NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:330.1k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Arka Jatuh

Arka jatuh dari tangga kecil di taman bermain indoor pada Sabtu sore.

Tempat itu berada di dalam mal mewah kawasan Senayan, area yang biasa didatangi keluarga muda dengan pengasuh berseragam dan ibu-ibu yang membawa tas mahal. Lantainya empuk, permainannya aman, dan setiap sudut memiliki staf pengawas.

Namun anak tetap bisa terluka jika orang dewasa yang seharusnya mengawasi sibuk melihat dirinya sendiri.

Hari itu Vania mengajak Arka keluar karena anak itu terus murung. Ratna menyetujui. Adrian sedang bertemu investor dan hanya berkata, "Jangan terlalu lama."

Vania senang.

Ini kesempatan bagus.

Ia memilih pakaian yang terlihat sederhana tapi mahal: blouse putih, celana linen, cardigan tipis. Ia ingin tampak seperti perempuan lembut yang sedang belajar menjadi ibu. Sebelum masuk area bermain, ia mengambil foto Arka dari belakang.

Caption yang ia rencanakan sudah ada di kepala.

Belajar menemani tanpa menggantikan siapa pun.

Kalimat itu aman.

Tulus di depan publik.

Menusuk bagi Alina.

Arka berlari ke area perosotan. "Tante, lihat aku!"

Vania mengangkat ponsel. "Iya, sayang. Pelan-pelan."

Ia merekam video pendek. Arka naik tangga jaring, tertawa, melompat di bantalan. Beberapa ibu menatap mereka. Vania menunduk malu-malu, seolah tidak sadar sedang diperhatikan.

Lalu pesan masuk.

Dari Melisa.

Melisa:

Van, akun gosip mulai bahas kamu lagi. Jangan unggah dulu. Mas Adrian lagi sensitif.

Vania mengerutkan kening.

Ia membuka Instagram.

Benar saja. Komentar tentang kalung dan apartemen belum sepenuhnya hilang. Ada akun yang membandingkan unggahan Vania dengan klarifikasi pengacara Alina. Ada yang menyebutnya terlalu pandai berperan.

Vania menggigit bibir.

Ia mengetik balasan di akun palsunya.

Orang sakit juga bisa disakiti. Jangan selalu bela istri sah.

"Tante!"

Suara Arka terdengar, tapi Vania tidak langsung mengangkat wajah.

Ia masih menekan kirim.

Lalu terdengar suara benturan.

Bruk.

Jeritan anak-anak pecah.

Vania mendongak.

Arka tergeletak di bawah tangga kecil, wajahnya pucat, tangan kirinya menekuk aneh. Untuk beberapa detik Vania hanya membeku.

Seorang ibu berlari lebih dulu. "Anaknya jatuh!"

Staf bermain meniup peluit. "Tolong jangan diangkat dulu!"

Vania baru bergerak ketika semua orang sudah melihat ke arahnya.

"Arka!" Ia berlari, berlutut di samping anak itu. "Sayang, Tante di sini!"

Arka menangis keras. "Sakit! Tante, sakit!"

Vania panik. Ia ingin memeluk, tapi staf menahan. "Bu, jangan digerakkan. Kami panggil petugas medis."

"Saya... saya tidak tahu dia jatuh."

Ibu yang tadi menolong menatapnya tajam. "Ibu tadi main ponsel."

Wajah Vania memucat.

"Saya cuma sebentar."

Arka menangis. "Aku panggil Tante..."

Kalimat itu membuat beberapa orang berbisik.

Vania merasa semua mata menusuk.

Ia segera menelepon Adrian.

*****

Adrian tiba di rumah sakit dua puluh menit kemudian.

Arka sudah diperiksa. Pergelangan tangan kirinya retak ringan, lutut memar, tidak ada cedera kepala serius. Dokter berkata ia beruntung karena lantai area bermain empuk.

Beruntung.

Adrian menatap anaknya yang menangis di ranjang VIP, lalu Vania yang duduk di sofa dengan mata merah.

"Apa yang terjadi?"

Vania langsung berdiri. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku cuma menoleh sebentar."

"Menoleh ke mana?"

"Ponselku berbunyi."

Adrian tidak berkata apa-apa.

Arka menangis, "Pa, aku panggil Tante Vania tapi Tante nggak lihat."

