Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah mendapatkan bonus si kembar
Kriiiing!
Bel pulang telah berbunyi, siswa sekolah dasar mulai berhamburan keluar dari kelas mereka masing masing. Sementara itu, si kembar malah di panggil ke ruang guru.
Di hari pertama mereka masuk sekolah, mereka sudah membuat guru takjub dengan kecerdasan mereka, terutama Candy dengan pengetahuannya yang begitu luas.
Sebuah perlombaan tahunan antar sekolah sebentar lagi akan tiba. Sekolah dasar Sakura, dimana si kembar bersekolah juga merupakan sekolah yang ikut serta dalam perlombaan tersebut. Meski mereka tidak pernah memenangkan juara namun tetap konsisten ikut serta.
Dengan kehadiran si kembar Genius disana, semua guru telah sepakat akan menjadikan mereka sebagai perwakilan sekolah. Mempercayakan semuanya pada mereka dan mendukungnya.
"Bagaimana, apa kalian mau?" tanya kepala sekolah pada si kembar.
"Bu Guru, kami harus tanya Mama dulu." ucap Candy.
"Tentu saja. Ibu sudah siapkan surat ijin juga formulir pendaftaran, kalian bawa pulang ya." ia memberikan beberapa lembar kertas.
Candy mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas, bisa membanggakan Mama adalah hal yang paling mereka inginkan, mereka akan berusaha melakukan yang terbaik.
Kepala sekolah mengatakan, jika mereka bisa memenangkan lomba tersebut dan menjadi juara satu di kota, mereka akan dibawa untuk mengikuti perlombaan tingkat internasional.
Mereka akan terkenal, bukan hanya bisa membanggakan Mama tapi juga bisa dengan mudah menemukan ayah mereka.
"Kalau begitu, kami pulang dulu." mereka berpamitan, kemudian pergi.
Mereka berjalan sambil berbincang. Saat jam pulang biasanya Mama sudah berdiri didepan gerbang, menunggu mereka keluar dari kelas. Tapi hari ini sepertinya tidak.
"Mama tidak menjemput kita?" Candy bertanya.
Namun tak jauh dari sana terparkir sebuah mobil hitam, ketika si kembar mendekat turunlah kaca mobil dengan sangat perlahan "Kembar!" suara itu mengagetkan si kembar.
Ternyata mobil milik bibi Niki, "Eh siapa pria yang duduk di kursi kemudi itu? Apa suami bibi Niki?" pikir mereka. Apa mereka menjemput si kembar?
"Bibi, dimana Mama? Hari ini tidak jemput kami?" tanya Jean.
Tanpa sepatah kata pun Niki langsung turun dari mobil, dia membuka pintu belakang dan mendorong masuk di kembar "Bibi, Mama baik baik saja 'kan?" Candy khawatir.
"Pokoknya ikut saja."
...**...
20 menit berlalu, mobil akhirnya berhenti di sebuah gedung yang cukup besar, gedung dengan sebuah tulisan 'Kantor catatan sipil' di depannya. Mereka turun bersama sama, Niki yang tak banyak memberitahu si kembar membuat mereka kebingungan.
Ditengah kebingungan mereka, tak lama terbukalah pintu masuk di depannya "M-mama?" kaget mereka bersamaan ketika melihat Mocca keluar dari tempat itu.
Mocca tampak gugup, dia keluar bersama seorang pria yang sepertinya tak asing di mata si kembar. Segera, mereka menghampiri Mocca dan pria itu.
"Mama." si kembar memeluk Mocca karena mengkhawatirkannya, untung Mama baik baik saja.
Kemudian pria yang bersama Mocca berjongkok di hadapan si kembar, dia melepaskan topinya yang membuat si kembar terkejut ketika mengenali wajahnya.
Pria itu tiba tiba mengulurkan tangannya dan memeluk si kembar "Anak - anakku." ucapnya mengejutkan Niki dan Cassa.
"M-Mocca, apa yang terjadi?" Niki menghampirinya, kemudian Mocca mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna hijau dan merah lalu menunjukannya pada Niki dengan ekspresi kebingungan.
"K-kalian.. Menikah? Mocca beritahu aku!"
Mocca tetap diam.
Sementara itu, Leon yang merasa sangat sangat senang memeluk si kembar kian erat. Matanya berbinar - binar, tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya, dia menikahi seorang wanita dan mendapatkan bonus dua anak imut.
"P-paman, lepaskan! Kau mencekikku." Jean meronta - ronta sementara Candy tampak terbatuk - batuk.
Leon melepaskan pelukannya "Ahahah maaf, maafkan aku. Aku terlalu senang. Tapi, alangkah baiknya, mulai sekarang kalian memanggilku Papa. Ayo panggil Papa." pintanya.
