Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Sabtu pagi di Beverly Hills selalu penuh dengan aroma kemewahan. Logan, yang biasanya menghabiskan akhir pekan dengan memacu adrenalin atau tidur hingga siang, kini harus menyerah pada tugas negara: mengawal sang Mommy, Isabella-Valerio, melakukan ritual kecantikannya.
Logan tampak seperti pemuda normal pada umumnya; mengenakan kaos putih polos yang melekat pas di tubuh atletisnya dan celana kargo. Ia dengan sabar membawakan tumpukan tas belanja dari berbagai butik ternama. Isabella berjalan di sampingnya dengan bangga, sesekali menyapa kenalannya dengan senyum lebar.
"Lihatlah putraku, Marcus benar-benar mencetaknya dengan sempurna," puji Isabella pada salah satu temannya yang mereka temui. Logan hanya bisa tersenyum sopan, meski batinnya sudah meronta ingin pulang.
Puncak penderitaannya tiba saat mereka sampai di sebuah salon dan spa eksklusif. "Mom, boleh aku ke tempat biliar di seberang sana? Ini benar-benar membosankan. Aku bisa mati mengering menunggu aroma aromaterapi ini," keluh Logan dramatis saat mereka sampai di depan pintu ruang perawatan.
Isabella berbalik, menatap putranya dengan tatapan maut yang dibalut kelembutan. "Tidak, Sayang. Kau harus melatih diri. Ini adalah simulasi untuk istri masa depanmu nanti. Kau harus belajar menunggu dengan sabar sementara wanitamu mempercantik diri."
"Tapi Mom, ini salon wanita! Aku akan terlihat seperti pajangan di lobi," protes Logan lagi.
"Dua jam, Logan. Hanya dua jam. Awas kalau kamu kabur, Mommy akan memotong akses kartu kreditmu Minggu ini!" ancam Isabella sebelum melangkah masuk ke dalam area privat.
Logan mengembuskan napas kasar. Ia menyandarkan tubuhnya di meja reservasi, siap untuk tenggelam dalam kebosanan yang hakiki. Namun, detik berikutnya, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali sedang berbicara dengan resepsionis.
Vivian Wheeler.
Wanita itu mengenakan gaun musim panas yang simpel namun elegan, rambutnya disanggul asal, menonjolkan leher jenjangnya yang indah. Vivian tampak sedang mengonfirmasi jadwal perawatan full body spa.
Logan seketika berdiri tegak, kebosanannya menguap digantikan oleh kilat nakal di matanya. "Sayang? Kau di sini?"
Vivian tersentak, menoleh dengan mata membelalak. "Logan? Kau... apa yang kau lakukan di salon wanita?" Ia menatap sekitar dengan waspada. "Kau di sini bersama... kekasihmu?"
"Enak saja! Aku sedang jadi pengawal Mommy," jawab Logan sambil mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia menatap Vivian dengan lapar. "Kau mau melakukan perawatan? Ruangan mana?"
"Area privat di dalam. Kenapa?"
Ide gila melintas di kepala Logan. Ia merasa ini adalah kesempatan emas daripada harus duduk mematung di lobi selama dua jam. "Boleh aku masuk ke ruangan mu? Di sini membosankan sekali, Vivian. Aku bisa gila menunggu Mommy sendirian."
Vivian menggelengkan kepalanya cepat. "Kau gila? Itu area terlarang untuk pria, Logan! Dan aku akan melakukan spa!"
"Ya, aku gila karena mu, Sayang. Ayolah, aku janji hanya akan bermain ponsel di pojokan. Aku tidak akan mengganggumu. Daripada aku mati bosan di sini," bujuk Logan dengan wajah memelas yang sulit ditolak.
Vivian menghela napas panjang, melihat wajah memohon "bocah" ini membuatnya tidak tega. "Baiklah. Tapi awas saja kalau kau berani berpikir mesum atau mengintip. Tetap di kursi pojok!"
Di dalam ruangan spa yang tenang dengan pencahayaan redup dan musik instrumental yang lembut, Vivian kini hanya tertutup selembar kain putih tipis setelah terapis menyiapkan perlengkapan. Logan benar-benar duduk di kursi pojok, namun matanya sama sekali tidak tertuju pada ponsel.
Pandangannya tertuju pada Vivian yang sedang bersiap di atas tempat tidur perawatan. Meskipun tertutup kain, lekuk tubuh Vivian tetap terlihat jelas di bawah pencahayaan yang temaram.
"Kau tahu, Sayang..." suara Logan memecah keheningan, terdengar sangat berat dan dalam. "Aku baru perhatikan dari sudut ini... ternyata bokong mu seindah itu. Gaunmu tadi benar-benar menyembunyikan mahakarya."
"Logan! Tutup matamu atau keluar!" desis Vivian, wajahnya merah padam meski ia sedang dalam posisi telungkup.
"Aku hanya mengagumi ciptaan Tuhan, Sayang. Kau cantik sekali saat sedang rileks begini," lanjut Logan, suaranya makin mendekat. Ia bangkit dan berdiri di samping tempat tidur Vivian, menatap bahu wanita itu yang terbuka. "Kenapa kau harus seksi setiap saat? Kau membuat kontrak ini terasa sangat berat untukku."
Vivian merasa menyesal telah mengizinkannya masuk. Rayuan Logan benar-benar membuatnya tidak bisa rileks. Namun, mereka tidak menyadari satu hal.
Di balik pembatas ruangan yang hanya berupa tirai kain tebal, Isabella-Valerio sedang berbaring untuk perawatan wajahnya. Awalnya, ia merasa terganggu dengan suara pria yang berbicara di ruang sebelah. Suara itu terasa sangat familiar di telinganya.
Tunggu, itu suara Logan? batin Isabella.
Ia mempertajam pendengarannya. Suara itu makin jelas, nada bicaranya yang penuh gombalan dan rayuan maut—yang biasanya hanya ia dengar saat Logan sedang merayunya untuk membeli sesuatu—kini ditujukan pada seorang wanita.
Sejak kapan Logan bisa menggombal seberani itu? Dan dia masuk ke ruang spa wanita?
Isabella mulai merasa curiga. Sebagai ibu, ia tahu putranya memang populer, tapi melihat Logan sampai nekat masuk ke area privat spa demi seorang wanita adalah hal baru. Rasa penasaran Isabella memuncak saat mendengar Logan memanggil wanita itu "Sayang" dengan nada yang begitu intim.
Sudah tidak sabar lagi, Isabella menyambar jubah mandinya. Dengan gerakan cepat, ia melangkah menuju pembatas ruangan dan menyikap tirai tebal itu dengan satu sentakan keras.
"LOGAN ENVER-VALERIO! APA YANG KAU—"
Kalimat Isabella terputus saat matanya menangkap pemandangan di depannya: Putranya sedang berdiri di samping tempat tidur seorang wanita cantik yang hanya tertutup kain, dan wanita itu—yang tampak sangat terkejut—adalah Vivian Wheeler.
Suasana seketika membeku. Logan mematung dengan tangan yang nyaris menyentuh bahu Vivian, sementara Vivian ingin rasanya menghilang dari muka bumi saat itu juga.
"Mommy?!" ucap Logan terbata.
Isabella menatap putranya, lalu menatap Vivian, dan kembali ke putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi... ini alasanmu tidak mau menunggu di luar?"
gimana bisa ada gunung Argopuro ya