Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.
Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.
Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tears and Rain
Di tengah gelap malam dan derasnya hujan, Aruna memacu kencang motornya. Melampiaskan rasa kesal dan amarahnya yang entah ditujukan pada siapa. Melepaskan segala rasa yang ia pendam lalu hilang di dalam pelukan dinginnya malam.
Sementara itu, dari sela pintu rumah yang masih terbuka, ada Kana yang masih menangis menunduk dan memeluk lututnya sendiri. Tangisnya pilu dan tak redam oleh suara derai hujan. Dan selurs arah dimana Kana duduk menangis, ada dia... berdiri ditengah hujan, menatap tanpa kedip.
Perempuan yang masih ia tatap lurus itu akhirnya berhenti menangis. Dengan muka sembab, ia terlihat bingung menatap makanan yang telah dingin didepannya. Makanan yang tadinya ia siapkan untuk suaminya makan malam. Dengan tangan yang bergetar, perempuan lemah itu mencoba memasukkan satu-dua suap kedalam mulutnya. Kelihatannya, makanan itu sudah seperti batu baginya, sangat sulit untuk ditelan sebab beradu dengan rasa sedih yang juga harus ia telan.
Setelah tak lagi sanggup mengunyah, perempuan itu membereskan makanannya. Ia membuang makanan yang telah dingin itu, lalu mencuci piring sambil beberapa kali mengelap air mata yang terus jatuh di pipinya. Dan setelah semuanya selesai, mendadak hawa dingin sangat terasa menusuk hingga ke tulang perempuan itu. Ia berjalan perlahan ke arah pintu depan yang masih terbuka, menatap sendu diantara hujan dan gelap. Bibirnya berbisik melantunkan doa, kemanapun suaminya pergi malam itu, lindungilah dia Tuhan, bisiknya.
Chas yang sedang berteduh memakai payung dan jas hujan di bawah pohon bergidik resah. Ia ingin seklai menarik Aruna yang masih berdiri terpaku menatap pintu yang sudah ditutup oleh Kana beberapa menit yang lalu. Sebenarnya Chas sudah tak sabar ingin pergi dari tempat itu dan mengajak Aruna menuju lompatan memori berikutnya, namun ia merasa tak enak hati mengganggu momen haru itu.
Barangkali sudah ada 1 jam Aruna berdiri di tempat, di tengah hujan yang dingin. Meski tubuhnya tak lagi kasat mata, tetapi udara dingin tetap ia rasakan menjalar hingga tulang-tulangnya. Tetapi rasa itu tentu tidak ada apa-apanya, dibanding adegan perih yang ia ratapi di depan matanya. Melihat Kana yang mennagis sedih dan pilu. Meratapi Kana yang akhirnya tertidur lelah karena menangis. Perempuan itu, begitu terluka atas apa yang Aruna ucapkan malam itu. Sementara, diri mudanya yang pergi menghilang malam itu, tanpa memikirkan luka besar dan dalam yang telah ia toreh pada istrinya, larut dalam buai alkohol. Berusaha mengubur luka, rasa kecewa, dan luapan amarahnya. Ia tahu saat itu ia salah, namun ia tak berdaya, melawan dirinya sendiri.
Dengan tubuh yang sudah basah kuyup, Aruna mendatangi Chas. "Gue mau disini aja malam ini," ucapnya parau. Ya, dalam diam menatap Kana dibawah derasnya hujan, Aruna menahan tangisnya sendiri hingga suaranya serak.
Chas mengangguk, mencoba memasang tampang simpatik tapi gagal. "Baiklah. Ada satu hal yang harus lo ketahui. Ini semua pusaran kenangan. Sudah terjadi, tak ada satupun hal yang bisa lo lakukan untuk mengubahnya. Bahkan untuk sekedar meringankan luka perih Kana malam ini."
Aruna tak mengerti, baginya pemandangan malam ini sangatlah menyedihkan. Tapi tampang lelaki didepannya ini sama sekali tak ikut menunjukkan rasa sedih. Dari pada ia berlama-lama berbicara dengan Chas dan membuat dirinya sendiri merasa cengeng, Aruna membalikkan badan dan berjalan ke arah dalam rumah.
Menatap punggung Aruna, Chas mendesis. "Gue berharap lo belajar banyak dari penyesalan ini, agar waktu lo yang tersisa nanti, dapat benar-benar lo manfaatkan dengan baik, Aruna."
***
Aruna kini sudah berada di sebelah tempat tidur Kana. Istrinya, ah mantan istrinya yang masih terlihat sangat cantik saat itu sudah terlelap. Bagian mata dan pipinya sedikit membengkak, membuatnya terlihat sedikit chubby. Tetapi, alis mata Kana yang terlelap tidak terlihat rileks. Masih berkerut seolah masih memikirkan sesuatu. Pelan dan berbisik, Kana mengigau.
'Aruna, maafin aku. Aku sayang sama kamu. Sayang sekali, sampai rasanya aku rela mati,' ucap Kana lemah dalam tidurnya.
