Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAGI - LAGI TIDAK ADA YANG BERUBAH
Hidup memang sebuah misteri. Tidak ada yang tau akan seperti apa masa depan. Bahkan, untuk orang sepertiku sekalipun. Aku yang diberi kesempatan untuk kembali, juga tidak bisa memperkirakan kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Waktu yang diberikan, sudah kuusahakan semaksimal mungkin untuk memperbaiki diri. Percaya kalau pilihan yang selalu kuhindari, karena rasa takut, merupakan pilihan terbaik jika dihadapi. Aku selalu percaya kalau keberanian bisa mengubah diriku menjadi lebih baik. Pikiran itu selalu terlintas dalam benakku sejak aku kembali. Setidaknya sampai sekarang. Aku ingin tetap percaya untuk ke depannya, tapi kurasa itu mustahil. Ada beberapa hal yang tidak bisa dilewati hanya dengan keberanian.
Setelah aku dan Clarissa selesai dengan sepeda air. Kami menunggu Awan didepan gerbang keluar. Dia tidak terlihat sejak meniggalkan kami naik wahana. Kami sudah menelpon dan dia bilang akan segera menyusul. Mengisi kekosongan, aku dan Clarissa membicarakan hal – hal lucu yang terjadi disekolah. Sebenarnya lebih banyak dia yang bicara, aku hanya menyimak karena tidak begitu tau cerita – cerita disekolah.
Tidak lama mengobrol, kami merasa ada orang yang datang, aku ingin menengok belakang, tapi tiba – tiba saja ada benda tajam yang menempel dipunggungku. Meski tertahan oleh pakaianku, tapi aku tau kalau benda itu adalah semacam pisau. “Ikut kami.” Kulirik kearah Clarissa, dibelakangnya juga ada seseorang yang mengenakan topeng. Aku tidak bisa melawan, bisa – bisa Clarissa kenapa – napa. Aku mengikuti mereka tanpa perlawanan dengan Clarissa disampingku. Kami dibawa memasuki sebuah mobil berwarna hitam, kepala kami ditutupi dengan sesuatu serta mulut kami dilakban. Sekarang aku dan Clarissa berada disebuah ruangan dengan tangan terikat di belakang, di masing – masing bangku yang bersebelahan.
“TOLONG!” Clarissa berteriak sekeras mungkin setelah lakban dilepas dari mulutnya. “SIAPAPUN TOLONG KAMI!” Dia sudah berteriak cukup lama, tapi sama sekali tidak ada yang terjadi. Penculik yang menangkap kami hanya tertawa mendengar teriakan Clarissa. Kemungkinan kami dibawa ke gudang yang cukup jauh dari warga, tempat yang sunyi, dimana tidak akan ada orang yang mendengar sekeras apapun kami berteriak. Tempat dimana penculik menyembunyikan korbannya.
Penutup mata kami dibuka, pandang buram yang sudah lama menatap warna hitam, sekarang mulai bisa melihat sekitar dengan jelas. Ruangan yang begitu besar. Terlihat bangku – bangku kayu rusak disetiap sudut ruangan, terlihat juga atap seng tanpa plafon yang sudah usang, tentu sekarang kami juga bisa melihat pelaku yang menculikku dan Clarissa. Dua orang dibelakang kami, satu orang dihadapan kami, serta satu orang yang kemungkinan berada di pintu luar. Aku mengerti sekarang. Seperti yang sudah kuduga, mereka adalah Dimas dan gengnya.
“Lepasin kami!” Clarissa memberontak. Dia berusaha untuk bergerak dan melepaskan tali ditangannya. Meski begitu, usahanya sia – sia. Tidak mungkin talinya akan terlepas semudah itu. “Kamu ngapain?!” Dia bicara dengan tatapan melotot pada orang yang berjalan kearahnya. “Dimas! Ini gak lucu! Cepat lepasin kami!”
“Diam bangsat!” Dimas menarik rambut Clarissa dengan keras sampai – sampai dia merintih kesakitan. Dimas melotot balik padanya dengan tatapan mengancam. “Jangan mentang – mentang aku pernah suka sama kamu, kamu berani merintah aku!”
“Mau aku laporin?” Bukannya merasa takut, Clarissa tetap mempertahankan dirinya. Dia mengancam balik Dimas. “Kamu lupa bokapku polisi?”
Dimas tertawa. “Aku gak akan ngapa – ngapain.” Aku tidak tau Dimas merasa terancam atau tidak, hanya saja dia benar – benar melepaskan tangannya dari rambut Clarissa. Malahan, dia melepaskan tali yang terikat di tangan. Hanya saja ada yang aneh, dia melepas tali yang ada di tanganku. Benar – benar hanya tali ditanganku. Tali yang terikat ditangan Clarissa sama sekali tidak tersentuh. Kursi tempatku duduk didorong kedepan secara tiba - tiba, membuatku reflek berdiri mempertahankan diri agar tidak jatuh kebawah. Sekarang aku sedang berhadapan dengan Dimas. “Ambil.” Pisau tajam keluar dari salah satu tangannya. Dia memberikannya padaku. “Ambil!” Menahan getaran ditanganku karena rasa takut, aku mematuhi perintah yang dia berikan. Dimas kembali menatap Clarissa setelah menyerahkan barangnya padaku. “Bukan aku yang mau lukain kamu, tapi dia!”
“Kenapa?”
“Bukannya kamu sempat minta maaf sebelumnya? Aku kasih kamu kesempatan. Kita bisa kaya dulu lagi asal kamu berani nyerang dia.”
