NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 13: "Memancing Rindu di Tepian Brantas"

​Embun pagi masih menggelantung manja di ujung daun mangga saat Shania sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Di meja makan kecil, ia tidak lagi memegang majalah fashion atau ponsel untuk melihat diskon akhir tahun. Tangannya menggenggam sebuah buku saku bersampul hijau tua, sementara mulutnya komat-kamit seperti sedang merapal mantra balap.

​"Satu, Abu Bakar Ash-Shiddiq... si lembut yang tegas. Dua, Umar bin Khattab... Al-Faruq yang bikin setan putar balik. Tiga, Utsman bin Affan... pemilik dua cahaya yang pemalu tapi dermawan banget. Empat, Ali bin Abi Thalib... gerbangnya ilmu, menantunya Rasulullah yang jago perang..."

​Ia berhenti sejenak, menyesap teh hangatnya, lalu memejamkan mata kuat-kuat.

"Ayo Shania, fokus! Ini tiket buat kencan memancing dan dengerin suara 'Bass' Mas Zain seharian!"

​Zain yang baru saja kembali dari mengisi kajian kitab Riyadhus Shalihin di masjid, berdiri di ambang pintu dapur. Ia memperhatikan istrinya dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. Kerudung instan berwarna lilac yang dikenakan Shania tampak sedikit miring karena ia terlalu bersemangat menghafal sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.

​"Lima, Thalhah bin Ubaidillah... si burung elang yang jadi tameng hidup Nabi di Perang Uhud," sambung Zain dengan suara rendah, mengejutkan Shania.

​Shania melonjak dari kursinya.

"Mas Zain! Kebiasaan deh, datengnya kayak ninja, nggak ada suaranya!"

​Zain berjalan mendekat, meletakkan kitabnya di atas meja.

"Saya, sudah mengucap salam tiga kali, tapi sepertinya konsentrasi istri saya sedang berada di level balapan Formula 1."

​Shania mengerucutkan bibirnya di balik cadar rumahan yang tipis.

"Ya habisnya, tantangan Mas berat banget! Sepuluh orang lho, Mas. Dan aku harus tahu 'vibe' mereka masing-masing kan?"

​"Bukan 'vibe', tapi karakter atau manaqib," koreksi Zain halus.

Ia duduk di kursi depan Shania.

"Jadi, sudah sampai mana?"

​Shania berdiri tegak, membusungkan dada dengan percaya diri.

"Sudah sampai nomor sepuluh, Mas Ustadz! Mau dites sekarang atau nanti sambil mancing? Biar dramatis gitu, kayak di film-film."

​Zain melirik jam tangannya.

"Sekarang saja. Kalau lulus di sini, kita berangkat. Kalau tidak, saya pergi mancing sendiri."

​"Ih, pelit! Oke, dengerin ya!"

Shania menarik napas dalam.

​"Enam, Zubair bin Awwam. Pembela setia Rasulullah, yang saking beraninya, pedangnya selalu jadi jaminan keamanan Islam. Tujuh, Abdurrahman bin Auf. The King of Marketing syariah! Orang kaya raya yang kalau jualan apa aja pasti laku, tapi hartanya habis buat sedekah. Delapan, Sa'ad bin Abi Waqqash. Pemanah jagoan, orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Sembilan, Said bin Zaid. Doanya makbul banget dan dia ini adik iparnya Umar bin Khattab. Dan yang terakhir..."

​Shania sengaja menggantung kalimatnya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Zain, hingga mata cokelatnya yang indah menatap langsung ke netra hitam sang ustadz.

​"...Sepuluh, Abu Ubaidah bin Jarrah. Orang paling terpercaya di umat ini. Sosok yang sangat rendah hati meskipun jenderal perang hebat."

​Shania mengedipkan sebelah matanya.

"Gimana? Shania Ayunda Salsabilla emang nggak ada lawan kalau soal hafalan yang hadiahnya... Mas Zain."

​Zain tertegun. Ia selalu terpukau dengan cara Shania mencerna informasi. Gadis itu tidak menghafal seperti mesin, tapi ia bercerita dengan gaya bahasanya yang modern namun tetap penuh hormat.

​"Lancar. Sangat lancar," puji Zain tulus. "Karakteristiknya tepat, meski istilah 'King of Marketing' mungkin tidak ada di kitab klasik, tapi substansinya benar."

