NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Cinta Pertamanya

Ternyata Aku Cinta Pertamanya

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!

Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.

Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.

Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Labirin Berkas dan Sinyal Senyap di Balik Meja Dinas

Meja kayu berpelitur gelap di sudut kantin luar ksatrian itu menjadi saksi bisu dari gencatan senjata lima belas menit yang berjalan begitu lambat, namun terasa teramat singkat bagi dua manusia yang duduk saling berhadapan. Aroma sup ayam hangat dan es teh manis yang baru saja diantarkan oleh pramusaji menguar di udara sore, berbaur dengan ketegangan sunyi yang belum juga mencair.

Shaneen duduk dengan punggung tegak, kedua telapak tangannya bertumpu kaku di atas pangkuan di bawah meja. Netra sayunya sengaja dibuang ke arah luar jendela, menatap deretan pohon sena yang daun-daunnya bergoyang lambat ditiup angin sepoi-sepoi. Dia benar-benar menghindari kontak mata langsung. Sentuhan lembut di pangkal hidungnya beberapa menit lalu di ruang pemeriksaan masih menyisakan sensasi hangat yang tertinggal, membuat konsentrasinya buyar berantakan.

Di hadapannya, Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel duduk dengan ketenangan seorang komandan yang telah memenangkan sebuah pertempuran taktis tanpa perlu melepaskan satu pun tembakan peluru. Tubuh raksasanya yang menjulang setinggi 204 sentimeter membuat kursi kantin militer itu tampak terlalu kecil untuk menampung proporsi fisiknya. Reyes meletakkan baret miringnya di atas meja, lalu melipat kedua lengannya yang kekar di atas permukaan kayu, menatap lekat-lekat pada figur mungil di depannya yang sedang pura-pura sibuk memperhatikan daun pohon sena.

"Bagaimana kabar anda, Dokter Shaneen?"

Suara bariton Reyes memecah keheningan dengan nada yang teramat tenang, berat, dan dalam. Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, tipikal basa-basi orang dewasa yang sudah lama tidak bersua. Namun, bagi Shaneen, intonasi suara itu terdengar seperti sebuah interogasi terselubung yang menuntut kejujuran dari balik benteng pertahanannya.

Shaneen berdeham pelan, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar bergetar atau gugup. Dia memutar kepalanya sedikit, menatap ujung kerah seragam PDL milik Reyes yang dihiasi pangkat melati dua perak.

"Kabar saya baik, Letkol. Seperti yang Letkol lihat, tugas-tugas di tim Rikkes Polkes Pusdikmil berjalan lancar tanpa kendala."

Reyes menaikkan satu alis tebalnya, mendeteksi jawaban formal yang sengaja dipasang Shaneen sebagai tameng profesional.

"Saya tidak sedang bertanya tentang grafik kinerja tim Rikkes, Dokter. Saya bertanya tentang kabar Anda. Secara personal."

Shaneen menggigit bibir bawahnya pelan. Sisi yang perfeksionis dan gengsian langsung bergolak. Dia memberanikan diri menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Reyes yang tajam.

"Jika yang Letkol maksud adalah pasca-kejadian malam itu... saya rasa Letkol sudah tahu jawabannya tanpa perlu saya dikte. Tindakan Letkol mengirim Ibu Anda ke rumah orang tua saya benar-benar membuat seluruh sistem di kepala saya mengalami error seminggu ini."

Sebuah kerutan samar yang menyerupai senyuman tipis muncul di sudut bibir Reyes. Dia menyukai kejujuran yang keluar dari bibir mungil Shaneen, lengkap dengan istilah-istilah medis atau teknis yang selalu gadis itu gunakan saat sedang merasa kesal.

"Saya tahu. Karena itu saya memberikan Anda waktu satu minggu penuh untuk bernapas tanpa gangguan saya di ksatrian."

"Oh, jadi Letkol sengaja menghilang seminggu ini bukan cuma karena dinas luar kota, tapi bagian dari taktik?" kejar Shaneen dengan nada ketus yang menggemaskan, membuat sepasang lesung pipi uniknya di bawah mata kanan muncul samar akibat ekspresi wajahnya yang menegang.

"Anggap saja itu sebagai masa tenggang agar calon istri saya tidak mengajukan surat pengunduran diri karena serangan panik," balas Reyes santai, seolah kalimat calon istri adalah sebuah kosakata harian yang biasa dia ucapkan setiap pagi.

Wajah Shaneen seketika memerah sempurna seperti kepiting rebus. Dia buru-buru menyambar gelas es teh manisnya dan meminumnya beberapa teguk demi menyembunyikan rasa salah tingkah yang luar biasa.

"Letkol, tolong jaga bicaranya. Ini masih di lingkungan ksatrian, bagaimana kalau ada anggota yang dengar?" bisiknya dengan nada menuntut yang tertahan.

Reyes tidak menjawab, dia hanya menatap Shaneen dengan pandangan mata yang melembut, mengagumi bagaimana gadis berusia 28 tahun itu selalu terlihat seperti anak SMA kelas satu yang imut setiap kali diajak berbicara serius tentang hubungan mereka. Pria itu melirik jam komando di tangan kirinya. Waktu lima belas menit mereka bergerak dengan kejam, menyisakan beberapa menit saja sebelum terompet dinas kembali memanggil.

Reyes memajukan tubuhnya sedikit, membuat jarak di antara mereka semakin memangkas ruang udara. "Mari kita bicarakan hal yang lebih mendesak, Dokter. Besok pagi, proses birokrasi kita sudah harus dimulai secara resmi. Apakah berkas pengajuan Izin Kawin Dinas milik Anda sudah lengkap?"

