Bercerita mengenai Alisya dan semua sahabatnya, berjuang melawan para zombie yang tiba-tiba saja menggegerkan kampus mereka, mereka berhasil keluar dari kampus tapi tidak sedikit pula yang menjadi monster itu (zombie). Apakah kami bisa menemukan tempat yang aman, melewati setiap rintangan dan juga konflik asmara? Penasaran dengan cerita selanjutnya. Ayo ikuti terus novelku yang berjudul "A World Full Of Zombies" 😄👍
Dan dukung aku dengan cara LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😊
Terimakasih 😊👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi Dila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Parkir.
Kami berdiri di tengah-tengah lobi kampus. Zombie-zombie itu berjalan sangat pelan kearah kami dan mengeluarkan suara mengerang, yang berjarak 5 meter. Formasi bulat pun kami bentuk untuk menjaga satu sama lain agar tetap aman. Setelah zombie itu sudah mendekat, Kami mulai membunuh di bagian kepalanya, kami terus membunuh semua zombie-zombie yang berjalan ke arah kami.
Aku mulai mengayunkan tongkat besi kearah zombie di bagian dagu dan menembus hingga ujung kepalanya, aku tarik tongkat besi itu yang masih menempel di bagian kepalanya. Ketika besi itu kutarik dengan sangat kuat, darah kental tersebut mengenai wajah dan tubuhku. Dan akhirnya zombie itu terjatuh dan di susul oleh zombie yang berada di belakang zombie sebelumnya. Ku ayunkan tongkat besi dan menusuknya di bagian telinga bagian kanan dan menembus ke telinga bagian kirinya, sehingga zombie tersebut mati dan tergeletak di atas lantai bersamaan dengan zombie lainnya.
Kami membunuh semua zombie yang berada di lantai dasar, dan terus berjalan menuju pintu gedung kuliah. Alwi menutup pintu yang sudah kami lewati supaya tidak datang zombie lebih banyak lagi. Sedangkan Fikri dan Rizqi, berjalan menuju setiap pintu yang berada didekat kami dan menutupnya. Sedangkan kami para wanita menjaga mereka agar tidak di dekati oleh zombie-zombie tersebut.
Setelah sudah keluar dari gedung, kami berjalan menuju parkiran. Di parkiran terlihat begitu banyak zombie. Zombie-zombie itu lalu lalang berjalan pelan dari setiap arah dan terdengar suara yang menggema. Aku melihat wajah yang familiar di antara kerumunan zombie tersebut, ternyata wajah-wajah itu adalah teman sekelas ku. Air mata pun tidak bisa ku tahan lagi sehingga dia mengalir membasahi pipiku, sekarang mereka tidak punya lagi tujuan untuk hidup yang hanya adalah memburu manusia yang masih hidup dan memakan mereka dengan sangat brutal.
Terlihat wajah mereka yang pucat, mata yang putih kemerahan, bibir yang di baluri oleh darah kental, dan jalan yang tidak beraturan. Tawa yang ku dengar setiap pagi telah berganti dengan suara mengerang, candaan yang kami sering lakukan di kelas sudah pergi bersama angin yang berhembus mengikuti mata angin, kejahilan yang sering kami lakukan sekarang tinggal kenangan. Semua itu hanyalah momen yang akan ku simpan di dalam memori ingatanku dan di setiap langka hidupku.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menggenggam tanganku dan menariknya, dia membawaku ke belakang mobil berwarna hitam.
"Jangan berteriak!!" bisik Fikri kepadaku, tangan kanannya menutupi bibirku sedangkan tangan kirinya memegang bahuku. Aku yang melihat ke arahnya hanya menganggukkan kepala tanda kalau aku mengiyakan perintahnya. "Kau harus tenang dan ikuti perintahku, oke?" Aku menganggukkan kepalaku, Fikri terlihat sangat cemas dan dia melihat kearah depan dari balik kaca mobil untuk memastikan kalau zombie-zombie itu tidak tahu keberadaan kami.
Aku yang masih bersandar di belakang mobil berwarna hitam mencoba menoleh kearah belakang untuk melihat situasi. Tapi sebelum aku membalikkan badan, Fikri dengan cepat menarik bahuku dan menunduk bersama-sama agar zombie-zombie itu tidak mengetahui keberadaan kami. Setelah situasinya sudah aman kami kembali berdiri tegak.
