NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 16

Raka keluar dari rumah.

“ Nad, aku pergi dulu.”

Raka mengulurkan tangan seolah berharap Nadia menoleh atau sekadar menjawab ucapannya.

Namun Nadia justru berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun.

Langkahnya tenang.

Terlalu tenang.

Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Tangan Raka perlahan turun.

Dadanya terasa sesak.

Ia mengembuskan napas panjang.

“Kenapa urusan sama perempuan begitu ribet?”

gumamnya frustrasi.

Raka berjalan menuju gerbang.

Sekarang ia harus membiasakan diri membuka dan menutup gerbang sendiri.

Hal kecil yang dulu selalu dilakukan Nadia tanpa pernah diminta.

Raka masuk ke dalam mobil lalu melajukannya perlahan.

Pikirannya dipenuhi berbagai masalah.

Nadia.

Nanda.

Ratna.

Yuni.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Tak butuh waktu lama, ia akhirnya sampai di kantor.

Raka langsung menuju ruangan Ratna.

Ratna sudah duduk di meja kerjanya.

Tatapannya fokus pada layar monitor.

Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.

“Ratna, aku pinjam uang dua juta.”

Ratna menghentikan aktivitasnya.

Ia memutar kursi lalu menatap Raka.

“Untuk apa?”

“Bayar study tour Nanda.”

“Berapa?”

“Dua juta.”

Ratna mengangkat alis.

“Minta sana sama Mamah, Mas. Bukankah semua biaya pendidikan Nanda Mamah yang pegang?”

Raka mengembuskan napas berat.

Ia menjatuhkan tubuh ke kursi di depan meja Ratna.

Kemudian menceritakan semuanya.

Mulai dari uang yang selama ini diberikan kepada Yuni hingga pertengkaran semalam.

Ratna mendengarkan sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

“Kamu membohongi aku, Mas. Aku kecewa.”

“Emang kamu pikir aku bisa bohong sama kamu?”

Ratna terdiam.

Tatapannya berubah serius.

“Mana mungkin dengan lima juta Nadia bisa membayarkan semua pengeluaran rumah, Mas. Jujur sama aku, sebenarnya berapa uang yang kamu berikan ke Nadia?”

“Ratna, akun bank aku kamu yang pegang. Cek sendiri saja berapa banyak yang aku kasih ke Nadia.”

Ratna kembali terdiam.

Ia tahu Raka tidak sedang berbohong.

Karena seluruh transaksi keuangan pria itu memang berada dalam pengawasannya.

“ Mamah memang keterlaluan. Bisa-bisanya uang pendidikan Nanda juga ditilep.”

Ratna menggeleng pelan.

“Kedepannya aku saja yang pegang pengeluaran rumah, Mas.”

“Ya terserah kamu lah. Sekarang pinjamkan aku dua juta.”

Ratna mengambil ponselnya.

Beberapa detik kemudian notifikasi transfer masuk ke ponsel Raka.

“Sudah aku transfer. Kamu harus ganti dua kali lipat.”

“ Oke, aku ganti.”

“Transferkan sekarang ke sekolah. Aku enggak mau ya kamu bohong.”

Raka menatap Ratna lelah.

Padahal Ratna memegang seluruh akses rekeningnya.

Ratna bisa melihat setiap mutasi keuangannya kapan saja.

Namun perempuan itu tetap saja curiga.

Tanpa banyak bicara, Raka langsung mentransfer uang tersebut ke rekening sekolah Nanda.

Bukti transfer segera ia kirim kepada Nadia dan Ratna.

“Ratna,” ucapnya pelan.

“Apa lagi?”

Raka menarik napas panjang.

“Nadia sudah tahu kita menikah.”

Ratna langsung menoleh.

Matanya berbinar penuh antusias.

“Dari mana dia tahu? Apakah kamu atau Mamah yang memberi tahu?”

“Kami tidak memberi tahu Nadia. Dia tahu sendiri.”

Ratna menyipitkan mata.

“Berarti kemarin dia menguntit kamu.”

“Mungkin.”

Jawaban Raka terdengar malas.

“Kalau dia sudah tahu, ya sudah. Kalau begitu aku akan tinggal di rumah kamu.”

Raka langsung bangkit dari kursinya.

“Jangan gila kamu, Ratna.”

“Kenapa?”

“Baru saja dia tahu, langsung minta cerai padaku. Apalagi kalau kamu tinggal bersama.”

Ratna malah tersenyum santai.

“Nadia harus belajar menerima kenyataan, Mas. Dia mandul, tidak bisa melahirkan keturunan. Dan akulah yang sudah memberimu keturunan. Jadi sekalian saja aku tinggal di rumah kamu.”

“Jangan gila kamu, Ratna.”

Raka mulai kesal.

“Kita sudah membohonginya sekian lama. Sekarang kamu malah mau menyakitinya.”

Ratna tertawa hambar.

Tawanya penuh kepahitan.

“Kamu kira aku enggak sakit?”

Matanya mulai memerah.

