NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinyal Cinta

Bara akhirnya mendongak. Di sela-sela uap tipis yang mengepul dari mesin espresso, tatapan mata mereka bertemu. Ada keheningan singkat yang tercipta di tengah bisingnya lagu indie yang diputar kafe. Senyum tipis yang sejak tadi ditahan Bara—senyum yang terasa begitu mahal—akhirnya terbit juga di wajahnya.

​"Cuma cokelatnya yang enak? Orangnya enggak?" goda Bara dengan suara yang sangat rendah, nyaris berbisik.

​Laras merasakan panas merambat ke pipinya, lebih panas daripada uap mesin espresso di depan mereka.

"​Orangnya... galak," gumam Laras, mencoba menetralkan degup jantungnya.

"Dari tadi mukanya kayak mau makan orang. Alisnya nyambung terus, serem."

Bara terkekeh pelan. Suara tawa itu terdengar begitu renyah di telinga Laras, suara yang diam-diam sangat ia rindukan.

Bara mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat ke arah Laras.

​"Dia siapa?" tanya Bara. Sorot matanya kini lebih tenang, namun tetap menyimpan rasa ingin tahu yang besar.

​"Ehm... kerabat," jawab Laras singkat. Ada nada gugup yang terselip dalam suaranya.

​"Oh, aku kira pacar...," sahut Bara santai, meski matanya menatap lekat-lekat reaksi Laras.

​"Pacar? Astaga, enggaklah!" Laras spontan mendongak, matanya membelalak panik seolah tidak ingin Bara salah paham sedetik pun.

"Tuh, pacarnya yang duduk di sana," tambahnya sambil memberikan kode dengan gerakan dagu ke arah gadis modis di meja sudut.

Mendengar itu, Bara tersenyum. Kali ini bukan sekadar senyum tipis, melainkan senyum manis yang membuat kedua matanya menyipit ramah. Senyum yang membuat pertahanan Laras runtuh seketika.

​Namun, momen hangat itu terganggu oleh derap langkah kaki yang mendekat. Denandra kembali dari toilet dengan gaya perlente-nya yang khas. Ia berjalan santai menghampiri Laras yang masih berdiri di depan meja bar.

​Denandra menatap Bara, lalu beralih ke Laras, seolah sedang membaca situasi yang terjadi di antara mereka

​"Pacarnya Laras?" tanya Denandra blak-blakan, menatap Bara dengan penuh selidik namun jenaka.

​Laras hampir saja tersedak udara, wajahnya kini merah padam karena malu. Namun, jawaban yang keluar dari mulut Bara justru membuatnya semakin terpaku.

​"Masih belum," jawab Bara tenang. Singkat, padat, dan sangat berani.

​Laras menoleh ke arah Bara dengan mata membulat. Jantungnya kini seperti sedang maraton. Masih belum? Apa maksudnya?

​Denandra tertawa renyah, ia tampak terkesan dengan jawaban lugas cowok di balik meja bar itu.

"Ooh... masih belum. Berarti bisa jadi pacar dong nantinya?"

​"Aamiin," sahut Bara cepat, tanpa ragu sedikit pun.

​"Apaan sih, kalian!" Laras membuang muka, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai merekah paksa di bibirnya karena malu yang luar biasa.

​Denandra kemudian menyodorkan tangannya ke arah Bara dengan gaya gentleman.

"Gue Denandra, temannya Laras," ucapnya,

Bara menyambut jabatan tangan itu dengan mantap. "Gue Bara."

​"Senang bisa kenalan sama lo. Ya udah, lanjut aja dulu kalian, Gue balik ke pacar gue dulu, ya," ujar Denandra lalu melenggang pergi.

Kini, di depan meja bar itu, keheningan kembali tercipta. Namun kali ini, keheningan itu terasa jauh lebih manis.

"Ehm... kamu enggak capek berdiri terus di situ?" tanya Bara, suaranya memecah keheningan.

