NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kota Pasir Putih

Kota Pasir Putih tidak seperti kota-kota lain yang pernah dikunjungi Xiao Fan.

Bangunan-bangunannya terbuat dari batu kapur putih yang dipotong rapi, memantulkan cahaya bulan sehingga kota ini tampak menyala sendiri di tengah kegelapan padang pasir. Jalanannya lebar dan bersih, diapit deretan toko dengan lentera kertas berwarna-warni. Meski malam sudah turun, kota ini masih hidup—pedagang masih berjualan, pembeli masih tawar-menawar, anak-anak masih berlarian di antara kaki orang dewasa.

Tapi yang paling mencolok adalah suasananya. Tidak ada ketegangan. Tidak ada rasa waspada berlebihan seperti di kota-kota yang dikuasai klan kultivator. Di sini, manusia biasa dan kultivator berbaur tanpa rasa takut. Seorang kultivator berjubah mewah bisa duduk bersebelahan dengan pedagang kain kumuh di kedai teh, tanpa ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

Zona netral, pikir Xiao Fan. Aturan Serikat Pedagang benar-benar ditegakkan di sini.

Pria tua berjubah putih—Penguasa Kota—berjalan di depan, langkahnya tenang namun pasti. Ia belum memperkenalkan diri. Hanya berjalan, memimpin mereka melewati jalan utama, lalu berbelok ke sebuah gang yang lebih sepi.

"Tunggu," kata Liu Ruyan tiba-tiba. "Teman-teman kami. Lao Hei dan rombongannya. Mereka juga menuju kota ini."

Pria tua itu berhenti, menoleh sedikit. "Mereka sudah di dalam. Aku sudah mengatur tempat untuk mereka dan... pasien kecil itu."

Liu Ruyan menghela napas lega. Tapi tetap ada kekhawatiran di matanya.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang lebih besar dari sekitarnya. Pintunya dari kayu jati, diukir dengan motif timbangan—simbol Serikat Pedagang. Seorang penjaga membukakan pintu, membungkuk hormat pada pria tua itu.

"Masuk."

Di dalam, ruangan luas dengan perabotan sederhana tapi elegan. Meja kayu panjang, beberapa kursi, dan rak-rak berisi gulungan dokumen. Di sudut, sebuah tungku kecil dengan teko tanah liat yang mengepulkan uap.

Pria tua itu duduk di kursi utama, memberi isyarat pada Xiao Fan dan Liu Ruyan untuk duduk di seberangnya.

"Aku Shang Bo," katanya akhirnya. "Penguasa Kota Pasir Putih, mewakili Serikat Pedagang Benua Selatan. Dan kalian..." matanya menatap Liu Ruyan, "...adalah Putri Kegelapan yang selama ini dicari para Penyegel."

Liu Ruyan menegang. Xiao Fan meletakkan tangan di atas meja, siap bergerak jika perlu.

Shang Bo mengangkat tangan. "Tenang. Aku bukan musuh. Jika aku ingin menyerahkan kalian, aku bisa melakukannya di luar gerbang tadi."

"Lalu apa maumu?" tanya Xiao Fan.

"Serikat Pedagang tidak memihak dalam konflik antar-faksi kultivator. Kami netral. Selalu begitu." Shang Bo menyesap teh dari cangkir di depannya. "Tapi netral bukan berarti tidak peduli. Kami mengamati. Dan kami tahu para Penyegel telah melampaui batas."

Ia meletakkan cangkirnya. "Mereka menculik anak-anak, menyiksa mereka untuk mengekstrak darah Raja Kegelapan. Mereka meneror desa-desa yang diduga menyembunyikan keturunan Putri Kegelapan. Perdagangan terganggu. Rute aman yang kami jaga selama ribuan tahun mulai berantakan."

"Jadi kau membantu kami karena alasan bisnis?" Xiao Fan menyeringai.

"Bisnis adalah darah Serikat Pedagang. Tapi bukan itu saja." Shang Bo menatap Liu Ruyan. "Ada ramalan kuno yang bahkan kami, para pedagang, menghormatinya. 'Ketika Pedang Hitam bertemu Mata Ungu, keseimbangan yang hilang akan kembali.' Kami tidak tahu apa artinya. Tapi kami tahu bahwa keberadaan kalian berdua... penting."

