NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Udara pagi di puncak masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, bergerak perlahan seolah enggan benar-benar pergi. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus, hanya menyisakan semburat lembut di balik dedaunan.

Suasana villa tenang, terlalu tenang. Fania berdiri di balkon kamar. Memeluk dirinya sendiri. Bukan karena benar-benar kedinginan namun seperti butuh sesuatu untuk ditahan.

Tatapannya lurus ke arah pegunungan jauh. Namun pikirannya tidak ada di sana. Semalam mereka tertawa, bercanda, saling menggoda. Semua terasa ringan. Seolah tidak ada beban. Seolah semua baik-baik saja.

Namun pagi selalu jujur. Dan pagi ini.yang ia rasakan kembali muncul. Kosong. Bukan sedih yang meledak. Bukan marah yang jelas.

Namun hampa yang perlahan mengisi ruang di dalam dirinya.

Fania menarik napas panjang. Dingin udara masuk ke paru-parunya. Lalu ia menghembuskannya pelan. Berharap sesuatu ikut keluar bersama napas itu. Namun tidak, perasaan itu tetap ada.

Diam.

Menetap.

Siang hari, matahari sudah naik, meski udara tetap sejuk. Mereka bertiga berkumpul di ruang tengah. Masih santaii, masih dengan pakaian kasual. Rambut seadanya, tanpa formalitas.

Minuman dingin di meja. Gelas dengan embun air di permukaannya. Obrolan ringan mengalir. Tentang hal-hal kecil, tentang tempat yang ingin mereka kunjungi nanti. Tentang foto-foto yang belum sempat diambil.

Fania ikut menanggapi, tersenyum. Namun sebagian dirinya masih tertinggal di pagi tadi. Sampai ponsel Livia berbunyi. Nada notifikasi itu memotong alur percakapan.

Livia melirik layar, awalnya biasa saja. Namun detik berikutnya ekspresinya berubah. Alisnya sedikit mengernyit. Matanya bergerak cepat membaca, lalu berhenti.

“Kenapa?” tanya Chaerlina. Nada suaranya langsung berubah, lebih waspada.

Fania ikut menoleh, Fokus.

Livia tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, ia masih membaca. Seolah memastikan. Seolah mencoba memahami.

“Ini aneh.” Nada suaranya tidak lagi santai namun serius.

Fania langsung merasakan sesuatu. “Apa?”

Livia mengangkat pandangannya menatap mereka berdua. “Mark baru mengabari.”

Nama itu langsung menarik perhatian.

Ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya.

Fania tidak sadar namun jantungnya sedikit berubah ritme.

“Lalu?” tanya Chaerlina.

Livia menarik napas kecil, seolah bersiap.

“Ronald ke luar negeri”

Hening.

Kalimat itu secara logika biasa saja. Ronald sering pergi untuk kerja. Untuk urusan bisnis bukan hal baru. Bukan hal yang seharusnya mengganggu. Namun yang membuat suasana berubah adalah jeda setelahnya.

Livia belum selesai..Dan semua orang di ruangan itu menyadarinya.

“Dan…” lanjut Livia. Ia berhenti sejenak. “…Valencia juga ke luar negeri.”

Sunyi.

Tidak ada yang langsung bereaksi. Sepersekian detik semuanya seperti berhenti. Fania menatap Livia lama. Seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar.

“Bersamaan?” tanya Chaerlina pelan.

Livia mengangguk. “Iya.” Satu kata namun cukup.

Fania menelan ludah pelan. Tenggorokannya terasa kering. “Dia bilang apa lagi?” akhirnya ia bertanya. Suaranya tenang, terlalu tenang. Seolah ia menjaga sesuatu agar tidak terlihat.

Livia melirik layar lagi. “Mark juga baru tau ternyata Valencia berangkat.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Katanya jadwal mereka berdekatan.”

Kalimat itu tidak memberikan kejelasan. Justru membuka lebih banyak kemungkinan.

Hening lagi. Namun kali ini lebih berat dan lebih dalam.

Chaerlina menyilangkan tangannya. Berpikir. “Ini kebetulan?” Pertanyaan itu menggantung.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Livia menghela napas kecil. “Bisa aja.” Namun nadanya tidak yakin.

Fania tertawa kecil, pendek dan kosong. “Kebetulan ya…” Ia mengulang.