Vania menutup mulut. "Arka, Tante..."

Adrian mengangkat tangan. "Jangan dulu."

Vania membeku.

Pintu ruang rawat terbuka. Ratna masuk bersama Melisa, wajah panik.

"Cucu Nenek!" Ratna langsung mendekati ranjang. "Ya Allah, kenapa bisa begini?"

Arka menangis lebih keras. "Aku mau Mama."

Ruangan itu langsung sunyi.

Adrian memejamkan mata.

Ratna menatap Vania, lalu cepat mengalihkan pandangan. "Telepon Alina."

Adrian mengambil ponsel.

Kali ini, ia tidak ingin menelepon.

Ia malu.

Karena beberapa hari terakhir semua orang berkata Vania bisa menggantikan kehadiran Alina. Hari ini Arka terluka saat bersama Vania, dan anak itu meminta ibunya.

Tapi Adrian tetap menekan nama Alina.

Panggilan tersambung.

"Ada apa?" suara Alina terdengar.

Adrian berkata, "Arka jatuh. Kami di rumah sakit."

Di seberang, napas Alina berhenti. "Rumah sakit mana?"

"Medika Senayan."

"Cedera apa?"

"Pergelangan tangan retak ringan. Tidak ada cedera kepala."

"Kirim hasil pemeriksaan."

Adrian terdiam.

Ia mengharapkan tangisan. Kepanikan. Mungkin tuduhan.

Alina meminta hasil pemeriksaan.

"Aku akan ke sana," katanya.

Telepon ditutup.

Vania menatap Adrian. "Dia marah?"

Adrian menatapnya.

"Kamu berharap dia apa?"

Vania tersentak.

Ratna segera menyela, "Adrian, jangan menyalahkan Vania. Anak-anak memang bisa jatuh."

Arka menangis, "Tapi Tante nggak lihat!"

Ratna terdiam.

*****

Alina tiba tiga puluh menit kemudian.

Ia memakai kemeja biru tua dan celana hitam, rambutnya diikat cepat. Wajahnya pucat, tapi langkahnya stabil. Begitu masuk, ia tidak melihat Adrian, tidak melihat Ratna, tidak melihat Vania.

Ia langsung ke ranjang Arka.

"Arka."

Anak itu langsung mengulurkan tangan yang tidak terluka. "Mama!"

Alina membungkuk dan memeluknya hati-hati. Tubuh kecil itu gemetar dalam pelukannya. Bau rambut Arka membuat dada Alina sakit sampai ia hampir tidak bisa bernapas.

"Sakit?"

"Sakit banget."

"Mama lihat tanganmu."

Arka mengangguk sambil menangis.

Alina memeriksa gips sementara, lalu membaca hasil rontgen yang Adrian berikan. Ia bertanya pada dokter dengan tenang: apakah perlu operasi, berapa lama pemulihan, obat apa yang diberikan, apakah ada tanda bahaya yang harus dipantau.

Dokter menjawab satu per satu.

Adrian berdiri di samping, menatapnya.

Inilah Alina yang ia kenal.

Saat sesuatu terjadi pada Arka, ia tahu apa yang harus ditanyakan. Ia tidak panik kosong. Ia tidak sibuk membuat dirinya terlihat sedih. Ia bergerak.

Setelah dokter pergi, Alina menatap Vania.

Vania sudah siap menangis.

"Alina, aku..."

"Kamu sedang apa saat dia jatuh?"

Pertanyaan itu lurus.

Vania menggigit bibir. "Aku menerima pesan."

"Dari siapa?"

"Aku tidak ingat."

"Buka ponselmu."

Wajah Vania berubah. "Apa?"

Adrian juga berkata, "Alina."

Alina tidak menoleh. "Anakku terluka saat bersamanya. Aku berhak tahu apakah dia benar-benar mengawasi."

Vania memeluk ponselnya. "Kamu menuduhku sengaja?"

"Aku menuduhmu lalai."

Ratna berkata, "Anak-anak bisa jatuh, Alina."

Alina akhirnya menoleh pada mertuanya. "Benar. Anak-anak bisa jatuh. Tapi orang dewasa yang lalai harus mengaku."

Ratna terdiam.

Arka menarik ujung baju Alina. "Mama jangan marah. Nanti Tante Vania nangis."

