Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Membawa Damai
Tok...tok...tok... Suara pintu di ketuk dari arah luar. Rendra yang masih fokus pada laptopnya segera melihat ke arah pintu kantornya.
"Masuk!" Serunya menyuruh seseorang dari luar masuk ke dalam. Ada Willy yang muncul disana setelah pintu itu terbuka. Rendra merasa aneh melihat tingkahnya. "Tumben? Biasanya tidak pernah mengetuk. Langsung masuk." Tanya Rendra.
Willy berjalan mendekati Rendra. "Apa... Sudah berhasil menemukan email yang kamu cari kemarin?" Tanya Willy yang seolah canggung. Dari kemarin setelah Rendra dipanggil menghadap pak direktur, Rendra sudah memberitahukan segalanya pada Willy. Ia menceritakan masalah yang sedang dihadapi perusahaan karena sebuah laporan yang bermasalah. Willy pun nampak aneh setelah mengetahuinya dari Rendra. Setahu Willy, Rendra tidak mungkin melakukan kecerobohan yang amat fatal seperti itu. Rendra adalah tipe orang yang amat teliti.
Rendra hanya menggeleng beberapa kali.
"Belum." Seraya ia menjawab pertanyaan Willy.
"Apa aku bisa membantumu Ren?" Kata Willy yang nampaknya sedang mencemaskan temannya tersebut.
"Begini... Aku tidak lagi mengecek satu persatu email-nya. Aku sudah menghubungi nomor bisnis perusahaan di London untuk mengecek siapa pengirimnya. Setelah tahu, aku baru bisa memastikan pada mereka jika datanya salah besar. Hanya saja... Dari pihak sana, masih belum ada balasan." Jelas Rendra.
"Oh... Itu bagus. Lebih mudah." Kata Willy setuju. Rendra tersenyum sedikit mendengar Willy yang mengikutinya. Ini semua berkat saran dari istrinya. "Apa sudah menghubungi by phone?" Tanya Willy kembali.
"Sudah. Aku sudah mengirimi mereka email, pesan, telegram, fax dan bahkan menghubungi mereka dengan pertanyaan yang sama. Dan aku menjelaskan aku pengirim dari perusahaan ini. Tapi sampai saat ini, masih belum ada balasan." Jelas Rendra lagi.
"Hm..." Willy mengkerutkan alisnya. Ia memegang dagunya dengan salah satu tangannya. "Aku rasa, itu sudah cukup. Semoga segera ada respon dari sana." Kata Willy kembali.
"Ya." Kata Rendra dengan mengangguk.
Drrrt..... Drrrt..... tiba-tiba, ponsel Rendra yang ia letakkan di meja bergetar. Rendra segera mengambilnya. Ia melihat ada sebuah pesan masuk dari istrinya. Rendra segera tak sabar membuka dan membacanya.
"Semoga mas bisa melalui hari ini dengan lancar. Doaku untuk mas." Begitulah kalimat yang tertera di pesan tersebut.
Rendra tersenyum membaca isi pesan ponsel tersebut. Ia lalu mengetikkan balasan untuk Ayana dengan masih senyum-senyum. Willy yang memperhatikannya memicingkan matanya dan heran melihat Rendra. Setelah Rendra mengirimnya ia kembali menaruh ponselnya di meja. di
"Aku menyesal sudah mengkhawatirkan-mu." Ucap Willy tiba-tiba. Rendra yang baru sadar bahwa Willy masih disana segera terjingkat. "Padahal sedang ada masalah, tapi tidak terlihat stres, justru terlihat begitu bahagia." Lanjut Willy kembali.
Rendra tidak membalas apa-apa. Ia hanya tersenyum mendengar Willy. Willy menghela nafasnya dengan kencang. "Hah...!!! Aku sangat iri dengan pengantin baru sepertimu." Katanya.
Rendra masih tidak menjawab dan hanya tersenyum. Jika Rendra tidak berkata apapun, artinya Rendra mengakuinya. Ia kemudian meminum air putih yang ia sediakan di gelas yang ada di mejanya. Willy mendekati Rendra. Ia meletakkan tangannya di dekat mulutnya seolah berbisik untuk mengatakan sesuatu pada Rendra.
"Apa yang terjadi tadi malam? Sudah berapa ronde?" Tanya Willy. Rendra yang masih meneguk air putih itu tersedak dengan minumannya mendengar pertanyaan Willy. Willy tambah heran melihat sikap Rendra. Kenapa seolah ini menjadi sesuatu yang sangat canggung dibicarakan? Padahal Willy tahu ia termasuk teman baiknya. "Ada apa denganmu Ren?" Tanya Willy.
Rendra masih terdiam dan mengatur nafasnya. Ia tidak mungkin bilang bahwa sampai saat ini ia masih juga belum berhubungan intim dengan Ayana
...****************...
Rendra pulang disambut anak-anak dan istrinya. Ia pulang agak cepat seperti pesannya tadi pagi pada Ayana. Rendra memang tidak berbohong tentang perasaannya. Ia merindukan Ayana. Ingin segera pulang dan melihat wajah damai istrinya. Dengan begitu, hatinya juga ikut tenang.
Ia juga sudah mengambil laptopnya. Sehingga malam ini Ayana bisa kembali menggunakan laptopnya. Rendra sangat berterima kasih pada Ayana. Selama dua minggu lebih, laptop Ayana sudah menemani dan membantu pekerjaannya. Sore-sore dilaluinya seperti biasanya.
Rendra menyempatkan dirinya bermain dulu bersama anak-anaknya walau ia sedang ada masalah di kantor. Bulan dan Aila bercerita kegiatannya hari ini. Mama mereka mengajak mereka bermain di taman bermain dekat rumah mereka sore menjelang kedatangannya. Rendra sangat menyukainya. Bulan dan Aila nampak amat antusias menceritakan hal tersebut.