“Enam tahun aku menunggu kejelasan hubungan kita. Padahal aku sudah memberikan keturunan sama kamu. Kurang sabar apa lagi aku coba?”

“Kalau kamu tidak menjebakku, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

“Jangan bodoh, Mas.”

Ratna menatap Raka tajam.

“Waktu itu kamu bisa saja menolakku. Jadi jangan sok menjadi korban. Kamu juga menikmatinya, kan?”

Raka langsung terdiam.

Tak mampu membantah.

“Ratna, aku mohon. Jangan dulu tinggal di rumah.”

“Enggak bisa.”

Ratna menggeleng tegas.

“Pokoknya aku akan tinggal di sana. Kalau tidak kamu beri izin, aku akan bilang semuanya ke Nanda dan Nadia.”

Wajah Raka langsung berubah.

“Kamu gila? Tega kamu menyakiti Nanda?”

“Menyakiti apanya?”

Ratna mendecakkan lidah.

“Kamu pikir aku mau hidup seperti ini?”

Suara Ratna mulai meninggi.

“Enam tahun aku menunggu kejelasan. Untung saja dugaanku benar kalau Nadia mandul. Coba kalau tidak? Sudah pasti kamu akan mencampakkan aku dan Nanda.”

Raka terdiam cukup lama.

Rahangnya mengeras.

Namun ia tahu Ratna tidak akan mundur.

“Pokoknya aku mau tinggal di rumah kamu.”

“Beri aku waktu, Ratna.”

Raka memijat pelipisnya.

“Jangan mendadak. Aku perlu menjelaskan dulu sama Nadia.”

Ratna berpikir sejenak.

“Baik. Aku beri waktu seminggu.”

Raka tahu tidak ada gunanya membujuk lagi.

“Baiklah kalau begitu.”

Setelah itu ia keluar dari ruangan Ratna.

Pintu tertutup pelan.

Ratna menatap punggung Raka hingga menghilang dari pandangan.

Begitu yakin pria itu sudah pergi, ia segera mengambil ponselnya.

Lalu menelepon ayahnya.

“Ayah, ada kabar penting.”

“Kabar apa?”

Ratna lalu menceritakan semuanya.

Tentang Nadia yang selama ini bisa menutupi kekurangan biaya rumah tangga Raka.

Tentang uang yang terus keluar dari rekening pribadinya.

Tentang kehidupan Nadia yang ternyata jauh dari sederhana.

Di seberang sana, ayah Ratna terdiam beberapa saat.

“Berarti setiap bulan Nadia menombok sekitar sepuluh juta. Sedangkan dia tidak punya pekerjaan. Artinya dia punya harta warisan yang disembunyikan.”

“Sepertinya begitu, Yah.”

“Dari dulu Ayah curiga. Nandar tidak mungkin hanya meninggalkan rumah sederhana. Dulu dia pengusaha sukses.”

“Terus bagaimana, Yah?”

Pria itu tersenyum tipis.

Matanya berbinar penuh perhitungan.

“Kamu harus secepatnya masuk ke rumah Raka.”

Ratna langsung duduk tegak.

“Untuk apa?”

“Cari bukti. Surat berharga, sertifikat, deposito, atau apa pun yang dimiliki Nadia.”

“Kalau sudah ketemu?”

“Kita gugat harta itu.”

Ratna tersenyum puas.

“Ya. Aku akan secepatnya masuk ke rumah Raka.”

“Bagus.”

Suara ayahnya terdengar penuh kepuasan.

“Tapi ingat, jaga emosimu. Jangan terlalu meledak-ledak. Setelah kamu mendapatkan surat berharga Nadia, terserah kamu mau bertindak seperti apa.”

“ Oke, Yah.”

Sambungan telepon pun terputus.

Ratna menatap layar ponselnya beberapa saat.

Kemudian perlahan sudut bibirnya terangkat.

Senyum yang sama sekali tidak terlihat hangat.

“Nadia...”

Jemarinya mengepal di atas meja.

“Ini semua salah kamu.”

Tatapannya berubah tajam.

“Kamu selalu mengalahkan aku.”

Napasnya mulai memburu.

“Kamu selalu jadi bintang sekolah.”

“Kamu selalu jadi pusat perhatian.”

“Dan hidup kamu selalu membuat aku terlihat kalah.”

Ratna menggertakkan giginya.

Kebencian yang selama ini dipendam kembali membuncah.

“Sekarang aku sudah merebut suami kamu.”

Senyumnya semakin lebar.

“Dan kamu bahkan merawat anakku dengan sukarela.”

Namun itu masih belum cukup.

Belum membuatnya puas.

“Aku belum selesai, Nadia.”

Tatapan Ratna berubah dingin.

Penuh ambisi.

“Aku juga akan merebut semua harta kamu.”

Ia mengepalkan tangan kuat-kuat.

“Aku akan bahagia kalau melihat kamu jatuh miskin.”

Kebencian itu sudah tumbuh sejak mereka remaja.

Dan kini, kebencian itu berubah menjadi obsesi yang semakin sulit dikendalikan.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!