Menelan ludah, Aruna mencoba menguatkan dirinya. Ia lalu menjulurkan tangan, mencoba membelai pucuk kepala Kana. Berusaha memberi sedikit rasa nyaman agar Kana tertidur lelap dan melupakan rasa sedihnya. Alih-alih menyentuh kepala Kana, tangan Aruna justru seolah bercahayadan perlahan cahaya itu seolah menyedot tubuhnya. Menarik Aruna, menuju ruangan lain.
Bruk!
Aruna terhempas disebuah kasur yang terasa dingin. Setelah mengerjap beberapa kali, ia tersadar bahwa ia telah berpindah tempat. Ruangan ini, meski berbeda dari dimana ia berada sebelumnya, tetap sebuah Kamar. Pandangan Aruna cepat berbalik saat ia merasa ada pergerakan di belakangnya.
Itu, Kana. Kana yang saat ini. Bukan Kana yang ada dalam pusaran kenangan.
Kana sedang tertidur tenang dalam selimutnya. Berbeda dengan Kana dalam kenangan Aruna, alis Kana yang tertidur dihadapannya tampak santai, tidak lagi berkerut sedih seolah banyak pikiran. Namun, setetes air mata tiba-tiba jatuh dari mata Kana yang terpejam. Seolah wanita itu menangis dalam tidurnya.
Tepat disamping tempat tidur Kana, ada meja nakas kecil dengan beberapa obat. Aruna berjalan mendekati meja kecil itu dan membaca sampul packaging obat. Obat itu, obat penenang yang digunakan untuk penderita gangguan tidur akut.
Terkejut, Aruna membaca lebih lanjut keterangan pada obat yang ia pegang. Ia lalu mencoba mengecek isi obat tersebut. Hanya tersisa beberapa butir. Berarti Kana telah meminum obat ini dalam waktu yang lama. Aruna lalu mencoba mengecek isi laci meja nakas itu. Ada beberapa obat lainnya, dan juga sebuah catatan dan jurnal medikal Kana. Jadwal pertemuan dengan pskiater, dengan dokter syaraf, serta jadwal konsumsi obat.
Tangan Aruna bergetar tiap kali membuka lembaran catatan yang Kana tulis sendiri. Aruna tahu, saat seorang pasien harus konsultasi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan mental dan jiwanya, pasien tersebut sebaiknya membawa seseorang untuk mendampingi. Selain untuk memberi dukungan pada sang pasien, pendamping tersebut diharapkan untuk membantu mengingat apa-apa pesan dokter termasuk jadwal konsumsi obat, hal-hal yang harus diingat seperti pemicu, gejala dan hal penting lainnya. Kana, ia mencatat sendiri semua diagnosis dan jadwal konsumsi obatnya. Ini artinya, Kana selalu pergi sendirian saat sesi konsultasinya. Aruna shock dan terduduk di lantai.
Ia ingat, saat bulan-bulan awal setelah bercerai, Aruna juga mengalami gangguan tidur dan harus melewati sesi konsultasi cukup lama. Kala itu ia terus menerus memimpikan Kana dan momen-momen kenangan bersama mantan istrinya itu. Terkadang, saking belum terbiasanya berpisah dari Kana, sesekali saat butuh bantuan, Aruna masih memanggil nama Kana. Seperti saat ia lupa membawa handuk, atau ketika ia sedang mencari suatu benda yang hilang. Biasanya, hanya dengan meneriakkan nama Kana, istrinya itu akan muncul sudah memegang dan menyerahkan benda yang ia butuhkan, tanpa harus Aruna sebutkan.
Mengepalkan tangannya, Aruna mendesis, "siaaal!"
Berharap bahwa rasa kepalan erat tangan membantu menguatkan dirinya agar tidak lagi menangis. Sebab tangisannya saat ini tidak berguna. Tidak akan membantu apapun. Tidak akan mengubah apapun.
Kana yang ada dihadapannya saat ini sedikit jauh berbeda dengan Kana dalam kenangannya. Ada sedikit guratan halus penuaan dini pada ujung pelupuk mata. Wajahnya terlihat pucat tak segar merona. Tubuhnya juga jauh lebih kurus. Aruna tak ingat pernah melihat Kana sekurus dan selemah ini. Perempuan ini telah jauh banyak berubah, seperti bunga yang telah kehilangan madu dan warnanya. Seperti tubuh yang tak lagi berjiwa. Yang hanya bisa bertahan hidup dari ke hari, dengan bantuan obat penenang, agar hidupnya normal.
Aruna duduk bersandar pada tempat tidur Kana. Perlahan air matanya mengalir dan semakin deras. Tubuh Aruna bergetar tak mampu menahan rasa sesal dan sedih atas apa yang menimpa Kana. Ia menangis semakin menjadi. Karena ia tahu, di belahan dunia kenangan sana, hari esok adalah hari yang telah mengubah Kana. Hari yang telah menghancurkan Kana, merenggut kata bahagia dalam hidupnya. Menyeret Kana pada hidup yang terasa seperti neraka.
***
Benar seperti yang Aruna ingat, saat itu mentari telah naik pada peraduan pagi. Membangunkan Kana muda yang wajahnya masih bengkak belum pulih dari sisa tangisnya semalam.
