NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Kurang dari sejam setengah, tugas harus rampung. Itu sudah terpotong empat puluh menit untuk jarak tempuh antara apartemen ke JCC. Jadi waktu yang tersisa, sekitar dua puluh menit lagi. Aku terus berpacu dengan waktu yang terus bergulir cepat.

Lima halaman pertama, isi tulisanku hampir mirip dengan buku saku yang diberikan. Beberapa informasi, kelahiran serta latar belakang keluarganya, semua jiplak dari buku itu.

Masuk ke halaman berikutnya, aku terserang kejenuhan yang merasuk ke dalam pikiran. Perasaan yang timbul, karena sulitnya menemukan pokok masalah yang menarik. Bagaimana bisa seseorang tumbuh dalam lingkungan yang teramat sempurna, tanpa ada sedikit pun masalah? Atau penulisnya memang sengaja membuatnya terkesan indah. Sebagian besar keinginannya selalu mudah di raih, tanpa pernah merasa gagal.

Aku berhenti menulis, membaca ulang dengan menggunakan sedikit suara. Kata demi kata, Halaman per halaman, semua tuntas kubaca. Sesaat berselang, suara siulan terdengar dari luar kamar.

"Astaga! Id? Kau kah di luar sana, Id!" tak ada sahutan. Aku tinggalkan sejenak, dan melihat yang terjadi.

"Apa kabar nona cantik!" sergapnya, sambil memegang sebuah buku milikku. Sedangkan aku terperanjat waktu dia sudah duduk di kursi, tempat dimana aku sering menghabiskan bacaan.

"Bagaimana kau bisa masuk kemari?" kataku jengkel, menatap heran ke arah pintu masuk.

"Tidak terkunci!" Id kembali meneruskan bacaannya, "Baru membaca halaman awal, aku sudah jatuh cinta dengan novel kamu ini. Memikat, seperti magnet yang tak mau lepas. Para tokoh serta topik perselingkuhan yang kamu bahas, seakan benar-benar terjadi. Bravo! Tapi kenapa sekarang aku sepertinya mendengarmu mengeluh dengan yang sedang kamu kerjakan itu?"

"Mengeluh? Kamu tadi juga mendengar aku sedang membaca tulisanku?"

"Bagaimana aku tak bisa mendengar suaramu yang nyaring seperti itu. Andaikan kamu bacanya di luar apartemen ini, kuyakin bukan hanya aku sendiri yang mendengarnya."

"Memangnya kamu siapa, berani-beraninya menilai kalau yang aku buat itu jelek!"

"Aku bukan siapa-siapa, hanya pecinta buku sejati. Jadi kalau menurut aku bagus, pasti aku bilang bagus! Begitu juga sebaliknya. Jadi apa kamu sudah tidak mau lagi mendengar kritik, dan merasa menjadi penulis yang paling hebat sejagat?"

"Itu kan kata kamu kalau tidak lagi mendengar kritikan. Lagi pula belum tentu kamu bisa membuat seperti yang sudah aku tulis!"

"Wow! Jadi untuk memberi masukan, seseorang harus memiliki latar belakang sebagai seorang penulis? Kalau begitu, sebaiknya tulisan yang kamu buat itu, tak perlu dipublikasikan besar-besaran. Cukup disimpan dalam rak buku kamu ini!" dia tersenyum menyeringai, bangkit, menempatkan kembali buku novel yang sudah diambilnya.

"Sudahlah, masih banyak yang harus dikerjakan. Terserah seperti apa penilaianmu itu. Karena aku tidak pernah hidup dari komentarmu!" kataku, acuh tak acuh.

"Sebentar, Kristal! Apakah kamu tidak ingin tulisan kamu seperti, Edgar Allan Poe, Agatha Cristie, atau siapapun juga idola kamu itu!" seru Id membahana, kencang. Aku balikkan badan, menyahut seruan itu dengan jengkel.

"Kau sama sekali tidak mengenalku! Sebaiknya pergi sekarang juga! Sebelum aku hilang kesabaran dan memanggil keamanan! Mengusir keluar selamanya dari sini!"

Dengan segenap kekuatan, aku paksa dia keluar. Tetapi tak kukira sebelumnya, kalau ternyata perbuatanku itu sudah membuatnya jatuh tersungkur. Kepalanya membentur sudut kursi. Seketika, aku dapati Id terbujur kaku di lantai, tak bergerak.

"Id! Bangunlah! Jangan main-main, ayo bangun!" serangan panik luar biasa mulai menyelimutiku. Oleh sebab itu, aku goncang-goncang tubuh Id ke kanan-ke kiri, kutampar kedua pipinya, "Come on, bangunlah, Id! Bangun!" badan itu tetap tak bergerak sedikit pun.

Aku tempelkan telinga di dadanya yang bidang. Tak bisa kudengar suara detak jantungnya. Upaya penyelamatan yang kuberikan tak berhasil. Masih di selimuti kepanikan, melayang sebuah ide dari film lawas yang pernah kutonton berdua Darrius. Dengan tergesa-gesa aku menuju ke dapur, membawa beberapa iris bawang putih. Setelah itu aku letakkan irisan itu ke hidungnya, "Please bangun, Id!" ucapku memohon. Tubuh itu masih belum bergerak. Maka aku coba jurus andalan, memberinya nafas buatan. Cara yang persis aku tiru pada film itu juga.

Dalam hati, aku mulai berhitung untuk siap menempelkan bibirku mengenainya, dan sewaktu sepasang bibir hendak saling bertautan..

Id tersentak bangun, dan terlihat ingin menyosor lebih dulu. Ia ayunkan bibirnya, nyaris mengenaiku. Aku kaget, terperanjat, meringis jijik dan langsung menjauhkan wajahku darinya.

"Resek banget yah kamu itu!" spontan kulempar irisan bawang sampai mengenai cuping hidungnya.

"Aduh.., hmm, apa ini! Bau banget." katanya sambil membersihkan beberapa irisan yang menempel di hidungnya, "Seandainya tadi itu aku tidak bangun. Kamu pasti sudah menciumku kan? Makanya, kalau jadi perempuan itu jangan terlalu jual mahal!"

"Enak saja kalau bicara. Cepat keluarlah, Id!" Kudorong kuat tubuh Id yang masih duduk di lantai, "Astaga! Sudah jam segini aku masih belum juga menyelesaikan tulisan. Belum lagi aku harus print out hasilnya. Kumohon, pergilah sekarang!"

"Iya, aku pergi. Tapi janji, kita akan ketemu lagi kan?"

"Ayo keluarlah!" setelah berhasil menyingkirkan keberadaan Id, kuteruskan menyelesaikan pekerjaanku yang terhenti.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!