Kisah tentang dunia yang tiba-tiba saja diserang oleh iblis, dan tak ada cara untuk mengatasinya. Tapi, terdapat orang yang bisa mengalahkan sang iblis yang disebut Guardian.
Berfokus pada seorang remaja bernama Koujo Kotaro, yang dipilih untuk menjadi seorang penyelamat... Menyelamatkan dunia? Mungkin saja, tapi ini adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.
Story bergaya anime
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RGC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
15.36
Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit lalu. Tapi, karena masih ada yang harus aku lakukan, aku pulang agak terlambat, 'menunggu Yu'. Dan ada sesuatu hal yang aku lupakan tentang kejadian hari ini, tapi aku tidak bisa mengingatnya.
Beberapa saat kemudian.
Hari ini aku merasa ada yang aneh. "Jika aku tidak salah, biasanya tadi alarm peringatan berbunyi, tapi kenapa tidak berbunyi." Aku baru mengingatnya, dan memang benar mulai dari tadi pagi alarm peringatan sama sekali tidak berbunyi.
"Kotaro, ayo pulang." Yu yang sudah mengerjakan tugasnya, menghampiriku dan mengajakku pulang. Akupun mengikutinya.
Di perjalanan pulang.
"Kotaro, kau besok sepulang sekolah ada waktu kosong, tidak?"
"Ada apa memangnya?"
"Bagaimana kalau besok kita pergi ke game center? Sekali-kali kau harus istirahat dari perkerjaanmu itu."
"Pekerjaan, ya." Aku baru ingat dengan hal itu. Aku sama sekali tidak memikirkan tentang pekerjaan paruh waktuku. Dan jika keadaan seperti ini, sepertinya aku harus berhenti. Aku takut kalau tiba-tiba saja rasa sakit itu muncul tepat saat aku sedang bekerja. "Baiklah..." Aku memutuskan untuk menerima tawaran itu. Kalau tidak salah, besok adalah waktu jarakku dengan Sylvi semakin dekat. Dan aku harus menghindari hal itu.
Setelah beberapa lama.
Apartemen.
19.54
Setelah selesai mandi, aku berbaring di atas kasurku. "Haaaa..." Sedikit menghela nafas, aku merasa tempat ini begitu sepi, sangat sunyi.
Hari-hariku yang aku habiskan bersama Sylvi, itu tidak akan terulang kembali. "Jika itu memang yang terbaik untuknya, aku akan merelakannya." Untuk pertama kalinya aku merasakan rasa kesepian ini.
"Aku, menyukai Sylvi, ya." Bergumam seperti itu membuatku sedikit tersenyum. Sepertinya aku memang benar menyukai Sylvi, karena jika tidak, aku tidak mungkin melakukan hal seperti ini hingga sejauh ini.
"Aku lapar." Aku pergi ke dapur dan memaksa mie instan yang aku beli tadi.
Meskipun tak membuatku kenyang, tapi ini cukup untuk mengisi perutku.
-------------
Kringggggg
10, September.
Mematikan alarm, aku langsung bangun dari tempat tidur dan segera bersiap.
-------------------------
Di kelas.
"Yo, Kotaro. Selamat pagi."
"Yo." Aku langsung duduk di mejaku, dan aku juga melihat Sylvi yang sedang membaca buku.
"Haaaa." Sedikit menghela nafas, setelah itu aku melihat ke luar jendela. "Tenang sekali hari ini." Aku bergumam sambil menikmati angin yang berhembus dari luar.
Dan setelah itu, sensei masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran.
Jam pulang sekolah.
15.40
Aku masih menunggu Yu selesai mengerjakan tugas. Dan masih sama seperti kemarin, di kelas hanya tinggal aku, Yu, Sylvi, dan juga sensei yang ada di mejanya melihat buku tugas siswa.
Beberapa menit kemudian.
"Kotaro, ayo." Yu yang sudah selesai mengerjakan tugasnya, langsung menghampiriku dan langsung mengajakku.
Dan di saat bersamaan. "Angelia-san, bisa bantu sensei."
"Ada apa sensei?"
