"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Barter Nyawa dan Helikopter Fajar
Layar ponsel pintar di tangan Gani menyala terang, memancarkan cahaya biru yang kontras dengan temaramnya lorong depan ruang ICCU RSUD Kabupaten.
Di layar itu, dunia sedang tergila-gila padanya. Ratusan notifikasi bertumpuk seperti air bah. Panggilan tak terjawab dari stasiun televisi nasional, pesan WhatsApp dari mantan rekan sesama arsitek yang tiba-tiba mendadak 'peduli', hingga surel dari para jurnalis yang memohon wawancara eksklusif. Nama Gani Raditya merajai trending topic, dipuja sebagai martir yang dikorbankan oleh keserakahan korporat.
Gani menatap semua itu dengan rahang terkatup rapat dan mata yang sedingin es di kutub.
Sebulan yang lalu, ia mungkin akan tersenyum puas melihat nama baiknya dipulihkan dengan cara seekstrem ini. Ia mungkin akan mengatur konferensi pers, mengenakan setelan Armani terbaiknya, dan menghancurkan sisa-sisa reputasi Bratasena & Partners di depan jutaan pasang mata.
Tapi malam ini, di saat jarak antara hidup dan mati gadis yang dicintainya hanya dibatasi oleh sebuah mesin ventilator di balik pintu kaca buram itu, semua atensi nasional ini terasa seperti sampah yang tidak berharga.
Kecuali, jika ia bisa mengubah sampah ini menjadi uang tunai dalam waktu kurang dari enam jam.
Gani mengabaikan semua nomor wartawan. Jari telunjuknya yang terbalut perban tipis menggulir layar dengan cepat, mencari satu nama spesifik di antara puluhan nomor elite Jakarta yang menghubunginya.
Ia menemukannya. Sebuah nomor dengan nama kontak: Hendra Wijaya - Chairman Emerald Consortium.
Hendra adalah pimpinan konsorsium investor yang mendanai proyek Apartemen Emerald. Pria tua yang sebulan lalu menunjuk wajah Gani di ruang sidang, memakinya sebagai pencuri, dan menuntut penyitaan seluruh aset Gani hingga ia jatuh bangkrut.
Malam ini, Hendra telah meneleponnya sebanyak empat belas kali berturut-turut.
Gani berdiri, menyandarkan punggungnya ke dinding keramik rumah sakit yang dingin. Ia menekan tombol panggil balik.
Hanya butuh satu kali nada sambung sebelum telepon itu diangkat dengan sangat tergesa-gesa.
"Gani? Halo? Gani, syukurlah kau mengangkat teleponnya!" Suara Hendra Wijaya terdengar panik dan parau, jauh dari wibawa seorang konglomerat yang biasanya arogan. Terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan beberapa orang di latar belakang suara pria tua itu.
Gani tidak menjawab. Ia membiarkan keheningan yang mengintimidasi menjadi respons pertamanya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi di Jakarta saat ini. Berita bahwa Apartemen Emerald dibangun menggunakan beton murahan pasti telah membuat para pembeli unit mengamuk, membatalkan kontrak, dan menuntut pengembalian dana besar-besaran. Saham konsorsium Emerald pasti sedang terjun bebas menuju titik terendah dalam sejarah.
"Gani, dengarkan aku," Hendra kembali bersuara, kali ini nadanya berubah memelas. "Kami salah. Aku akui kami salah menilaimu. Si keparat Raka dan pengacara Surya itu telah menipu kita semua. Aku sudah memerintahkan tim humas kami untuk mencabut semua tuntutan perdatamu malam ini juga. Asetmu, rumahmu di desa itu, semuanya aman. Kami akan memulihkan nama baikmu—"
"Tutup mulutmu, Hendra," potong Gani dengan nada bariton yang begitu rendah, datar, dan mematikan, hingga pria tua di seberang sana seketika terdiam kaku.
