NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU FREKUENSI DI KORIDOR

  Salsa Kirana terbangun dengan perasaan yang sangat berbeda pagi ini. Jika biasanya alarm ponsel adalah musuh bebuyutan yang ingin ia lempar ke luar jendela, kali ini suara nyaring itu terdengar seperti simfoni pembuka hari yang menyenangkan. Ia tidak langsung beranjak. Selama beberapa detik, Salsa hanya menatap langit-langit kamar, membiarkan memori tentang kejadian kemarin malam berputar perlahan seperti rol film. Bayangan tentang bagaimana Arkan menatapnya di bawah langit senja, bagaimana genggaman tangan cowok itu terasa sangat pas di jemarinya, dan bagaimana status mereka sekarang bukan lagi rival yang saling menjatuhkan, melainkan sepasang kekasih.

  Salsa tersenyum sendiri. Ia merasa seperti baru saja menyelesaikan soal olimpiade matematika tersulit dan berhasil mendapatkan nilai sempurna. Namun, ini jauh lebih mendebarkan daripada sekadar angka di atas kertas. Ia meraih ponselnya, menemukan sebuah pesan yang masuk lima menit lalu.

  "Bangun, Tuan Putri. Jangan kelamaan senyum-senyum sendiri di depan HP. Gue udah mau jalan jemput lo. Sepuluh menit lagi sampai."

  Salsa tersentak. Bagaimana Arkan bisa tahu kalau dia sedang tersenyum sendiri? Apakah cowok itu memasang CCTV rahasia di kamarnya? Tentu saja tidak. Itu hanya naluri Arkan yang memang selalu selangkah lebih maju darinya dalam hal menggoda. Dengan gerakan gesit, Salsa melompat dari tempat tidur. Ia menghabiskan waktu lebih lama di depan cermin, memastikan seragamnya tidak ada lipatan yang mengganggu dan rambutnya tertata rapi. Ia bahkan menyemprotkan sedikit parfum beraroma vanilla yang biasanya hanya ia gunakan untuk acara keluarga.

  Sepuluh menit kemudian, suara deru mesin motor yang sangat ia kenali terdengar di depan pagar. Salsa segera menyambar tasnya, berpamitan pada ibunya dengan terburu-buru, dan berlari kecil ke depan. Di sana, Arkan sudah bertengger gagah di atas motor sport hitamnya. Helmnya terbuka, menampakkan wajah tengil yang kini terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan di mata Salsa.

  "Cie, yang hari ini dandanannya niat banget. Wanginya sampai sini lagi," goda Arkan saat Salsa mendekat.

  Salsa memutar bola matanya, mencoba menutupi rasa gugup. "Berisik, Kan. Ini parfum biasa. Udah ayo jalan, nanti telat."

  Arkan tertawa kecil, suara rendah yang selalu berhasil membuat perut Salsa terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Ia menyerahkan helm putih ke arah Salsa. "Nggak bakal telat, Sayang. Gue kan pembalap handal kalau urusan nganterin pacar."

  Kata sayang itu lagi. Salsa merasa pipinya memanas. Ia segera memakai helmnya untuk menutupi wajah yang mulai memerah. Saat ia naik ke boncengan, Arkan menarik tangan Salsa agar melingkar di pinggangnya.

  "Pegang yang erat. Gue nggak mau harta karun gue jatuh di jalan," bisik Arkan sebelum menarik gas.

  Perjalanan menuju SMA Garuda terasa lebih singkat dari biasanya. Mungkin karena Salsa terlalu menikmati momen bersandar di punggung Arkan. Di sepanjang jalan, ia bisa merasakan detak jantung Arkan yang tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya sendiri yang masih berpacu liar. Saat mereka memasuki gerbang sekolah, Salsa tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang. Semua mata tertuju pada mereka. Motor Arkan melaju pelan menuju parkiran, melewati kerumunan siswa yang biasanya sedang nongkrong di depan kantin atau koridor bawah.

