Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.
“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.
Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”
“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.
Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.
Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.
Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
...🌼🌼🌼🌼...
“Mana Sari! Sari! Sini lu! Gara gara lu gua gagal kawin! Sari! Abis lu di tangan gua! Sari!” teriak Dayat penuh emosi.
Sebilah gol0k dengan mata yang tajam di tangan kanannya. Mengayun ayun mengikuti gerakan tangan kanan pemuda yang sudah di pastikan gagal menikah itu. Mata nya melotot nyalang penuh emosi. Sementara wajahnya merah padam.
Liyah yang lebih dulu melihat Dayat, langsung menghampiri Sari. Menunjuk ke arah Dayat yang tengah melangkah ke arah warung sayur dari jarak beberapa meter.
“Bujuk bu5eh! Po! Dayat itu! Di- dia pegang gol0k itu po!” beo Liyah dengan suara bergetar, wajah ketakutan.
Naya ikut menoleh, memicingkan mata ke arah yang di tunjuk Liyah, tetangganya.
“Masya allah, poooo! Lah ya iya itu bener si Dayat! Mau ngapain itu dia bawain po gol0k?” timpal Naya berseru heboh.
Dada Sari naik turun, deru nafasnya memburu antara takut dan waspada menjadi satu. Ia melihat Dayat dari jarak yang cukup jauh bak orang kesetanan menyerukan nama nya.
“Gua di sini ngelayanin lu pada beli sayur! Mana gua tau si Dayat mau ngapain!” seru Sari dengan nada tinggi tapi bergetar. Kedua tangannya terkepal dengan suhu tubuh yang seketika dingin bak es.
‘Sialan Dayat! Masih pagi udah bikin malu gua aja! Ngapain si tuh anak pagi pagi gini udah bikin heboh! Bawa gol0k segala! Mau ngapain coba!’ pikir Sari penuh tanya.
Beberapa ibu ibu yang masih di warung, seketika mengerubungi Sari. Bak perisai manusia, mereka berusaha melindungi Sari dari Dayat.
“Sariiii! Sini lu kalo berani! Lawan gua Sari! Sialan lu Sari! Manusia anjing lu Sar!” teriak Dayat lagi dengan suara naik 2 oktaf.
“Po! Keringat dingin? Takut ya po? Kapan Dayat anak po itu! Ngapa bocah jadi begono ya po! Udah kaya orang kesetanan itu si Dayat!” cecar Holidah tanpa saringan, mengguncang lengan Sari yang berdiri di sampingnya.
Sari menelan salivanya sulit, netra nya gak lepas dari gol0k yang di bawa Dayat, “Lu pikir siapa yang gak takut di bawain golok segede gono!”
“Po ada buat salah apa sama itu bocah? Itu bocah mau ngamuk, po! Bawa gol0k, po! Serem amat ya! Ora biasanya itu bocah maenan gol0k! Kapan orang nya kalem bener si Dayat mah!” timpal Liyah, geleng geleng kepala gak habis pikir.
Di hantui rasa takut dengan gol0k yang berada dalam genggaman tangan Dayat, membuat lutut Sari seakan mati rasa. Mau lari, tapi gak bisa. Ia hanya bisa berteriak memanggil nama suaminya, pria yang selalu ia rendah kan harga dirinya. Dengan nafas yang memburu takut.
“Risaaaaan! San! Risaaaan! Tolongin gua!” jerit Sari, gak sedikit peluh yang membasahi kening dan wajahnya. Berharap Risan yang berada di dalam rumah dapat mendengar suara teriakannya.
Liyah, Holidah, Naya berjingkat kaget, wajahnya meringis, menutup kedua telinga dengan tangan. Saking kencangnya suara teriakan dari Sari yang menggelegar.
“Masya allah! Mental t4i kuping aya, po!” beo Holidah.
“Buset dah, suara po Sari kenceng amat!” Liyah mengelu5 dada.
“Risaaaan! Anak lu gila!” jerit Sari, melihat Dayat yang semakin dekat dengan warung sayurnya.
“Dayat gak mungkin nekat kan, po?” beo Holidah.
Di tengah pagi dan kehebohan yang Dayat ciptakan. Sebagian warga yang mendengar teriakan Dayat, atau mereka yang rumahnya di lewati Dayat. Dengan jiwa yang di penuhi rasa penasaran dan keingin tahuan yang tinggi. Membuat mereka mengikuti Dayat dari jarak yang cukup, untuk melindungi nyawa mereka dari bahaya.