Gani menatap lurus ke arah pintu ICCU. "Kau tidak meneleponku empat belas kali di tengah malam hanya untuk meminta maaf. Kau meneleponku karena perusahaanmu sedang berada di ujung jurang kebangkrutan, sahammu anjlok, dan kau butuh aku untuk memadamkan apinya."
Terdengar helaan napas berat dari seberang telepon. Gani telah membaca situasi dengan presisi seratus persen.
"Benar," aku Hendra dengan suara bergetar. "Gedung itu... para ahli struktur independen yang disewa wartawan baru saja merilis pernyataan. Mereka bilang tanpa desain perkuatan (retrofit) yang tepat, bangunan itu harus dirobohkan total. Triliunan rupiah akan hangus, Gani. Kau... kau satu-satunya yang memegang cetak biru aslinya. Kau tahu di mana titik lemah yang dikurangi Raka, dan kau tahu cara memperkuatnya tanpa harus merobohkan gedung itu."
Hendra menelan ludah. "Gani, kumohon. Buatlah pernyataan publik bahwa gedung itu masih bisa diselamatkan. Jadilah konsultan utama kami lagi. Sebutkan hargamu. Berapa pun. Kami akan membayarnya."
Sebuah senyum miring, putus asa namun sangat tajam, terlukis di bibir Gani. Inilah momennya. Roda nasib telah berputar, dan kini Gani yang memegang kendali atas rotasi bumi mereka.
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, dan aku tidak peduli pada sahammu," desis Gani, suaranya berubah menjadi geraman predator yang lapar. "Tapi aku memang punya harga untuk cetak biru dan solusi retrofit itu."
"Sebutkan, Gani! Satu miliar? Dua miliar?"
"Lima miliar rupiah," jawab Gani tanpa berkedip. "Ditransfer ke rekening pribadiku secara tunai, malam ini juga. Anggap itu sebagai Consulting Fee prabayar dan biaya tutup mulutku agar tidak menyeret namamu ke dalam konferensi pers besok."
Hendra terkesiap. "Lima miliar?! Gani, ini sudah lewat tengah malam! Transfer bank dengan nominal sebesar itu butuh waktu kliring (pencairan) sampai besok siang!"
"Kau adalah Ketua Konsorsium Emerald. Panggil manajer bank prioritasmu, suruh dia bangun dari tidurnya, dan gunakan otoritas Real-Time Gross Settlement (RTGS) khusus VVIP," Gani mendikte dengan kekejaman seorang eksekutif yang tidak menerima alasan teknis. "Itu belum semuanya."
Gani menarik napas panjang. Matanya memerah menahan badai emosi.
"Aku sedang berada di RSUD Kabupaten Karangbanyu. Seseorang yang sangat penting bagiku sedang kritis karena gagal jantung kongestif. Dia butuh penanganan ECMO dan evaluasi transplantasi sekarang juga," suara Gani sedikit bergetar saat menyebut kondisi Kirana, namun ia segera menguatkannya kembali. "Rumah sakit pusat jantung di Jakarta punya Helikopter Medevac (Evakuasi Medis) ICU udara. Sewa helikopter itu atas nama konsorsiummu. Kirimkan ke mari beserta tim dokter bedah toraks terbaik yang bisa dibeli dengan uangmu."
"Helikopter medis? Malam-malam begini?!"
"Dengarkan aku baik-baik, Hendra Wijaya," Gani merendahkan suaranya hingga nyaris menjadi bisikan yang membekukan darah. "Transfer lima miliar itu dalam waktu dua jam, dan pastikan helikopter itu mendarat di lapangan sepak bola kabupaten ini sebelum fajar menyingsing. Jika saat matahari terbit helikopter itu belum tiba... aku akan menelepon Seno si wartawan, dan aku akan memberitahu seluruh Indonesia bahwa Apartemen Emerald adalah peti mati beton yang siap mengubur penghuninya. Aku akan memastikan perusahaanmu rata dengan tanah."