​"Jadi... berangkat?" tagih Shania sambil menggoyang-goyangkan lengan baju koko Zain.

​Zain mengangguk.

"Siapkan cadarmu. Kita ke sungai belakang."

“​Gemericik Air dan Umpan Cinta”

​Sungai di belakang pesantren itu adalah bagian dari aliran Brantas yang masih asri. Pohon-pohon bambu merunduk di tepiannya, menciptakan kanopi alami yang sejuk. Zain sudah menyiapkan dua joran sederhana dari bambu pilihan dan sebuah wadah berisi umpan.

​Shania berjalan mengekor di belakang Zain dengan langkah riang. Ia mengenakan gamis sporty berwarna biru dongker dan cadar senada. Di pundaknya, tas ransel cokelat baru yang dibeli di Malang kemarin terlampir manis, berisi bekal makanan dan tentu saja, kitab biografi yang ia janjikan akan ia baca.

​"Mas, emang di sini ada ikannya? Jangan-jangan cuma ada sandal jepit hanyut," celetuk Shania saat mereka sampai di sebuah batu besar yang cukup datar untuk diduduki.

​"Sabar adalah separuh dari iman, dan memancing adalah latihan sabar yang paling nyata," jawab Zain santai.

Ia mulai memasang umpan di mata kail istrinya.

"Sini, saya ajarkan cara melemparnya."

​Zain berdiri di belakang Shania. Ia memegang kedua tangan Shania yang menggenggam joran. Posisi ini membuat punggung Shania bersentuhan langsung dengan dada Zain. Shania bisa merasakan hembusan napas Zain di dekat telinganya. Harum minyak wangi sandalwood yang lembut bercampur dengan aroma sabun khas suaminya membuat fokus Shania buyar seketika.

​"Lempar perlahan, Dek. Jangan pakai tenaga mesin mobil," bisik Zain.

​"M-mas... kalau posisinya kayak gini, yang kena kail bukan ikan, tapi jantung, aku," gumam Shania jujur.

​Zain terkekeh pelan—suara yang jarang sekali terdengar namun sangat merdu. Ia melepaskan pegangannya setelah kail terlempar ke tengah air yang tenang.

​"Sudah, duduklah. Tunggu pelampungnya tenggelam."

​Mereka duduk berdampingan di atas batu. Sunyi menyergap, hanya ada suara aliran air dan gesekan daun bambu. Shania menyandarkan kepalanya di bahu Zain. Sesuatu yang dulu terasa canggung, kini terasa seperti rumah.

​"Mas," panggil Shania lembut.

​"Dalem?"

​Shania tersenyum di balik cadarnya. Ia selalu suka saat Zain menjawab dengan bahasa Jawa yang halus.

"Kenapa Mas sabar banget sama aku? Maksudku, aku ini kan 'liar' banget pas awal datang. Suka bantah, nggak bisa masak, dandannya menor... Mas nggak nyesel mahar Mas yang mahal itu 'cuma' dapet cewek kayak aku?"

​Zain menatap pelampung pancingnya yang bergoyang pelan.

"Mahar itu bukan harga beli, Shania. Mahar itu tanda kesungguhan. Dan kamu bukan 'barang' yang saya beli, tapi amanah yang saya jemput. Allah tidak melihat masa lalumu yang liar, tapi Allah melihat bagaimana kamu sekarang berusaha menjinakkan egomu demi mencari ridha-Nya."

​Ia menoleh ke arah Shania, menatap matanya dalam-dalam.

"Dan soal mahar... hafalanmu tadi, perubahanmu yang mulai mencintai ilmu, itu adalah dividen paling mahal yang saya terima. Saya tidak butuh istri yang sudah sempurna, saya butuh teman perjalanan menuju surga yang mau belajar bersama."

​Shania terenyuh. Ia merasa beruntung. Di Jakarta dulu, ia dikelilingi pria-pria yang hanya memuji fisiknya, tapi Zain... Zain melihat jiwanya.

​"Tapi tetep ya Mas, panggil 'Sayang'-nya jangan putus. Itu suplemen biar aku nggak lemes hafalannya," goda Shania, berusaha mencairkan suasana yang mulai haru.

​Zain tersenyum tipis.

