Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Menghindar
Malam itu, setelah berpisah di depan minimarket, Lylac benar-benar mengira urusannya dengan Evan telah selesai.
Terima kasih sudah diucapkan. Utang budi sudah lunas. Tidak ada alasan bagi mereka untuk berbicara lebih panjang lagi.
Setidaknya itulah yang ingin ia yakini.
Namun kenyataannya, sepanjang perjalanan pulang, pertanyaan terakhir Evan terus terngiang di kepalanya. "Lagi lihat apa di atas?"
Angin malam menerpa wajahnya saat motor melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Di sampingnya, Mika melayang santai sambil tidur-tiduran di udara. Rambut transparan hantu itu berkibar-kibar menghalangi pandangan, tapi Lylac milih fokus natap aspal di depannya.
"Dia perhatian banget sih." celetuk Mika tiba-tiba, nopang dagu sambil ngeliatin jalanan sepi.
Lylac tidak menanggapi.
"Serius deh. Dari semua orang yang pernah aku lihat, baru dia yang sadar kamu sering lihat ke arahku." Mika muter badannya, sekarang posisinya melayang kebalik persis di sebelah spion motor Lylac.
Tetap diam. Lylac sengaja narik gasnya agak dalem.
"Eh, jangan-jangan dia punya indra keenam juga?" tanya Mika, mukanya langsung berubah kepo maksimal.
"Tidak," sahut Lylac pendek. Akhirnya capek juga nyuekin makhluk berisik itu.
"Kenapa yakin?"
"Karena kalau punya, dia pasti sudah pingsan lihat tingkahmu."
"Jahat!" Mika langsung mengeluh keras. Merengut kesal terus melesat mundur ke belakang jok, ceritanya ngambek.
Lylac membiarkannya. Dia malah lega karena suasana mendadak jadi tenang.
Sesampainya di rumah, ia segera mandi, menyelesaikan tugas sekolah yang masih tersisa, lalu tidur. Atau setidaknya berusaha tidur tanpa memikirkan apa pun.
...****************...
Keesokan paginya, sekolah sudah ramai bahkan sebelum bel masuk pertama berbunyi. Lylac berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kelas dengan segelas susu kotak di tangan.
Di sampingnya, Mika terus mengoceh tentang drama yang ia tonton semalam dari rumah tetangga. Hantu itu heboh sendiri, melompat-lompat di antara pundak murid lain yang lewat tanpa ada yang sadar.
"...terus si tokoh utamanya malah nikah sama mantan kakak iparnya! Gila banget kan plot twist-nya, Ly!"
"Mm."
"Padahal jelas-jelas cowok kedua lebih ganteng! Mana tajir lagi! Sebel banget aku!"
"Mm."
"Kamu dengar nggak sih?" Mika mendengus, langsung melayang mundur di depan muka Lylac biar diperhatiin.
"Dengar."
"Kamu bohong," tuduh Mika, sambil nyipitin matanya.
Lylac mengabaikannya.Dia udah khatam cara bagi fokus antara dunia nyata sama dunia hantu.
Namun langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor, sekelompok siswa basket sedang berkumpul.
Suara tawa yang cukup berisik. Dan di tengah mereka ...
Evan.
Cowok itu berdiri sambil menunduk memperhatikan layar ponselnya. Dia sedikit bersandar pada pilar beton. Gaya rambutnya yang sengaja ditata agak kasual dan acak-acakan sekarang justru menambah kesan mencolok. Sukses membuat beberapa siswi yang lewat sengaja memperlambat langkah.
Tanpa ragu, Lylac langsung berbalik arah. Seratus delapan puluh derajat. Malas sekali. Apalagi di area sekolah. Lalu ia berjalan ke koridor lain.
"WOI!" Mika sampai melongo. "Kamu kabur?!"
"Bukan."
"Itu jelas-jelas kabur!"
"Bukan."
"Terus apa namanya?"
"Menghemat waktu."
Mika menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Sungguh alasan yang buruk. Sayangnya, Lylac tampak tidak peduli. Ia memilih jalur memutar menuju kelas. Memang lebih jauh. Tapi jauh lebih aman.
Sayangnya keberuntungan tidak berpihak padanya hari itu.
Saat jam istirahat pertama, Lylac keluar dari perpustakaan sambil membawa beberapa buku referensi yang dipinjam guru.
Baru beberapa langkah berjalan, seseorang muncul dari arah berlawanan. Lylac langsung mengenalinya.
Evan.
"..."
"..."
