NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen / Putri asli/palsu
Popularitas:18.9k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak mendung, seolah merefleksikan suasana di dalam ruang kerja utama Mahendra Group yang biasanya angkuh. Tuan Mahendra duduk di kursi kebesarannya, namun tubuhnya tampak menyusut. Di hadapannya, laporan keuangan menunjukkan tinta merah yang mengerikan. Saham mereka terjun bebas, dan para investor mulai menarik diri setelah kekalahan memalukan di meja tender melawan *A-Shield*.

Siska berdiri di dekat jendela, matanya yang tajam menatap kosong ke jalanan. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah map cokelat berisi draf perjanjian hukum yang telah disusun oleh pengacara paling licik yang mereka miliki.

"Hanya ini satu-satunya jalan, Hendra," suara Siska memecah keheningan. "Adel memegang kuncinya. Teknologi *A-Shield* miliknya adalah satu-satunya hal yang bisa menutupi semua lubang finansial kita. Tanpa itu, bulan depan kita akan menjadi gelandangan."

Tuan Mahendra mendongak, wajahnya pucat. "Tapi dia bukan lagi Adel yang penurut, Siska. Kau lihat sendiri betapa dinginnya dia di kantor Devan kemarin. Dia tidak akan percaya begitu saja."

Siska berbalik, sebuah seringai licik muncul di wajahnya. "Itulah sebabnya kau harus menggunakan senjata yang tidak bisa ia tolak: Kasih Sayang. Beraktinglah seolah kau adalah ayah yang hancur. Berikan dia jabatan **Pewaris Utama**. Dia itu darah dagingmu, Hendra. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia adalah gadis kecil yang haus akan pengakuan darimu. Umpan ini tidak akan meleset."

---

Dua jam kemudian, di kantor pusat *A-Shield* yang modern dan minimalis, Adel sedang memeriksa barisan kode di monitornya ketika sekretarisnya masuk dengan wajah bingung.

"Nona Adel... Tuan Mahendra ada di lobi. Beliau... beliau menolak untuk duduk dan bersikeras menunggu Anda di depan pintu lift. Beliau terlihat sangat kacau."

Adel meletakkan cangkir kopinya perlahan. Matanya berkilat dingin. "Biarkan dia masuk. Tapi pastikan semua rekaman CCTV di ruangan ini aktif."

Pintu ruangan terbuka. Tuan Mahendra melangkah masuk dengan bahu yang lunglai. Tidak ada lagi jas mahal yang rapi; kemejanya sedikit kusut, dan matanya merah seolah kurang tidur. Begitu pintu tertutup, pria yang dulu mengusir Adel dengan hinaan itu tiba-tiba jatuh berlutut di atas lantai.

"Adel... putriku..." suara Tuan Mahendra pecah. Air mata—entah asli atau hasil latihan—mulai mengalir di pipinya yang keriput.

Adel tetap duduk di kursinya, tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap pria itu dengan pandangan sedatar es. "Tuan Mahendra, lobi perusahaan saya bukan tempat untuk pertunjukan drama. Ada apa Anda kemari?"

"Ayah bersalah, Adel! Ayah sangat berdosa!" Hendra merangkak sedikit mendekat, tangannya gemetar mencoba meraih ujung meja Adel. "Tiga tahun ini Ayah tidak bisa tidur nyenyak. Ayah dibutakan oleh bisikan Siska dan Clarissa. Ayah sadar sekarang... kau adalah satu-satunya kebanggaan keluarga Mahendra yang asli."

Adel tertawa kecil, suara tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sedikit pun. "Tiga tahun Ayah tidak bisa tidur? Lucu sekali. Karena tiga tahun lalu, Ayah membiarkan aku tidur di atas marmer dingin panti asuhan tanpa sehelai selimut pun."

"Itulah sebabnya Ayah ingin menebusnya!" Hendra segera mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan meletakkannya di atas meja Adel dengan tangan gemetar. "Ini... ini adalah akta pengukuhan hak waris. Ayah sudah mencabut hak waris Clarissa. Ayah ingin menjadikanmu satu-satunya Pewaris Utama Mahendra Group. Semua aset, saham, dan kekuasaan... akan jatuh ke tanganmu."

Adel melirik map itu. Ia tahu persis ada udang di balik batu. "Dan apa syaratnya? Tidak ada makan siang gratis di dunia bisnis, Ayah."