Alina menatap putranya.

Masih.

Bahkan dengan tangan retak, anak itu masih diajari menjaga air mata Vania.

"Arka," kata Alina pelan, "kalau seseorang membuatmu terluka, kamu tidak perlu menjaga perasaannya dulu."

Anak itu bingung.

Alina menyentuh pipinya. "Kamu boleh bilang sakit."

Arka menatap Vania, lalu berbisik, "Sakit."

Vania menangis sungguhan kali ini.

Adrian melihat semuanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyebut Alina berlebihan.

*****

Malam itu, Alina tidak membawa Arka pulang.

Ia ingin.

Tuhan tahu ia ingin.

Tapi status hukum belum jelas, dan ia tidak akan memberi keluarga Wicaksono celah untuk menuduhnya melarikan anak.

Ia hanya memastikan jadwal kontrol, meminta salinan rekam medis, lalu menulis instruksi perawatan di kertas rumah sakit.

Adrian memperhatikan dari dekat.

"Kamu bisa tinggal malam ini," katanya.

Alina tidak mendongak. "Tidak."

"Arka butuh kamu."

"Arka butuh orang dewasa yang bertanggung jawab. Malam ini ada kamu, neneknya, perawat, dan dokter."

"Kamu ibunya."

Alina berhenti menulis.

"Aku ibunya ketika dia terluka. Tapi ketika dia diajari memanggil perempuan lain sebagai mama, kalian bilang aku harus mengerti."

Adrian tidak menjawab.

Alina menyerahkan kertas instruksi padanya. "Obat nyeri setelah makan. Jangan biarkan dia banyak bergerak. Kalau muntah atau pusing, hubungi dokter."

"Kamu mau pergi begitu saja?"

"Aku akan menelepon besok pagi."

Arka mulai menangis lagi. "Mama jangan pergi."

Alina mendekat dan mencium keningnya. "Mama tidak menghilang. Tapi Mama tidak tinggal di sini."

"Kenapa?"

"Karena Mama juga harus menjaga diri."

Arka tidak mengerti.

Tapi ia tidak berteriak Mama jahat.

Itu sudah sesuatu.

Alina keluar dari ruang rawat.

Di lorong, Adrian mengejarnya. "Alina."

Ia berhenti.

"Aku akan bicara dengan Vania."

Alina menatapnya. "Bagus."

"Hanya itu?"

"Apa lagi yang kamu harapkan?"

"Aku..."

Adrian kehilangan kata.

Alina menunggu sebentar, lalu berkata, "Kamu selalu baru ingin bicara setelah sesuatu hancur."

Ia melangkah pergi.

Adrian berdiri di lorong rumah sakit, mencium bau antiseptik dan mendengar tangisan anaknya dari dalam kamar.

Untuk pertama kalinya, kalimat "Vania tidak sengaja" tidak cukup menenangkan siapa pun.

1
Lilik 383
saya suka karakternya mbak Lia
nira ritawatty
Alhamdulillah
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
nira ritawatty
Lho kok tiba tiba hamil?
Thewie
aku baca sampe bab ini jam 01.10 malam Thor. hilang ngantukku
Thewie
terlambat sudah bodoh
Thewie
awalnya si ulat bulu pura2 sakit, tapi akhirnya jadi sakit beneran.. cucoklah itu Thor buat si ulat bulu🤣🤣🤣
Thewie
kotor juga otak kau ya Vanir keparat
Thewie
tahan kan setan
Thewie
nyesek thor
Anonim
AWOKAWOK COVER MUKA KOREA GBLK
Fitrian
namanya raka adiguna🤔
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
sweetpurple
Awalnya bingung dan butuh waktu untuk mencerna cerita, tapi endingnya di luar ekspektasi ..
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🐽🐽🐽🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh teratai putih bysssuuukkkk💦💦💦💦💦💦🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🤮🤮🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam tidak jadi istri dah tapi merupakan ular keket hitam beracun Jahannam judahhh💦💦💦💦💦🔪🔪🖕🖕
ayu cantik
ribet
Fitrian
ni pasti gi golo nya vania jalang beracun cuuuuhhhhhhh💦💦💦💦💦🖕🔪
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh ciiiiiiiiiiihhhhh💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!