Mereka berhenti hampir bersamaan.
Mika yang sedang melayang di atas kepala Lylac langsung menepuk dahinya.
"Astaga. Takdir memang kejam."
Lylac ingin berbalik. Terlambat. Evan sudah melihatnya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, cowok itu tampak menyadari sesuatu.
"Kamu."
Lylac diam.
"Kamu menghindariku ya?" tanya Evan langsung. Tidak pakai basa-basi tapi nadanya terdengar santai.
"Enggak," sahut Lylac. Jawabannya terlalu cepat.
Evan mengangkat sebelah alis. "Serius?"
Lylac menatap lurus cowok ini. Enggak suka diinterogasi.
"Tadi pagi aku lihat kamu muter balik."
"..." Lylac diam.
"Sekitar tiga detik setelah lihat aku."
"..." Masih diam. Apa sih? Lylac menggerutu dalam hati. Kesel banget kenapa ingatan cowok ini tajam banget perkara detik.
"Sangat meyakinkan," sindir Evan lagi, ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Mika langsung terbahak-bahak. "Hancur! Alibimu hancur!"
Lylac berharap bisa melempar hantu itu ke tembok. Sayangnya tidak bisa. Dia harus tetep pasang muka flat biar dikira waras sama cowok di depannya.
Evan memperhatikan wajah datar Lylac beberapa saat. Anehnya, semakin lama diperhatikan, semakin sulit menebak isi pikirannya. Ekspresinya nyaris tidak berubah.
Tapi entah kenapa, Evan merasa cewek ini sedang kesal. Dan itu cukup lucu. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Kamu memang aneh."
"Aku sering dengar itu." Buat Lylac itu bukan hal baru. Dia menjawab dengan nada dingin.
"Itu bukan pujian." Evan menjelaskan.
"Aku juga tidak menganggapnya itu pujian." Lylac sadar diri.
Jawaban itu membuat Evan terkekeh pelan.
Mika langsung memegangi dada. "Ya ampun... dia ketawa lagi."
Kesabaran Lylac mulai menipis. "Ada perlu?"
Evan menatapnya beberapa detik. Lalu menggeleng. "Sebenarnya nggak."
"Kalau begitu aku pergi." Lylac langsung geser badan mau ngelewatin Evan.
"Sebentar." Langkah Lylac jadi tertahan. Badannya otomatis langsung ngerem sebelum kakinya sempat maju.
Kesalahan besar. Karena itu berarti Evan berhasil menghentikannya.
"Lylac."
"Apa?"
Untuk sesaat Evan tampak berpikir. Lalu akhirnya bertanya, "Kamu memang selalu lihat ke tempat kosong begitu?"
Koridor mendadak terasa lebih sunyi. Mika membeku di udara. Lylac menatap Evan tanpa berkedip.
Pertanyaan itu lagi.
Ternyata dia belum melupakannya. Kali ini Evan tidak sedang bercanda. Tatapannya tajam. Mengamati. Mencari jawaban.
Sementara Mika perlahan menoleh ke arah Lylac. "Oh." Suara hantu itu mengecil. "Dia beneran penasaran."
Lylac menggenggam buku di tangannya sedikit lebih erat. Lalu menjawab dengan nada setenang biasanya. "Aku tidak tahu maksudmu."
Evan diam sejenak. Lalu tersenyum. "Sudahlah." Cowok ini mengalah. Lylac pergi karena merasa sudah tidak ada urusan.
"Ada perlu apa, sama anak aneh itu?" tegur Angel yang ternyata ada di belakangnya.
Evan menoleh. "Ternyata kamu. Enggak ada." Rupanya Evan enggan bicara tentang Lylac.
"Jadi rahasia-rahasiaan ya?" Angel menunjukkan sedikit ketidaksukaannya. Bibirnya ditekuk tipis, matanya melirik tajam ke arah ujung koridor tempat Lylac baru aja ngilang.
"Apa?" Evan yang hendak pergi, berbalik. Heran.
"Aku tanya kamu ada perlu apa sama cewek hantu itu, tapi kamu hanya bilang enggak ada. Padahal aku lihat kamu bicara banyak dengannya." Angel sudah menahan diri untuk tidak tanya panjang lebar, tapi kali ini jebol pertahanannya.
"Ya. Aku bicara banyak sama Lylac, terus kenapa kalau aku enggak mau kasih tahu kamu?" tanya Evan balik, nadanya santai tapi nusuk banget, bikin Angel langsung bungkam di tempat dengan muka memerah menahan kesal.