Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJEBAK MASA LALU
“Maaf sudah membuatmu lelah, Al.” Kenzo merapikan kembali pakaiannya setelah melakukan kegiatan suami istri bersama Almahyra. Hawa dingin Kota Malang begitu menusuk di malam itu.
Almahyra masih terlihat malu-malu meskipun sudah sering melakukannya bersama Kenzo. Tak di pungkirinya, dia selalu merindukan saat-saat seperti ini. Almahyra berandai-andai jika Kenzo hanya miliknya seorang.
“Mau minum nggak, Al?” Kenzo menyeduh teh celup herbal yang dia bawa dari rumah.
“Harusnya aku yang melayani Paman.” Melihat Kenzo membuat teh sendiri Al merasa tidak enak. Namun saat akan beranjak Kenzo memberi isyarat dengan tangannya agar Al tetap diam di tempat.
“Kamu pasti capek Sayang. Cuma bikin teh mah kecil,” ucap Kenzo sambil menjentikkan jarinya.
“Ye, sapa yang capek. Gitu doang juga.” Ucapannya membuat Kenzo menoleh. Buru-buru Al menelungkupkan wajahnya di bantal. Dia merasa malu setelah sadar akan ucapannya.
“Kau bilang apa, Al?” tanya Kenzo setelah meletakkan nampan tehnya di meja samping tempat tidur.
Kenzo memeluk Almahyra yang masih menyembunyikan wajahnya.
“Liat sini Al.” Kenzo menciumi punggung dan tengkuk Al agar dia bergeming. Merasa cara itu tidak mempan Kenzo menggelitik Almahyra.
“Ampun Paman. Ampun... Ahh, beneran Al nggak tahan, Paman.” Al akhirnya berbalik menghadap Kenzo.
“Makanya jangan memunggungiku. Kecuali aku yang minta.” Kenzo mengedipkan matanya.
“Jangan bilang Paman mau lagi!” Al menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Katanya gitu doang nggak bikin kamu capek.” Kenzo mengeratkan rangkulan tangannya di leher Almahyra.
Almahyra mengintip Kenzo di sela-sela jarinya. “Udah ah, Paman. Jangan ngelihatin Al seperti itu!”
Kenzo tidak peduli dengan sikap malu-malu Almahyra. Dia kembali menyerang Almahyra dengan cumbuan mautnya. Almahyra menyesali apa yang telah diucapkannya. Kenzo melupakan teh herbal yang telah di seduhnya.
...
Mona pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menuju kantin. Sejak pertama menginjakkan kaki di rumah Kenzo, Mona tidak menyukai Mita. Art yang terlihat sangat dekat dengan keluarga Kenzo dan Almahyra. Mona masih memandang status sosial seseorang jika ingin bergaul.
Makanan pesanannya sudah datang. Strawberry cake dan kopi capuchino yang terlihat instagramable. Tak mau menyia-nyiakan penampilan indah kue dan kopi itu, Mona mengambil gambarnya sebelum di makan.
Jiwa eksisnya mendorong Mona untuk mengunggah foto yang baru saja dia ambil ke akun media sosialnya. Mona tersenyum puas setelah foto itu berhasil di unggah. Dengan lahap dia memakan kue strowberry kesukaannya. Kebetulan dia juga sangat lapar karena semalam tidak turun untuk makan malam.
“Selamat pagi Dokter Mona!” sapa seorang dokter wanita dengan tag nama Risa.
“Selamat pagi Dokter Risa. Silahkan duduk!” melihat Risa membawa nampan berisi sarapannya, Mona berinisiatif untuk menawarkan tempat duduk untuknya.
“Terimakasih Dok. Sendirian saja, di mana dokter Ken?” tanya Risa melirik ke sekitar tidak menemukan keberadaan Kenzo.
“Ah, dia...” ucapan Mona terputus saat ponselnya berbunyi. Mona pergi meninggalkan Risa untuk mengangkat teleponnya. Sepertinya ada keadaan darurat yang mengharuskannya segera pergi dari sana.
Mona berpamitan pada Risa lalu pergi ke kasir untuk membayar makanannya. Dia segera melangkah cepat menuju ruang IGD untuk menolong pasien kecelakaan.
Di ruang IGD sudah ada 2 orang dokter jaga. Mona di minta membantu karena korban kecelakaannya lebih dari tiga orang dan harus segera di tolong. Dengan terpaksa Mona harus turun tangan karena dia mendapat sip pagi.
Tubuh Mona yang belum begitu pulih pasca operasi membuatnya cepat lelah. Dia mundur untuk beristirahat setelah membereskan satu pasien dengan luka yang lumayan berat. Dokter yang lain memakluminya, apalagi dia adalah istri pemilik rumah sakit ini.
Mona masuk ke dalam ruangannya dan mengambil sekaleng softdrink yang selalu ada di lokernya. Rasa haus menderanya setelah bekerja lumayan keras pagi itu. Sejenak dia ingin bersantai menikmati softdrink sambil bersandar di kursi kebesarannya.
Mona melihat sekeliling. ‘Aku nggak bisa melepaskan semua yang sudah aku dapat sampai saat ini. Ken, kamu nggak boleh lepas dari genggamanku.’ Mona berbicara dalam hati.
