“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara yang sebelumnya mengejarnya karena tak terima diputuskan malah berbalik pergi setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Di Balik Wajah Datar
Suara teriakan penuh amarah bercampur panik Ryu terdengar menggelegar, membuat burung yang bertengger di ranting pohon langsung terbang berhamburan.
Jordi yang sudah kabur duluan beberapa meter seketika mengerem mendadak hampir terjengkang karena terpeleset.
"Kalau Bos kenapa-kenapa, bonusku hilang."
Secepat kilat Jordi putar balik. Dan begitu sampai di depan Ryu, ia langsung membantunya melepaskan tangan Imah.
"Lepas!" sergah jordi.
"Nggak mau!" Imah memeluk Ryu makin erat.
Ryu mengatupkan giginya kuat. Jordi kesal bercampur panik. Sekuat tenaga ia melepaskan pelukan Imah. Begitu terlepas, pemuda itu mendorongnya menjauh.
"Aduh! Sakit!"
Tak sengaja Jordi mendorong terlalu kuat, membuat Imah jatuh terduduk.
"Mamas ganteng jahat!" Imah memukul tanah dengan bibir mengerucut.
"Bos, cepetan!" seru Jordi yang sudah berjongkok di depan Ryu.
Tanpa pikir panjang Ryu naik ke punggung Jordi.
"Mamas ganteng, jangan tinggalin Imah!"
Wanita itu beranjak berdiri.
"Wanita sedeng! jangan mendekat!" Jordi buru-buru kabur.
"Mamas! Tungguin!" Imah tak tinggal diam. Ia mengejar Jordi.
Beberapa menit kemudian...
Jordi sudah memasuki pekarangan rumah Seroja dengan Ryu di punggungnya.
"Bu Dhe! Bu Dhe! Tolongin, Bu Dhe!"
Jordi berjalan cepat hampir berlari. Napasnya ngos-ngosan, hampir megap-megap. Ia masuk ke dalam rumah dengan panik.
Seroja, Bu Dhe dan para wanita yang semula berada di dapur otomatis berkumpul di ruang tamu karena teriakan panik Jordi. Mereka penasaran, apa gerangan yang terjadi.
Dan yang lebih mengejutkan, Ryu tampak digendong Jordi di punggung dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa?" tanya Bu Dhe berusaha tenang meski jelas khawatir melihat dua pemuda itu.
"Turunkan dulu Ryu," ujar Seroja dengan suara terkontrol, meski sebenarnya ia juga cemas.
Jordi menurunkan Ryu yang lemas di kursi, tapi matanya tak lepas dari pintu.
"Tutup pintunya! Cepat tutup!"
Ia menyeka peluhnya, menatap ke arah pintu depan dengan ekspresi was-was.
Ryu menutup wajahnya. "Astaga.. memalukan sekali," batinnya pahit. Ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi.
"Tenang dulu." Bu Dhe beralih menatap Mbak Sri. "Ambilin air putih."
Namun sebelum Mbak Sri beranjak dari tempatnya berdiri --
"Bu Dhe, dia datang. Dia datang." Jordi refleks bersembunyi di belakang Bu Dhe.
Semua orang refleks menatap ke arah pintu. Seketika ekspresi mereka menjadi random. Ada yang menahan tawa. Ada yang geleng-geleng kepala. Ada yang tepok jidat. Ada yang mengelus dada. Bahkan ada yang menutup mulut dengan bahu bergetar.
"Mamas ganteng! Jangan tinggalin Imah.."
Seorang wanita yang kemungkinan usianya kepala tiga berlari sambil menaikkan rok spannya. Bibirnya merah seperti habis makan ayam mentah. Pipinya lebih dari merona, seperti habis ditampar kenyataan. Rambut panjangnya yang dikepang dua menjuntai di depan dada.
Beberapa warga nampak menyusul dari belakangnya. Mengejar wanita yang mengalami gangguan jiwa karena stres itu.
Bu Dhe melangkah mendekati Imah dengan gerakan tenang.
"Imah, pulang dulu ya," ujar Bu Dhe sambil mengusap lengan wanita itu lembut.
"Bu Dhe, Imah ditinggal mamas ganteng," adu Imah dengan suara manja. Bibirnya mengerucut, kakinya menghentak-hentak, tangannya sibuk memilin ujung kepangannya.
"Mamas gantengnya mau istirahat dulu. Mainnya besok lagi, ya," bujuk Bu Dhe.
"Nggak mau!" tolak Imah. "Aku mau peluk mamas ganteng."
Mata wanita itu menyapu ruangan. Jordi buru-buru bersembunyi di belakang ibu-ibu.
Ryu menegang saat Imah menatapnya dengan senyum lebar.
Namun sebelum Imah mendekat, seorang pemuda dari kerumunan yang mengejarnya berkata,
"Imah, kucingmu dikejar kucing jantan. Cepetan bawa pulang."
"Apa?!"
