Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13
Setelah perdebatan di ruang kepala sekolah. Suasana semakin mencekam saat keluarga kepala desa, memojokkan keluarga Ali dan bahkan menghina nya secara terang terangan. diam diam Ali mengepalkan tangan nya. Apalagi saat kepala desa itu, menghina ayah nya.
"Liat saja, roda kehidupan tidak berputar, suatu saat keluarga mu akan menyesal pak kades!" gumam nya dengan sorot mata tajam memandang pak kades yang masih terlihat angkuh itu. bahkan Raka juga sama sombong nya dengan ayah dan ibunya.
"Saya sudah memutuskan, bahwa Raka akan di keluarkan dari sekolah ini, pak kades!" kata pak Imran selaku kepala sekolah di SD sukamaju
Begitu mendengar bahwa putra nya di keluarkan, tatapan pak kades terkejut dan bahkan istri nya juga sama terkejut nya. Apa salah putra nya sampai harus dikeluarkan dengan cara seperti ini.
"Pak, apa maksud nya ini. Putra ku selalu membayar uang sekolah tepat waktu. Dan bahkan suami ku menyumbang sebagain uang yang kami miliki ke sekolah ini!" ucap Romlah dengan tatapan tajam nya.
Ali dan juga ayah nya sama kaget nya, tapi ada rasa syukur saat Raka dikeluarkan. sebab anak itu sudah banyak menganggu orang lain dan bertindak semena-mena.
"Semua perlakuan anak ibu dan bapak kades, benar benar tak bisa di toleransi lagi. Dia membully anak anak lemah, serta memalak uang mereka seperti preman pasar. Dan bahkan kami mendapatkan laporan bahwa ada beberapa siswa yang bahkan takut untuk pergi sekolah. ini sudah bukan kejahatan anak anak pak, ini sudah termasuk kriminal. Jadi saya sebagai kepala sekolah tidak bisa memberikan toleransi lagi kepada ananda raka!" kata kepala sekolah dengan tegas dan sorot mata tajam nya.
Dia sama sekali tak takut, di intimidasi oleh kepala desa itu. Lagi pula dia punya kuasa disini. Dia yang berhak menentukan yang terbaik. walaupun memang benar Raka merupakan anak donatur.
"Deg.... harga dirinya sebagai kepala desa merasa terinjak injak. Dengan tangan mengepal kuat, dia menatap wajah kepala sekolah itu.
"Ayo pulang Bu, Raka!" ucap nya sambil berdiri dan hendak pulang.
"Tapi pak..."
"Kita tak perlu mengemis lagi. Aku akan menyekolahkan Raka ke sekolah internasional saja. Sekolah disini memang benar benar tak layak untuk putra kita!"
pak Imran hanya menatap nya dengan datar, sama sekali tak terpengaruh oleh omongan pak kades itu.
"Bapak benar, percuma buang buang duit, di sekolah kampung ini!" desis Bu Romlah dan langsung pergi dari ruangan itu dengan amarah yang tertahan.
Sedangkan dewa, dan Ali beserta denis sahabat Ali langsung menghembuskan nafas lega nya. Akhirnya permasalahan nya terselesaikan. Raka dan keluarga nya juga sudah pergi.
"Alhamdulillah." batin pak dewa yang merasa hukuman ini begitu adil untuk putra nya. Ali akan merasa aman, dan tak di ganggu oleh Raka saat sedang belajar lagi.
"Pak kepala, terima kasih banyak." kata dewa dengan tulus nya. Bahkan tatapan nya Mash berkaca-kaca. Masih ada orang baik, yang menegakkan kebenaran, dan begitu adil terhadap orang miskin seperti nya.
"Sama sama pak dewa, sekarang Ali sudah tak perlu takut lagi menghadapi Raka. kamu juga sudah mempertimbangkan kenyamanan anak anak di sekolah suka maju ini. Oh ya, ada kabar baik untuk nak Ali."
"Kabar baik, apa itu pak?" kata Ali yang cukup penasaran.
"Begini, bapak sudah melihat hasil rapot mu. Dan nilai nilai mu begitu tinggi dari seluruh siswa di kelas. Jadi bapak ingin, kau mengikuti lomba olimpiade tingkat kecamatan di desa sebrang."
"Deg ...tatapan Ali langsung terpaku, begitu juga dengan dewa. sebagai seorang ayah, dia begitu bangga saat mendengar ucapan kepala sekolah tentang Ali.
"Pak, anak saya akan siap mengikuti olimpiade itu!" kata dewa yang langsung tersenyum lebar.
"Bagus, sebelum lomba itu di mulai, Ali harus dibimbing oleh guru yang akan mendampingi nya. Dan Ali, kamu juga harus datang pagi sebelum pelajaran di mulai. Bu Lusi yang akan memberikan mu, materi materi soal olimpiade nanti nya."
Ali tampak bimbang, sebab dia tak memiliki sepatu di pagi hari. bagaimana dengan Dinda nanti nya. Dia masih memikirkan Dinda saat ini yang tak memiliki sepatu.
"Ali pasti setuju pak, saya begitu senang saat mendengar berita ini. Terima kasih banyak ya Pak." kata dewa yang begitu antusias.
"Sama sama pak dewa, semoga Ali bisa mengharumkan nama baik sekolah, dan bisa menjadi juara di sana!"
"Amin."