Fikri menarik bahuku ke arahnya sambil berkata, "Apa yang kau lakukan, Alisya? Kami sudah berlari menuju mesjid, tapi kau!! Masih saja berdiri di sana. Kalau sampai aku terlambat sedikit... saja!! Kau akan menjadi bagian dari mereka!! Apa kau tidak menyadari itu?" jelas Fikri kepadaku dengan sangat marah.
"Maafkan aku, Fikri. Hanya saja, aku melihat teman-teman kita sudah menjadi zombie. Aku...!! Aku. Gak bisa melihat itu semua..., Andai saja aku lebih tegas kepada mereka dan tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Semua ini, tak akan pernah terjadi!! Semua ini salahku...!!" ucap ku kepadanya dengan menangisi keadaan, dan menutup wajah ini dengan kedua tanganku. Aku terus menangis terisak-isak di hadapannya.
"Maafkan aku, Alisya. Aku ngak bermaksud memarahimu. Hanya saja, aku takut kehilanganmu!!" Fikri menyentuh tanganku dan menggenggamnya. Terlihat kedua mata yang sangat mencemaskan ku, aku menatap dalam mata itu dan berhenti menangis. "Aku tahu apa yang sedang kau rasakan saat ini. Tapi, kita harus melewatinya bersama-sama," jelas Fikri kepadaku dan menghapus air mata yang berada di pipiku. Kami saling menatap satu sama lain untuk meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
"Terimakasih Fikri. Karena kau selalu ada untukku, dan kalian adalah sahabat terbaikku," aku melihat ke arahnya dan memberikan senyuman termanis. Fikri membalas senyumanku dan mengelus pipiku dengan sangat lembut.
Iya, aku harus melindungi yang masih hidup bukan menyesali yang sudah lampau. Aku harus bangkit kembali dan berjuang bersama mereka. Batinku.
"Kita harus pergi dari sini," sahutku yang membuyarkan lamunan kami.
"Baiklah, Alisya." Fikri melepaskan tangannya dari pipiku dan berjalan terlebih dahulu. Dia mengendap-endap berjalan di samping mobil dan menyuruhku untuk mengikutinya dari belakang, "setelah sudah aman, kita langsung berlari menuju mesjid ya!!" jelas Fikri kepadaku.
"Baik," balasku singkat.
Kami berdua berjalan perlahan dari samping mobil yang terparkir lumayan jauh dari mesjid, jarak menuju mesjid sekitar 20 meter dari tempat kami berada. Fikri mengamati kejauan dan mencari celah yang aman untuk kami lalui, dia menyuruhku berdiri di belakangnya dan menunggu aba-aba darinya. Tiba-tiba saja aku melihat ada tas yang tergeletak di atas aspal di samping pot bunga di belakang mobil yang terparkir tiga mobil dari tempat kami berada.
"Fikri!!" sahutku berbisik.
"Ada apa, Alisya?" tanya Fikri yang masih melihat kearah depannya.
"Lihat itu. Ada tas di sebelah kanan kita!!" balasku yang masih berbisik.
"Iya terus...!! Emang kenapa rupanya?" jawab Fikri yang masih fokus melihat ke depan, "sebentar ya, aku masih melihat cela untuk kita berlari menuju mesjid."
Aku menarik nafas dalam dan memegang bahunya dari arah belakang, "iya!! Itu cara kita untuk menuju mesjid dengan aman!!"
Fikri melihat ke arahku dengan wajah yang terheran, "maksudnya? Bagaimana sih, aku ngak ngerti!!"
"Di dalam tas itu mungkin ada ponselkan? Nah..., Kita gunakan ponsel itu untuk membuat suara yang bising," jelas ku kepada Fikri, dan tersenyum sambil menaik turunkan alis mata ku, "bagai mana, baguskan ide ku?"
"Aku masih ngak ngerti!!" jawab Fikri dengan polosnya.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "iya sudahlah, kalau memang kau ngak ngeri!! Aku bisa mengambilnya sendiri!!" jawabku kesal.
"Ee... Sebentar dulu!! Aku memang ngak ngerti, tapi bukan berarti kau yang harus mengambilnya. Biar aku saja yang mengambilnya, dan kau tetaplah disini!! Mengerti?" jelas Fikri kepadaku sambil memegang bahuku.
"Siap bos!" Jawabku singkat dan tersenyum ke arahnya. Fikri membalas senyumanku.
Fikri berjalan ke arah tas tersebut dengan mengendap-endap dari mobil ke mobil lainya. Ketika dia sudah melewati mobil-mobil itu dan meraih tas tersebut tiba-tiba saja satu zombie menghampirinya dari arah belakang.