Tuan Mahendra menyeka air matanya, mencoba memasang wajah tulus. "Hanya satu, Nak. Mari kita gabungkan *A-Shield* ke dalam Mahendra Group. Kita bangun kembali kejayaan keluarga kita bersama. Ayah ingin dunia tahu bahwa putri kandungku adalah penyelamat kerajaan ini. Dengan sistem keamananmu, Mahendra Group akan kembali ke puncak."

Adel mengambil dokumen itu, membolak-baliknya secara perlahan. Di permukaan, dokumen itu tampak sangat menguntungkan. Jabatan CEO utama, hak waris 70% saham, dan kontrol penuh. Namun, bagi mata jenius seperti Adel, ia mencium aroma jebakan di klausul-klausul tambahan yang ditulis dengan bahasa hukum yang ambigu.

*Klausul 14B: Seluruh hak cipta intelektual teknologi keamanan yang digabungkan akan menjadi milik permanen entitas Mahendra Group tanpa bisa ditarik kembali.*

*Klausul 17: Pengalihan hak waris hanya berlaku secara efektif setelah audit integrasi teknologi selesai 100%.*

Adel tersenyum dalam hati. Jadi ini rencananya. Begitu ia menyerahkan "kunci" teknologinya, mereka akan membatalkan pengalihan hak waris itu dengan celah hukum tertentu, dan Adel akan kembali tidak punya apa-apa sementara teknologinya sudah dicuri secara legal.

"Ayah benar-benar ingin aku kembali?" tanya Adel, suaranya sengaja dibuat sedikit melunak, berpura-pura termakan akting ayahnya.

"Lebih dari apa pun, Adel! Ayah merindukanmu di meja makan kita. Ayah merindukan putri kecil Ayah," Hendra berkata dengan nada memelas yang sangat meyakinkan.

Adel berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri di hadapan ayahnya yang masih berlutut. Ia membungkuk, menatap langsung ke dalam mata pria itu. "Jika aku setuju... aku ingin pengumuman ini dilakukan secara besar-besaran. Aku ingin sebuah pesta penyatuan perusahaan di mana Ayah mengumumkan hak warisku di depan seluruh media dan kolega bisnis, termasuk keluarga Dirgantara."

Mata Tuan Mahendra berkilat gembira. "Tentu! Apa pun! Kita akan buat pesta paling megah dalam sejarah Jakarta!"

"Baiklah. Tinggalkan dokumen ini di sini. Aku akan mempelajarinya dengan tim hukumku," ucap Adel sambil mengulurkan tangan, membantu ayahnya berdiri.

Begitu Tuan Mahendra keluar dari ruangan dengan langkah yang jauh lebih ringan, Adel segera mengambil ponselnya. Ia menekan nomor Devan.

"Halo, Devan? Ikan besarnya sudah memakan umpan. Dia baru saja memberikan 'surat waris' palsu kepadaku," ucap Adel, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas.

Di seberang sana, Devan tertawa rendah. *"Bagus. Biarkan dia merasa menang untuk saat ini. Aku sudah menyiapkan notaris dan tim audit bayangan yang akan membalikkan semua klausul itu saat pesta nanti. Ayahmu pikir dia sedang menjebakmu, Adel... dia tidak tahu bahwa dia baru saja menandatangani surat kematian perusahaannya sendiri."*

Adel menatap dokumen di mejanya, lalu meremasnya sedikit. "Dia menangis di depanku, Devan. Dia menggunakan air mata untuk mencuri hasil keringatku. Dia benar-benar tidak pernah menganggapku sebagai anaknya."

*"Itulah sebabnya kita akan mengambil semuanya darinya, Adel. Tanpa sisa,"* suara Devan terdengar protektif. *"Siapkan dirimu untuk pesta itu. Aku akan memastikan kau menjadi ratu yang mengambil alih takhta, sementara mereka hanya akan menjadi sejarah yang memalukan."*

Adel menutup teleponnya. Ia berjalan ke jendela, menatap awan mendung yang mulai pecah oleh sinar matahari. Permainan muslihat ini sudah mencapai babak akhir. Tuan Mahendra dan Siska mengira mereka adalah pemangsa, namun mereka lupa bahwa Adelard adalah pencipta labirin tempat mereka sekarang tersesat.

---

1
evi carolin
WOW ..... BADASSS .... rencana kalian benar benar sempurna 👏👏👏
Aletheia: banyak kejutan lainnya kak👍
total 1 replies
Aletheia
besok ya kak🙏
No Nong
lanjuttt thor
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Aletheia
besok ya kak
Lusisantika
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!