NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 13. Dimabuk Cinta

Pyarrr!!!

Tubuh Wulan terperanjat seketika kala piring yang berisikan nasi yang akan ia gunakan untuk menyuapi Marta tiba-tiba terlepas dari genggaman tangan. Wulan sedikit membeku melihat serpihan piring kaca yang sudah berserak di lantai.

"Lan, ada apa? Kok bisa pecah?"

Marta yang melihat kejadian itu persis di depan pintu kamarnya juga ikut terkejut. Karena tiba-tiba saja piring yang dipegang oleh sang menantu pecah.

"Tidak tahu juga Bu. Ada apa ya? Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Ada apa ya?"

Wulan memungut serpihan-serpihan piring yang berserak di lantai. Tetiba saja hatinya merasakan kekalutan yang luar biasa. Otaknya langsung tertuju pada sang suami.

"Tidak biasanya seperti ini Lan. Tapi kenapa tiba-tiba piring itu bisa lepas dari genggamanmu?"

"Perasaanku kok tiba-tiba tidak enak ya Bu. Pikiranku juga langsung tertuju pada Mas Awan."

Marta turut menampakkan ekspresi cemasnya. "Coba hubungi Awan Lan. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Awan."

Wulan menganggukkan kepala. Ia meletakkan pecahan-pecahan beling itu di tempat yang aman. Tak ingin membuang banyak waktu, Wulan mengambil ponsel yang ada di dalam kamar. Wanita itu bergegas menghubungi sang suami dan kembali berdiri di depan kamar Marta.

"Mas, kamu ke mana sih? Kok tidak mengangkat teleponku?"

Berkali-kali Wulan mencoba menghubungi Awan. Panggilan itu terhubung namun sama sekali tidak diangkat oleh si pemilik handphone. Sampai membuat Wulan menyerah dan tidak lagi menghubungi Awan.

"Bagaimana Lan?"

"Tidak diangkat Bu."

"Loh kok bisa?"

"Aku juga tidak paham Bu. Jika dilihat dari Mas Awan berangkat, dia pasti juga sudah tiba di kantor. Tapi entah mengapa dia tidak mengangkat teleponnya."

"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan Lan. Mudah-mudahan Awan baik-baik saja," pungkas Marta mencoba untuk memangkas keresahan yang dirasakan oleh Awan. "Lan, aku lapar."

Wulan terhenyak. Ia baru sadar jika belum jadi menyuapi sang ibu. Wanita itu menepuk jidatnya sendiri karena lupa.

"Tunggu sebentar Bu. Biar aku ambilkan makanan di dapur."

Wulan kembali ke dapur menyiapkan makanan untuk sang mertua. Hati Wulan masih gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi karena sang suami sampai tidak mengangkat teleponnya.

"Ya Tuhan, semoga Engkau selalu melindungi suamiku di manapun ia berada."

***

"Wuiihhh rajin bener nih wakil direktur utama yang baru. Jam segini sudah sampai di kantor."

Toni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat motor milik Awan sudah terparkir di tempat parkir. Semenjak diangkat menjadi wakil direktur, temannya itu seperti selalu bersemangat dalam bekerja. Bahkan di pagi hari yang masih sepi seperti ini ia sudah tiba di kantor.

Toni mengayunkan tungkai kakinya. Ia harus melewati ruang direktur terlebih dahulu sebelum akhirnya ia sampai di ruangannya. Dahi Toni sedikit mengernyit ketika melihat pintu ruang direktur dikunci rapat.

"Kok tumben, pintu ruangan ini dikunci? Padahal kan biasanya masih ada sedikit celah."

Toni dibuat bertanya-tanya dengan satu hal yang menurutnya tidak wajar. Motor Awan dan mobil milik Bu direktur sudah terparkir rapi di parkiran, namun pintu ruangan ini tetap terkunci.

"Apakah Awan dan bu Mega ada keperluan di luar? Tapi naik apa mereka karena mobil dan motor milik keduanya ada di parkiran." Toni berujar lirih dengan segala pertanyaan yang ada di kepala. "Hah, jangan, jangan..."

Dua bola mata Toni terbelalak sempurna ketika ia menyadari akan satu hal. Dua orang dewasa berlainan jenis berada di dalam sebuah ruangan yang terkunci rapat pastinya sedang mengerjakan project bersama. Iseng, Toni menempelkan telinganya di daun pintu. Namun...

"Heh Ton! Apa yang kamu lakukan di sini?"

Tubuh Toni terperanjat ketika Sopyan si security kantor tiba-tiba datang dari arah belakang punggungnya. Toni pun berbalik punggung dan benar saja Sopyan sudah menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.

