Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat yang di tinggalkan Sekar
"Mas... Sekar, Mas. Ke mana dia..." tangis Bu Ratmini pecah saat menyadari putrinya benar-benar tidak ada di dalam kamar.
"Sudah, tenang dulu. Aku akan cari Sekar." Kata Pakde Banyu berusaha menenangkan meski wajahnya sendiri terlihat tegang.
Dia lalu meminta beberapa pria di kampung itu membantu mencari Sekar sebelum kabar hilangnya calon pengantin itu menyebar semakin luas.
Subuh itu, mereka segera berpencar ke berbagai arah.
Pakde Banyu memilih mendatangi rumah Wulan lebih dulu. Dia berpikir mungkin Sekar pergi menemui sahabatnya itu.
"Assalamualaikum..." Ucap Pakde Banyu dari bawah rumah panggung milik Wulan.
"Walaikumsalam..." Sahut suara dari dalam rumah.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan Wulan keluar dengan wajah heran.
"Lho, Pakde, ada apa?" Tanyanya sambil menuruni sedikit anak tangga.
"Sekar ada, Wulan?" Tanya Pakde Banyu langsung.
"Sekar? Nda ada, Pakde. Ini Wulan malah baru mau ke sana." Jawab Wulan bingung. Memang sejak selesai salat subuh, dia bersiap pergi membantu persiapan pernikahan sahabatnya itu.
"Memangnya ada apa, Pakde?" Tanyanya lagi dengan dahi berkerut.
"Sekar nda ada di kamarnya, Wul." Ujar Pakde Banyu pelan namun penuh kecemasan.
"Apa?" Wulan langsung terkejut. Wajahnya berubah pucat.
"Naik dulu, Pakde." Ajaknya cepat.
Pakde Banyu pun naik ke rumah panggung itu. Setelah duduk sebentar di ruang depan yang sederhana, dia kembali menatap Wulan serius.
"Kamu tahu tempat yang mungkin didatangi Sekar?"
Wulan terdiam sejenak, mencoba berpikir keras. Gadis itu mengingat tempat-tempat yang biasa dikunjungi mereka kunjungi atau Sekar kunjungi.
"Tempat yang selalu didatangi Sekar..." gumam Wulan pelan sambil mengingat-ingat sesuatu.
"Sepertinya nda ada, Pakde," jawab Wulan akhirnya pelan. Ia menggeleng kecil dengan wajah masih dipenuhi kebingungan.
"Biasanya kami cuma kumpul di rumah saja. Nda ada tempat khusus," lanjutnya lagi.
Memang, selain pergi ke mushola atau sekadar membantu di kebun, Wulan dan Sekar jarang bepergian jauh. Sekar juga bukan tipe gadis yang suka keluar rumah tanpa alasan jelas.
Pakde Banyu menghela napas berat mendengar jawaban itu. Harapannya untuk menemukan petunjuk sedikit demi sedikit mulai memudar.
"Wulan, coba ingat lagi. Mungkin beberapa hari terakhir Sekar pernah bilang sesuatu?" Tanya Pakde Banyu penuh harap.
Wulan terdiam. Dia mencoba mengingat percakapannya dengan Sekar semalam. Tentang pernikahan, tentang kesedihannya karena sahabatnya akan menjadi istri orang.
Namun, tidak ada hal aneh.
Sekar masih tersenyum seperti biasa malam itu. Bahkan, Sekar terlihat begitu bahagia. Jadi, aneh kalau Sekar tiba-tiba pergi di hari pernikahannya.
"Nda ada, Pakde," jawab Wulan lirih. "Semalam dia juga biasa saja."
Pakde Banyu mengusap wajahnya kasar. Kini rasa cemas mulai berubah menjadi takut.
Di luar rumah, langit subuh perlahan mulai terang. Suara ayam berkokok bersahutan dari kejauhan, tetapi suasana desa justru terasa semakin mencekam.
Karena calon pengantin perempuan menghilang tepat di hari pernikahannya.
"Tapi nda mungkin Sekar itu pergi, Pakde. Mana mungkin dia pergi saat dia akan menikah dengan laki-laki yang dia cintai." Kata Wulan tidak percaya. Suaranya terdengar pelan, seolah berusaha menyangkal kemungkinan buruk yang mulai muncul di pikirannya.
"Iya, Pakde juga berpikir begitu." Sahut Pakde Banyu sambil menghela napas berat.
"Tapi kamarnya kosong, dan dia nda ada di rumah."
