Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12- Keributan
SELAMAT MEMBACA ☃️
Mendengar keributan di luar, karena satpam tidak mengijinkan Rita masuk akhirnya orang rumah mungkin merasa terganggu. Orang tuanya Tomi merasa heran dengan kedatangan Harry bersama dengan Rita, lain halnya dengan Tomi yang sudah tegang bercampur takut dan cemas. Harry menyeringai, menyaksikan tingkah laku Tomi dengan mukanya yang sudah pucat pasi.
"Tante Rita," lirih Tomi sambil menunduk.
"Tomi!" teriak Rita membuat semua orang terkejut.
"Maaf Tante." Tomi menunduk tidak lagi berani untuk bersuara.
"Rita, Tomi ada apa ini?" tanya mamanya Tomi dengan khawatir.
"Tanya saja pada putramu ini!" Rita sudah kehabisan kesabaran.
"Tomi jelaskan sama mama!" mamanya Tomi meneteskan air mata, ketika Tomi hanya diam.
"Tomi jawab mama! dengan kamu diam, berarti kamu sudah melakukan kesalahan."
"Maaf ma, Tomi salah. Tomi tidak bisa menikah dengan Viana," jawab Tomi yang berhasil mendapatkan tamparan keras di wajahnya dari mamanya sendiri.
"Kamu dengar sendiri! itulah putra yang kamu bangga-banggakan. Dia sudah menyakiti Viana, kami tidak masalah kalau kalian tidak ingin melanjutkan hubungan kekeluargaan ini tapi setidaknya jangan sakiti Viana dengan selingkuh." Rita menatap tajam Tomi dan keluarganya, kemudian pergi bersama Harry.
"Tomi, kamu ini bagaimana? kamu sendiri yang membawa mama sama papa ke Mansion Rita untuk melamar Viana. Sekarang apa hah? kamu ini yang tegas dong, jangan lembek dengan pendirian!" kali ini papanya Tomi juga ikut memarahi Tomi.
"Sudah pa, tidak ada gunanya. Tomi yang dulu sudah berubah, semenjak kejadian itu Tomi sudah bukan lagi Tomi yang kita kenal." mamanya Tomi kemudian pergi dan di susul oleh papanya.
"Maaf semuanya, suatu saat nanti kalian semua akan tahu yang sebenarnya." Tomi mengambil kunci mobilnya dan pergi keluar.
"Wah kira-kira Tomi kenapa ya Reader?" Author.
"Hanya Author yang tahu hihi." Reader bersabda.
Di tempat lain Rita mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Viana, namun hingga hari menjelang pagi Viana belum juga di temukan. Rita mengambil cuti, begitu juga dengan Harry. Mereka bersama-sama mencari Viana, bahkan kedua orang tuanya Tomi juga ikut membantu.
"Apa Tante sudah memaafkan mereka?" tanya Harry.
"Tidak, mereka tidak salah dalam hal ini. Mereka juga kecewa dengan kelakuan Tomi, ini sangat aneh. Tomi melamar Viana dan sekarang dia tiba-tiba membatalkan pernikahan."
"Begitu lah Tante, kita tidak tahu bagaimana perasaan manusia. Kita tidak bisa menebak kapan manusia itu akan berubah." Harry menerawang jauh, seolah memikirkan sesuatu yang pernah dia alami.
"Terima kasih Harry, sudah membantu Tante mencari Viana." Rita mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Saya ikhlas membantu, lagi pula Tante Rita adalah rekan bisnis saya."
Mereka kemudian mendatangi setiap teman Viana sewaktu SMP, namun hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu kemana Viana pergi, kemudian Rita menghubungkan kantor polis karena sudah hampir dua hari Viana menghilang.
*******
Di tempat lain, Tomi menatap sebuah surat dan foto seseorang. Saat ini Tomi tidak ada di rumahnya, dia memutuskan untuk pergi ke luar kota meninggalkan rumah kedua orang tuanya.
"Sorry bro, sepertinya semua kebenaran akan terungkap." Tomi bicara sendiri, sambil menatap photo seseorang yang dia kenal.
Ada kesedihan, penyesalan dan kemarahan terlihat di wajah Tomi. Untuk sejenak Tomi memutuskan untuk beristirahat, lelah itulah yang dia rasakan. Beban berat itu masih dia tanggung tanpa satu pun orang terdekat Tomi mengetahuinya.