"Tergantung perilakumu hari ini, Sayang."

​"Aaakh! Mas Zain! Sekali lagi! Yang lebih jelas!"

Shania bersorak kegirangan sampai jorannya bergerak-gerak.

​"Eh, pelampungnya tenggelam! Tarik, Shania! Tarik!" seru Zain.

​Shania dengan panik menarik jorannya. Ternyata benar, ada seekor ikan nila berukuran sedang yang menggelepar di ujung kail.

Shania berteriak heboh, hampir saja terpeleset ke dalam air jika Zain tidak sigap menangkap pinggangnya.

​"Dapet, Mas! Lihat! Aku dapet ikan!"

​"Alhamdulillah. Sepertinya ikan itu juga terpesona dengan hafalanmu tadi," canda Zain sambil melepaskan ikan itu dari kail dan memasukkannya ke ember.

“​Cemburu yang Manis”

​Setelah dua jam memancing dan mendapatkan tiga ekor ikan, mereka memutuskan untuk istirahat dan memakan bekal. Shania membuka kotak makannya yang berisi nasi kuning dan ayam goreng.

​Saat sedang asyik makan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah jalan setapak di atas sungai.

​"Assalamualaikum, Ustadz Zain?"

​Seorang wanita muda dengan pakaian sangat syar'i namun modis—mungkin salah satu pengajar baru di bagian pendidikan—berdiri di sana sambil membawa beberapa lembar berkas. Namanya Ustazah Lutfi. Ia dikenal cerdas dan sering kali menjadi rekan diskusi Zain soal kurikulum pesantren.

​"Waalaikumussalam. Ada apa, Ustazah Lutfi?" tanya Zain, suaranya kembali ke mode formal nan berwibawa.

​"Maaf mengganggu waktu istirahat, Ustadz. Ini ada berkas dari Kemenag yang harus segera ditandatangani untuk akreditasi besok pagi. Saya cari di kantor tidak ada, kata santri Ustadz sedang di sini."

​Ustazah Lutfi melirik ke arah Shania yang sedang memegang paha ayam dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya berusaha menutupi mulut di balik cadar saat mengunyah. Ada tatapan sedikit merendahkan dari sang Ustazah melihat "gaya" Shania yang dianggap kurang anggun untuk istri seorang pimpinan pesantren.

​"Oh, ya. Sini, saya tanda tangani," kata Zain.

​Saat Zain sedang membaca berkas tersebut, Ustazah Lutfi mencoba berbasa-basi.

"Wah, sedang memancing ya Ustadz? Jarang-jarang Ustadz meluangkan waktu untuk hal... santai seperti ini. Biasanya kan selalu di perpustakaan."

​Shania merasa telinganya panas. Maksudnya apa? Mau bilang kalau dia menghambat waktu produktif Zain?

​"Menyenangkan istri adalah bagian dari ibadah, Ustazah. Bahkan lebih utama daripada sekadar membaca kitab di saat hak keluarga belum terpenuhi," jawab Zain tanpa mendongak dari kertasnya.

​Skakmat. Shania ingin bersorak "Savage!" tapi ia menahannya.

​"Tentu, Ustadz. Oh iya, saya dengar Ning Shania sedang belajar biografi Imam Madzhab ya? Kalau ada yang sulit, saya punya banyak rangkuman dalam bahasa Arab yang lebih otentik. Mungkin Ning Shania butuh?" tawar Ustazah Lutfi, nada bicaranya seolah meragukan kemampuan Shania yang belajar dari buku terjemahan.

​Shania meletakkan ayamnya. Ia mengelap tangannya dengan tisu, lalu berdiri tegak di samping Zain.

​"Terima kasih tawarannya, Ustazah Lutfi yang cantik," ucap Shania dengan suara yang sengaja dibuat manis namun berwibawa.

"Tapi alhamdulillah, Mas Zain adalah guru terbaik. Beliau mengajarkan saya bukan cuma teksnya, tapi juga ruh dari ilmu itu. Lagipula, Mas Zain bilang kalau saya lebih cepat paham kalau diajarkan dengan... penuh kasih sayang. Ya kan, Mas Sayang?"

​Shania sengaja menekankan kata "Sayang" dan sedikit menyandarkan tangannya di bahu Zain.