Di seberang sana, keheningan mencekam terjadi selama beberapa belas detik. Hendra Wijaya sedang menimbang antara kehilangan lima miliar dan biaya helikopter malam ini, atau kehilangan triliunan rupiah dan masuk penjara besok pagi.
"Kirimkan nomor rekeningmu," ucap Hendra akhirnya, suaranya terdengar pasrah dan kalah total. "Helikopternya akan berangkat sebentar lagi. Kirimkan titik koordinat lapangan sepak bolanya."
"Pilihan yang cerdas," balas Gani datar.
Ia mematikan panggilan itu sepihak.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Gani mengirimkan pesan berisi detail nomor rekeningnya dan koordinat lokasi rumah sakit. Setelah pesan itu terkirim centang biru, Gani mematikan kembali daya ponselnya. Ia tidak butuh validasi dari dunia luar lagi. Ia telah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Uang dan waktu.
Gani mengusap wajahnya dengan kasar. Tubuhnya perlahan melorot, bersandar pada dinding lorong hingga ia terduduk di lantai. Sisa-sisa ketegangan dan luapan adrenalin yang memaksanya bertindak sebagai negosiator dingin tadi, perlahan memudar, meninggalkan rasa lelah dan ketakutan yang meremukkan tulang.
Di ujung lorong, Pak Kades dan Bibi Ratna masih duduk di ruang tunggu, tertidur karena kelelahan setelah menangis berjam-jam.
Gani bangkit berdiri dengan langkah gontai. Ia berjalan mendekati pintu kaca buram ruang ICCU. Pintu itu dijaga oleh sistem sensor digital. Melalui celah kaca bening yang kecil di bagian atas pintu, Gani mengintip ke dalam.
Pemandangan di dalam ruangan itu menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosional Gani.
Kirana, gadis tiran kecil yang biasanya berlarian membawa sapu lidi, kini terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit yang dingin. Tubuh mungilnya dikelilingi oleh mesin-mesin medis yang berkedip menakutkan. Sebuah selang bening berukuran besar (pipa endotrakeal) dimasukkan melalui mulutnya, terhubung ke mesin ventilator yang berdesis ritmis, memompakan udara ke paru-parunya secara mekanis karena jantungnya sudah terlalu lemah untuk mendukung pernapasannya sendiri.
Beberapa selang intravena menancap di lengan dan lehernya, mengalirkan berbagai macam obat penopang kehidupan. Monitor jantung di samping ranjang menampilkan garis gelombang hijau yang sangat lambat dan rendah.
Setetes air mata kembali lolos dari pertahanan Gani. Ia menempelkan sebelah tangannya yang terbalut perban ke permukaan kaca dingin itu, tepat sejajar dengan wajah Kirana yang tertidur pulas di bawah pengaruh obat bius.
"Aku sudah mendapatkan tiketnya, Kirana," bisik Gani dengan suara parau, keningnya bersandar pada kaca pintu. "Aku sudah menjual sisa-sisa masa laluku untuk membelikan kita waktu. Helikopternya sedang dalam perjalanan."
Gani memejamkan mata, membiarkan bayangan senyum gadis itu menenangkan badai di kepalanya.
"Kau selalu benci Jakarta," lanjut Gani berbisik pada kaca. "Kau benci polusinya, benci orang-orangnya. Aku juga membencinya, Tiran Kecil. Tempat itu pernah merampas semua hal dariku. Tapi kali ini... kita harus pergi ke sana. Aku harus membawamu masuk ke sarang serigala itu."
Gani membuka matanya, menatap wajah pucat Kirana. Rahangnya kembali mengeras, diukir oleh tekad yang absolut.
"Aku berjanji padamu," sumpah Gani. "Aku tidak akan membiarkan kota itu melukaimu. Aku akan berdiri di antara kau dan seluruh dunia. Tetaplah bernapas sampai matahari terbit, Kirana. Tolong, penuhi janjimu untuk melihat desain rumah kita berdiri."