Terlintas kembali semua ingatan tentang masa lalu antara Mona dan Kenzo. Mona yang harus pura-pura pingsan di ruang praktek waktu kuliah demi menarik perhatian Kenzo. Sikap acuh Kenzo pada wanita tidak membuatnya menyerah saat itu meskipun dia harus mengorbankan rasa malunya. Mona juga memutuskan David, cowok yang sudah di pacarinya bertahun-tahun demi mengejar cinta Kenzo. Menurutnya Kenzo lebih bisa menjamin masa depannya ketimbang David yang hanya anak seorang pengusaha biasa.
Ting!
Bunyi notifikasi di ponselnya membuat lamunan Mona terhenti. Dia segera mengambil ponselnya dan membuka pemberitahuan yang tertera di sana. Beberapa tanggapan masuk untuk unggahannya tadi pagi.
Mona tersenyum sambil membalas beberapa komentar yang masuk. Dia merasa asik berbalas komentar dengan sahabat-sahabat dunia mayanya. Setelah selesai berbalas komentar, Mona melihat-lihat isi berandanya.
Senyumnya seketika memudar ketika melihat akun media sosial milik Kenzo yang menampilkan kegiatannya beberapa hari ini. Dia tampak berpose begitu mesra bersama Almahyra di berbagai spot-spot menarik di Kota Malang.
Darah Mona serasa mendidih menahan emosi. Hatinya terasa panas melihat kebahagiaan di wajah Kenzo dan Almahyra. Matannya memerah mencoba menahan luka yang menusuk hatinya.
Ingin rasanya dia membanting ponselnya saat itu. Namun urung dia lakukan. Ponsel mahalnya baru dia beli satu bulan yang lalu. Dia masih merasa sayang.
“Ah, mending aku cabut sekarang. Lama-lama aku bisa gila kalau terus di sini.” Mona berbicara sendiri lalu menyambar kunci mobilnya dan pergi ke luar meninggalkan rumah sakit.
Mobil Mona berhenti pada sebuah kafe yang terbilang mewah dan sangat ramai. Mona mengambil meja paling dekat dengan panggung musik. Mona berusaha menikmati lagu yang dibawakan oleh band yang sedang tampil.
Seorang pria berwajah bule datang mendekatinya. Mona yang sedang melamun tidak menyadari jika pria bule itu mengamatinya untuk beberapa saat.
"Melamun saja, Cantik." pria itu berdiri tepat di hadapan Mona.
"David!" pekik Mona. Mona berdiri lalu melompat memeluk pria yang sangat dirindukannya itu. Mona menangis di pelukan David. Dia ingin menumpahkan rasa yang bergejolak di hatinya.
"Hei, kenapa kamu nangis?" David merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata di wajah Mona.
Setelah terlihat sedikit tenang, David membawa Mona untuk bersantai di ruangannya.
"Ini kan privat room?" Mona menghentikan langkahnya di depan ruangan David.
"Masuklah! Ini ruangan milikku." David menarik tangan Mona dan membawanya masuk.
Mona duduk di sebuah sofa panjang di tepi dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan di luar gedung. David datang membawa dua gelas jus lemon yang dia ambil dari kulkas.
"Terimakasih." Mona langsung menenggak jus itu hingga habis setengahnya.
"Sepertinya kamu sedang ada masalah. Jangan anggap aku orang lain. Perasaanku padamu masih sama meskipun saat ini kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri."
David mendudukkan tubuhnya di samping Mona. Tatapan mereka saling bertemu. Tak bisa dipungkiri, Mona masih tersihir oleh ketampanannya.
Mona menceritakan masalah rumah tangganya menurut versi pribadinya. Dalam ceritanya Mona lah pihak yang paling tersakiti. David pun berpikir jika Almahyra lah yang merayu dan merebut Kenzo dari Mona.
David memeluk Mona erat. Dia merasa tidak rela wanita yang paling dia sayangi merasakan sakitnya di madu. Demi Mona, David rela melakukan apa saja untuk membantu membalaskan sakit hatinya.
Hari itu Mona menghabiskan waktunya bersama David di kafe yang ternyata miliknya. Mereka terjebak dalam kenangan masa lalu mereka berdua. Rasa cinta yang telah lama padam kini menyala kembali.
"Mon, habis ini kamu mau ke mana?" David melirik arlojinya. Hari sudah malam. Sebentar lagi dia akan meninggalkan kafe miliknya untuk pulang ke rumahnya.
"Nggak tahu. Aku males pulang, Dav." tatapan Mona terlihat tidak rela melihat David yang sudah bersiap untuk pulang.
David merasa iba melihat Mona. Dia juga masih sangat merindukannya.
"Ingin aku temani malam ini?" David berbisik lembut di telinga Mona. Kenangan indah percintaannya dengan Mona melintasi pikirannya. Detak jantungnya sudah tidak berdegup normal.
Mona mengangguk. "Jangan di sini!" Mona mendorong tubuh David yang semakin dikuasai oleh hasratnya.
"Baiklah! Kita ke tempat biasanya dulu kita menghabiskan waktu, ya?" ucapan David dibalas anggukan oleh Mona.
Malam itu Mona dan David mengulang cerita cinta mereka. Mereka sama-sama tidak pulang ke rumahnya. Mereka menginap di sebuah hotel yang dahulu sering mereka kunjungi saat masih pacaran.
****
Bersambung....
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo