NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Singa Tua dan Satu Tebasan

Tiga tetua berjubah abu-abu itu melangkah maju secara bersamaan. Setiap pijakan kaki mereka membuat ubin marmer halaman istana retak dan memancarkan riak energi sewarna perak yang tajam.

​"Bocah sombong," ucap tetua yang berdiri di posisi tengah, jenggotnya yang panjang sampai ke dada bergerak-gerak ditiup angin.

​"Kamu pikir setelah membunuh Tetua Mo yang ceroboh itu, kamu bisa mengacak-acak Istana Inti sesukamu?" lanjut tetua itu dengan nada suara yang berat.

​Ling Chen tidak langsung menjawab. Dia cuma berdiri tegak sambil membersihkan ujung lengan jubah naga hitam barunya dengan santai.

​"Tuan Muda Ling, mereka bertiga ada di ranah Inti Emas tingkat puncak!" bisik Mu Rong'er dari balik jendela kereta dengan wajah khawatir.

​"Kyuu~!" Kuro ikut melongokkan kepalanya, matanya yang bulat menatap tajam ke arah tiga pria tua di depan mereka.

​Ling Chen menoleh sedikit ke arah kereta, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan Mu Rong'er.

​"Inti Emas tingkat puncak?" Ling Chen terkekeh pelan.

​"Di mataku, mereka cuma tiga ekor singa tua yang giginya sudah ompong dan hampir mati karena usia," ucap Ling Chen tanpa beban.

​Pangeran Agung yang berdiri di belakang ketiga tetua itu langsung berteriak dengan wajah yang merah padam karena geram.

​"Tetua Wu! Tetua Song! Tetua Liu! Jangan banyak bicara lagi dengan keparat ini!" raung Pangeran Agung dengan mata melotot.

​"Cepat bunuh dia! Siksa dia sampai dia memohon ampun di bawah kakiku!" perintah sang pangeran dengan histeris.

​Tetua Wu, pria tua yang berdiri di tengah, langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara.

​WUSS!

​Dua bilah pedang panjang berwarna perak murni mendadak muncul dari dalam cincin ruang miliknya, melayang-layang di sekeliling tubuhnya.

​"Aku, Tetua Wu, sudah menjelajahi wilayah Jakarta dan Jombang selama puluhan tahun," ucapnya dengan sombong.

​"Belum pernah ada satu pun junior yang berani mengatai kami sebagai singa ompong!" lanjut Tetua Wu dengan mata berkilat marah.

​"Hari ini, jubah hitam barumu itu akan berubah menjadi kain kafanmu sendiri, Bocah!" tambahnya lagi.

​Ling Chen memutar pergelangan tangan kanannya perlahan, bersiap memegang gagang pedang hitam karatan di pinggangnya.

​"Kalian orang-orang tua selalu saja banyak bicara sebelum mati," ejek Ling Chen dengan nada malas.

​"Ayo maju bertiga sekaligus. Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan dongeng masa lalu kalian," tantang Ling Chen.

​"Lancang!" bentak Tetua Song dari sisi kiri.

​Pria tua itu menghentakkan tongkat kayunya ke atas marmer, menciptakan gelombang kejut spiritual yang sangat pekat.

​BUM!

​Ubin marmer di halaman istana langsung terangkat ke udara, membentuk puluhan tombak batu yang tajam dan mengarah langsung ke tubuh Ling Chen.

​"Teknik Badai Tombak Bumi: Hancurkan!" teriak Tetua Song sambil mengarahkan tongkatnya ke depan.

​Puluhan tombak batu berukuran raksasa itu melesat cepat, membelah aliran angin pagi dengan suara gemuruh yang dahsyat.

​Ling Chen tetap diam di tempatnya, bahkan tidak berniat untuk menghindar selangkah pun dari jalur serangan tersebut.

​"Tuan Muda!" jerit Mu Rong'er panik saat melihat tombak-tombak batu itu sudah tinggal berjarak beberapa meter dari dada Ling Chen.

​SREEEEENG!

​Suara cabutan pedang yang sangat nyaring kembali bergema, memotong semua suara gemuruh di halaman istana.

​Ling Chen mengayunkan pedang hitam karatnya dalam satu gerakan melingkar yang sangat cepat dan presisi.

​SHAAARRR!

​Sebuah ombak cahaya biru tua yang teramat murni meledak keluar dari bilah pedangnya, menyapu bersih seluruh tombak bumi di depannya.

​DUAAARRRR!

​Puluhan tombak batu raksasa milik Tetua Song langsung hancur berantakan menjadi debu halus sebelum sempat menyentuh ujung jubah hitam Ling Chen.

​"Apa?! Menghancurkan teknik bumiku hanya dengan satu tebasan biasa?!" Tetua Song membelalakkan matanya dengan horor yang luar biasa.

​Belum sempat Tetua Song meredakan rasa syoknya, Ling Chen sudah melesat maju dengan kecepatan yang menyerupai kilat.

​WUSS!

​Tubuh Ling Chen mendadak menghilang dari pandangan mata mereka semua, meninggalkan jejak angin biru yang tipis.

​"Hati-hati! Dia bergerak ke arah kanan!" teriak Tetua Liu yang sejak tadi diam memperhatikan dari posisi belakang.

​Tetua Wu dengan sigap menggerakkan dua pedang peraknya untuk membentuk perisai energi di depan dada Tetua Song.

​"Formasi Pedang Kembar: Pelindung Langit!" seru Tetua Wu mencoba menahan laju pergerakan musuh.

​TING!

​Ujung pedang hitam karatan Ling Chen menghantam tepat di tengah-tengah titik pusat formasi perisai perak tersebut.

​"Kamu terlalu lambat, Orang Tua," bisik Ling Chen yang mendadak sudah berada tepat di depan wajah Tetua Wu.

​"Bag-bagaimana bisa... kamu ada di sini?!" Tetua Wu menjerit panik saat merasakan tekanan hawa membunuh yang luar biasa pekat mengunci meridian tubuhnya.

​Ling Chen tidak memberikan jawaban apa pun. Dia hanya memutar pergelangan tangannya, menyalurkan energi Tulang Dewa ke dalam bilah pedangnya.

​KRETEK... PYAAAARRR!

​Dua pedang perak tingkat tinggi milik Tetua Wu langsung hancur berkeping-keping layaknya kaca murah yang diinjak gajah.

​Semburan energi dari hancurnya senjata itu membuat Tetua Wu dan Tetua Song terlempar mundur sejauh sepuluh meter dengan dada yang terasa sesak.

​UHUK!

​Kedua tetua itu memuntahkan seteguk darah segar secara bersamaan, wajah mereka langsung berubah menjadi pucat pasi.

​Pangeran Agung yang melihat dua andalannya langsung terluka dalam satu gebrakan saja bener-bener lemas, lututnya gemetaran parah di balik jubah kerajaannya yang mewah.

​"K-kalian bertiga... cepat gunakan teknik gabungan!" perintah Pangeran Agung dengan suara yang nyaris habis karena ketakutan.

​"Kalau tidak... kita semua akan mati di tangan monster ini hari ini juga!" teriak sang pangeran histeris.

​Tetua Liu yang sejak tadi menahan diri akhirnya melompat maju, memapah kedua rekannya yang terluka.

​"Wu! Song! Jangan menahan diri lagi! Gunakan Formasi Tiga Singa Pemusnah Jiwa sekarang juga!" seru Tetua Liu dengan wajah serius.

​"Baik!" jawab Tetua Wu dan Tetua Song sambil menyeka sisa darah di bibir mereka dengan tangan yang gemetar.

​Ketiga tetua itu langsung berdiri membentuk formasi segitiga, saling mengunci jari tangan mereka untuk menyatukan seluruh sisa energi Qi yang ada.

​GEMURUH!

​Langit di atas halaman Istana Inti mendadak berubah menjadi gelap gulita, petir berwarna perak mulai menyambar-nyambar dengan gila.

​Sebuah bayangan energi berbentuk singa raksasa setinggi dua puluh meter perlahan terbentuk di atas kepala ketiga tetua tersebut.

​"Bocah keparat! Rasakan kehancuran dari teknik terkuat yang kami pelajari dari Benua Tengah!" raung Tetua Liu dengan mata memerah.

​Mu Rong'er yang melihat ukuran singa energi raksasa itu langsung membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri, wajahnya kembali dipenuhi rasa ngeri yang teramat sangat.

​Namun, Ling Chen justru menyarungkan kembali pedang hitam karatnya ke dalam sarungnya dengan gerakan yang sangat pelan dan santai.

​"Menghadapi teknik sampah seperti ini... aku bahkan tidak perlu menggunakan pedangku," ucap Ling Chen dengan nada suara yang teramat datar.

​Ling Chen mengangkat tangan kanannya ke udara, membiarkan jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah langit yang sedang bergemuruh.

​Setitik cahaya biru tua sekecil biji sawi mendadak muncul di ujung telunjuknya, namun memancarkan tekanan spiritual yang sanggup membuat singa energi raksasa di depan mereka mulai gemetaran kaku.

​"Teknik Jari Kaisar: Penakluk Langit Fana," bisik Ling Chen dengan mata yang berkilat biru safir yang mistis.

​BOOM!

​Setitik cahaya kecil itu melesat terbang, membelah kegelapan malam tiruan dan langsung menghantam tepat di tengah dahi singa energi raksasa milik ketiga tetua tersebut.

​Tidak ada ledakan besar, yang ada hanyalah suara retakan yang sangat halus namun bergema di dalam jiwa siapa pun yang mendengarnya.

​KRETEK...

​Bayangan singa raksasa setinggi dua puluh meter itu mendadak berhenti bergerak, lalu perlahan-lahan hancur menjadi serpihan cahaya perak yang menguap lenyap ditiup angin pagi.

​BUM! BUM! BUM!

​Akibat dari hancurnya teknik andalan mereka secara paksa, tubuh Tetua Wu, Tetua Song, dan Tetua Liu langsung meledak dari dalam, memuntahkan darah dalam jumlah besar sebelum akhirnya roboh tak bernyawa di atas lantai marmer yang dingin.

​Halaman Istana Inti bener-bener mendadak berubah menjadi kuburan massal bagi para master tertinggi kekaisaran, meninggalkan Pangeran Agung sendirian yang kini sedang berlutut lemas dengan celana yang mulai basah karena pipis di celana saking ketakutan melihat kedigdayaan sang mantan Kaisar Pedang.

1
Siti Hodijah
bgusss bngettt
Jade Meamoure
koq bahasa jadi berubah pake nggak" beneran... itu bukan bahasa baku n janggal sj d novel begini bahasa pasaran indo d pake
Jade Meamoure
d China ada kota Jombang ya 😱😱😱
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Kenapa ada kata Kota Jakarta ... dan juga sering sebut Jombang🤣🤣🤣 mohon koreksi sebelum Up
HINATA SHOYO
sarann tor kalo bisa ling chen pakai cincing ruanglah buat nyimpan2 appun barang yg dia punya klo sllu di simpan di jubah kuramg srekkkk aj .klo ada cincin ruangkan kerennn tuh torr/Grin/👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Uang dan kekuatan itu Mutlak🤣🤣🤣
Nanik S
Minta ganti pintu yang rusak🤣🤣🤣
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!