Malam itu, waktu merangkak dengan kecepatan yang paling menyiksa.
Gani tidak tidur sedetik pun. Ia hanya mondar-mandir di depan pintu ICCU, matanya terus tertuju pada monitor jantung Kirana dari balik celah kaca. Setiap kali bunyi beep pada monitor sedikit melambat, jantung Gani seakan ikut berhenti berdetak.
Sekitar pukul empat pagi, perawat IGD berlari menghampiri Gani dengan wajah terkejut.
"Pak Gani! Baru saja pihak administrasi mendapat telepon konfirmasi dari Jakarta. Deposit atas nama Kirana sebesar lima miliar rupiah baru saja masuk ke sistem rumah sakit pusat!" lapor perawat itu dengan napas tersengal, menatap Gani seolah pria berbaju lusuh dan kotor di hadapannya ini adalah malaikat yang menyamar. "Dokter jaga sedang berkoordinasi dengan tim medis udara. Mereka... mereka benar-benar mengirimkan helikopter, Pak!"
Gani hanya mengangguk kaku. "Kapan mereka mendarat?"
"Sekitar empat puluh menit lagi, Pak. Cuaca sedang cerah."
Empat puluh menit. Angka itu terngiang di kepala Gani bagaikan hitung mundur sebuah bom waktu. Ia segera membangunkan Pak Kades dan Bibi Ratna yang tertidur di kursi tunggu.
"Pak Kades, Bi Ratna, bangun," Gani menepuk bahu mereka pelan.
Bibi Ratna terkesiap, langsung mengusap wajahnya yang sembap. "Ada apa, Mas? Kirana...?!"
"Kirana stabil," Gani segera menenangkan. "Tapi kita akan memindahkannya. Sebuah helikopter medis dari Jakarta akan mendarat sebentar lagi di lapangan kabupaten. Mereka akan membawanya ke rumah sakit pusat jantung nasional."
Pak Kades dan Bibi Ratna saling berpandangan dengan mata terbelalak lebar. Helikopter medis? Untuk warga desa biasa? Itu adalah hal yang hanya pernah mereka lihat di sinetron televisi.
"Gusti Allah... Mas Gani... sampeyan jual apa sampai bisa mendatangkan helikopter dari ibu kota?" tanya Pak Kades dengan suara bergetar takjub.
"Saya menjual ilmu saya, Pak," jawab Gani sederhana. Ia kemudian menatap kedua orang tua yang sudah seperti keluarganya sendiri itu. "Pak Kades, tolong jaga paviliun bambu kita. Jika orang-orang bank itu berani datang lagi, tunjukkan surat yayasan itu. Dan Bi Ratna, tolong siram kebun bunga Kirana setiap pagi. Gadis itu akan mengomel panjang lebar kalau mawar-mawarnya layu saat dia pulang nanti."
Mendengar kata 'saat dia pulang nanti', pertahanan Bibi Ratna kembali hancur. Ia memeluk Gani erat-erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Pasti, Mas... pasti Bibi siram setiap hari. Bawa dia pulang lagi ke desa ini ya, Mas Gani. Tolong bawa Nduk Kirana pulang."
Gani membalas pelukan wanita tua itu. "Saya berjanji, Bi."
Tepat pukul lima pagi, saat ufuk timur Karangbanyu mulai diwarnai oleh semburat jingga kemerahan, sebuah suara gemuruh yang memekakkan telinga memecah kesunyian udara subuh.
Wusss! Wusss! Wusss!
Baling-baling raksasa membelah angin. Sebuah helikopter medis Eurocopter berwarna putih cerah dengan lambang palang merah besar di badannya, turun perlahan dari langit dan mendarat dengan mulus di tengah hamparan rumput lapangan sepak bola kabupaten yang berjarak hanya seratus meter dari rumah sakit.
Hempasan angin dari baling-baling itu menerbangkan debu dan daun-daun kering, memaksa Gani, Pak Kades, dan beberapa perawat yang sudah menunggu di dekat lapangan untuk menutupi wajah mereka.