Aku menggelengkan kepala. “Nggak.” Tidak! Bukan itu maksudku saat mengutarakan permintaan maaf padanya. Aku memang memiliki niat untuk baikan dengan Dimas, tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku tidak mau melukai orang lain hanya demi diriku sendiri. “Apa gak ada cara lain?”
“Gak ada.” Dimas mengangkat tangan kanannya untuk melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. “Ngomong – ngomong kalau dalam 5 menit kamu gak ngapa – ngapain, kamu yang harus gantiin Clarissa.” Dimas sama sekali tidak peduli pendapatku. Dia hanya ingin bersenang – senang dengan caranya sendiri. Aku tidak tau bagaimana Dimas bisa menjadi orang yang begitu jahat. Dia sudah tidak tertolong. Duniaku dan dunianya sangat berbeda.
Padahal baru saja hal baik terjadi padaku. Kenapa sekarang hal buruk kembali menimpaku? Apa yang salah denganku? Kenapa harus aku? Apakah hidup bahagia seperti orang – orang terlalu mustahil buat orang sepertiku? Apa aku tidak pantas mendapatkannya? Aku ingin tau jawabannya.
Kulihat kearah Clarissa, dia tersenyum padaku. Seolah – olah dia mengizinkanku untuk menyerangnya. Mungkin dia berpikir kalau sekarang waktu yang tepat untuk membalas jasaku yang tidak seberapa itu. Aku tidak mau! Aku tidak mau melukai orang yang pernah menyelamatkanku. tidak mau melukai siapapun – aku sendiri juga tidak mau terluka lagi. Rasa sakit yang pernah Dimas berikan padaku masih terasa, bahkan sampai sekarang. Aku takut. Aku tidak mau melukai, tapi aku juga tidak ingin terluka.
“4 menit tersisa.” Pikirkan sesuatu! Cari solusi agar aku dan Clarissa bisa selamat! Pasti ada sesuatu. Apapun itu. Ayolah otakku! Pikirankan! Cara agar aku tidak perlu melukai Clarissa. Cara agar aku juga tidak terluka. Bangku, tali, jumlah orang, pisau, barang – barang rongsokan. Semua benda bisa dimanfaatkan. Semua kemungkinan bisa terjadi. Kalau dihubungkan pasti akan menjadi sesuatu. Sebuah cara. Maka dari itu, tolong berikanlah aku sebuah cara ….
Tidak ada.
Aku tidak terpikirkan apapun. Otakku yang lumayan dalam pelajaran tidak berfungsi disaat seperti ini. Pikiranku benar – benar terfokus pada benda yang sedang kupengang. Tanganku yang gemetar, membuatku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dari benda yang sedang kugenggam. Rasa takutku semakin lama semakin besar.
“3 menit.” Napasku terasa sesak. Aku tidak bisa mengambil oksigen dengan benar. Pandanganku terasa buram. Waktu yang terus berkurang membuatku semakin panik. Detak jantungku rasanya berdetak dengan sangat cepat. Aku bisa merasakan detakan lebih cepat dua kali lipat dari biasanya. Aku ingin pingsan. Aku ingin bebas. Aku hanya ingin selamat. Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyerang Clarissa.
Clarissa. Aku sama sekali tidak ada menyimpan perasaan benci padanya. aku sama sekali tidak bermaksud melukainya. Aku cuman mau semua berakhir dengan baik untukku. Tidak ada salahnya kalau dia mengorbankan dirinya untukku. Lagipula, dia sendiri sudah mengizinkanku sejak awal. Dia tidak melawan dan membiarkanku melakukannya untukku.
“2 menit.” Kulangkahkan kaki mendekat kearah Clarissa. Aku berdiri tepat didepannya. Dia sama sekali tidak bicara. Kalau saja dia melakukan penolakan, aku akan langsung menghentikan niatku untuk menyerangnya. Kalau dia diam, artinya dia setuju. Itu keputusan yang sudah dia buat. Ya, benar. Aku hanya menghargai keputusannya. Dia yang tidak melakukan penolakan adalah bukti keinginan dalam dirinya. Selama aku dan dia sama – sama memiliki keinginan yang sama, pasti tidak ada masalah. Aku bisa menyerangnya untuk menyelamatkanku. Ini bukan hanya keputusanku sepihak, melainkan keputusan kami bersama. Tidak ada yang dirugikan dari pilihan yang dibuat. Hanya ini satu – satunya cara.
“1 menit terakhir.” Aku melihat kearah Dimas untuk mengetahui ekspresinya. Dia menunjukkan kemarahan. “Apa yang kamu tunggu, tolol?!” Aku langsung memalingkan wajah ketika dia membentakku. Tanpa sadar aku kembali menatap mata Clarissa. Setelah kusadari, dibalik keberaniannya menghadapi Dimas, aku merasakan ketakutan dari bola matanya. Perasaan yang dia coba sembunyikan. “Aku mau kamu tetap senyum, supaya aku tau kalau keberanian yang aku lakukan gak sia – sia,” kalimat yang pernah kuucapkan padanya terlintas dalam benakku. Padahal aku sudah bersikap sok keren, tapi yang kukatakan cuman omong kosong. Aku benci pada diriku sendiri. “Apa yang kamu tu –
“AAA!” Sebelum Dimas menyelesaikan kalimatnya, aku berteriak sekeras yang kubisa. Memaksakan diri untuk menyerang Clarissa, demi keberlangsungan hidupku. Pada akhirnya aku cuman seorang pecundang yang peduli pada diri sendiri. Seorang cowok yang tidak pantas diberikan kesempatan. Hanya manusia yang bisa menyia – nyiakan peluang. Seberapa banyak pun waktu yang diberikan, kalau orangnya adalah aku, maka semua hanyalah kesia - siaan
Lagi – lagi tidak ada yang berubah.