NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Bagus

"K-kenapa l-lama s-sekali?" tanya Elvan dengan suara bergetar sambil terus menatap pintu ruang pemeriksaan.

Aya yang duduk tidak jauh darinya langsung menoleh.

"Sabar sebentar lagi ya, Mas. Dokternya sedang memastikan kondisi Mbak Naresta."

"T-tapi... a-aku t-takut."

Elvan meremas kedua tangannya. Sejak Naresta dibawa masuk, ia tidak bisa duduk dengan tenang.

Bu RT mengusap pelan bahunya.

"Naresta pasti baik-baik saja, Mas. Kita tunggu dokternya keluar."

Elvan mengangguk pelan, meski tatapannya tidak pernah berpaling dari pintu.

Tak lama kemudian...

Ceklek!

Pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka.

Seorang dokter keluar dari dalam ruangan.

Elvan langsung berdiri.

"D-dokter!"

Aya dan Bu RT ikut bangkit dari tempat duduk mereka.

"B-bagaimana i-istri s-saya? D-dia b-baik-baik s-saja, k-kan?"

Dokter tersenyum menenangkan.

"Tenang, Pak. Kondisi istri Bapak baik."

Elvan langsung mengembuskan napas lega.

"A-alhamdulillah..."

"Tapi ada sesuatu yang perlu saya sampaikan."

Wajah Elvan kembali tegang.

"A-apa, D-dok?"

Dokter justru tersenyum semakin lebar.

"Selamat, Pak."

Elvan mengernyit bingung.

"S-selamat?"

"Iya."

Dokter menatap Elvan.

"Istri Bapak sedang hamil."

Elvan membeku di tempatnya.

Aya langsung menutup mulutnya karena terkejut.

"Ya Allah... Mbak Naresta hamil?"

Bu RT pun tersenyum lebar.

"Alhamdulillah."

Elvan masih tidak bergerak. Seolah ia membutuhkan waktu untuk memahami ucapan dokter.

"H-hamil?"

"Iya, Pak," jawab dokter sambil tersenyum. "Bapak akan menjadi ayah."

Mata Elvan perlahan berkaca-kaca.

Tangannya menutup mulut, sementara air matanya kembali jatuh. Namun, kali ini bukan karena rasa takut.

"A-aku... j-jadi a-ayah?"

"Jadi, sudah berapa bulan, Dok?" tanya Bu RT penasaran.

"Kalau dari perhitungan sementara saya, kemungkinan usia kehamilannya sudah sekitar tiga bulan lebih, kurang lebih dua belas minggu," jawab dokter sambil tersenyum.

Aya langsung membelalakkan matanya.

"Tiga bulan? Berarti Mbak Naresta selama ini nggak sadar kalau dirinya hamil?"

"Sepertinya begitu," jawab dokter. "Untuk memastikan usia kehamilannya dengan lebih tepat, nanti sebaiknya dilakukan pemeriksaan kandungan."

Elvan masih terpaku di tempatnya.

"T-tiga b-bulan?"

"Iya, Pak."

Elvan menatap pintu ruang pemeriksaan dengan mata berkaca-kaca.

"B-berarti... a-ada b-bayi d-di p-perut i-istriku?"

Dokter tersenyum.

"Betul. Bapak akan menjadi ayah."

Seketika senyum kecil muncul di wajah Elvan. Air matanya kembali mengalir, tetapi kali ini karena bahagia.

"A-aku... j-jadi a-ayah."

Aya ikut tersenyum lebar.

"Selamat ya, Mas Elvan."

Bu RT menganggukkan kepalanya.

"Alhamdulillah. Di tengah kejadian tadi, ternyata ada kabar bahagia."

Elvan mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"A-aku b-boleh k-ketemu i-istriku?"

"Boleh, Pak. Istri Bapak sudah sadar. Tapi jangan membuatnya terlalu lelah dulu."

Elvan langsung mengangguk berkali-kali.

"I-iya, D-dok. A-aku j-janji."

Elvan pun langsung masuk ke dalam ruang perawatan setelah mendapatkan izin dari dokter.

Begitu Elvan menghilang di balik pintu, dokter menoleh ke arah Bu RT dan Aya dengan wajah penasaran.

"Apa suaminya memang begitu kalau bicara?" tanya dokter.

Aya menganggukkan kepalanya.

"Iya, Dok. Mas Elvan memang seperti itu."

"Beliau penyandang autisme, Dok," tambah Bu RT.

Dokter mengangguk pelan, mulai memahami.

"Oh, begitu."

"Iya, Dok. Kalau sedang gugup atau takut, bicaranya biasanya semakin terbata-bata," jelas Aya.

Dokter kembali melirik ke arah pintu ruang perawatan.

"Tadi saya sempat mengira beliau terbata-bata karena terlalu panik melihat istrinya."

