandingkan di depan orang banyak.

"Danzel!" Mami Aisha yang berupaya menghentikan langkah putranya bahkan tak berpengaruh.

**

"Danzel tunggu!" Susah payah Mala menyeimbangi langkah lebar suaminya. High heels sialan ini benar benar menyusahkan.

"Danzel tenanglah.." Gadis itu menghadang langkahnya di depan. Mencegah suaminya yang hendak masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.

"Minggir!" Nada bicaranya sungguh dingin. Tidak jahil atau sombong seperti biasa. Raut wajah lelaki itu juga sungguh berbeda.

"Jangan memancing emosiku!"

"Kamu tidak bisa sembarangan pergi Danzel, itu sama saja nggak menghargai orang orang yang ada di dalam. Kamu sendiri yang bilang ini adalah pesta untuk kita kan?!"

"Yasudah tetaplah disini, aku mau pergi!" Balasnya lagi. Melewati tubuh kecil Mala dan hendak masuk kendaraannya.

Diluar dugaan, gadis itu turut masuk ke dalam. Mengikuti suaminya. Sebenarnya Mala tak enak hati pada semua orang. Ingin kembali ke dalam, tapi apa yang harus ia lakukan. Bahkan tak ada satupun anggota keluarga yang benar benar akrab dengannya kecuali mami Aisha.

***

"Pelan pelan Danzel! Kamu mau kita mati?!" Jeritan Mala yang berbalut rasa panik itu tak melonggarkan injakan gas dibawah sana. Inilah kebiasaan buruk Danzel, saat ia marah, akan melampiaskan kekesalannya dengan berkendara secepat kilat. Menginjak pedal gas sekuat tenaga seolah itu dapat mengurangi rasa sakitnya.

"Danzel awas!" Jerit Mala.

Dan bruakk, kecelakaan pun tak dapat dihindarkan.

Bersambung...

1
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
kurangin sifat sombong mu danzel,,lanjut
nurhayati rambe
suatu saat nanti omongan mu bisa jadi boomerang danzel
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
panas panas
nurhayati rambe
lanjuttt
nurhayati rambe
mala tak kan cemburu
nurhayati rambe
kaaih penjelasan danzel ,,jangan di kaaih harapan palsu
nurhayati rambe
semangat
nurhayati rambe
lanjut,,
nurhayati rambe
lanjutt
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
lanjut kak
Lestaria Siregar
bagus alur ceritanya lanju dong
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
wihh si danzel gak banget kelakuannya
nurhayati rambe
tenang opa danzel pasti berubah jadi lebih baik lagi
nurhayati rambe
sampai lupa alur ceritanya sangkin lama nya lost
panty sari
thor buat danzel bucin dong ke mala terus punya baby kembar biar mom and dad nya senang
panty sari
thor buat mala jago bela diri biar dia keren kaya aisha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!