"Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 35: Ritual Penyatuan Roh di Tengah Kabut
"Siapa kau? Kenapa sukmaku terasa begitu sakit saat melihatmu?" tanya Vanya, matanya yang ungu berkaca-kaca menatap Raka.
"Vanya... aku butuh bantuanmu. Sekali lagi," bisik Raka.
Vanya mendekat, seolah ditarik oleh magnet takdir. Di bawah perlindungan perisai cahaya Raka, di tengah kepungan Ksatria Tanpa Memori yang mulai bangkit kembali, mereka harus melakukan ritual "Penyalaan Kembali Sukma."
Dalam suasana yang sangat mendesak dan penuh kabut kristal, Vanya melepaskan jubah peraknya. Di bawah cahaya Matahari Rekoneksi yang berpendar, raga mereka bersatu di atas hamparan debu bintang.
Raka merengkuh tubuh Vanya yang dingin, mencoba memberikan panas mataharinya, sementara Vanya memberikan esensi rohnya yang murni.
Penyatuan mereka kali ini terasa sangat berbeda. Setiap sentuhan Raka di kulit Vanya memicu kilatan memori singkat di benak Vanya, bayangan tentang pernikahan mereka, tentang pertempuran di Nexus, dan tentang cinta mereka.
Suara Vanya yang memburu dan rintihan nikmatnya yang serak, "siapa kau pria misterius...? mengisi keheningan planet mati tersebut. Dan Raga yang menyatu dengan liar."
Gairah yang meledak di antara mereka menjadi bahan bakar bagi Matahari ke-18. Raka mencium bibir Vanya dengan intensitas yang mengguncang realitas, menghisap kembali energi kehidupan yang sempat ia sebar. Di puncak kenikmatan yang sangat eksplisit dan sakral itu, sebuah ledakan energi berwarna pelangi menyapu seluruh medan perang.
Ughhh! Raka menggeram rendah, membenamkan wajahnya di leher Vanya.
Ledakan energi rekoneksi itu membuat para Ksatria Tanpa Memori jatuh tersungkur. Kali ini, mereka tidak menyerang lagi.
Wajah-wajah mereka mulai memiliki bentuk, mata, hidung, dan mulut perlahan muncul kembali. Mereka mulai menangis, mengingat siapa diri mereka yang sebenarnya.
"Terima kasih... Sang Penguasa..." bisik salah satu ksatria sebelum tubuhnya memudar menjadi butiran cahaya yang damai.
Raka berdiri, tubuhnya kini bercahaya dengan tujuh warna pelangi. Ia mengangkat Rani ke pundaknya dan menatap Vanya yang kini duduk lemas dengan wajah yang penuh kebingungan.
Vanya menatap tangannya yang masih gemetar karena sisa kenikmatan tadi.
"Aku... aku belum mengingat namamu, tapi aku tahu aku adalah milikmu," bisik Vanya pelan.
"Itu sudah cukup untuk saat ini," jawab Raka.
Sumur Keabadian
Mereka tiba di tepi Sumur Keabadian. Sumur itu adalah sebuah lubang raksasa yang berisi cairan perak yang bercahaya.
Raka melangkah masuk ke dalam cairan itu, membiarkan tubuhnya tenggelam.
Syuuuuuuuuuu...
Di dalam cairan itu, Raka menemukan sebuah kristal kecil berbentuk hati yang berdetak. Itu adalah fragmen memori pertamanya, memori saat ia pertama kali menangis di gubuk Desa Lembah Wening. Begitu Raka menyentuh kristal itu, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
ZINGGGGGGGGG!
Sebuah gelombang energi rekoneksi menyebar dari planet Mosyne ke seluruh galaksi. ingatan itu muncul, Sekar yang sedang tertidur tiba-tiba tersentak.
"Raka...?" bisik Sekar pelan. Namanya mulai muncul kembali di benaknya, meski masih samar seperti mimpi.
Namun, di kedalaman Sumur Keabadian, Raka melihat sesuatu yang lain.
Sebuah bayangan raksasa yang jauh lebih tua dari Sang Pencipta Pertama. Entitas itu disebut " (Sang Pencatat), yang bertugas menghapus paksa memori yang dianggap berbahaya bagi stabilitas alam semesta.
"Kau telah mencuri kembali apa yang sudah kuhapus, Raka," suara Sang Pencatat bergema dari dasar sumur.