Kana membuka matanya dan detik itu juga tubuhnya serasa remuk. Seluruh sendinya sakit, mungkin ini akibat hormon sedih yang menjalar kemana-mana. Saat ia berusaha bangun, perutnya mendadak terasa dingin dan keram. Cepat Kana membuka selimutnya untuk segera ke kamar mandi. Namun tubuhnya membeku, ada bercak darah di tempat tidur, berasal dari tubuh bagian bawahnya.
Mengernyit heran sambil masih menahan rasa sakit, Kana tak ingat bahwa ini adalah jadwal mensnya. Sudah beberapa bulan ini Kana tak lagi melakukan penelusuran jadwal datang bulannya di aplikasi ponsel. Terlalu banyak yang menyita pikirannya sehingga terlupa untuk melakukan pengecekan. Kana lalu buru-buru mengecek ponselnya dan terkejut, ia sadar bahwa terakhir kali datang bulan adalah 1,5 bulan yang lalu. Apakah darah ini merupakan akibat jadwal mensnya tertunda? Tapi ini terlihat seperti darah segar, bukan darah merah legam seperti datang bulan pada umumnya.
Kana turun dari tempat tidur hendak membersihkan bercak darah pada baju dan tempat tidurnya. Namun, mendadak ia bergidik terkejut saat kakinya menyentuh sesuatu yang dingin di lantai.
Tergeletak dengan sekujur tubuh yang masih basah dan lembab, ada Aruna yang tersungkur di lantai. Kulitnya yang putih itu sepucat mayat, dan ditepi mulutnya ada kerak kering bekas muntahan.
Rasa sakit yang Kana rasakan di perutnya mendadak hilang, berganti dengan rasa ribuan cemas menghantam dadanya. Ia lalu berteriak memanggil nama Aruna, mencoba membangunkan suaminya itu. Rasa dingin yang menyentuh kaki Kana adalah jaket Aruna yang lembab. Sementara saat Kana mecoba membalikkan tubuh Aruna, Kana merasakan panas yang membakar dari kulit lelaki itu. Suaminya, demam sangat tinggi.
Setelah susah payah mengganti baju Aruna dan menopang tubuh berat suaminya itu ke tempat tidur, Kana menelepon rumah sakit, berusaha meminta ambulan agar menjemput suaminya yang sedang demam tinggi itu. Saat memberi keterangan dengan terbata-bata karena panik, suara cemas Kana membangunkan Aruna.
"Kana," panggil Aruna parau. Suara nafasnya bercampur antara aroma sisa alkohol dan sisa muntahan.
"Y..ya sayang? Kamu dari mana semalaman? Badan kamu panas demam tinggi. Kita ke dokter ya, aku telfon rumah sakit minta dijemput ambulan!" ucap Kana panik sambil satu tangannya mengucap pipi Aruna yang memerah karena demam, sementara satu tangannya masih memegang ponsel yang ia tempel di telinga kirinya.
Aruna menjulurkan tangannya seolah mencoba meraih ponsel Kana, seperti berusaha mengehntikan usaha Kana memanggil ambulan.
"Matiin telfonnya... Gak perlu ambulan... It's okay, I'm okay... Kamu denger aku, kan? Gak usah. Matiin... telfonnya," kata Aruna lemah.
Bingung harus mengikuti rasa khawatir dan cemasnya untuk memanggil ambulan atau mengikuti kemauan suaminya, Kana akhirnya mengalah. Ia lalu mematikan ponselnya dan memeluk Aruna.
"Jadi aku harus gimana? Panas kamu tinggi banget," ucap Kana dengan suara bergetar.
Aruna mengelus pucuk kepala perempuan yang masih jadi istrinya itu. "Aku... mau pulang aja, Kana."
"Aku mau pulang, ke rumah. Aku gak mau lagi disini. Terlalu menderita. Terlalu sakit. Untukku, untukmu," lanjut Aruna lagi.
Setengah tak percaya dengan apa yang Aruna ucapkan, Kana melepas pelukannya dan menatap Aruna sambil menahan nafas.
"Apa maksud kamu?" tanya Kana pelan.
"Ayo kita sudahi saja hubungan ini. Ini tak membahagiakan ku, tak juga membahagiakan kamu. Kita salah sudah memilih jalan untuk berumahtangga seperti ini. Ini terlalu berat buat kita. Kamu, kamu jauh lebih bahagia sebelum bersama aku, kan? Kamu jauh lebih bebas, tanpa beban memiliki suami sepertiku. Aku tidak ada apa-apanya jika berdiri sendiri tanpa orangtuaku dan harta mereka ternyata, Kana..."
"Aku baru sadar bahwa aku memang sudah ditakdirkan untuk hidup meneruskan perjalanan keluarga itu, kamu tak perlu ikut menanggung semua itu, Kana. Hiduplah dengan baik. Biar aku yang kembali pada jalan yang mereka mau."
Sekali lagi masih dengan suara parau, Aruna berkata dengan jelas. "Ayo kita cerai saja, Kana. Dan hidup sendiri-sendiri menjalani jalan yang kita mau dan mencari kebahagiaan disana."
***
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Mulai baca