"Kalau panik memang jadi lebih sulit lagi bicaranya, Dok," jawab Bu RT. "Apalagi tadi istrinya tiba-tiba pingsan di depan matanya."

Dokter mengangguk mengerti.

"Kelihatan sekali beliau sangat menyayangi istrinya."

Aya tersenyum tipis.

"Sangat, Dok. Mas Elvan memang nggak banyak bicara, tapi kalau soal Mbak Naresta, dia paling nggak bisa melihat istrinya kenapa-kenapa."

Bu RT ikut tersenyum.

"Begitu juga Naresta. Kalau ada orang menghina suaminya, dia yang paling depan membela."

Dokter mengembuskan napas pelan.

"Pantas tadi beliau begitu panik."

Aya dan Bu RT hanya menganggukkan kepala. Keduanya kemudian menoleh ke arah pintu ruang perawatan, membiarkan Elvan menikmati kabar bahagia itu bersama istrinya.

Sementara itu, di dalam ruang perawatan.

"S-sayang..." panggil Elvan lirih.

Naresta yang sudah sadar perlahan menoleh ke arah pintu. Senyum kecil langsung muncul di wajahnya saat melihat sang suami.

"Mas..."

Elvan segera berjalan mendekat. Begitu sampai di samping ranjang, ia langsung menggenggam tangan Naresta dengan kedua tangannya.

"K-kamu... b-baik-baik s-saja?"

Naresta mengangguk pelan.

"Aku nggak apa-apa, Mas."

Elvan menundukkan kepalanya. Air matanya kembali jatuh.

"A-aku t-takut..."

Naresta langsung mengusap pipi suaminya.

"Kenapa menangis lagi, hm?"

"A-aku k-kira... k-kamu t-tidak b-bangun l-lagi."

"Mas..."

Naresta tersenyum lembut, lalu menghapus air mata Elvan dengan ibu jarinya.

"Aku di sini. Aku baik-baik saja."

Elvan mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian, ia menatap wajah istrinya dengan senyum yang sulit disembunyikan.

"S-sayang..."

"Iya?"

"A-ada... k-kabar."

Naresta mengernyit penasaran.

"Kabar apa?"

Elvan tampak kesulitan mengatakannya. Senyumnya semakin lebar, sementara matanya kembali berkaca-kaca.

"K-kita..."

Naresta menunggu dengan sabar.

"Kita kenapa, Mas?"

Elvan perlahan meletakkan tangannya di atas perut Naresta.

"K-kita... a-akan p-punya b-bayi."

Naresta langsung terdiam.

Senyum di wajahnya perlahan menghilang karena terkejut.

"Apa?"

Elvan mengangguk berkali-kali dengan mata penuh kebahagiaan.

"K-kamu h-hamil, S-sayang."

Naresta menatap suaminya tanpa berkedip.

"Aku... hamil?"

"I-i-iya... t-tadi d-dokter b-bilang," jawab Elvan dengan senyum yang masih terlihat jelas di wajahnya.

"Berapa bulan, Mas?" tanya Naresta penasaran.

Elvan mencoba mengingat perkataan dokter tadi.

"T-tiga b-bulan..."

Mata Naresta langsung membulat.

"Tiga bulan?"

"I-iya... k-katanya d-dua b-belas m-minggu."

Naresta spontan menundukkan pandangannya ke arah perutnya sendiri. Tangannya perlahan menyentuh bagian perut yang masih terlihat datar.

"Ya Allah... sudah tiga bulan, tapi aku sama sekali nggak sadar."

Elvan ikut memandang perut istrinya.

"B-bayi k-kita..."

Naresta tersenyum. Matanya perlahan berkaca-kaca.

"Iya, Mas."

Ia meraih tangan Elvan, lalu meletakkannya di atas perutnya.

"Di sini ada anak kita."

Elvan menatap tangannya yang berada di atas perut Naresta. Senyum bahagia kembali menghiasi wajahnya.

"A-anak k-kita..."

"Iya."

Naresta mengangguk pelan.

"Mas senang?"

Elvan langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"S-senang... s-sekali."

Air matanya kembali jatuh.

"A-aku b-bakal j-jadi a-ayah."

Naresta terkekeh kecil melihat tingkah suaminya.

"Iya, calon Ayah. Tapi jangan nangis terus, dong."

Elvan buru-buru mengusap air matanya.

"A-aku b-bukan s-sedih."

"Aku tahu."

Naresta menggenggam tangan suaminya lebih erat.

"Mas bahagia, kan?"

Elvan kembali mengangguk.

"S-sangat b-bahagia."

Naresta tersenyum hangat. Setelah segala hinaan dan masalah yang mereka lalui, kabar kehamilan itu menjadi kebahagiaan yang sama sekali tidak pernah mereka duga.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!