"Bisa tolong bawakan ini ke ruang guru, ke meja milik sensei, ya. Sensei harus datang ke rapat sekarang."
"B-Baik." Sylvi menghampiri sensei, sedangkan sensei pergi untuk rapat.
Di saat seperti ini biasanya aku membantunya, tapi... Karena aku sudah tau konsekuensinya jika sampai aku dekat dengan Sylvi, aku menghindarinya. "Yu, ayo."
"Kau tidak ingin membantunya?"
Sekilas aku melihat ke arah Sylvi, dan disaat itu mata kami bertemu. Dengan cepat aku memalingkan pandangan ku. "Tidak..." Menjawab seperti itu, aku perlahan keluar dari kelas dan Yu mengikuti di belakangku.
"Kau yakin?"
"Iya, lagipula aku tidak kenal dengannya." Aku mempercepat langkahku. Kata-kataku barusan mungkin bisa dikatakan kata yang paling tepat untukku saat ini, karena aku belum pernah berkenalan dengan Sylvi di waktu ini itu bisa jadi alasan.
Tapi disaat bersamaan, saat aku berkata seperti itu, aku merasa sedih.
Setelah cukup lama kemudian.
Kami sampai, tapi bukan di gamecenter tapi di tempat karaoke. "Eeeeh... Bukannya kita akan pergi ke game center?"
"Perubahan rencana. Karena hari ini ada lagu baru yang baru saja dirilis, aku ingin mencobanya."
"Begitu..." Kalau tidak salah, Yu juga mengubah rencananya waktu itu. "Kau tidak akan meninggalkan ku sendirian, bukan?" Karena di waktu sebelumnya Yu pernah meninggalkan ku sendirian saat melihat gadis cantik, aku cukup khawatir kalau hal itu sampai terjadi lagi. Bukan karena apa, tapi aku malu kalau ditinggal sendirian di karaoke.
"Tenang saja, selama tidak ada gadis cantik yang lewat." Tersenyum licik, Yu berjalan masuk ke dalam tempat karaoke.
"Ugh." Rasa sakitnya kembali.
"Kotaro, ayo."
"K-Kau duluan saja, aku akan ke toilet sebentar. Setelah selesai, aku akan menyusul mu." Aku mencoba untuk bersikap seperti biasa sambil mencoba untuk menahan rasa sakit di dadaku ini.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menunggumu di tempat biasa."
"Y-Ya." Yu pergi, dan aku perlahan berjalan menuju ke tempat yang sepi yang ada di sekitar sini.
Beberapa saat kemudian.
Gang sempit di area ini.
"Aghhh!!" Rasa sakitnya semakin lama semakin sakit. "Ughh. A-Aagghh!!! Aaagghhhhh!!" Rasa sakitnya mulai menyebar ke seluruh tubuhku.
Kulitku seakan di dikuliti dengan pisau. Rasanya sangat menyakitkan. "Agghhhhh!!!! A-Agghhh!!!" Tulang-tulang ku seakan menerima beban yang begitu berat.
Aku mencoba untuk menahan rasa sakit ini, tapi percuma. Bagian yang paling sakit adalah di dadaku, rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.
Beberapa menit kemudian.
Beberapa menit aku mencoba untuk menahan rasa sakit ini, rasa sakit yang menunjukkan seberapa lemahnya diriku ini. "Ha, ha, ha." Rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang.
Butuh beberapa detik setelah itu, tubuhku mulai kembali seperti semula. "Haa." Aku sedikit menghela nafas untuk menenangkan diriku. Tubuhku berkeringat. "Hahaha. Jika seperti ini, aku terlihat seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan lomba maraton." Setelah bergumam seperti itu, aku kembali ke tempat Yu.
Beberapa menit kemudian.
"12. Ini dia." Aku membuka pintu yang bertuliskan angka 12. Itu adalah tempat biasa aku dan Yu gunakan.
"Yo, Kotaro. Kau sudah datang."
Di dalam sini, aku melihat beberapa gadis yang tak aku kenal. "Siapa mereka?"
"Mereka adalah temanku."