"Fikri!!" ucapku spontan, tangan kananku hanya bisa meraih dari kejauhan. Tapi dengan sigap Fikri mengayunkan tongkat kayu kearah kepala zombie tersebut, "syukurlah...!!" ucapku yang masih melihat ke arahnya.
Setelah Fikri sudah mendapatkan tas itu, dia berjalan ke arahku dan tersenyum.
Syukurlah tasnya sudah dapat. Batinku.
Aku pun tersenyum ke arahnya dan tidak tahu dari mana zombie itu datang dia tiba-tiba saja menarik baju Fikri dari arah belakang dan membuat Fikri kesulitan meraih kepalanya. Aku dengan cepat berlari dan mengayunkan tongkat besi ke arah kepala zombie tersebut.
"Kau tidak kenapa-kenapa, kan?" tanyaku panik.
"Ngak. Aku ngak apa-apa kok," jawab Fikri Selo.
"Apakah kau tergigit? Apa, ada goresan atau cakaran?" tanyaku yang semakin panik dan melihat kearah tangan, punggung, dan bahunya.
"Alisya..., Alisya..., Aku baik-baik saja kok," jelas Fikri dan memegang tanganku, "kau jangan kuatir ya."
"Maksud kau apa sih, Fik? Tentu dong aku sangat kuatir!! Itu hampir saja terjadi!! Dan kau, menyuruhku untuk tenang?" ucapku yang sangat mencemaskannya.
"Mengapa kau sangat memperdulikan, ku? Apakah...?" tanya Fikri yang masih menggenggam tanganku, terlihat dari matanya dia sedang menunggu jawaban dariku.
Mengapa suasananya jadi begini!! Apa yang harus ku jawab. Batinku.
"Ki... Kita. Harus pergi dari sini!! Sebelum, zombie-zombie itu datang lagi!!" ucap ku dan melepas genggamannya. Aku menelan ludah sangat dalam dan mengambil tas yang dari tadi tergeletak di atas aspal karena serangan zombie barusan dan aku berjalan membelakanginya.
Fikri menarik tanganku sebelum aku berjalan terlalu jauh darinya dan berkata, "Alisya...?" sahutnya singkat yang masih menunggu jawaban dariku.
Aku melihat kedua matanya dan terasa jantungku berdetak lebih kencang dan tubuhku mulai keringat dingin sambil berkata, "Ki... Kita. Sahabat kan? Apakah aku tidak boleh kuatir?" tanyaku kepadanya.
Fikri tersenyum manis dan berkata, "iya... Kita memang bersahabat. Dan aku menghargai keputusanmu itu, Alisya."
"Iya sudah. Mari, kita buat yang aku bilang barusan?" ucapku yang mulai canggung. Fikri terus saja tersenyum melihatku.
Sudahlah, Alisya. Jangan terlalu terbawa suasana. Batinku.
Aku mengambil ponsel di dalam tas tersebut dan merobek bagian tali tas yang empuk untuk di jadikan pelindung ponsel ketika dilempar agar tidak rusak. Fikri hanya memperhatikan cara kerjaku dan dia masih tidak mengerti apa pun yang ku maksud. Untung saja lakban masih tersimpan didalam kantong rok yang ku pakai. Setelah bahan sudah lengkap, barulah ponsel ku balut tebal mengunakan tali tas yang sebelumnya sudahKu robek dan merekatkannya mengunakan lakban. Tidak lupa pula ku simpan nomor telpon tersebut.
"Nah... Sudah jadi!!" ucapku gembira.
"Uda, gini saja?" tanya Fikri heran.
"Iya." Balasku singkat. Fikri hanya menganggukkan kepalanya.
Fikri... Fikri. Kau itu ya sok ngerti 😁. Batinku.
Aku melihat kearah Fikri yang sedang memegang ponsel anti hancur saat di lembar karya Alisya putri 😀.
"Terus, mau di apakan ponsel ini?" tanya Fikri yang semakin penasaran.
"Kau lemparkan ponsel itu jauh dari, mesjid" jelasku kepada Fikri.
Fikri melempar ponsel tersebut ke arah taman kampus yang berada di sebelah kiri kami, sedangkan mesjid berada di sebelah kanan kami yang mengarah ke gerbang kampus.
"Sudah. Terus bagaimana cara kerjanya?" tanya Fikri.
"Baiklah akan ku kasih tahu caranya, perhatikan baik-baik ya!!" jelas ku kepadanya lagi.