​Laras menoleh, menyandarkan sikunya di atas meja bar kayu yang mengilap.

"Daripada aku harus jadi obat nyamuk di sana, mending aku di sini. Ngobrol sama kamu. Boleh, kan?"

​Bara tertegun sejenak. Ada rona merah samar yang mendadak muncul di balik kulitnya yang kecokelatan.

"Boleh aja. Kebetulan lagi sepi juga. Padahal ini malam Minggu, tumben ya?"

​"Mungkin karena tanggal tua?" lanjut Bara sambil terkekeh pelan.

​Laras mengangguk, ikut tersenyum tipis. "Mungkin."

​Hening kembali menyapa, namun kali ini Laras memberanikan diri untuk bertanya.

"Bar... kamu kenapa bilang 'Aamiin' tadi? Maksudnya apa?"

​Mendengar pertanyaan itu, Bara menghentikan kegiatannya mengelap gelas. Ia mencondongkan tubuh ke arah meja bar, membuat jarak di antara mereka terkikis hanya dalam hitungan jengkal. Seketika, aroma kopi yang kuat bercampur dengan wangi maskulin khas Bara menyerbu indra penciuman Laras, membuatnya seolah kehilangan napas.

​"Aku enggak pernah main-main soal doa," bisik Bara.

Suaranya rendah, berat, dan terdengar begitu tulus tepat di depan wajah Laras.

"Apalagi kalau doanya soal kamu."

​Laras seketika menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini sudah semerah tomat matang. Sementara itu, Bara hanya nyengir lebar, menikmati keberhasilannya menggoda gadis di depannya hingga salah tingkah.

​Kesempatan itu tak berlangsung lama. Dari kejauhan, Denandra melambai dan memanggil Laras, memberi isyarat bahwa mereka harus segera beranjak.

​"Aku pamit dulu ya, Bar," pamit Laras pelan.

​"Iya. Sampai ketemu Senin di sekolah, ya," jawab Bara dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Laras membalikkan badan, namun ia sempat melambaikan tangannya dengan gerakan sedikit manja sambil tersenyum malu-malu.

"Dadaaaah!"

​Bara tertawa kecil, membalas lambaian tangan itu. Siapa pun yang melihat mereka saat ini pasti akan sepakat bahwa atmosfer di meja bar itu terasa begitu menggemaskan.

​"Ras!" panggil Bara saat Laras mulai melangkah menjauh.

​Laras menoleh kembali.

​"Kalau mau ketemu aku, kamu tahu kan harus cari di mana?" ujar Bara dengan kerlingan mata.

​Laras mengangguk pasti, tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. Dari kejauhan, Denandra yang menyadari interaksi itu ikut melambaikan tangan ke arah bar sebagai tanda hormat sesama lelaki. Bara hanya membalasnya dengan anggukan tegas, sementara matanya tetap mengawal punggung Laras hingga gadis itu menghilang di balik pintu kafe.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Setelah meninggalkan kafe, Mini Cooper S berwarna merah milik Denandra meluncur lincah membelah jalanan. Di kursi depan, Aurel tampak asyik mengutak-atik playlist lagu di layar sentuh dasbor yang melingkar ikonik, sementara Laras menyandarkan kepalanya di jok bagian belakang, menatap jalanan. ​Mobil itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah dengan pagar putih.

​"Sampai, Sayang," ucap Denandra lembut sambil mematikan mesin.

​Aurel menegakkan duduknya, lalu menoleh ke belakang untuk berpamitan pada Laras.

"Laras, aku seneng bisa kenalan sama kamu. Next, ikut lagi ya,"

Laras tersenyum tulus.

"Iya. Sama-sama. Aku juga seneng kenalan sama kamu."

Aurel kembali menatap Denandra. Tanpa ragu, ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Denandra singkat namun mesra—sebuah ciuman selamat tinggal yang penuh perasaan di hadapan Laras.