​Zain sempat tersedak ludahnya sendiri mendengar panggilan terang-terangan itu di depan orang lain. Namun, ia melihat sorot mata Shania yang sedang "menjaga wilayahnya". Zain tersenyum di balik wajah datarnya.

​"Istri saya benar. Dia punya metode belajar sendiri yang sangat efektif," dukung Zain.

Ia menyerahkan kembali berkas itu.

"Sudah selesai. Silakan dilanjutkan tugasnya, Ustazah."

​Ustazah Lutfi tampak kikuk. Wajahnya sedikit memerah.

"Ba-baik Ustadz. Saya permisi. Assalamualaikum."

​"Waalaikumussalam," jawab Zain dan Shania kompak.

​Setelah Ustazah itu pergi, Shania langsung melepaskan pegangannya dan kembali duduk dengan wajah cemberut.

​"Kenapa? Ayamnya kurang asin?" tanya Zain polos.

​"Mas Zain itu ya, terlalu ramah sama cewek pinter kayak gitu! Tahu nggak sih, dia itu tadi lagi pamer kalau dia lebih hebat dari, aku?"

​Zain menggeser duduknya, mendekat ke arah Shania.

"Cemburu?"

​"Nggak! Siapa yang cemburu? Cuma... sebel aja!"

​Zain meraih tangan Shania, menggenggamnya erat.

"Shania, di mata saya, Ustazah Lutfi hanyalah rekan kerja. Dia mungkin punya banyak kitab Arab, tapi dia tidak punya kunci hati saya. Kuncinya sudah dibawa lari sama pembalap nekat dari Jakarta."

​Shania tertegun, lalu tertawa kecil.

"Pinter banget ya sekarang gombalnya. Belajar dari mana sih, Mas? Kitab kuning apa kitab pelangi?"

​"Belajar dari melihat kamu setiap hari," jawab Zain pendek, membuat Shania kembali merasa melayang.

“​Janji di Bawah Langit Kediri”

​Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di permukaan sungai. Mereka mulai merapikan barang bawaan.

​"Mas, makasih ya buat hari ini. Aku beneran seneng. Ternyata hidup di pesantren nggak se-membosankan yang aku bayangkan," ujar Shania jujur.

​"Itu karena kamu membukakan hatimu, Shania. Kalau hati sudah terbuka, tempat sesempit apapun akan terasa luas," sahut Zain.

​Mereka berjalan pulang menyusuri pematang sawah. Angin sore meniup cadar Shania, memperlihatkan binar matanya yang penuh kebahagiaan.

​"Besok apa lagi tantangannya, Mas? Aku siap!"

​Zain tampak berpikir sejenak.

"Besok? Saya ingin kamu tidak hanya menghafal, tapi mempraktikkan. Saya ingin kamu membantu di dapur umum pesantren untuk makan malam santri. Belajar sabar menghadapi uap panas dan ratusan piring."

​Shania membelalakkan mata.

"Mas! Itu mah kerja rodi, bukan tantangan ilmu!"

​"Hadiahnya..."

Zain menggantung kalimatnya, ia mendekat ke telinga Shania, membisikkan sesuatu yang membuat Shania hampir berteriak saking senangnya.

​"Hadiahnya, saya akan mengizinkanmu menyetir mobil saya menuju Surabaya akhir pekan nanti. Kita berkencan di sana."

​"SERIUS?! Mas Zain bolehin aku nyetir?! Yeay! Siapkan sabuk pengamanmu, Ustadz Zain, karena Shania 'The Flash' akan kembali!"

​Zain tertawa melihat tingkah istrinya yang melompat-lompat kecil di antara pematang sawah.

Baginya, membelenggu keliaran Shania dengan mahar bukan berarti mematikan jati dirinya. Ia hanya mengarahkan energi itu ke jalan yang lebih indah.

​Malam mulai turun di Kediri, membawa serta rindu yang kian lekat di antara dua insan yang berbeda dunia itu. Shania tahu, jalannya masih panjang untuk menjadi istri ustadz yang sempurna, tapi selama tangan Zain menggenggamnya, ia tidak takut tersesat.

​Karena di antara deretan kitab kuning dan aroma apel Malang, Shania telah menemukan arti cinta yang sesungguhnya: Sebuah ketaatan yang dibalut dengan kehangatan.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!