Jean dan Candy saling menatap, lalu secara bersamaan menatap Mama yang masih tak berucap apapun. Pria di depannya itu Presdir Domino yang pernah mereka temui, apa mungkin dia benar benar Papa mereka?
"L-Leon, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mengerti sama sekali." Cassa memijat ringan kepalanya, jika bukan karna istrinya dia enggan ikut campur.
"Mama, apa yang terjadi? Kenapa dia meminta kami memanggilnya Papa?" tanya Candy sembari menunjuk Leon.
"Karna aku Papa kalian." Leon berbangga diri.
Semua mata menatap Mocca, menunggu penjelasan darinya. Tapi Mocca sedikit ragu untuk mengatakannya "Sebaiknya kita kembali ke toko dulu, Jean dan Candy juga baru pulang sekolah, belum beristirahat."
Mereka pun kembali ke toko.
Kilas balik menceritakan bahwa Mocca menerima tawaran pernikahan itu, dengan syarat Leon harus membantu Mocca mendapatkan perusahaan Yola lagi. Leon menjanjikan hal itu.
...* * *...
Tempat lain beberapa saat sebelumnya,
Di depan kantor MB, jam makan siang.
Ruri memarkirkan mobilnya didekat kantor dan menunggu seseorang datang untuk makan siang bersamanya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang itu.
"Hallo, apa masih lama?"
"Tidak, tunggu sebentar." balasnya, tak lama datanglah seorang pria dengan pakaian kantoran. Menghampiri mobil Ruri yang terparkir.
Ruri menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf membuatmu menunggu lama." ucap pria berambut hitam agak panjang, dengan kumis tipis dan kacamata hitam yang menambah kesan tampannya.
Ruri membalas dengan senyuman, dia kemudian turun menyerahkan kursi kemudi pada pria itu. Dia berjalan ke sisi mobil lainnya dan masuk, duduk dengan sangat manis. Setelah itu mobil melaju, menuju restourant favorit mereka.
Namun sesuatu membuat Vello terkejut sampai menginjak rem mendadak "Ah!" teriak Ruri.
"M-maafkan aku." ucap Vello. Dia kemudian melihat ke sebuah tempat bertuliskan kantor catatan sipil, bukan tempatnya yang telah mengalihkan perhatiannya melainkan seseorang yang berada disana.
"Mocca.. Syukurlah Mocca." batinnya.
"Vello?! Ada apa?" Ruri menepuk pundaknya membuat Vello sedikit terkejut.
"Ah, maafkan aku. Tadi aku melamun dan terkejut saat melihat kucing yang hendak menyebrang." Vello beralasan.
"Kucing? Aku tidak melihat kucing." batin Ruri, merasa aneh dengan sikap Vello hari itu.
"M-mungkin aku hanya kelelahan, Ruri maafkan aku, apa kau marah?" ia sangat lembut memperlakukan Ruri, bagaimana bisa Ruri marah pada pria seperti itu. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya.
Hampir 1 tahun mereka berhubungan, belum sekalipun Vello mengajaknya untuk bertemu dengan orang tuanya, dia memang mengatakan kalau dia seorang anak yatim piatu, Ruri tidak mempermasalahkannya.
Pernah satu kali Ruri mengajaknya bertemu Ibu Rosi, tapi dia kemudian tidak menyukainya alasannya karna asal usul Vello tidak jelas, selain itu Vello juga berada di level Ruri yang membuatnya tidak pantas di mata Rosi.
"Vello." panggil Ruri mesra.
"Ada apa?"
Sampai kapanpun ibu Rosi tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka, tapi jika mereka menikah tanpa sepengetahuan ibu Rosi, kelak jika ketahuan mau tidak mau ibu harus menerimanya sebagai menantu keluarga Yola.
"Bagaimana kalau.. Kita segera menikah, tanpa sepengetahuan ibuku."
Ckiiiiiiiit!
Vello tiba tiba menginjak rem, membuat Ruri kembali terkejut "M-maaf, aku.. Aku hanya terkejut. Kau baik baik saja 'kan?" Vello memeriksa keadaan Ruri.
Kemudian memeluk Ruri, Ruri merasa tersentuh. Tapi dibelakangnya, Vello mengepalkan tangannya sangat erat "Mocca.." gumamnya dalam hati "Baiklah, ayo kita menikah." ucapnya dengan sangat berat.
** * **
Hai reader,
Jujur aja akutuh jadi grogi kalau mau up, takutnya jauh dari perkiraan kalian dan mengecewakan. Sejauh ini, terima kasih yang udah support🖤