  Begitu mesin motor mati, suasana di parkiran mendadak hening sejenak sebelum bisik-bisik mulai pecah. Salsa turun dengan canggung, namun Arkan dengan santainya melepas helm, menyisir rambutnya dengan jari, lalu meraih tangan Salsa.

  "Siap menghadapi dunia, Sa?" tanya Arkan sambil tersenyum lebar.

  Salsa menarik napas panjang. "Siap nggak siap, kayaknya kita udah telat buat sembunyi."

  Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor utama. Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Beberapa teman seangkatan mereka berhenti berjalan, ada yang melongo, ada yang saling berbisik, dan ada juga yang secara terang-terangan menunjuk-nunjuk. Kabar tentang hubungan mereka memang sudah menyebar lewat grup chat sejak semalam, tapi melihatnya secara langsung adalah hal lain. Selama ini, Salsa dan Arkan dikenal sebagai kutub utara dan kutub selatan yang tidak mungkin bersatu.

  Di depan kelas XI IPA 1, Dira sudah menunggu dengan wajah yang sulit diartikan. Begitu melihat sahabatnya datang dengan tangan bertautan dengan Arkan, Dira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

  "Demi apa pun! Jadi ini bukan sekadar gosip belaka?" pekik Dira saat mereka sudah cukup dekat.

  Arkan mengangkat tangan mereka yang masih bertautan. "Realita, Dir. Bukan simulasi."

  "Salsa! Lo berhutang penjelasan panjang lebar sama gue!" seru Dira sambil menarik Salsa masuk ke dalam kelas, memaksa genggaman tangan Arkan terlepas.

  Arkan hanya tertawa dan melambaikan tangan. "Nanti istirahat gue jemput ya, Sa! Jangan kangen!"

  Salsa hanya bisa menunduk malu saat seluruh penghuni kelas kini menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Dira mendudukkan Salsa di bangkunya dan langsung memberondongnya dengan pertanyaan.

  "Gimana ceritanya? Sejak kapan? Kok bisa? Bukannya kalian kalau ketemu kayak mau perang dunia ketiga?" tanya Dira tanpa jeda.

  Salsa menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Pelan-pelan, Dir. Gue juga masih bingung gimana ceritanya. Semuanya ngalir gitu aja pas kita ngerjain tugas proyek itu. Ternyata Arkan nggak seburuk yang kita pikirkan selama ini."

  "Nggak seburuk gimana? Dia itu Arkananta, Sa! Cowok paling tengil yang pernah bikin lo nangis gara-gara nilai ulangan harian lo selisih nol koma lima dari dia!" Dira mengingatkan.

  "Iya, gue tahu. Tapi dia juga yang beliin gue cokelat pas gue mumet. Dia yang nganterin gue pulang. Dan kemarin... dia nembak gue di bukit," bisik Salsa dengan suara sangat pelan, tapi tetap saja terdengar oleh beberapa teman di sekitar mereka yang langsung bersorak.

  Pelajaran pertama adalah Fisika dengan Pak Baskoro. Guru senior itu dikenal sangat teliti dan tidak suka ada gangguan di kelasnya. Begitu beliau masuk, suasana kelas langsung hening. Namun, Pak Baskoro tampak menyadari sesuatu yang berbeda. Matanya menatap Salsa, lalu menatap kursi kosong di sebelah Salsa yang biasanya diisi oleh Dira. Eh, bukan. Beliau menatap ke arah pintu di mana Arkan tiba-tiba muncul.

  "Maaf Pak, saya telat masuk. Tadi ada urusan sebentar di ruang OSIS," ujar Arkan dengan nada sopan yang dibuat-buat.

  Pak Baskoro menatap Arkan tajam. "Masuk, Arkan. Dan saya dengar ada rumor menarik di sekolah ini. Katanya dua murid terbaik saya sudah tidak lagi bersaing?"

  Satu kelas tertawa kecil. Salsa merasa ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Arkan hanya tersenyum tipis sambil berjalan menuju kursinya di barisan belakang.