Setelah ponsel sudah berada di tempat yang pas, ku telpon ponsel tersebut dan tersambung. Ponsel itu mengeluarkan suara yang lumayan bising sehingga zombie-zombie yang berada di sekitar tempat tersebut mendatangi ponsel itu dan membuat kawasan parkir menjadi sepi.
"Oalah, itu toh maksudnya," ucap Fikri.
Kami mulai berjalan kearah mesjid dan sekarang jalan sangatlah aman, zombie-zombie itu tidak lagi menghalanginya jalan sehingga kami sangat leluasa untuk berjalan tanpa ada rasa takut.
Terlihat di sepanjang jalan begitu banyak mayat bergelimpangan dan membuat jalan menjadi banjir oleh darah-darah yang kental dan organ tubuh berserakan di mana-mana. Tempat ini seperti lautan mayat sedangkan kami berjalan di tengah-tengahnya, aromanya yang menyengat membuatku menjadi mual dan pusing. Bau ini lebih parah di banding Bau bangkai tikus ataupun makanan yang sudah basi baunya sangatlah khas.
Kami sudah berjalan sekitar 10 meter, tiba-tiba saja isi perutku mulai berputar. Aku mencoba menahannya agar tidak meledak keluar dari mulutku bukan hanya itu saja, ku tutupi mulut ini mengunakan hijab pashmina yang sedang melekat di kepalaku tapi itu tetap saja tidak membantu, aku semakin mual dan memuntahkannya
Aku berhenti berjalan dan memuntahkan semua isi perutku, "Uwek...!! Maaf Fikri, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," ucapku kepada Fikri, yang berada di sebelahku.
"Ngak papa, Alisya." Balas Fikri kepadaku.
Kami pun melanjutkan kembali perjalanan yang hampir sampai ke mesjid. Ketika sudah memasuki area mesjid, aku melihat mayat yang tergeletak kaku di atas aspal. Terlihat tubuhnya sudah tercabik-cabik, darah kental di sekujur tubuhnya, mata yang melotot dan mulut terbuka lebar seakan-akan ini baru saja terjadi.
"Dia...!!" ucapku kaget.
Aku sangat kaget melihat mayat tersebut, dia adalah teman sekelas ku. Ini tidak bisa di percaya padahal kami baru saja berdebat beberapa jam yang lalu, dan dia sekarang tergeletak kaku.
Kantung mataku tidak bisa lagi menahan beratnya air mata, sedangkan kakiku tidak bisa berdiri dengan tegak seperti pohon yang mau tumbang, dan nafasku terasah sesak sekali. Aku mulai menangis terisak-isak memandanginya, sedangkan Fikri yang menyadari hal tersebut mencoba menghalangi pandanganku mengunakan tubuhnya.
"Ri, Rio...!! I, itu. Rio kan? Fik, itu Rio kan?" tanyaku kepada Fikri, yang mencoba menggeserkan tubuhnya yang telah menghalangi pandanganku.
"Tenanglah, Alisya. Semua akan baik-baik saja," Fikri mencoba menenangkanku, aku terus saja melihat kearah Rio yang tergeletak tepat dibawah kaki Fikri.
Aku terus mendorongnya dan melihat kearah Rio dari celah kedua kaki Fikri. Aku sangat yakin kalau kejadian ini barusan saja terjadi, karena tidak terlihat bekas tusukan di bagian kepalanya. Tiba-tiba saja tangan Rio bergerak dan matanya melihat kearah ku, dan memegang kaki Fikri.
"Awas, Fik!!" teriakku yang masih melihat Rio.
Fikri melihat kebawa dan mengentakkan kakinya, tapi genggaman Rio sangatlah kuat. Fikri menginjak kepada Rio dengan sangat kuat dengan berulangkali, hingga akhirnya kepala Rio retak dan pecah. Terlihat otaknya tercecer dan wajahnya tak bisa di kenali lagi.
Aku yang masih melihat kejadian ini tak mampu berkata-kata lagi, hanya bisa menutup wajah dengan kedua tanganku.
Ya Tuhan!! Aku biasanya melihat kejadian ini hanya di game atau di film, tapi sekarang semua ada di depan mataku. Batinku.
Fikri melihat ke arahku dan berjalan menghampiri, "Alisya!!" sahutnya.
"Rio!!" ucapku yang masih melihat ke bawa dari celah-celah jariku.
"Tenanglah, Alisya. Aku akan selalu bersamamu!!" jelas Fikri yang memegang pipiku dan mengarahkan wajahku ke hadapannya, "apakah kau akan sesedih ini, kalau aku berada di posisinya?" tanya Fikri penasaran.
