"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sidak Permaisuri dan Kompetisi Mengulek Sambal
Kabar bahwa Kaisar dan ketiga pangeran belum pulang karena sibuk menjadi buruh tani akhirnya sampai ke telinga Permaisuri Agung Feng, wanita paling ditakuti di istana yang kabarnya bisa membekukan air sungai hanya dengan tatapan matanya. Bersama puluhan selir dan dayang-dayang bersenjata kipas maut, ia menyerbu Puncak Awan Tersembunyi dengan amarah yang meluap-luap.
"Berani sekali rakyat jelata itu menyandera suamiku untuk mencuci selokan!" teriak Permaisuri Feng saat kereta kencananya mendarat, membuat debu di halaman Ye Xuan beterbangan.
Namun, pemandangan yang menyambutnya justru lebih mengejutkan daripada perang saudara. Ia melihat suaminya, sang Kaisar, sedang jongkok di pinggir empang sambil memberi makan bebek dengan wajah sangat damai. Sementara itu, ketiga pangeran kebanggaannya sedang duduk lesehan dengan mata sembab, bukan karena meratapi nasib, tapi karena tangan mereka sibuk mengupas bawang merah.
"Kaisar! Apa yang Anda lakukan?! Di mana martabat mahkota Anda?!" teriak Permaisuri Feng sambil menghampiri suaminya.
Kaisar mendongak, lalu tersenyum lebar sambil memegang seekor bebek. "Oh, Istriku! Untung kau datang. Cepat lepaskan perhiasan emasmu itu, Master Ye Xuan bilang perhiasan yang terlalu berat bisa merusak keseimbangan Chi saat sedang memetik kangkung. Sini, bantu aku membersihkan lumut di kolam!"
Permaisuri Feng hampir pingsan karena syok. Ia menoleh ke arah Ye Xuan yang sedang sibuk mengulek sambal di atas cobek batu besar di teras rumahnya. "Kau! Kau pasti menggunakan sihir hitam untuk menyesatkan keluarga kerajaan!"
Ye Xuan berhenti mengulek, lalu meniup poni rambutnya yang mengganggu mata. "Waduh, Nona Berbaju Merah, tolong pelankan suaranya. Ayam-ayam saya sedang masa bertelur, kalau mereka stres, telurnya jadi kecil-kecil. Sihir hitam apa? Ini namanya sambal bajak, bukan sihir hitam."
Permaisuri Feng mencabut kipas besinya. "Jangan berbohong! Aku akan menghancurkan gubuk ini dan membawa mereka pulang!"
"Tunggu dulu, Nona," sahut Ye Xuan konyol sambil menyodorkan sepotong mentimun yang sudah dicocol sambal uleknya. "Daripada marah-marah, lebih baik coba ini dulu. Kalau setelah makan ini Nona masih mau marah, silakan hancurkan gubuk saya, asal nanti Nona sendiri yang bangun lagi."
Permaisuri Feng merasa tertantang. Dengan angkuh, ia mengambil mentimun itu dan menggigitnya. Seketika, matanya yang tajam melebar. Rasa pedas yang meledak diikuti oleh kesegaran alami dari mentimun yang ditanam dengan "energi naga" itu membuat seluruh otot wajahnya yang kaku mendadak rileks. Ia merasa seolah-olah beban mengurus istana yang melelahkan selama dua puluh tahun luruh begitu saja.
"Rasa ini... kenapa rasanya seperti sedang dipeluk oleh awan?" gumam Permaisuri Feng, kipas besinya perlahan turun.
"Itu karena sambalnya saya tambahkan sedikit terasi hasil fermentasi sendiri dan cinta lingkungan," jawab Ye Xuan santai. "Nah, karena Nona kelihatannya punya tenaga kuat, bagaimana kalau Nona bantu saya mengulek sambal untuk ribuan tentara di bawah sana? Cobeknya besar, cocok untuk latihan otot lengan."
Sepuluh menit kemudian, para tentara di bawah gunung ternganga melihat pemandangan paling mustahil abad ini: Permaisuri Agung yang biasanya memerintah dengan tangan besi, kini sedang duduk bersila sambil mengulek sambal dengan sangat bertenaga, sementara para selir sibuk mencuci piring sambil bergosip tentang cara membuat tempe mendoan yang renyah.
Ye Xuan menyandarkan tubuhnya di tiang gubuk sambil mengunyah kerupuk. "Pak Tua, lihat itu. Ternyata cara paling ampuh menghentikan perang bukan dengan diplomasi, tapi dengan sambal terasi."
Ao Guang hanya bisa mengangguk pasrah sambil menyapu sisa-sisa kulit bawang. "Senior, saya khawatir jika ini berlanjut, istana pusat akan kosong karena semua penghuninya pindah ke kebun Anda."