"Sekarang, kau harus membayar harganya dengan sisa umurmu."
Raka keluar dari sumur dengan fragmen memori di tangannya, namun rambutnya yang putih kini menjadi semakin panjang dan tubuhnya terasa semakin berat. Ia menyadari bahwa setiap memori yang ia ambil kembali akan memakan "Waktu Hidup"-nya.
"Ayah! Kau terlihat semakin tua!" tangis Rani.
Raka tersenyum, meski wajahnya kini mulai menunjukkan garis-garis keriput. "Demi kalian, Ayah rela menjadi debu."
Raka kini harus melanjutkan perjalanannya mencari fragmen-fragmen lain sebelum umurnya habis, sementara Sang Pencatat mulai mengirimkan algojo-algojo waktu untuk menjemput nyawa Raka."
Setelah meninggalkan Planet Mosyne, Raka, Rani, dan Vanya melesat menembus nebula perak menuju sebuah wilayah terpencil yang disebut "Hutan Waktu".
Tempat ini bukanlah hutan biasa; pepohonannya terbuat dari serat kristal cahaya yang terus bergetar, memancarkan suara detak jam yang tak terhitung jumlahnya.
Tik... tok... tik... tok...
Udara terasa sangat berat dan lengket, seolah-olah setiap langkah yang diambil Raka harus melawan arus sungai yang deras.
Raka terbatuk, wajahnya yang kini terlihat seperti pria berusia enam puluh tahun tampak pucat.
Setiap helai rambut putihnya yang panjang adalah saksi dari harga yang ia bayar di Sumur Keabadian.
"Ayah, lihat di sana!" Rani menunjuk ke arah sebuah pohon raksasa di tengah hutan yang memancarkan cahaya merah muda yang hangat.
"Itu... itu memori Ibu!"
Di dahan tertinggi pohon itu, sebuah kristal berbentuk jantung berdenyut pelan. Itu adalah "Fragmen Cinta Sejati", memori yang akan membuat Sekar mengingat Raka sepenuhnya. Namun, tepat di bawah pohon itu, sebuah lubang hitam kecil terus berputar, menampilkan bayangan Bumi, putra Raka.
Aaaaaaaaakkkkhhh!
Suara jeritan Bumi menggema dari dalam lubang tersebut. Di sana, Bumi terjebak dalam Loop Waktu Kematian.
Raka melihat putranya sedang bertarung melawan monster bayangan, tertusuk pedang, mati, lalu hidup kembali hanya untuk merasakan rasa sakit yang sama berulang-ulang.
Sring! Sring!
Tiba-tiba, dari balik bayangan pohon kristal, muncul sesosok makhluk tinggi kurus dengan jubah perak panjang.
Wajahnya tertutup topeng jam pasir yang pasirnya terus mengalir ke atas. Ia adalah Algojo Waktu, utusan dari Sang Pencatat.
"Pilih, Raka," suara Algojo itu terdengar seperti ribuan suara yang tumpang tindih.
"Ambil memori istrimu dan biarkan putramu membusuk dalam loop abadi, atau selamatkan putramu dan biarkan ingatan istrimu tentangmu terhapus untuk selamanya dari seluruh realitas.
Kau tidak bisa memiliki keduanya dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit."
Raka jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menjangkau keduanya.
"Aku... aku terlalu lemah," rintih Raka.
Vanya mendekati Raka, matanya yang ungu memancarkan kesedihan sekaligus tekad yang bulat. Meskipun ia belum ingat sepenuhnya, melihat Raka menderita membuat sukmanya tercabik.
"Raka, ambil sisa umurku." Ucap Vanya.
Gunakan aku sebagai wadah untuk membangkitkan kembali masa mudamu sejenak."
"Vanya, jangan... kau akan kehilangan wujud fisikmu!" seru Raka.
"Lebih baik aku menjadi roh lagi daripada melihatmu hancur seperti ini," bisik Vanya. Di bawah naungan pepohonan waktu yang terus berdetak".
Vanya menarik Raka ke dalam sebuah gua kristal yang tersembunyi. Di sana, di tengah tekanan waktu yang luar biasa, mereka melakukan penyatuan sukma yang terakhir kalinya.
Kain-kain dilepaskan. Di bawah cahaya ungu hutan waktu, raga mereka yang kontras bertemu.
Raka yang tampak tua dan Vanya yang masih muda dan cantik. Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah kejutan energi rekoneksi meledak."
Bersambung....