Season 1 kisah hubungan antara Sita, Agung dan juga Arum.
Season 2 berkisah konflik rumah tangga Aida dan Rama
"Eh, buset bang, panggilan spesial, emang lu pikir gue mau ma elu?" _Sita.
"Itu panggilan spesial buat dinda"_ Agung.
"Emak kawinin kamu Ta! Biar solehah." _emak Sari.
Perjodohan keduanya dilakukan saat Agung masih memiliki rupa yang menurut kebanyakan gadis tidak enak di lihat, meski dahulunya dia tampan.
Sita berusaha merubah lelaki itu kembali agar mau merubah penampilamnya.
Di tengah kebahagiaan mereka, Arum–sang mantan kekasih, kembali mengharapkan dirinya, bahkan dengan terang-terangan rela di jadikan istri kedua.
Apa, Sita dan Agung bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka, akibat mantan yang selalu mengganggu?
Season 2
Aida yang merupakan adik kandung Agung, memiliki suami yang selalu menyusahkan keluarganya.
Konflik keduanya selalu melibatkan keluarga Sita dan Agung.
Sampai ... sebuah kejadian membuat lelaki pilihan Aida itu menyesal.
Apa mereka akan tetap bisa bersama, atau Aida memilih melepaskan sang suami pada akhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nengokin Apa Piknik?
Sita dan Ameliya masih menemani Devi dan orang tuanya di Rumah Sakit, namun Devi memberitahu kedua sahabatnya untuk kembali, sebab dia tau jika keduanya akan bekerja shift siang.
Sita melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukan jam 12.30, dia lantas berpamitan kepada orang tua Devi, dan berkata esok pagi mereka akan kembali ke sini.
Mereka berdua berlalu dengan perasaan lega, sebab sahabat mereka baik-baik aja.
"Besok gue masakin burjo dah si Devi," ucap Ameliya lantas di balas acungan jempol oleh Sita.
"Masak juga buat ortunya Devi, olok duit kalo harus beli makan mulu, masak dari rumah mereka juga ngga mungkin jauh kemarinya, ntar gue bantu iris-iris dah."
"Hilih, belajar masak, bentar lagi kan lu mo kawin, mau di kasih makan apa laki lu entar onyon!" Ameliya menonyor kepala Sita di sebelahnya.
"Kasih makan tahu!!" sungut Sita kesal di ingatkan kembali dengan perjodohannya yang masih belum bisa di pikirkan cara membatalkannya.
.
.
.
Setelah sampai di tempat kerja, mereka lantas menuju lantai atas menuju tempat Devi bekerja, sebab Devi meminta di berikan surat keterangan sakit kepada Dokter agar bisa ia serahkan kepada Dosen dan bossnya Nyonya Margareth.
Ameliya masih saja melirik toilet yang berada di ujung bagian lantai atas, dia benar-benar masih trauma, bahkan bulu kuduknya meremang, dia memeluk erat lengan Sita.
"Elah, do'a makanya, kalo lu takut malah semakin di takut-takutin," nasehat Sita.
Ameliya mendengus, dia tahu apa yang di katakan Sita, bahkan saat kakinya menginjak eskalator menuju lantai dua, dia sudah berdo'a namun perasaan takut tak juga enyah dari asanya.
Sita di sambut oleh rekan kerja Devi yang bernama Murni, dia lantas menunjukan kantor tempat boss mereka kepada Sita.
"Moga cepet sembuh ya Devi, besok lah aku jenguk ke sana," ucap Murni kepada Sita, saat Sita memberi tahu maksud kedatangannya ke butik ini.
Sita lantas masuk ke ruangan Nyonya Margareth setelah di persilahkan olehnya, Sita duduk di hadapan meja Nyonya Margareth, sedang Ameliya menunggu di depan bersama Murni.
Sita lantas menyerahkan surat keterangan dari Dokter kepada Nyonya Margareth, dan boss Devi mengangguk, dan mengatakan akan menjenguknya selepas pulang dari butiknya ini.
Sita lantas berterima kasih dan undur diri, dia segera mengajak Ameliya yang malah tengah membicarakan penghuni toilet lantai dua itu bersama Murni.
"Elu takut, malah ngomongin tuh setan! kalo dia ngikutin elu gimana? gegara denger lu ngeghibahin dia?" tukas Sita.
Ameliya lantas menoleh kebelakang, memeriksa diri apa mahluk mengerikan itu mengikutinya.
Sita hanya tertawa menanggapi tingkah Ameliya yang ketakutan sebab perkataannya barusan.
"Lu mah nakut-nakutin gue aja Ta!"
.
.
.
Keesokan paginya Sita dan Ameliya sibuk di dapur membuat makanan untuk di bawa ke rumah sakit, tetap dengan bersenandung dengan suara fals mereka saat mengerjakan sesuatu.
Ameliya yang meracik masakan di depan kompor, sedang Sita hanya membantu menyiapkan bahan-bahan.
Entah itu spatula atau pisau yang menjadi mic saat mereka menirukan lagu di loadspeker yang tengah memutar lagu kesukaan mereka.
Di selingi tawa, dan obrolan yang mengundang gelak tawa mereka, mengingat kejadian-kejadian silam yang sudah mereka lalui bersama.