Ekspresi Imah berubah total. Matanya langsung membelalak.
"Beraninya mau ngawinin kucingku!" Wanita itu bergegas pergi sambil mengangkat roknya.
Setelah perempuan itu pergi, Jordi akhirnya duduk lemas di samping Ryu.
"Akhirnya pergi juga," gumam Jordi seperti baru dikejar rentenir.
Sedangkan Ryu menghembuskan napas lega, meski wajahnya masih pucat.
Orang-orang akhirnya tak bisa menahan tawa. Suasana tegang akhirnya pecah.
"Minum dulu," ujar Mbak Sri seraya menyodorkan nampan berisi gelas air putih.
Jordi meneguknya cepat sampai tandas. Sedangkan Ryu minum dengan tenang, gerakannya tidak terlalu cepat ataupun lambat.
Seroja sedikit mendekat. "Sebenarnya kalian dari mana? Kenapa sampai ketemu sama Imah?" tanyanya mewakili rasa penasaran yang lain.
Jordi meletakkan gelasnya di meja. "Bos dari beli kambing sama sapi buat tahlilan. Tapi Bos mabuk gegara bau kambing dan kandang sapi. Muntah-muntah di jalan, sampai terkilir. Eh, malah ketemu perempuan barusan yang tiba-tiba meluk-meluk," jelas Jordi bergidik ngeri.
Semua orang akhirnya beralih menatap Ryu. Pemuda itu tetap duduk dengan punggung tegak dan wajah datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi dalam hati...
Malu?
Jangan tanya. Harga dirinya sebagai CEO rasanya hancur berkeping-keping sejak muntah di kandang sapi, lalu pulang digendong sambil dikejar wanita yang mengalami gangguan jiwa.
Seroja menunduk melihat sepatu dan celana bagian bawah Ryu yang kotor oleh lumpur. Lalu pandangannya naik ke wajah pucat yang tetap datar itu meski semua orang menatapnya.
Seroja memalingkan wajahnya menahan senyum. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ryu. Seorang pemuda kota dengan mobil mewah, sepatu kulit mengilap, jam tangan mewah, tampilan rapi dan berkelas, tapi berujung masuk lumpur, muntah, terkilir, bahkan dikejar orang gila.
Gadis itu berdehem pelan, mengelola ekspresi wajahnya, lalu maju selangkah lagi ke arah Ryu.
"Kaki sebelah mana yang terkilir?" tanyanya dengan senyuman lembut tersungging di bibirnya.
Ryu refleks mendongak menatap gadis itu. Tak ada riasan mencolok. Bulu mata lentiknya terlihat alami, bibir merah jambunya juga. Namun penampilan sederhana dan sorot matanya yang lembut justru membuat Ryu enggan berpaling.
Seroja kembali berdehem kecil seraya memalingkan wajahnya. Jelas jantungnya berdetak tak normal karena ditatap pria yang sah menjadi suaminya seperti itu.
Bu Dhe dan yang lainnya menahan senyum melihat interaksi mereka.
Tapi bukan Jordi namanya kalau tidak membuat kekacauan.
PLAK!
"Bos!" seru Jordi sambil menepuk paha Ryu. "Lihatinnya ntar kalau berdua di kamar aja. Jangan bikin iri yang jomblo. Ingat kaki. Itu bakal bengkak kalau gak diobati," ujar Jordi memecah suasana hangat tanpa merasa berdosa.
Bu Dhe dan yang lainnya mati-matian menahan tawa karena melihat tingkah Jordi.
Ryu sedikit tersentak, lalu batuk kecil berusaha mempertahankan wajah datarnya.
"Sudah, kalian kembali ke pekerjaan masing-masing sana," ujar Bu Dhe membubarkan kerumunan.
"Seroja," panggil pemuda yang memancing Imah pergi tadi. "Apa benar kamu mau ikut suamimu ke kota?"
"Benar," jawab Seroja singkat.
"Aduh, kalau Seroja pergi, kita nggak bisa berobat lagi, dong," celetuk seorang ibu.
"Padahal menantuku sebentar lagi lahiran," sahut yang lain.
Bu Dhe akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut, tapi tegas.
"Seroja adalah seorang istri, jadi harus ikut suami."
Tak ada yang membantah. Satu per satu akhirnya kerumunan itu bubar. Sebagian pulang dan sebagian lagi kembali ke dapur. Tapi jelas mereka sedih karena Seroja akan pergi.
Seroja menghembuskan napas pelan, lalu kembali menatap Ryu. "Jadi, kaki yang sebelah mana yang terkilir?"
Ryu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menunjuk kaki kanannya perlahan.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang seseorang mulai masuk ke hati bukan saat terlihat sempurna, tapi saat kita melihat sisi paling berantakan dari dirinya."...
..."Tidak semua kedekatan dimulai dari momen indah. Kadang ada yang dimulai dari lumpur, rasa malu, dan kekacauan yang tak terlupakan."...