"Begitu." Entah benar atau tidak, aku tak mempedulikannya.
—————————
Akhinya kami selesai. Tadi di karaoke, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, hanya melihat Yu dan juga beberapa teman gadisnya bernyanyi. Dan disana aku merasa keberadaanku hanya sebagai pelengkap. "Haaaa..."
"Kotaro, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa." Aku menjawabnya dengan nada datar.
Langkah kakiku terhenti. "Kotaro, ada apa? Kenapa berhenti?"
Cukup jauh di depan, aku melihat seseorang yang tidak asing. ‘Bukannya itu, Shirayuki.’ ShirayukiAmane, aku melihat sosoknya yang sedang berjalan bersama dengan beberapa gadis dan mungkin dia adalah temannya. "Yu, apa kau tau siapa gadis itu?" Berpura-pura tidak tahu, aku bertanya seperti itu kepada Yu sambil menunjuk ke arah Shirayuki.
"Hohoo. Kau tertarik dengannya. Dia cukup cantik."
"Apa kau tau dia siapa?"
"Entahlah, tapi jika dilihat dari seragam sekolahnya. Sepertinya dia dari sekolah Kamikawa.”
"Kamikawa. Maksudmu sekolah perempuan yang terkenal itu.?"
"Iya."
Aku tak tau, tapi ada sesuatu yang aneh. ‘Di waktu itu, kenapa dia pindah? Apa karena dia sudah tau tentangku?’ Dan aku hanya tau 1 hal tentangnya, bahwa dia adalah seorang guardian. "Yu, tunggu sebentar." Aku ingin memastikan sesuatu.
"Kotaro, jangan-jangan kau..." Tanpa menyelesaikan kata-katanya, aku langsung pergi menghampiri Shirayuki.
"Eeeh. M-Maaf." Karena ini pertama kalinya aku menyapa seorang gadis, aku jadi sedikit gugup.
Mereka semua berbalik, begitu juga Shirayuki. "Amane-chan... Apa kau mengenalnya?" ( gadis )
"Tidak, aku tidak mengenalnya."
"Mungkin dia salah satu penggemarmu." Sambil tersenyum, salah satu gadis itu melihat ke arahku.
Dia tidak ingat denganku. Itu wajar, karena aku datang kembali atau bisa dibilang datang dari masa depan. Jadi wajar saja kalau dia tidak mengenaliku. "Maaf." Aku berbalik, dan tidak jadi mengatakan apa yang ingin aku katakan.
"Orang aneh. Shira-chan, ayo." Mengatakan itu, para gadis yang bersama dengan Shirayuki perlahan berjalan.
"Hohoo. Ternyata orang seperti itu tipemu." Sedikit tersenyum licik, Yu menepuk pundak ku. "Bagaimana, apa kau mendapatkan alamat kontaknya?"
"Sudahlah." Aku perlahan berjalan.
"Apa, jangan-jangan kau ditolak." Yu kemudian berjalan tepat di sampingku. "Tapi, ya. Sangat jarang sekali melihatmu bertingkah seperti itu. Apa itu termasuk sifat yang kau sembunyikan?"
"Entahlah."
"Haha. Oh ya, mau aku beritahu caranya agar tidak di tolak?"
"Tidak, terima kasih banyak." Aku mempercepat langkahku.
Hari ini jarakku dengan Sylvi sudah semakin menjauh. Aku bersyukur dan di saat bersamaan aku juga merasa sedih, karena mungkin aku tidak akan pernah bisa bersamanya lagi. Tapi, karena aku sudah siap dengan resikonya, aku tetap akan melakukannya. Menjauh, menjauh, dan menjauh. Agar tak ada ikatan antara aku dan Sylvi, dan hal itu bisa membuatnya tetap aman.
Baca novel kakak ku ya...
Novel nya Rena (mysterious frame)
Ditunggu ya kak!
Mampir Juga Yaa di This Is My War And My Love Story ikutin kisah petualangan bisnis Ken dan Kisah cintanya sama Kiichan
semoga sukses 👍
lelaki Berkacamata 🤗🙏