Tring Tring suara dering ponsel Tomi.
"Halo Tomi, kamu di mana?" tanya mamanya dari seberang.
"Tomi engga bisa kasih tahu keberadaan Tomi sama."
"Tomi, tolong kami jangan seperti ini! Viana menghilang apa kamu tahu?"
"Viana pasti cuma marah saja ma, dia tidak mungkin pergi."
Tomi langsung mematikan telepon, dia merebahkan dirinya ke kasur. Hanya langit-langit di apartemen itu yang Tomi tatap, tertekan itulah yang Tomi rasakan kini. Tidak jauh berbeda dengan yang Viana rasakan. Dulu Viana juga merasakan hal yang sama, ketika Tomi menyakiti Viana.
Setelah hari sudah cukup sore, Tomi memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar apartemen yang kini dia tinggali. Pemandangannya masih asri, karena memang jauh dari perkotaan. Tomi memutuskan untuk tinggal di tempat ini, supaya dia tidak lagi bertemu dengan Viana. Melihat gadis itu hanya membuat dirinya teringat masa lalu yang kelam, Tomi sudah berusaha untuk menebus kesalahannya. Tapi sayangnya dia tidak bisa, rasa bersalah di hatinya terlalu besar.
Tomi berusaha untuk lari dari masalah yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan, suatu masalah yang membuat dirinya terjebak antar kejujuran dan kebohongan. Untuk itu Tomi kemari, di tengah jalan Tomi melihat sebuah kedai kopi yang cukup sederhana. Terlihat beberapa orang yang sedang berbelanja, Tomi memutuskan untuk ke sana.
"Bu, kopi satu sama roti bakar sepiring!" Tomi memesan makanan khas daerah itu.
"Iya dek," jawab ibu itu.
Tomi membuka hpnya, signal di daerah itu lumayan kencang. Setelah beberapa menit, makanan yang di pesan pun datang. Tomi menikmati kopi dan roti bakar dengan lahap, biasanya di Mansion dia makan dengan kedua orang tuanya. Tapi di sini Tomi mulai belajar tanpa mereka dan membiasakan diri untuk mandiri.
"Pindah dari mana dek?" tanya ibu itu.
"Dari kota J Bu,di sini rame ya yang belanja?" tanya Tomi untuk menambah keakraban dengan penduduk sekitar.
"Ouh jauh ya, jualan di sini lumayan. Karena banyak mahasiswa yang melakukan penelitian pasti singgahnya ke sini."
"Rumah yang sebelah apartemen A itu memang engga ada penghuninya ya Bu?" tanya Tomi lagi.
"Rumah saya itu," jawabnya.
"Wah tetangga kita bu, saya baru pindah."
"Wah tetangga baru rupanya, saya jualan di sini dari pagi sampai malam. Suami kerja dan anak-anak sekolah di kota S, jadi maklum kelihatan sepi."
Tomi mengobrol banyak dengan ibu tetangganya itu, kira-kira umurnya tidak jauh beda dari mamanya Tomi. Setelah itu Tomi memutuskan untuk pulang, ketika Tomi sudah sampai di dalam kamarnya. Telepon Tomi kembali berdering, mamanya kembali menelpon. Dengan berat hati, Tomi mematikan telepon. Berharap kalau mamanya tidak akan lagi untuk menghubungi dirinya.
********
"Gimana ma, apa Tomi mau membantu kita untuk mencari Viana?" tanya Mark kepada istrinya Marsha Wiliam.
"Tidak pa, kenapa Aku merasa kalau Tomi menyembunyikan sesuatu dari kita."
"Aku juga merasa seperti itu ma, semenjak peristiwa itu sikap Tomi mulai aneh. Tidak seperti biasanya, padahal dokter mengatakan kalau keadaan Tomi sudah membaik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Pa, apa Rita tidak akan membenci kita? papa tahu sendiri kalau Rita marah, dia bisa melakukan apa saja." Marsha sangat mengenal Rita selama bertahun-tahun, Marsha tahu Rita tidak akan segan menghancurkan siapapun yang menyakiti keluarganya.
"Semoga saja tidak ma, kita kan juga tidak tahu dan tidak bisa memaksa perasaan. Kalau Tomi sudah tidak mencintai Viana, kita bisa apa?"
Bersambung 🌻
Budayakan like setelah membaca, biar Author tambah semangat 😊