Aku menatapnya dengan penuh keheranan, "apakah kau sudah tak waras? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu!! Apakah kau benar-benar ingin meninggalkanku??" Aku menatap matanya dengan sangat dalam dan melihat senyum di bibirnya.
Dia menarikku kedalam pelukannya dan berkata, "perkataanmu mampu membuatku tenang, Alisya. Dan aku sangat yakin kalau sebenarnya kau, gak mau kehilanganku."
Aku sangat kaget mendengar perkataan Fikri, apakah dia masih menungguku?. Batinku.
Aku yang terhanyut dalam pelukannya dan melingkarkan tanganku ke pinggangnya. Aku merasakan otot-otot yang begitu kekar dan aroma tubuhnya yang mampu membuatku lebih tenang.
Fikri.
Fikri adalah teman baikku, tapi tidak saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus ini. Dia adalah orang yang sangatku benci, kami selalu adu mulut ketika berjumpa. Seperti (Tom and Jerry 😁). Bagaimana bisa aku akur dengannya? Kalau dia selalu saja mengejekku, itu sangat membuatku kesal!! Tapi dengan berjalannya waktu, kami menjadi sahabat dan semakin dekat. Hingga akhirnya dia mampu membuatku melupakan, Fadli. Aku tidak pernah menceritakan mengenai Fadli pada siapapun termasuk kepada, Fikri. Dan Amel tidak pernah membahas mengenai Fadli, semenjak aku sudah putus darinya. Setelah mengikuti acara itu hatiku telah terbuka, dan memutuskan untuk tidak pacaran lagi. Tapi bagaimana bisa, aku tetap bertahan dengan keputusan yang aku ambil ini. Ingin rasanya aku berlari dan mengambil keputusan yang tepat, tapi hati dan pikiranku sangatlah berlawanan. Saat ini aku benar-benar bingung!! Beberapa bulan yang lalu, Fikri mengutarakan perasaannya kepadaku. Sedangkan hari ini!! Aku baru saja mengirimkan chat ke Fadli Setelah sekian lama, yang tak pernah saling menanyak kabar setelah kami putus. Aku harus apa sekarang? Apakah aku harus lari dan mengikuti hatiku ataukah aku harus menyesal, tentang apa yang sudah aku putuskan? Aku bingung sekali!!.
"Tetaplah bersamaku, Alisya," jelas Fikri kepadaku yang melepas pelukannya dan menatapku dengan penuh cinta. Aku hanya tersenyum sambil memandanginya. Tapi tiba-tiba saja terlihat dari arah belakang Fikri tepatnya di balik kaca mesjid terlihat ada yang sedang memperhatikan kami.
Siapa itu, apakah dari tadi dia memperhatikan kami?. Batinku.
Aku menolak pelan tubuh Fikri dan melangkah mundur.
"Ada apa, Alisya?" tanya Fikri heran.
"Kita harus cepat pergi dari sini, sebelum zombie-zombie itu menghampiri kita!!" jelasku kepadanya.
"Baiklah" balas Fikri nurut.
Kamipun berjalan menuju mesjid dan mendekati pintu. Tok, tok, tok!! Fikri mengetuk pintu memastikan bahwa mereka masih berada didalam dan beberapa saat kemudian pintu mesjid pun terbuka, terlihat Rizqi dan Alwi berdiri didepan pintu kami masuk kedalamnya dan mereka dengan cepat menutup kembali pintu tersebut.
"Alisya!! Kau ngak papakan?" tanya Amel yang sedang duduk bersama dengan semua teman kami. Amel berjalan menghampiriku dan memelukku, "kau baik-baik saja kan?"
"Iya, aku ngak apa-apa kok," balasku yang masih didalam pelukannya, tiba-tiba saja Amel melepaskan pelukannya dan mencubit pelan pipiku, "aduh!! Sakit tau, Melek."
Amel melepaskan cubitannya dan berkata, "kenapa tadi kau ngak ikut berlari bersama kami?? Untung saja Fikri melihatmu!! Tapi kalau tidak? Kau tentu saja sudah menjadi zombie!! Apakah kau tidak menyadari itu," jelas Amel kesel.
dan InsyaAllah, sekarang sudah mulai aktif lagi nulis😁
do'a kan ya... semoga saja Alisya bisa nulis novel yang baik 🙏🥰
boom like untuk karya terbaikmu
semangat trs menulisnya^^
Akan Ku Pantau Selalu Hehee,😉