NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Residu Oli dan Ketulusan

Malam Minggu di rumah Lulu menyisakan gema yang berisik di kepala Aruna. Kalimat Lulu dan Jelita terus berputar seperti piringan hitam yang rusak, mengingatkannya bahwa kenyamanan di dalam mobil ber-AC milik Adrian hanyalah penangguhan dari rasa rindu yang sebenarnya.

Maka, sore itu, alih-alih pulang ke rumah untuk belajar, Aruna meminta taksi daring untuk menurunkannya di sebuah persimpangan jalan yang gersang, tempat sebuah papan kayu bertuliskan "Bengkel Jago" berdiri miring.

Aroma ban terbakar, residu oli, dan keringat langsung menyergap indra penciumannya. Aruna berjalan perlahan, menjinjing tas kain berisi nasi bungkus panas dan beberapa botol minuman energi.

Di sudut bengkel, di bawah lampu neon yang berkedip payah, ia melihat punggung yang sangat ia kenali.

Aska sedang merangkak di bawah kolong sebuah mobil tua, hanya kakinya yang terlihat mencuat keluar. Suara denting kunci pas yang beradu dengan logam terdengar ritmis, diselingi napas yang berat.

"Ka," panggil Aruna pelan.

Suara denting itu berhenti seketika. Sosok di bawah mobil itu meluncur keluar menggunakan papan seluncur mekanik. Begitu wajahnya muncul, Aruna hampir ingin menangis. Wajah Aska nampak jauh lebih tirus, matanya merah karena kurang tidur, dan noda hitam oli menempel di pipi serta keningnya.

Aska tertegun. Ia segera bangkit, mengelap tangannya yang menghitam ke kain majun yang tak kalah kotornya. "Na? Ngapain lo di sini? Ini udah mau gelap, nggak aman buat lo."

"Gue mau nemenin lo," jawab Aruna tegas, ia duduk di atas kursi plastik pendek yang biasanya digunakan para tukang bengkel. "Gue nggak mau denger alasan 'sibuk' atau 'nggak aman'. Gue cuma mau duduk di sini sampai lo selesai."

Aska menghela napas, ia menyeka keringat di kening dengan punggung tangan, justru membuat noda hitam di wajahnya makin lebar. "Gue lagi kejar setoran, Na. Mobil ini harus beres malam ini juga kalau gue mau dapet bonus buat nebus obat Ibu. Lo mending balik deh, di sini kotor."

"Gue nggak peduli soal kotor, Ka," Aruna berdiri, meletakkan tas kainnya di atas meja kerja yang berantakan. Ia membuka bungkusan nasi itu, aroma ayam goreng dan sambal terasi langsung memenuhi ruangan sempit itu. "Makan dulu. Gue nggak bakal pergi sebelum lo habisin ini."

Aska menatap nasi itu, lalu menatap Aruna. Ada binar kelelahan yang luar biasa di matanya, tapi juga ada secercah kehangatan yang perlahan muncul. Ia menyerah. Ia duduk di lantai semen yang dingin, tepat di samping kaki Aruna, lalu mulai makan dengan lahap seolah itu adalah makanan pertamanya dalam seharian ini.

---

### Di Bawah Langit yang Sama

Selama Aska makan, Aruna tidak tinggal diam. Ia mengambil lap bersih yang masih tersisa di rak, lalu mulai mengelap bagian kap mobil yang sudah selesai dikerjakan Aska. Ia melakukan hal-hal kecil; menyingkirkan kunci-kunci yang sudah tidak dipakai, atau sekadar memegangi senter saat Aska harus kembali memeriksa bagian dalam mesin.

"Lo aneh, Na," ucap Aska di sela kunyahannya. "Biasanya cewek seumuran lo itu lagi nongkrong di kafe estetik, atau jalan sama cowok yang... ya, yang lebih panteslah."

Aruna tahu siapa yang dimaksud Aska. "Kak Adrian maksud lo? Gue emang sering jalan sama dia belakangan ini. Dia asyik, dia seru, dia nggak maksa gue belajar terus."

Tangan Aska yang memegang sendok plastik sempat berhenti sejenak, namun ia segera melanjutkan makannya. "Bagus kalau gitu. Dia bisa jagain lo lebih bener daripada gue yang cuma bisa kasih debu jalanan."

Aruna berhenti mengelap. Ia menunduk, menatap puncak kepala Aska yang berantakan. "Tapi Kak Adrian nggak punya cerita tentang aspal yang bikin gue merasa jadi manusia, Ka. Gue nyaman sama dia, tapi gue hampa pas lo nggak ada. Lo yang bikin gue berani keluar dari zona nyaman gue yang kaku. Harusnya gue yang ada di sini pas lo lagi jatuh, bukan malah asyik sendiri."

Aska terdiam cukup lama. Ia meletakkan bungkus nasinya yang sudah kosong. Ia mendongak, menatap Aruna dengan tatapan yang dalam. "Gue cuma nggak mau lo ikut susah, Na. Hidup gue lagi nggak bener sekarang. Gue ngerasa nggak pantes buat narik lo masuk ke lumpur gue."

"Gue yang milih buat masuk, Ka. Lo jangan mutusin sendiri mana yang pantes buat gue," balas Aruna, suaranya sedikit bergetar karena emosi.

---

### Gema Ketulusan

Malam makin larut. Aruna tetap di sana, duduk setia menemani Aska yang kembali berkutat dengan mesin. Tidak ada musik mahal atau lampu dekorasi yang indah, hanya suara jangkrik dan deru kendaraan dari kejauhan. Namun, bagi Aruna, inilah momen paling jujur yang ia rasakan dalam seminggu terakhir.

Aska sesekali mencuri pandang ke arah Aruna yang sedang serius membaca buku saku biologi di bawah lampu bengkel yang temaram. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman murni tanpa beban yang sudah lama hilang dari wajahnya. Kehadiran Aruna di bengkel kumuh itu memberinya kekuatan lebih besar daripada minuman energi mana pun.

"Na," panggil Aska saat ia selesai mengencangkan baut terakhir.

"Ya?"

"Makasih ya. Makasih udah mau liat sisi gue yang paling berantakan ini."

Aruna tersenyum, ia bangkit dan berjalan mendekati Aska. Tanpa peduli pada noda oli, ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Aska yang kotor dengan tisu basah yang ia bawa. "Kita semua punya sisi berantakan, Ka. Bedanya, lo berantakan karena berjuang. Dan itu yang bikin gue bangga punya temen kayak lo."

Saat mereka bersiap untuk pulang—dengan Aska yang memaksa mengantar Aruna meskipun ia harus memutar jalan jauh—sebuah mobil putih meluncur pelan di depan bengkel. Kaca jendela mobil itu turun sedikit, memperlihatkan sorot mata di balik kacamata yang menatap tajam ke arah mereka. Itu Adrian.

Adrian tidak berhenti, ia hanya lewat dengan kecepatan rendah sebelum akhirnya melesat pergi. Aruna tidak menyadarinya, namun Aska melihatnya dengan jelas.

Ia tahu, ketenangan yang ia rasakan malam ini hanyalah permulaan dari badai yang lebih besar. Tapi untuk saat ini, saat Aruna naik ke boncengan motor bututnya dan memeluk pinggangnya erat karena dinginnya angin malam, Aska merasa ia sudah cukup menang.

1
Alex
tambah Thor,
perasaan bacaku sdah pelan"🤭tapi kok masih kurang ya
Eti Alifa
bacanya udah pelan2 tpi perasaan kok cepat selesai🤭
Eti Alifa
klo q jd Aluna jg bingung🤭
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!