​Laras refleks membuang muka ke luar jendela samping, berpura-pura sibuk memperhatikan pagar rumah Aurel untuk memberikan sedikit privasi pada kedua orang kasmaran itu. Ya, meskipun hatinya sedikit mencelos melihat kemesraan yang begitu terang-terangan.

​"Kabari kalau sudah sampai rumah, ya," bisik Aurel setelah melepaskan ciumannya, lalu ia turun dari mobil dengan senyum merekah.

Laras ikut membuka pintu belakang dan turun.

"Aku sekalian pindah ke depan ya, Ndra," serunya pelan.

"Hati-hati ya kalian" Aurel melambaikan tangannya dengan manja.

Laras mengangguk, tersenyum, membuka pintu depan mobil dan duduk di samping Denandra. Aroma parfum Aurel masih tertinggal samar di jok itu.

Denandra mulai menjalankan kembali mobilnya perlahan menuju rumah Laras

"Aurel cantik banget ya, Ndra. Ceria. Terus sayang sama kamu" kata Laras jujur.

"Iyalah. Gueeee gituuuu," jawab Denandra menyombongkan diri.

"Eh, tapi cowok tadi gentleman juga." lanjutnya.

"Maksudmu Bara?"

Senyum kecil di bibir Laras tidak bisa disembunyikan. Denandra meliriknya, lalu terkekeh pelan sambil memutar setir.

​"Ekhem... yang lagi bucin," sindir Denandra.

"Apa sih?"

Laras seketika membuang muka ke arah jendela samping, wajahnya kembali panas teringat Bara.

1
Ros 🍂
semangat ya Thor 💪🏽
Ijin mampir🙏
penavana: thankyouuuu
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Kaaaaan.... bah ternyata bukan kulkas pintu seratus, tapi manusia yang perlu penakhluk. mana si putri lagi
Faeyza Al-Farizi
modus....modus.... gak usah dipinjemin ndoro... 😌😌😌😌
Faeyza Al-Farizi
Nah kan.... yang waras gitu loh
Faeyza Al-Farizi
ya bukan berarti dia yang godain bujang..... bisa-bisanya, makanya gak usah pacaran, 😌
Faeyza Al-Farizi
Heh sabun Wing gak usah ngadi-ngadi, kamu yang pertama bangunin macan tidur, udah tau lawannya membara, malah di pancing 🫵, lagian gak bisa gitu anteng orang sekola kok nantang2
Faeyza Al-Farizi
sumpah seru bagian ini, berasa kembali ke jaman pas awal-awal demen novel. seger banget hawanya 😌😌
Faeyza Al-Farizi
cupu amat make nama bapak, HUUUUUUUUUU 🫵🫵🫵🫵🫵🫵
Faeyza Al-Farizi
ngebayangin Laras, lari buat nolongin. 😌
Faeyza Al-Farizi
sumpah habis ini kamu kemana-mana punya pengawal pribadi😌
Faeyza Al-Farizi
ketahuan bohong kau 😌😌
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 bisa-bisanya ada kebetulan model gini 😭😭
penavana: fakta nih kaak 🤭
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Bara, heh... tapi paham sih aku, emang modelan kamu paling hapalnya nama guru BK, gadis unceran sama pak satpam 😌
Faeyza Al-Farizi
heeeee preman nyuruh ndoro agung buat ndatengin, berani amat 🫵
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini intuisinya kuat banget 😱
Adi Lima
ya kalo gitu pesan ayam geprek online aja, suruh kurir taroh di sekuriti, terus numpang makan di situ 😄🤣🤣🤣🤣
Adi Lima
Biar bapak yang kasih Tips & Trik untuk ngelawan secara intelek 😄🤣
Adi Lima
oooooh, jadi berani melawan itu pertanda kedewasaan
Adi Lima
yaaaah, shutdown lagi... mungkin dipandang soal ini si Laras gak perlu tau detilnya 🤣
Adi Lima
eh, surprise, ternyata ibunya penuh pengertian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!