  "Persaingan tetap ada, Pak. Tapi sekarang dalam bentuk yang lebih sehat," jawab Arkan santai.

  "Sehat ya? Baiklah. Kalau begitu, buktikan. Salsa, Arkan, silakan maju ke depan. Kerjakan soal di papan tulis ini. Jika kalian benar-benar sudah satu frekuensi, jawaban kalian harus sinkron dan cara pengerjaannya harus paling efisien," perintah Pak Baskoro.

  Salsa menelan ludah. Ini adalah ujian pertama bagi hubungan mereka di depan umum. Ia berdiri dan berjalan ke depan, diikuti oleh Arkan. Pak Baskoro menuliskan sebuah soal tentang gerak harmonis sederhana yang dikombinasikan dengan hukum kekekalan energi. Soal yang cukup rumit untuk ukuran pagi hari.

  Salsa mulai menuliskan rumus-rumus di bagian kiri papan tulis, sementara Arkan di bagian kanan. Awalnya mereka mengerjakan sendiri-sendiri. Namun, di tengah jalan, Salsa sempat ragu pada satu variabel. Ia berhenti sejenak, menatap angka-angkanya dengan kening berkerut. Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran Arkan di sampingnya.

  "Gunakan konstanta yang tadi kita bahas di draf laporan, Sa. Hasilnya bakal lebih bulat," bisik Arkan sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh orang lain.

  Salsa menoleh sejenak, melihat keyakinan di mata Arkan. Ia mengangguk, lalu mengubah jalannya. Ternyata benar, perhitungannya menjadi jauh lebih sederhana. Mereka selesai dalam waktu yang hampir bersamaan. Pak Baskoro memeriksa hasil kerja mereka dengan teliti.

  "Luar biasa. Cara kalian berdua menggabungkan logika benar-benar menarik. Jawaban benar. Silakan duduk kembali," ujar Pak Baskoro yang akhirnya memberikan senyum tipis.

  Saat berjalan kembali ke kursi masing-masing, Arkan sempat menyenggol bahu Salsa sambil berkedip. Salsa hanya bisa menahan senyum. Di dalam hatinya, ia merasa sangat lega. Ternyata menjadi pacar Arkan tidak membuat otaknya tumpul, justru sepertinya mereka menjadi tim yang tak terkalahkan.

  Jam istirahat tiba, dan seperti janjinya, Arkan sudah berdiri di depan kelas Salsa sebelum bel berhenti berbunyi. Ia tidak sendirian, ada beberapa teman cowoknya yang ikut menggoda di belakang.

  "Ayo, Sa. Kantin yuk. Gue udah laper, dan gue yakin lo juga butuh asupan biar nggak pusing gara-gara soal Pak Baskoro tadi," ajak Arkan.

  Salsa membereskan bukunya. "Dira ikut ya?"

  "Ya iyalah gue ikut! Masa gue ditinggal jadi obat nyamuk di sini," sahut Dira cepat.

  Mereka bertiga berjalan menuju kantin. Suasana kantin yang tadinya sangat berisik mendadak mengalami penurunan volume saat mereka masuk. Arkan dengan protektif merangkul bahu Salsa, membawanya menuju meja pojok yang biasanya menjadi tempat kekuasaan geng Arkan.

  "Duduk di sini. Lo mau makan apa? Biar gue yang pesenin," tanya Arkan setelah memastikan Salsa duduk dengan nyaman.

  "Soto ayam sama teh botol aja, Kan," jawab Salsa.

  "Oke. Dira, lo mau apa? Gue traktir deh hari ini sebagai pajak jadian," ujar Arkan pada Dira.

  Mata Dira langsung berbinar. "Wah, kalau gitu gue mau bakso spesial sama es jeruk dua!"