Di balik pagar hidup dari salah satu rumah warga, beberapa meter dari warung sayur milik Sari. Sepasang mata tengah mengawasi Dayat, memasang telinga dengan tajam.
“Gua makin yakin, ada yang gak beres sama Dayat. Kemarin sore ngamuk gak jelas di rumah sama po Sari. Dan sekarang bawain po Sari gol0k. Aga lain emang kalo anak gak banyak omong, ngamuk sama orang tua nya sendiri. Ngalahin serem nya demit!” gumam Jain, gak habis pikir.
Bak anak kecil yang baru menemukan mainan nya yang hilang. Dayat begitu sumringah melihat Sari di hadapannya. Dengan bale bale yang masih di padati barang dagangan Sari, yang menjadi jarak keduanya. Sementara ibu ibu yang masih berada di lokasi, bak angin yang tak terlihat di mata Dayat. Fokus nya hanya satu, tujuannya hanya Sari.
“Ketemu! Di sini lu ya! Gua cari cari dari tadi lu!” seru Dayat dengan nada senang.
Anak muda yang tengah di kuasai emosinya itu, mengangkat tinggi tinggi gol0k yang berada dalam genggaman tangan kanannya.
Sementara ibu ibu yang lain hanya bisa menjerit ketakutan. Berhambur bak anak ayam yang baru di usir dengan kibasan tangan. Sementara Sari masih terpaku di tempatnya berpijak.
“Aaaaaa!”
Sari menggeleng, menatap waspada Dayat, ‘Gua gak mungkin mati sekarang! Masa iya gua mati di tangan anak gua sendiri! Anak yang gak ada gunanya buat gua! Awas lu Dayat! Tau gini, gua tumb4lin bae nyawa lu sekalian. Sialan!’
Sari celingukan, ‘Mana lagi itu setan alas! Genderuwo sialan! Dimana lu! Gak liat lu, nyawa gua dalam bahaya! Ora ingat sama manusia manusia yang selama ini udah gua tumb4lin buat lu!’
Dayat tertawa kegirangan, melihat rona ketakutan di wajah Sari. Dengan berani, Dayat perlahan melangkah maju, menghampiri Sari yang sebaliknya. Wanita paruh baya itu berusaha menjauh dari Dayat, meski harus menyeret paksa kakinya.
“Mau kemana lu, Sari! Sini lu! Lawan gua kalo berani!” seru Dayat dengan gelak tawa yang menyeramkan.
“Jangan deket deket lu, Dayat! Berani lu maju, abis lu! Gua ini ibu lu! Orang yang udah ngelahirin lu!” cerocos Sari, mati matian meredam rasa takutnya. Tangannya menunjuk Dayat dengan gemetar.
Dayat tergelak, menatap penuh dendam pada sang ibu, “Hahaha baru juga ngelahirin gua, bangga lu? Lu juga yang udah ngancurin kebahagaian gua. Ingat lu Sari! Ingat apa yang udah lu lakuin ke gua?”
“Gu- gua cuma mencegah kehancuran hidup lu! Gua ini pe- penyelamat buat hidup lu, Dayat! Gak ada ibu yang mau ngancurin lu!” sangkal Sari.
Dayat menggaruk kepala nya frustasi dengan tangan kiri nya, “Ugghhh bacot lu gede! Gara gara lu, gua gagal nikah sama Yati! Jahat lu!”
“Manusia laknat lu Sari! Dasar iblis! Anjing! Mampus lu!” umpat Dayat, tanpa ragu mengayunkan gol0k ke depan Sari, bak angin yang berhembus kencang.
Sreeeek.
Dengan spontan, Sari mencondongkan tubuh nya ke belakang. Menghindari mata gol0k yang hampir menyentuh kulit tubuhnya.
“Eling Dayat! Itu ibu lu! Jangan gila lu!” jerit Liyah dengan histeris.
“Sadar Dayat! Nyebut!” timpal Naya gak kalah heboh.
“Istigfar tong, lu manusia punya Tuhan, jangan kaya binatang kelakuan lu!” seru Holidah, menutup mulutnya dengan satu tangan, dengan kengerian yang ada di depan matanya.
Dayat berpaling dari Sari. Menatap satu persatu ibu ibu yang berseru padanya dengan tatapan memusuhi.
“Berisik! Kalian gak usah ikut campur! Ini urusan gua sama Sari, si manusia laknat! Ngerti lu pada!” bentak Dayat.
‘Waktu yang pas buat gua lari dari Dayat! Gua gak boleh mati! Lu yang harus mati Dayat! Awas lu!’ jerit batin Sari.
Bugh.
Bersambung …