NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Di dalam mobil Bentley yang melaju membelah malam menuju gedung Valerine Jewels, keheningan terasa begitu berat. Xavier duduk di sampingnya, sibuk memberikan instruksi lewat telepon tentang pengambilalihan aset, sementara Aeryn hanya menatap kosong ke arah buku harian ibunya yang ia dekap erat.

"Semua sesuai rencana," ucap Xavier setelah mematikan ponselnya. Ia melirik Aeryn. "Dirgantara Group dinyatakan pailit secara teknis malam ini. Polisi sudah mulai menginterogasi Maya dan melacak aliran dana Kaelan. Kau menang, Aeryn."

"Menang?" Aeryn tertawa getir tanpa sedikit pun binar kebahagiaan di matanya. "Aku baru saja meruntuhkan satu rumah kartu, Xavier. Tapi aku belum menemukan pondasi dari kebohongan ini."

"Baskara sudah menunggumu di kantor pusat. Dia sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya," kata Xavier datar. "Jangan biarkan dia bicara. Langsung hantam dengan dokumennya."

Gedung Valerine Jewels tampak suram di bawah langit mendung Jakarta. Di lantai paling atas, di dalam kantor yang selama ini menjadi simbol kekuasaan ayahnya, Aeryn menemukan Baskara Valerine sedang mengemasi beberapa barang ke dalam koper kulit. Wajah pria itu tampak jauh lebih tua sepuluh tahun. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan.

Di sudut ruangan, Kaelan terduduk di lantai dengan tangan terborgol, dijaga oleh dua petugas polisi. Ia terus meracau tentang sabotase, namun tidak ada yang mendengarkan.

"Aeryn!" Baskara mendongak, matanya berkilat antara harapan dan kemarahan. "Bagus kau datang. Kau harus bicara pada Xavier. Kaelan... bajingan ini yang merusak semuanya! Dia mencuri desain itu tanpa izinku. Aku tidak tahu apa-apa! Kita harus bersatu untuk menyelamatkan nama Valerine."

Aeryn melangkah masuk, suara hak sepatunya bergema dingin di atas lantai marmer. Ia tidak mendekat ke meja ayahnya. Ia berdiri di tengah ruangan, membiarkan Xavier tetap berada di ambang pintu sebagai bayangan yang mengintimidasi.

"Menyelamatkan nama Valerine?" Aeryn bertanya, suaranya jernih namun penuh racun. "Nama yang kau curi dari Ibu? Nama yang kau bangun di atas penderitaan Maryam?"

Baskara mematung. Tangannya yang sedang memegang bingkai foto keluarga gemetar. "Apa yang kau bicarakan? Ibumu meninggal karena sakit, Aeryn. Aku sudah menceritakannya ribuan kali."

"Jangan berbohong lagi, Papa!" teriak Aeryn, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan bertahun-tahun. Ia melemparkan buku harian ibunya ke atas meja kerja Baskara. "Aku sudah menemui Pak Herman. Aku sudah membaca setiap kata yang ditulis Ibu di dalam penjara. Kau menjebaknya. Kau membiarkannya membusuk di sel agar kau bisa mematenkan desainnya sebagai milikmu!"

Baskara menatap buku itu seolah-olah itu adalah hantu yang bangkit dari kubur. Wajahnya memucat pasi. "Herman... pria tua sialan itu seharusnya tetap diam."

"Jadi itu benar?" Aeryn melangkah mendekat, matanya memerah. "Kau menukar nyawa Ibu dengan gedung ini? Kau menukar kebahagiaannya dengan takhta palsu ini?"

"Kau tidak mengerti, Aeryn!" Baskara membela diri, suaranya meninggi. "Perusahaan ini hampir bangkrut saat itu! Desain ibumu adalah satu-satunya cara kita bisa bertahan. Aku melakukannya untukmu! Agar kau bisa tumbuh sebagai putri seorang jutawan, bukan anak dari seorang desainer miskin di Kalimantan!"

"Kau melakukannya untuk egomu sendiri!" sahut Aeryn telak. "Dan sekarang, ego itu akan menghancurkanmu."

Xavier melangkah maju, menyerahkan sebuah map hitam kepada Baskara. "Tuan Valerine, silakan baca dokumen ini. Selama enam jam terakhir, Arkananta Group telah membeli delapan puluh persen utang macet Valerine Jewels dari bank kreditor. Dan sebagai pemegang utang terbesar, kami baru saja melakukan eksekusi jaminan."

Baskara membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak membaca baris demi baris dokumen hukum tersebut. "Ini... ini tidak mungkin. Hak kepemilikan gedung dan seluruh stok perhiasan..."

"Semuanya sudah dialihkan atas nama Aeryn Arkananta," sela Xavier dingin. "Secara hukum, kau bukan lagi pemilik tempat ini. Kau bahkan tidak punya hak untuk mengambil pulpen dari meja itu."

Aeryn menatap ayahnya yang kini tampak kecil dan tak berdaya. Pria yang dulu ia puja sebagai pahlawan kini hanyalah seorang pencuri yang tertangkap basah.

"Kaelan akan dibawa ke kantor polisi malam ini," ucap Aeryn sambil menunjuk ke arah mantan tunangannya yang masih meracau. "Dan kau, Papa... aku tidak akan menjebloskanmu ke penjara. Itu terlalu mudah. Aku ingin kau pergi dari sini tanpa membawa sepeser pun. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing di rumah yang kau bangun dengan darah orang lain."