Mendengar istilah teknis militer itu, fokus Shaneen langsung kembali ke mode profesional, meskipun dadanya masih berdebar kencang.

"Secara prinsip, berkas dari pihak saya sebagai Lettu Kowad sudah siap di dalam map kompartemen, Letkol," jawab Shaneen lugas.

Karena status Shaneen di Polkes Pusdikmil ini hanya sebatas BKO (Bawah Kendali Operasi), tentunya Shaneen tidak bisa mengajukan permohonan izin nikah di sini. Minggu lalu Shaneen sudah mengurus dokumen utamanya langsung ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, tempat di mana sebenarnya Shaneen bekerja dan terdaftar sebagai personel organik. Dan pihak rumah sakit pusat sudah memberikan lampu hijau.

Shaneen menarik napas sejenak lalu melanjutkan, "Sementara untuk administrasi di sini, saya hanya meminta Surat Rekomendasi dan tanda mengetahui dari Kepala Polkes Pusdikmil selaku komandan tempat saya diperbantukan sekarang. Beliau sudah menandatanganinya kemarin setelah memberikan sedikit wawancara singkat yang cukup melelahkan."

Reyes mengangguk-angguk paham, mendengarkan dengan saksama penuturan Shaneen yang sangat tertib administrasi. "Bagus. Berarti secara hukum komando, berkas anda sudah sah. Besok pagi-pagi sekali, setelah apel batalyon selesai, anda harus menyerahkan seluruh bundelan berkas tersebut ke Staf-3 Bagian Personel (Staf Pers) di Markas Batalyon saya. Letnan Satu Infanteri Yudha yang menjabat sebagai Pasi Pers sudah saya instruksikan untuk memprioritaskan pemeriksaan dokumen kita."

Shaneen menghela napas panjang, membayangkan rumitnya labirin birokrasi yang harus dia lalui besok pagi. "Berarti besok saya harus berjalan melewati gerbang Markas Batalyon Letkol? Shit... saya bisa membayangkan bagaimana pandangan para bintara piket dan perwira staf di sana besok."

Reyes terkekeh rendah, suara baritonnya terdheard seksi di telinga Shaneen. "Mereka tidak akan menggigitmu, Dokter. Mereka justru akan memberikan hormat jajar yang paling rapi untuk calon Ibu Danyon mereka."

"Reyes, please..." Shaneen memijat pangkal hidungnya sendiri, tempat di mana jemari Reyes mengelusnya dengan lembut beberapa menit lalu. "Jangan mulai lagi. Saya masih belum terbiasa dengan semua perubahan instan ini. Otak saya butuh waktu untuk memproses transisi dari Letkol yang menyebalkan menjadi pria yang besok harus saya dampingi di depan sidang jabatan."

Reyes berdiri dari kursinya, menandakan bahwa waktu lima belas menit mereka telah habis secara absolut. Dia menyambar baret miringnya, memakainya kembali dengan sudut kemiringan yang sempurna di atas dahi tegasnya. Visualisasinya dalam balutan seragam PDL lengkap dengan potongan rambut pendek militer yang rapi benar-benar memancarkan aura komandan yang berkuasa dan tidak bisa dibantah.

"Proses birokrasi militer memang kaku, Shaneen. Tapi saya pastikan, jalan anda menuju meja sidang jabatan tidak akan sesulit yang anda bayangkan," ucap Reyes sembari menatap Shaneen yang kini ikut bangkit dari kursinya dengan tas kerja yang tersampir di pundak mungilnya. "Besok pagi pukul delapan tepat, saya tunggu anda di Staf Pers Batalyon. Jangan terlambat satu menit pun, Lettu Dokter Shaneen."

Shaneen memberikan penghormatan militer yang tegas secara refleks, yang dibalas Reyes dengan sebuah anggukan kepala yang sarat akan makna terselubung. Saat tubuh raksasa Letkol Reyes melangkah tegap menjauh meninggalkan kantin, Shaneen berdiri terpaku menatap punggung lebar itu.

Besok adalah awal dari pertempuran birokrasi yang sesungguhnya. Lembaran-lembaran berkas, pasfoto berdampingan dengan latar belakang warna merah berpakaian dinas upacara, surat pernyataan bersedia mematuhi aturan Persit, hingga wawancara mental ideologi sudah menantinya di Markas Batalyon milik Reyes. Shaneen menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan fondasi hatinya yang kini telah berkhianat total, mengakui bahwa dalam waktu lima belas menit tadi, rasa rindu yang dia tepis seminggu ini telah terbayar lunas oleh senyuman tipis pria jangkung itu.

1
Niken Dwi Handayani
Reyes yang bucin parah ditantang. yud dilakoni🤭
Anis Roodhiyah
thor, ini bagus bgt. tp bahasanya berat buat sekelas novel online 🤣🤣 ini kayak gaya bahasa novel di buku2 yg udah terbit yang beratus2 halaman itu loh.
Nuna Bae: Halo kak 😍 Terimakasih Banyak Ya😍🙏
total 1 replies
Dewi Selvia Indah
semangat nulisnya thor ceritanya keren 💪
Nuna Bae: terimakasih ya 😍🙏
total 1 replies
Sisilia Haryadi
ceritanya bagus sekali saya bacanya marathon. dan saya ulang terus karena nggak ngebosenin
Nuna Bae: Terimakasih ya 😍🙏
total 1 replies
Heriyani Lawi
maaf ga jd baca, novelmu mengandung sara thor
Nuna Bae: terimakasih ya 😍🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!