Setelah mereka lelah, Ayana menidurkan mereka dengan menceritakan kisah sebelum tidur pada mereka. Kali ini, Rendra juga ikut menemani mereka sebelum tidur. Rendra hampir tidak pernah menemani mereka sebelum mereka tidur. Kali ini ia juga ikut mendengarkan Ayana bercerita. Ayana adalah ibu yang sangat pintar. Ia bisa membawa emosi anak-anak menjadi lebih teratur. Rendra semakin mengagumi istrinya itu. Beberapa menit, setelah Ayana mengusap punggung Aila, dan Rendra mengusap punggung Bulan, mereka tertidur dengan nyenyak. Ayana dan Rendra saling mencium kening anak-anaknya. Kemudian dengan pelan-pelan, Ayana dan Rendra keluar kamar. Mereka berada di luar pintu kamar anak-anak saat ini.
"Apa setiap malam kamu selalu bercerita seperti ini?" Tanya Rendra pada Ayana yang baru saja menutup pintu kamar anak-anak mereka.
Ayana tidak menjawab dan hanya mengangguk.
"Kamu sangat pintar sekali Ay." Puji Rendra pada istrinya.
Ayana tidak menjawabnya. Ia kembali tersenyum tersipu sambil menyingkap rambut yang menutupi telinganya ke arah belakang telinganya. "Apa mas mau lembur lagi hari ini?" Tanya Ayana yang memecah keheningan sekejap.
"Mm...mm..." Jawab Rendra dengan mengangguk.
"Aku akan membuatkan mas kopi." Kata Ayana.
Rendra hanya tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian segera menuju sofa dan membuka laptopnya. Saat membuka email, ia mengecek, masih belum ada balasan dari perusahaan London. Tak apa. Baru satu hari berlalu. Rendra akan menunggunya hingga ada balasan dari perusahaan di London itu. Tak selang berapa lama, Ayana membawakan secangkir kopi untuknya.
"Ini mas." Kata Ayana.
"Terima kasih." Jawab Rendra dengan tersenyum.
Kemudian Ayana berjalan ke arah mejanya yang sudah terdapat laptopnya saat ini. Rendra meliriknya. Ia dapat melihat dengan jelas istrinya karena posisi meja kerja Ayana sedang berhadapan dengan sofa yang sedang didudukinya. Jaraknya pun hanya sekitar tiga meter. Hanya saja, meja Ayana lebih tinggi karena nampak mirip dengan meja kerja kantoran. Ayana sedang menyalakan laptopnya. Ia senang bisa bekerja dan ditemani istrinya malam ini.
Beberapa detik, ia melirik Ayana kembali. Ayana memakai kacamatanya. Selama ini, Rendra belum pernah memperhatikan Ayana dengan kacamatanya. Ia hanya melihat sekilas dan tak begitu peduli. Kali ini, nampaknya Ayana sangat imut dengan baluran bundar di kedua matanya itu. Terlihat lebih elegan dan modis. Dengan poni di bagian sudut keningnya membuatnya amat manis. Sesekali Ayana membenarkan kacamatanya.
"Ya ampun... Dia imut sekali." Kata Rendra dalam hati. Ia lagi-lagi tidak dapat berkonsentrasi. Tiba-tiba Ayana melihatnya tanpa sengaja. Rendra segera melihat ke arah laptopnya. Ia nampak salah tingkah. Ayana masih belum menyadarinya.
"Mas... Data-data mas Rendra masih di laptopku. Apa tidak di copy?" Tanya Ayana.
"Oh iya." Jawab Rendra. "Sebentar." Rendra meraba ke dalam tas laptopnya. "Aduh... Flashdisk-ku ketinggalan di kantor." Kata Rendra yang baru tahu.
"Oh... Aku punya flashdisk. Sebentar mas. Aku ambilkan di kamar." Kata Ayana yang berdiri dan berjalan ke arah kamar.
Rendra hanya menurut apapun kata istrinya. Ia hanya menunggu Ayana di sofa. Dua menit berlalu sudah. Tapi Ayana belum kembali. Rendra jadi penasaran dan mengikutinya ke kamar. Saat sudah di ambang pintu, ia melihat Ayana celingukan sendiri.
"Ada apa Ay? Apa belum ketemu?" Tanya Rendra.
"Iya mas. Aku lupa menaruhnya dimana." Kata Ayana mencarinya di dalam laci, di meja dan di sembarang tempat.
"Ya sudah. Besok saja." Kata Rendra akhirnya.
"Ah!" Seru Ayana. "Aku ingat. Itu ada di atas lemari." Kata Ayana dengan menunjuk lemari pakaian bagian atas.
Ayana berjalan menuju almari yang ditunjuk. Ia berjinjit karena tempat yang dimaksud agak tinggi. Ayana masih meraba-raba dimana sekiranya flashdisk-nya berada. Karena berjinjit, dan salah satu tangan Ayana naik amat tinggi, dress yang dikenakannya pun juga ikut tersingkap ke atas.
Rendra jadi dapat melihat paha Ayana dari belakang. Rendra masih laki-laki normal. Melihat paha Ayana yang mulus itu, ia menelan ludahnya. Rendra ingin segera keluar tapi... Tunggu.
"Aku kan suaminya." Pikirnya. "Aku berhak melakukannya pada istriku." Kata Rendra. Sekali lagi ia menelan ludahnya. Dengan hati-hati, Rendra berjalan mendekati Ayana dari arah belakang.
To be continue...
...****************...
Penasaran akan kisahnya kan? Tolong dukung Author dengan kasih like, komen dan kasih vote-nya ya. Happy Reading...
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.