  Arkan berlalu menuju stan makanan. Salsa memperhatikan punggung cowok itu dari jauh. Ia merasa aneh melihat Arkan yang biasanya sibuk mengganggunya kini malah sibuk melayaninya. Tidak lama kemudian, Arkan kembali dengan nampan berisi pesanan mereka. Mereka makan sambil berbincang santai, mengabaikan tatapan-tatapan sinis dari beberapa siswi yang selama ini menjadi penggemar rahasia Arkan.

  "Sa, nanti pulang sekolah kita harus ke perpus bentar. Ada bagian di bab tiga laporan kita yang harus direvisi dikit sebelum dikumpul besok," ujar Arkan di sela-sela makannya.

  Salsa mengangguk. "Iya, gue juga kepikiran soal itu. Data yang kita ambil kemarin sore kayaknya ada yang kurang akurat di bagian grafik."

  Dira yang sedang asyik makan bakso hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian ini bener-bener ya. Jadian bukannya bahas mau kencan ke mana, malah bahas grafik sama laporan. Dasar pasangan ambis."

  Arkan tertawa. "Kencan itu bonus, Dir. Prestasi tetap nomor satu. Gue nggak mau Salsa turun peringkat gara-gara pacaran sama gue. Nanti gue yang disalahin sama nyokapnya."

  Salsa tersenyum mendengar ucapan Arkan. Ia merasa dihargai bukan hanya sebagai seorang pacar, tapi juga sebagai seorang individu yang punya ambisi. Arkan tidak mencoba membatasi ruang geraknya atau membuatnya berubah menjadi orang lain.

  Sore harinya, sesuai rencana, mereka berada di perpustakaan sekolah yang sudah mulai sepi. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan suasana yang tenang dan hangat. Mereka duduk berhadapan dengan laptop masing-masing yang terbuka. Namun, fokus Salsa sesekali teralihkan oleh wajah Arkan yang tampak sangat serius menatap layar.

  "Kan," panggil Salsa pelan.

  "Hm?" Arkan menyahut tanpa menoleh.

  "Kenapa lo baru sekarang... maksud gue, kenapa baru sekarang lo nunjukin kalau lo perhatian sama gue? Kenapa selama dua tahun ini lo malah hobi banget bikin gue kesel?"

  Arkan menghentikan ketikannya. Ia menutup laptopnya pelan lalu menatap Salsa dalam-dalam. "Karena itu satu-satunya cara supaya gue bisa dapet perhatian lo, Sa. Lo itu terlalu fokus sama buku dan nilai. Kalau gue jadi cowok baik-baik yang cuma nyapa lo 'halo' atau 'selamat pagi', lo pasti cuma bakal nganggep gue angin lalu. Tapi kalau gue bikin lo kesel, gue bakal ada di pikiran lo seharian. Meskipun itu dalam bentuk kemarahan."

  Salsa terdiam. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Ternyata selama ini, di balik sikap tengil dan menyebalkan Arkan, ada strategi panjang yang dilakukan cowok itu hanya untuk diperhatikan olehnya.

  "Jadi lo sengaja dapet peringkat dua terus?" tanya Salsa curiga.

  Arkan terkekeh. "Nggak juga sih. Lo emang pinter banget, Sa. Gue harus belajar mati-matian cuma buat bisa ada di posisi bawah lo persis. Supaya nama kita selalu deketan di papan pengumuman. Lo pikir gampang ngatur nilai supaya nggak terlalu jauh tapi tetep di bawah lo?"

  Salsa melempar penghapus kecil ke arah Arkan. "Ih! Lo bener-bener ya! Gue kira gue yang paling ambis, ternyata lo lebih parah!"

  "Tapi berhasil kan? Sekarang kita nggak cuma deketan di papan pengumuman, tapi juga di sini," ujar Arkan sambil menunjuk hatinya sendiri.

  Wajah Salsa kembali memerah. Ia segera kembali menunduk menatap laptopnya, mencoba menyembunyikan senyumnya. Namun, Arkan tidak membiarkannya. Cowok itu meraih tangan Salsa di atas meja, menggenggamnya dengan lembut.