Liu Ruyan akhirnya bicara. "Adik yang ada di tandu. Apa kau bisa menyembuhkannya?"

Shang Bo menggeleng. "Tabib kami sudah memeriksanya. Kerusakannya terlalu parah. Kami bisa memperlambat, tapi tidak menyembuhkan." Ia berhenti sejenak. "Namun, ada yang bisa."

"Apa?"

"Air Mata Kegelapan. Artefak peninggalan Raja Kegelapan Pertama. Konon, ia bisa menyembuhkan luka apa pun pada keturunannya." Shang Bo menatap Xiao Fan. "Artefak itu berada di tempat yang sama dengan fragmen ketiga pedangmu. Kuil Bayangan di Gurun Tulang. Tiga hari perjalanan dari sini."

Xiao Fan dan Liu Ruyan saling pandang.

"Kau tahu tentang fragmen pedang?" tanya Xiao Fan.

"Serikat Pedagang tahu banyak hal. Itu bisnis kami." Shang Bo tersenyum tipis. "Aku bisa memberikan peta dan perbekalan. Sebagai gantinya... hentikan para Penyegel. Bukan untuk kami. Tapi untuk kota-kota kecil yang mereka hancurkan di sepanjang jalur perdagangan kami."

Xiao Fan merenung sejenak. "Kenapa kau tidak mengirim orangmu sendiri?"

"Karena kami pedagang, bukan prajurit. Kami bisa melindungi kota. Tapi menyerang sarang para Penyegel? Itu di luar kemampuan kami." Shang Bo menatapnya lurus. "Kami butuh seseorang yang sudah menjadi musuh mereka. Seseorang yang tidak akan mundur."

Xiao Fan menatap Liu Ruyan. Gadis itu mengangguk pelan.

"Baik. Kami akan ke Kuil Bayangan. Tapi ada satu masalah." Xiao Fan menunjuk ke luar jendela. "Xue Lang berkemah di luar kota. Begitu kami keluar, dia akan menyerang."

Shang Bo menyeringai—senyum yang menunjukkan bahwa ia sudah tua, licik, dan tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan. "Serikat Pedagang punya banyak jalan rahasia. Xue Lang bisa menunggu di gerbang depan sampai kiamat. Kalian akan keluar lewat jalur bawah tanah."

Ia berdiri. "Istirahatlah malam ini. Besok pagi, aku akan antar kalian ke pintu rahasia itu. Dan..." ia menatap Liu Ruyan, "...anak perempuan itu akan kami jaga di sini. Saat kalian kembali dengan Air Mata Kegelapan, dia akan sembuh."

Malam itu, Xiao Fan dan Liu Ruyan diberi kamar di lantai dua. Liu Ruyan berdiri di jendela, menatap keluar ke arah gerbang kota. Di kejauhan, di balik tembok, ia bisa merasakan kehadiran Xue Lang. Menunggu. Sabar seperti serigala.

"Guru," bisiknya. "Apa kita bisa dapatkan Air Mata Kegelapan tepat waktu?"

Xiao Fan duduk di sudut kamar, mata terpejam. "Kita harus bisa. Anak itu tidak punya banyak waktu."

Gadis itu mengepalkan tangan. "Aku tidak akan membiarkannya mati. Dia adikku. Mungkin bukan darah langsung, tapi dia memanggilku. Dia percaya padaku."

Xiao Fan membuka mata. "Itu beban yang berat untuk dipikul."

"Aku tahu." Liu Ruyan berbalik, menatap gurunya. "Tapi aku sudah memilih jalanku. Aku tidak akan lari lagi."

Xiao Fan menatapnya lama. Lalu ia mengangguk. "Bagus. Sekarang tidur. Besok perjalanan panjang."

Malam berlalu. Di luar kota, Xue Lang duduk di atas batu, menatap gerbang yang tertutup. Matanya merah menyala dalam gelap. Ia tahu buruannya ada di dalam. Ia akan menunggu. Tidak peduli berapa lama.

Tapi ia tidak tahu bahwa di bawah tanah, jauh dari pandangannya, dua sosok bersiap untuk pergi. Menuju gurun yang lebih ganas dari dirinya. Menuju kuil yang menyimpan harapan dan kematian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!