Di mana saat mereka kecil hingga beranjak remaja, pertengkaran selalu mewarnai persahabatan ketiganya, dari masalah sepele, hingga merebutkan laki-laki populer di sekolah mereka, meski berakhir, sang pujaan tak memilih mereka.
Pertengkaran sudah berganti dengan perdebatan dan perselisihan saat mereka bertiga beranjak dewasa, namun mereka berusaha menyelesaikannya dengan kepala dingin, mengutamakan rasa persahabatan itu sendiri.
Devi adalah sosok yang paling dewasa di antara mereka bertiga, dia yang selalu menjadi penengah di tengah perselisihan yang terjadi.
Ameliya yang paling sering menjadi korban bullying Sita, sebab hanya dirinya yang pandai mengolah masakan, dan dia bertugas bagian mengurus gizi ketiganya.
Sedangkan Sita dan Devi, tugas mereka menjaga kebersihan kontrakan, meski sebenanrnya pekerjaan seperti itu di lakukan ketiganya tanpa mengeluh.
Hanya urusan masak-memasak yang tak di recoki oleh keduanya sebab Sita dan Devi sadar diri akan kemampuan mereka.
Setelah selesai mengolah makanan, keduanya lantas bersiap menuju rumah sakit tempat Devi di rawat.
Sita membawa pakaian yang di minta Devi, sedang Ameliya sibuk menata makanan di rantang.
.
.
"Assalammualaikum," salam Sita lirih, tak ingin mengganggu pasien lainnya.
Devi masih berbaring, sedang sang ibu tengah duduk di kursi sebelahnya.
Sita lantas meletakan pakaian yang di minta Devi beserta peralatan kebersihan giginya di lemari kecil di sebelah ranjang Devi.
Ameliya meletakan rantang yang ia bawa, dan meminta ibunda Devi untuk memakan makanan yang ia bawa.
"Dah sarapan Dev?" tanya Ameliya, "gue bawain burjo nih."
Devi lantas beranjak duduk dan menatap sahabatnya dengan mata yang di kerjap-kerjapkan berulang-ulang dan malah membuat Ameliya bergidik geli.
"Maaciw ya, lu semua emang best deh!" ucapnya mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Biasa aja tuh muka! pengen gaplok malah!" balas Ameliya.
Sita lantas menayakan keberadaan ayah Devi, dan ternyata sang Ayah tengah pulang sebab ada barang yang harus di antarkan, sebab Ayah Devi bekerja sebagai supir di sebuah pabrik.
Ibunda Devi sangat berterima kasih kepada Sita dan Ameliya yang selalu menjaga anaknya, bahkan merawat Devi padahal mereka juga sibuk bekerja.
"Biasa Bu, dia mah kan emang kerjanya nyusahin mulu, dah mana sebulan ini ngga bantuin beresin rumah!" sindir Sita, namun tak di ambil hati oleh Devi.
"Ngadu lu! dih, kan elu sendiri yang bilang ngga papa, lagian gue ini bagian ngisi toples cemilan di rumah," jawabnya balik, yang membuat ketiganya tertawa.
Sita paham akan ke sibukan Devi, jadi tak mempermasalahkan kerjaan mereka di rumah, bahkan saat Sita harus sering bolak balik ke rumah, Devi yang selalu menggantikan pekerjaannya, itu lah sifat tenggang rasa mereka.
Jadi ucapannya tadi bukan dari hati untuk menyindir Devi, dan sahabatnya itu paham akan perkataannya hanya sekedar gurauan semata.
Suara pintu ruang rawat inap Devi terbuka, menghentikan obrolan yang tengah di lakukan Sita dan yang lainnya, ternyata rombongan keluarga yang akan menjenguk pasien sebelah.
Sita lantas menutup hordeng pemisah, sebab banyaknya pengunjung yang menjenguk pasien sebelah.
"Buset nengokin satu RT," ucap Sita pelan dengan menahan tawa.
Mereka pun menahan tawa, dan tak berselang lama suara obrolan sudah terdengar di ruangan itu, sebab pengunjung yang membludak.
Sita pun bertanya apa boss Devi, Nyonya Margareth sudah menjenguknya, dan Devi membenarkan pertanyaan Sita, bahkan di menunjukan amplop dan buah yang di bawa oleh bossnya itu.
Meski cerewet namun sebenarnya Nyonya Margareth sangat baik menurut Devi, bahkan perhatian kepada dirinya.
Saat tengah asyik berbincang, pengunjung sebelah menyibak hordeng ruangan Devi, seorang ibu paruh baya, yang di rasa sok akrab dengan mereka.
"Sakit apa neng?" tanyanya basa-basi.
Setelah di jawab Devi bukannya pergi atau melanjutkan pembicaraan mengenai Devi, sang ibu paruh baya itu malah sibuk menceritakan dirinya sendiri, yang membuat Sita dan Ameliya kesal, di benak mereka menggerutu dengan kata-kata makian.
Tak lama suara perempuan yang yang sangat di kenal Sita mengejutkan mereka semua.
"Assalammualaikum ..." ucap Sari lantas segera menghampiri sekumpulan orang di ruangan pasien sebelah.
Sita lantas menyibak tirai, dan diam terpaku saat melihat ternyata sang ibu tak datang sendirian.
.
.
.
tbc.
akhir dari aida gimana thor,, bonchap dong