  "Sa, gue serius soal yang kemarin. Gue bakal dukung lo buat dapet beasiswa impian lo itu. Kita berjuang bareng-bareng. Jangan pernah ngerasa sendirian lagi kalau lagi capek belajar," bisik Arkan tulus.

  Salsa mendongak, menatap mata Arkan yang kini tidak lagi menunjukkan ketengilan, melainkan ketulusan yang luar biasa. Ia merasakan kehangatan yang merambat dari tangan Arkan ke seluruh tubuhnya. Di ruangan sunyi itu, di antara ribuan buku yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka selama ini, Salsa menyadari bahwa ia telah menemukan lebih dari sekadar pacar. Ia menemukan partner hidup yang sepadan.

  "Makasih ya, Kan. Gue juga bakal dukung lo. Tapi jangan harap gue bakal ngalah soal peringkat satu semester depan," tantang Salsa dengan nada bercanda.

  Arkan tertawa lebar. "Oh, tantangan diterima. Kita lihat siapa yang bakal lebih rajin belajar. Yang kalah harus turutin apa pun kemauan yang menang selama satu minggu gimana?"

  "Oke, siapa takut!" jawab Salsa mantap.

  Mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan semangat baru. Sesekali mereka berdiskusi tentang rumus fisika, sesekali Arkan menggoda Salsa hingga gadis itu mencubit lengannya, dan sesekali mereka hanya terdiam menikmati kehadiran satu sama lain. Dunia luar mungkin masih penuh dengan bisik-bisik dan penilaian orang lain, tapi di dalam sini, di frekuensi yang sama, hanya ada mereka berdua.

  Saat matahari benar-benar tenggelam dan petugas perpustakaan mulai memberikan kode bahwa mereka harus segera pulang, Arkan membereskan barang-barangnya. Ia membantu Salsa membawa tasnya yang berat. Mereka berjalan keluar menuju parkiran yang kini sudah benar-benar sepi. Hanya ada motor Arkan yang terparkir di sana.

  Malam itu, dalam perjalanan pulang, Salsa memeluk Arkan lebih erat dari sebelumnya. Ia tidak lagi peduli jika ada orang yang melihat. Ia merasa sangat beruntung. Musuh bebuyutan yang paling ia benci ternyata adalah orang yang paling mengerti dirinya. Dan bagi Salsa, itu adalah rumus kebahagiaan yang paling sempurna yang pernah ia temukan.

  Sesampainya di depan rumah Salsa, Arkan tidak langsung pergi. Ia menunggu sampai Salsa masuk ke dalam pagar.

  "Besok pagi gue jemput jam enam lewat lima belas ya. Jangan telat, kita harus mampir beli bubur ayam langganan gue dulu," ujar Arkan.

  "Iya, Arkan bawel. Udah sana pulang, hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut," pesan Salsa.

  Arkan mengedipkan matanya. "Siap, Bos! Selamat istirahat, Salsa-nya Arkan."

  Salsa melambaikan tangan sampai motor Arkan menghilang di tikungan jalan. Ia masuk ke dalam rumah dengan hati yang sangat ringan. Di dalam kamarnya, ia membuka buku catatannya, bukan untuk belajar, melainkan untuk menuliskan satu baris kalimat di halaman paling belakang.

  "Bab baru: Ternyata, musuh paling menyebalkan bisa jadi alasan terbaik untuk jatuh cinta setiap hari."

  Salsa menutup bukunya, mematikan lampu, dan bersiap untuk mimpi indah. Ia tahu, esok hari akan ada koridor sekolah yang harus ia lewati dengan kepala tegak, tangan yang bertautan dengan Arkan, dan masa depan yang kini terasa jauh lebih cerah karena mereka menjalaninya bersama. Tidak ada lagi persaingan yang menyakitkan, yang ada hanyalah kolaborasi hati yang saling melengkapi dalam setiap detak dan frekuensinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!