Pintu samping helikopter digeser terbuka dengan cepat. Tiga orang dokter berseragam scrub hijau dengan rompi medis bertuliskan MEDEVAC JAKARTA melompat turun, menenteng koper-koper logam berisi peralatan medis tingkat tinggi.
"Di mana pasiennya?!" teriak salah satu dokter, melawan suara deru mesin helikopter.
"Di ICCU! Kami sudah menyiapkan jalurnya!" balas dokter jaga RSUD, menuntun tim medis elite itu berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Gani mengikuti mereka dari belakang. Saat tim medis Jakarta itu masuk ke ruang ICCU, mereka bekerja dengan efisiensi dan kecepatan yang luar biasa. Mereka langsung memindahkan monitor portabel, mengganti jalur oksigen Kirana ke sistem tabung transit, dan menyiapkan alat pompa jantung mekanis darurat (Intra-aortic balloon pump) untuk menstabilkan kondisi gadis itu selama penerbangan.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, brankar Kirana telah didorong keluar dari rumah sakit, membelah udara pagi yang dingin menuju helikopter yang masih menyalakan mesinnya.
Bibi Ratna melambaikan tangan dengan berlinang air mata dari kejauhan, ditahan oleh Pak Kades agar tidak mendekati area pendaratan yang berbahaya.
Brankar Kirana dikunci dengan aman di bagian kabin medis helikopter. Salah satu dokter medis udara berpaling menatap Gani yang berdiri di luar pintu helikopter.
"Anda keluarga pasien yang membiayai evakuasi ini, Bapak Gani Raditya?" tanya dokter itu dengan suara keras.
"Ya. Saya pendampingnya," jawab Gani tegas.
"Naik dan pakai headset peredam suaranya, Pak! Kita berangkat sekarang!"
Gani melompat naik ke dalam kabin helikopter yang sempit namun dipenuhi oleh teknologi penyelamat nyawa tersebut. Ia duduk di kursi lipat tepat di sebelah brankar Kirana, memasang sabuk pengaman empat titik, lalu mengenakan headset besar yang seketika meredam suara bising baling-baling mesin menjadi dengungan pelan.
Pintu helikopter digeser dan dikunci rapat.
Gani menundukkan pandangannya. Di tengah tumpukan selang, kabel, dan mesin monitor yang berkedip di dalam kabin, wajah Kirana tampak begitu damai di bawah pengaruh obat bius.
Gani mengulurkan tangannya yang terbalut perban tipis, mencari celah di antara selang-selang infus, lalu menggenggam jari-jari Kirana yang dingin.
Helikopter itu mulai terangkat. Guncangan kecil terasa saat roda pendarat meninggalkan tanah.
Gani menoleh ke luar jendela kaca berbentuk oval. Di bawah sana, lapangan sepak bola kabupaten, atap-atap rumah warga, dan hamparan sawah hijau Karangbanyu mulai mengecil. Matahari pagi menyembul dari balik bukit, memandikan desa itu dengan cahaya keemasan.
Pria itu telah menemukan hidupnya kembali di desa yang perlahan menghilang dari pandangannya tersebut. Namun kini, ia harus terbang kembali ke neraka masa lalunya.
Gani mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap lurus ke arah wajah Kirana. Genggaman tangannya mengerat.
"Kita berangkat ke Jakarta, Tiran Kecil," bisik Gani pelan, suaranya teredam oleh deru mesin, hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan keheningan di udara. "Aku sudah membangun pelindung untuk jejakmu di bumi. Sekarang, biarkan para dokter itu memperbaiki jantungmu, dan biarkan aku yang menghancurkan siapa pun yang berani mengusik kita."
Helikopter itu memiringkan badannya ke depan, lalu melesat dengan kecepatan penuh membelah awan fajar, membawa Gani Raditya kembali ke medan perang aslinya demi memperebutkan satu-satunya nyawa yang berharga baginya.