Wulan langsung terdiam. Dadanya terasa semakin tidak nyaman. Dia mengenal Sekar sejak kecil. Gadis itu bukan tipe orang yang akan kabur tanpa alasan, apalagi di hari sepenting itu.
"Baiklah kalau begitu, Pakde pamit dulu. Masih mau cari Sekar." Ujar Pakde Banyu sambil berdiri.
"Iya, Pakde. Wulan juga mau ke rumah Bude Ratmini." Jawab Wulan cepat.
Pakde Banyu pun segera turun dari rumah panggung itu dan kembali mencari bersama warga lain.
Sementara Wulan berdiri diam beberapa saat di depan pintu rumahnya. Angin pagi berhembus pelan menerbangkan ujung jilbabnya, tetapi pikirannya terasa kacau.
Di dalam hatinya, Wulan juga sangat khawatir.
Apa sebenarnya yang terjadi sampai Sekar pergi meninggalkan rumah di hari pernikahannya sendiri?
Bu Ratmini masih terduduk di dalam kamar Sekar sambil menangis. Beberapa ibu tetangga terus berusaha menenangkannya, meski mereka sendiri ikut merasa cemas dan bingung dengan hilangnya Sekar.
Tiba-tiba, mata Bu Ratmini menangkap sesuatu di atas meja rias sederhana milik Sekar di sudut kamar.
Selembar kertas putih yang ditindih tempat pensil kayu milik putrinya.
Dengan tangan gemetar, Bu Ratmini perlahan berdiri lalu menghampiri meja itu. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba berdebar semakin keras.
"Bu... itu apa?" Tanya salah seorang ibu pelan.
Bu Ratmini tidak menjawab. Dia segera mengambil kertas tersebut lalu membukanya perlahan.
Dan seketika, tubuhnya terasa lemas.
Di kertas itu tertulis pesan dari Sekar.
Bahwa dia memilih pergi.
Bahwa dia tidak menginginkan pernikahan itu.
Dan yang paling membuat hati Bu Ratmini seperti dihantam keras adalah kalimat berikutnya.
Sekar menulis jika selama ini dia tidak pernah mencintai Lindu. Dia mencintai pria lain.
"Ya Allah..." Lirih Bu Ratmini dengan suara bergetar. Surat itu jatuh dari tangannya.
Ibu-ibu yang berada di kamar itu langsung saling berpandangan dengan wajah terkejut dan tidak percaya.
Karena selama ini, semua orang di desa tahu betapa dekatnya Sekar dan Lindu.
Dan, Siapa pria lain yang dimaksud Sekar?
Tidak lama kemudian, Pakde Banyu pulang bersama yang lain. Dan hasilnya nihil, tidak ada Sekar bersama dengan mereka.
"Mana Sekar, Mas?" Tanya Bu Ratmini begitu Pakde Banyu kembali ke rumah. Suaranya lirih dan penuh harap, meski wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Nda ada. Kami nda ada yang menemukan Sekar." Jawab Pakde Banyu pelan dengan wajah muram.
"Ya Allah..." Bu Ratmini kembali menangis. Tubuhnya terasa lemas mendengar jawaban itu.
"Nanti kita cari lagi." Kata Pakde Banyu mencoba menenangkan adiknya.
Namun Bu Ratmini hanya terdiam. Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan surat yang ditemukan di kamar Sekar kepada Pakde Banyu.
Pakde Banyu segera membuka surat itu dan membacanya perlahan.
***Bu, maaf. Sekar harus pergi. Sekar tidak bermaksud ingin mempermalukan Ibu. Tapi Sekar harus melakukan ini demi kebahagiaan Sekar. Sebenarnya, Sekar tidak pernah mencintai Lindu. Sekar mencintai laki-laki lain, Bu. Sekar harus pergi dengannya. Ibu, tolong restui Sekar, dan jangan cari Sekar lagi.***
Seketika rumah itu menjadi sunyi.
Pakde Banyu menurunkan surat itu perlahan dengan wajah penuh keterkejutan.
Bu Ratmini menangis semakin keras. Hatinya terasa hancur membaca tulisan tangan putrinya sendiri.
Dia tidak menyangka Sekar menyimpan semua itu sendirian.
Di luar rumah, suasana desa perlahan mulai ramai. Beberapa warga yang datang untuk menghadiri persiapan pernikahan mulai mendengar kabar bahwa calon pengantin perempuan... menghilang sebelum akad dimulai.