"Aeryn, kau tidak bisa melakukan ini pada ayahmu sendiri!" Baskara memohon, mencoba meraih tangan Aeryn.

Aeryn menarik tangannya dengan muak. "Ayahku sudah mati saat dia membiarkan Ibuku mati kesepian di penjara. Keluar dari sini, Baskara. Sekarang. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu seperti sampah."

Baskara menatap Xavier, mencari sedikit belas kasihan, namun ia hanya menemukan dinding es. Dengan bahu yang merosot, Baskara mengambil tasnya—yang langsung dirampas oleh petugas keamanan Arkananta untuk diperiksa isinya—dan berjalan keluar melewati Aeryn tanpa berani menatap matanya.

Satu jam kemudian, kantor itu sunyi. Kaelan sudah dibawa pergi, dan Baskara telah menghilang ke dalam kegelapan malam. Aeryn berdiri di depan jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta yang kini seolah berada di bawah kakinya.

Ia seharusnya merasa menang. Ia seharusnya merasa lega. Namun, dadanya terasa hampa. Di tengah kemewahan kantor ini, ia justru merasa lebih sendirian.

Xavier mendekatinya, berdiri di belakangnya tanpa menyentuh. "Gedung ini milikmu sekarang, Aeryn. Besok, kita akan mengganti papan namanya menjadi Valerine’s Secret secara permanen."

"Kenapa rasanya tidak enak, Xavier?" bisik Aeryn. "Aku sudah menghancurkan mereka. Aku sudah mengambil kembali apa yang menjadi hak Ibuku. Tapi kenapa rasanya aku masih tidak memiliki apa-apa?"

Xavier diam sejenak. "Kemenangan seringkali hanyalah awal dari rasa sepi yang baru. Kau harus terbiasa dengan itu jika ingin tetap berada di puncak."

Aeryn berbalik, menatap Xavier lekat-lekat. "Kau membantuku karena kau juga membenci ayahku? Atau karena kau ingin menguasai bisnis ini lewat tanganku?"

Xavier tidak menjawab. Matanya yang gelap memantulkan cahaya kota, menyembunyikan segala emosi. "Malam ini bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan motifku, Aeryn. Pulanglah. Kau butuh istirahat."

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke mansion, ponsel Aeryn bergetar. Ia berharap itu adalah pesan dari tim legalnya tentang dokumen aset, namun saat melihat nama pemanggilnya, jantungnya berdegup kencang.

"Halo?" Aeryn mengangkat telepon itu.

"Nyonya Aeryn..." suara Suster Rina dari rumah sakit terdengar tersedu-sedu. "Saya... saya minta maaf. Ini soal Tuan Herman."

Aeryn menegakkan duduknya, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. "Ada apa dengan Pak Herman? Dia baik-baik saja saat aku meninggalkannya tadi siang."

"Tuan Herman baru saja ditemukan meninggal di kamarnya, Nyonya," suara perawat itu pecah. "Dokter bilang ini serangan jantung mendadak, tapi... tapi saya melihat seseorang berpakaian serba hitam keluar dari kamarnya beberapa menit sebelum perawat jaga masuk. Dan pintu darurat di lantai itu terbuka paksa."

Aeryn merasa seluruh darahnya tersedot keluar dari wajahnya. "Apa? Dia dibunuh?"

"Kami tidak tahu, Nyonya. Tapi ada satu hal lagi... buku-buku catatan yang biasanya dia simpan di bawah bantalnya... semuanya hilang. Kamarnya berantakan seperti ada yang mencari sesuatu."

Aeryn menjatuhkan ponselnya ke pangkuannya. Ia menoleh ke arah Xavier yang tampak tetap tenang, meskipun ia yakin pria itu mendengar percakapan barusan.

"Xavier," bisik Aeryn, suaranya bergetar. "Pak Herman meninggal. Seseorang membunuhnya."

Xavier mengernyitkan dahi, namun ekspresinya tetap terkendali. "Aku akan menyuruh Hugo memeriksa rumah sakit sekarang."

"Tidak," Aeryn menggeleng kepala, matanya dipenuhi ketakutan yang murni. "Seseorang sedang mencoba menghapus jejak masa lalu Ibu. Seseorang yang lebih berbahaya dari Kaelan atau Papaku. Seseorang yang tahu bahwa Pak Herman adalah kunci terakhir."

Aeryn menatap tangan Xavier yang berada di atas kemudi. Ia teringat foto ibunya di laci Xavier. Ia teringat janji misterius Xavier. Apakah Xavier benar-benar pelindungnya, ataukah pria di sampingnya ini adalah bagian dari bayangan yang sedang mencoba membungkam sejarah?

Kemenangannya baru saja berakhir, namun ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam sarang naga yang jauh lebih mematikan.

Aeryn memalingkan wajahnya ke jendela, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Saat mobil memasuki gerbang mansion Arkananta yang megah, petir menyambar di kejauhan, menandakan badai besar yang akan segera tiba.

Ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sama dengan yang mengiriminya kartu nama hotel tempo hari:

"Herman hanyalah awal. Berhenti menggali, Aeryn. Atau lili berikutnya yang layu adalah kau sendiri. Arkananta tidak menyelamatkanmu, dia hanya menunggumu untuk cukup matang sebelum dipetik."

Aeryn meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Ia melihat ke arah Xavier yang kini turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya dengan sopan santun seorang ksatria—yang kini terlihat seperti eksekutor di mata Aeryn.

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!