"Eh tidak apa-apa Pak, aku hanya iseng mau..."

"Sudah, tidak perlu iseng. Mending kamu segera ke ruanganmu. Ini semua ranah privasi Bu direktur."

Dengan raut wajah yang begitu tegas, Sopyan memberikan satu peringatan bahwa tidak sepantasnya karyawan di kantor ini mengganggu privasi sang bos besar. Satu hal yang sangat tidak pantas dilakukan oleh karyawan rendahan seperti Toni. Dan Toni memilih untuk menuruti perintah Sopyan.

Dengan bibir sedikit mencebik, Toni kembali melangkah menuju ruangannya. Meski di dalam kepala lelaki itu masih dipenuhi oleh tanda tanya besar akan aktivitas yang dilakukan dua manusia di ruangan itu, namun Toni mencoba untuk mengabaikan.

"Aaahhh sial, hampir saja aku melihat ada aktivitas apa di ruangan direktur yang tertutup rapat itu. Namun semua gagal gara-gara security sok keras itu."

***

Awan menyenderkan punggungnya di sofa sembari membawa tubuh Mega ke dalam dekapan. Kepala Mega kini bersandar di dada bidang milik Awan. Sisa-sisa napas yang memburu masih samar terdengar di telinga seolah menegaskan jika mereka baru saja berpacu dengan waktu untuk bisa sama-sama merasakan apa itu surga cinta. Tetes peluh yang membasahi tubuh, seakan menjadi bukti jika keduanya sudah sama-sama merasa saling memiliki.

"Mas..."

"Hmmmmmm... Apa Sayang?"

"Apakah menurutmu yang kita lakukan ini sudah terlampau jauh?"

Mega yang sebelumnya dipenuhi oleh hasrat yang membara dan berhasil mencapai puncak kenikmatan, tiba-tiba saja hati wanita itu dipenuhi oleh rasa kalut. Meskipun ia merasakan kepuasan namun di sudut hatinya yang paling dalam, ia merasakan sesuatu yang mengganjal. Entah itu rasa bersalah, rasa menyesal atau rasa yang lainnya.

"Aku rasa tidak Sayang, karena kita sama-sama saling membutuhkan."

"Tapi istrimu...?"

"Ssssttt sudah, jangan bicara lagi tentang Wulan. Saat ini aku hanya menganggapnya sebagai pembantu yang mengurus semua kebutuhanku kecuali kebutuhan biologisku."

"Jadi maksudmu setelah ini kamu tidak akan pernah menyentuh istrimu lagi Mas?"

"Aku sudah tidak selera berhubungan badan dengan Wulan, Meg. Kamu lihat sendiri kan tubuh Wulan bagaimana? Dia kurus seperti papan triplek. Di bagian-bagian yang bisa menarik perhatianku sebagai suami saja tidak ada dagingnya sama sekali sehingga membuatku tidak berselera."

"Ssshhhh, sampai segitunya Mas?"

Awan mengangguk. "Ya, beda jauh denganmu."

"Memang aku kenapa?" tanya Mega yang semakin ingin mendengar pujian perihal kemolekan tubuhnya keluar dari bibir Awan.

"Di sini dan di sini terlihat sangat montok yang semakin memacu hasratku untuk melahapnya," ucap Awan sembari meremas bagian dada dan bokong milik Mega.

"Ckckckck kamu ini ada-ada saja."

Awan menundukkan wajahnya. Ia tarik dagu Mega dan ia tatap dua bola mata wanita ini dengan teduh. Ia labuhkan kecupan lembut di bibir merah milik Mega.

"Aku sudah terlanjur dimabuk cinta dengan kehadiranmu. Bisakah setiap hari kita seperti ini? Memadu cinta dan menyatukan raga?" tanya Awan dengan suara paraunya.

Ucapan Awan seperti mengandung mantra-mantra cinta yang melemahkan seluruh akal sehat Mega. Hingga wanita itupun menganggukkan kepala tanpa harus berpikir dan mempertimbangkan akan segala baik buruknya.

"Aku juga sudah terlanjur terpesona padamu Mas. Mulai hari ini, apa yang ada pada tubuhku adalah milikmu dan boleh kamu nikmati kapanpun kamu mau."

Wajah Awan berbinar terang mendengar semua yang diucapkan oleh Mega. Dengan seperti ini, ia tidak lagi pusing kemana ia harus melampiaskan segala hasratnya di saat ia sudah tidak lagi berhasrat kepada istrinya.

"Terima kasih Sayang."

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!