Namun kalimat itu terdengar seperti pertanyaan bukan pernyataan. Karena bahkan ia sendiri tidak percaya. Pikirannya mulai bergerak cepat. Menghubungkan potongan-potongan yang sebelumnya ia abaikan.

Pesta, kedekatan mereka, cara Ronald bersikap, perhatian kecil yang ia lihat, perubahan yang ia rasakan dan sekarang pergi ke luar negeri. Bersamaan. Terlalu banyak hal yang terasa selaras. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

“Fan…” Suara Chaerlina lebih pelan sekarang. Lebih hati-hati.

Fania menoleh, tatapannya masih tenang. Namun terlalu diam.

“Kau tau dia akan kemana?” tanya Chaerlina.

Fania menggeleng. “Tidak.” Singkat dan jujur. Ia memang tahu Ronald pergi. Namun hanya sebatas itu, tidak ada detail, tidak ada tujuan, tidak ada cerita, bahkan tidak ada usaha untuk menjelaskan.

Livia menatapnya lebih dalam. “Dia tak mengatakan apa-apa?”

Fania menggeleng lagi. “Hanya mengatakan ada urusan.” Kalimat itu terdengar hambar dan kosong. Seperti formalitas, seperti kewajiban. Bukan komunikasi.

Hening.

Namun kali ini pikiran Fania tidak bisa diam. Ia mulai berlari lebih jauh, lebih liar. Bagaimana kalau mereka memang pergi bersama? Bagaimana kalau ini bukan kebetulan? Bagaimana kalau semua yang ia lihat selama ini adalah awal dari sesuatu?

Dan sekarang itu sedang terjadi. Tanpa ia sadari, tanpa ia bisa hentikan. Ia menggenggam tangannya lebih erat. Kuku jarinya sedikit menekan kulit. Namun tetap tidak cukup. Tidak cukup untuk menghentikan pikirannya.

Livia mencoba menahan situasi. “Ehm… belum tentu bersamaan,” ujarnya cepat. “Bisa saja beda tempat tujuan.” Masuk akal dan logis. Namun terasa seperti penghiburan bukan keyakinan.

Chaerlina mengangguk kecil. “Iya.” Namun ia juga tahu itu tidak cukup.

Fania tersenyum tipis, refleks. “Aku tak begitu peduli.” Kalimat itu keluar lagi sama seperti sebelumnya. Namun kali ini terasa paling rapuh. Karena bahkan ia sendiri tidak percaya.

Livia menatapnya lama. Namun tidak menyanggah. Chaerlina hanya menghela napas pelan. Dan di dalam diri Fania semuanya semakin jelas. Ia tidak hanya cemburu. Ia tidak hanya rindu. Ia takut, takut kalau semua ini benar.

Takut kalau Ronald benar-benar pergi. Bukan hanya secara fisik namun secara perasaan. Dan yang paling menakutkan ia tidak punya hak untuk menghentikannya. Karena semua ini dimulai dari dirinya sendiri.

Ia yang membuat jarak. Ia yang menetapkan batas. Ia yang menolak kedekatan itu perlahan. Dan sekarang ia harus melihat bagaimana batas itu, tidak hanya diterima namun juga digantikan.

Fania menatap kosong ke depan. Tidak lagi benar-benar melihat. Namun satu hal terasa jelas. Jika ini bukan kebetulan maka ia sedang kehilangan sesuatu.

Sesuatu yang dulu ia anggap biasa, yang dulu ia abaikan. Yang dulu ia pikir tidak penting. Dan sekarang ketika itu mulai menjauh ia baru menyadari bahwa itu berarti lebih dari yang ia akui.

Dan kali ini ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa semuanya tidak ia pedulikan. Namun penyangkalan itu seolah juga ikut menyelimutinya.

Seakan ia tak boleh mengakui perasaan tak nyaman yang ia rasakan sebenarnya. Ia masih tetap meyakini kalau cintanya untuk Ronald sudah kandas. Hanya saja, mungkin dirinya belum terbiasa tak mendapatkan kepedulian suaminya.

Ia rasa, ia hanya sudah terbiasa. Oleh karenanya, saat ini rasanya tak nyaman ketika mendengar dan melihat suaminya memberikan apa yang dulu diberikan untuknya.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!