..."Kadang rasa nyaman datang bukan saat hidup berjalan sempurna, tapi saat seseorang tetap tinggal meski melihat kita di titik paling memalukan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Setan telah menguasai Ibunya Clara. Seroja yang masih dengan tenang menghadapi - dengan suara lembut mencoba bicara.
Ibunya Clara tetap menuduh Seroja merebut Ryu dari Clara.
Semakin emosi, menuduh Seroja pelakor, perusak hubungan orang. Semakin menjadi - teriak-teriak mempermalukan Seroja.
Mereka berdua tidak paham dengan bahasa manusia. Tidak paham dengan apa yang dikatakan Ryu.
Ryu menderita lahir dan batin seperti itu, mereka masih saja merengek minta dikasihani Ryu.
Mereka orang-orang egois yang hanya mementingkan nasib putrinya. Tidak peduli dengan penderitaan orang lain.
Waduuuuuh....Seroja ditampar Ibunya Clara. Dituduh merebut Ryu dari anaknya.
Seroja bisa jadi ngidam nih - pingin seblak. Siapa tahu bibit Ryu yang waktu itu tertanam di rahim Seroja tumbuh subur menjadi calon bayi.
Disela-sela pembicaraan serius, mereka berdua bisa saling menggoda, tertawa bersama.
Saatnya Seroja memijat Ryu, supaya peredaran darahnya lancar.
Ryu merasakan pijitan Seroja ada rasa sensasi samar. Walau sedikit.
Bagi Seroja sebagai seorang dokter, perubahan sekecil apapun tetap berarti.
Mereka menduga masih ada jaringan parut yang menekan saraf tulang belakang Ryu.
Kalau dugaan mereka benar, Ryu akan menjalani operasi revisi. Operasi besar.
Seroja menerangkan, kalau operasi nanti dilakukan. Resiko pasca operasi. Lama penyembuhannya.
Peluangnya lebih baik dibanding tidak operasi.
Mendengar semua penjelasan dari Seroja, kalau ujungnya bisa berjalan - Ryu mau mencoba.
Ryu ingin suatu hari nanti bisa berjalan sambil menggandeng tangan istrinya lagi.
semangaat berkarya teruss y kk nana💪💪
boleh minta bonchapny kk🤩
Ini mah pembicaraan tingkat tinggi dua laki-laki sejati. Saling bicara. Saling bertanya. Saling menjawab. Tak ada nada permusuhan.
Evan semakin sadar siapa dirinya. Siapa Ryu bagi Seroja.
Seroja berusaha terus mencari solusi untuk kesembuhan Ryu.
Semoga usaha Seroja membawa hasil baik untuk kesembuhan suaminya.
Mendengar percakapan Ryu dengan Jordi, kini Ervan merasa kalah dengan lapang dada.
Evan baru tahu tanpa disengaja kalau Ryu adalah CEO Kai Zander Group.
Semoga alat reproduksi Ryu bisa sembuh dengan ketelatenan Seroja dalam memijit titik-titik simpul syarafnya nanti.
Evan mengakui merasa dirinya masokis banget, didepan adiknya. Alvaro juga tidak jauh berbeda dengan kakaknya waktu itu.
Sadar saja kalau Seroja bukan jodohnya kamu, Evan. Ryu dan Seroja sudah berjodoh sejak kecil. Bahkan sejak Seroja masih dalam kandungan. Ryu memiliki banyak kelebihan, Evan belum tahu saja.
Melihat dan mendengar interaksi sepasang suami istri di depan matanya - Evan mundur teratur. Lebih baik begitu.
Boro-boro memberi celah sedikit. Mana ada Seroja memikirkan Evan. Ngga Ada.
Mendengar penjelasan dari Seroja, seorang Ibu hamil yang bayinya sungsang, tampak sedikit lega.
Seroja dokter yang bisa membikin pasiennya merasa tenang dari rasa khawatir ketika mengetahui bayi dalam kandungan dinyatakan sungsang.
Suami pasien juga tidak begitu tegang lagi.
Ibu mertua pasien juga bisa bernapas lega mengetahui menantunya tidak harus operasi sekarang.
Langkahnya menuju ruang rawat suami Seroja.
Langkahnya terhenti ketika dilihatnya seorang pria dengan kursi roda baru saja keluar dari ruang rawat VVIP.
Evan yang baru kali ini melihat Ryu - sudah bisa menilai Ryu bukan pria biasa.
Evan melihat Seroja berjalan mendekati suaminya. Dilihatnya Seroja tersenyum lepas. Senyum yang belum pernah dia lihat.
Seroja sudah berbahagia bersama suaminya dalam kondisi apapun. Evan sudah melihat sendiri interaksi suami istri itu. Jadi jangan coba menjadi pebinor wkwkwk.
semoga Sukses dan sehat selalu..
Happy ending Ryuh dan Seroja
lanjut di lapak sebelah
lanjut kak othor sampe mereka punya anak