Tak pernah terbayangkan olehku usaha bapakku bangkrut,sehingga semua yang kami miliki habis dalam sekejap. Bapak terpukul membuat beliau terpuruk dalam keputusasaan,sementara ibu sibuk mengejar ambisinya untuk bisa menjadi seperti dulu lagi.
Aku Raya Anggraini...sebagai anak paling besar,mau tidak mau aku harus mengambil alih tanggungjawab bapak untuk mencari nafkah demi masa depan adik-adikku.
Sementara tunanganku yang kujadikan tempat bersandar justru mengkhianatiku.
Sedangkan ibuku selalu saja menyalahkanku atas putusnya pertunanganku itu,lalu mencoba mencarikan jodoh dari kalangan orang-orang kaya demi melancarkan ambisinya.
Aku merasa dijual oleh ibuku,aku merasa seperti barang dagangan yang ditawarkan kepada pria-pria yang memang sudah mapan secara finansial.
Sanggupkah aku menjalani semua ini?
Kuatkah aku menghadapi tekanan-tekanan dari ibuku?
Dan siapakah akhirnya yang akan menjadi jodohku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang sibuk dan sangat melelahkan. Mataku terasa sedikit perih,mungkin karna semalaman aku menangis dengan menahan suara tangisku sampai aku tertidur. Kulihat di cermin,mataku masih terlihat sembam. Ini masih jam 4 pagi,sepertinya belum ada pergerakan di lantai bawah,khususnya di dapur. Aku bergegas turun untuk menuju kamar mandi dan benar saja,semua masih terlelap. Cepat-cepat aku mandi dan segera mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat subuh.
Selesai sholat sayup-sayup aku sudah mendengar bunyi-bunyian alat masak di dapur,itu berarti ibu sudah bangun.
"Pagi bu..." sapaku
"Eh sudah bangun..."
"Ibu mau masak apa buat sarapan pagi ini? Sini biar Raya bantu"
"Biasanya kamu kan menyiram tanaman dan menyapu halaman...pergilah,selesaikan tugasmu" ucap ibu.
"Iya bu..." jawabku sambil meninggalkan ibu di dapur.
Aku mulai membuka gordyn jendela satu persatu,ku lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi...akh cepatnya waktu berlalu. Setelah menyapu setiap ruangan,aku pun membuka pintu ruang tamu untuk menyapu teras dan halaman rumah yang tidak seberapa luas.
Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat ada orang yang tidur di atas kursi bambu yang ada di teras rumahku.
"Mas Bahar?" gumamku sambil mendekati orang itu.
Iya betul...orang itu memang betul Mas Bahar,tapi...dimana motornya? Aku tak melihat ada motor terparkir disana. Pelan ku sentuh tangannya untuk membangunkan Mas Bahar dari tidurnya.
"Mas...mas...mas...bangun..."
Tubuh Mas Bahar menggeliat,pelan matanya mulai terbuka dan semakin terbelalak kaget ketika melihat aku ada di depannya.
"Eh...aku dimana? Kok bisa disini sih..." ucapnya yang langsung bangun dan duduk.
Kedua tangannya mengusap wajahnya.
"Raya bikinin minum dulu..." kataku sambil beranjak pergi,tapi baru juga berjalan beberapa langkah,tangan Mas Bahar sudah dengan cepat menahanku.
Tubuh Mas Bahar melorot ke lantai dan bersujud di depanku dengan kedua tangannya yang memegang kedua tanganku.
"Raya maafin aku...aku khilaf...aku telah menyakiti hatimu...Aku salah Raya...aku minta maaf..." ucapnya sambil terus bersujud dan memegang tanganku.
"Raya...kau masih mencintaiku kan? Maafkan aku Raya...jangan pernah tinggalkan aku. Aku nggak mau putus sama kamu...Kita mulai semua dari awal ya..."
"Sudahlah mas...jangan begini...Raya...Raya nggak suka seperti ini...Raya mohon bangunlah...lepaskan tangan Raya...Duduklah dan kita bicara baik-baik...bicara selayaknya dua orang manusia yang sudah dewasa" ucapku sambil berusaha melepas pegangan tangan Mas Bahar.
Tak berapa lama,tiba-tiba terdengar suara ibu memanggilku dan bersamaan itu,Mas Bahar akhirnya mau melepaskan kedua tanganku dan tanpa di suruh lagi,dia mau duduk di kursi bambu yang ada di teras rumahku.
"Ray...Raya...sudah selesai belum nyapunya?"
"Iya bu..."
Terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Lho...ada nak Bahar...tumben pagi-pagi dah kemari,ada apa kok mruput?" tanya ibu yang terbiasa kepo.
"Nggg....nggak ada apa-apa kok bu...cuma mau pamit,nanti sore saya mau pulang lagi ke Pekalongan,soalnya umi sakit." ucap Mas Bahar,entah beneran entah bohong,aku tak tau.
"Ooo ya sudah...Raya buatin minum buat masmu dong...kok di diemin aja" ucap ibu yang selalu manis jika berhadapan dengan Mas Bahar.
Bagi ibu,Mas Bahar memang menantu idaman,baik,pengertian,perhatian,sholeh dan yang pasti adalah anak orang kaya. Bahkan bagi ibu,sesuatu yang haram di lakukan orang lain,akan menjadi halal jika di lakukan oleh Mas Bahar.
Mungkin di dunia ini ada banyak anak perempuan yang selalu curhat kepada ibunya tentang kekasihnya,tapi aku tidak pernah karna seandainya aku curhat aku yang akan selalu disalahkan dan di minta untuk selalu mengerti serta mengalah dengan Mas Bahar walaupun aku yang berada dalam posisi benar.
"Raya buatin minum dulu mas"
"Enggak usah,aku hanya ingin kamu jawab saja..."
"Jawab apa?"
"Jawab kalau kamu masih mencintaiku,jawab kalau kamu telah memaafkanku dan jawab kalau kamu tidak akan meninggalkanku. Kita jalani semua dari awal Raya...dan pakailah lagi cincin ini" ucapnya sambil menunjukkan cicin tunangan kami yang dia ambil dari saku bajunya.
"Dengar mas...kalau mas tanya apa Raya masih cinta sama mas,jawab Raya masih...kalau mas tanya apa Raya sudah memaafkan mas,jawab Raya sudah...tapi kalau mas minta Raya tidak meninggalkan mas,itu yang sulit. Karna pada kenyataannya bukan Raya yang telah ninggalin mas,tapi mas yang telah ninggalin Raya. Jangan memutar balikkan fakta mas,jangan mas membuat sesuatu yang mudah menjadi sulit dan membuat yang sulit di permudah tapi hanya untuk kepentingan mas sendiri...Egois itu namanya."
"Sudahlah...semua sudah terjadi,toh mas sekarang sudah menemukan wanita yang sesuai dengan keinginan mas. Raya tau,dari dulu Mbak Elsa mencintai mas dan sepertinya mas juga sudah jauh melangkah dengan Mbak Elsa... Binalah hubungan yang baik dengannya,dan kalo boleh Raya menyarankan,segeralah menikah dengannya,jangan hanya berbuat dosa untuk kenikmatan sesaat saja...Raya do'akan semoga mas bahagia"
Air mataku yang ku tahan dari tadi teryata mengalir begitu saja tanpa permisi. Tak terdengar isak tangisku tapi rasa sakit yang ku rasakan membuat air mataku sulit ku kendalikan. Mas Bahar akan menghapus air mata yang jatuh di pipiku tapi dengan cepat ku tepis tangannya yang sudah mendekati pipiku.
"Tak perlu mas hapus air mata Raya,biar mas bisa melihat kekalahan Raya yang selama ini selalu berusaha tegar di hadapan mas. Biar Raya juga bisa merasakan air mata yang mengalir dari kejadian yang teramat sangat menyakitkan" ucapku.
"Raya...maaf..." ucapnya pelan.
"Pergilah mas...Terimakasih telah memberi 4 tahun yang indah untuk Raya. Mungkin ini adalah jalan terbaik dari Alloh untuk kita...Pulanglah dan jangan pernah kembali lagi..."
"Kau mengusirku Raya..."
"Karna kita sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Pulanglah sebelum ibu kembali keluar dan membuat segalanya bertambah rumit...Pergilah mas,Raya mohon..."
"Baiklah,aku pulang Raya...jaga dirimu baik-baik...Sampaikan salam hormatku pada bapak dan ibu"
Aku hanya diam tak menjawab dan akhirnya Mas Bahar pun melangkah meningalkan rumahku dengan langkah gontai,beberapa kali dia menoleh ke arahku tapi aku memalingkan wajahku enggan melihat dia lagi.
"Lho...nak Bahar mana?" tanya ibu.
"Sudah pulang" jawabku acuh.
"Kok tumben nggak pamit...biasanya kan kalo mau pulang pamit" gumam ibu.
Aku diam tak menjawab,aku melangkah menaiki tangga dan masuk ke kamar. Aku nggak mau ibu akan jadi kepo kalau aku ketahuan habis nangis.
Akh,belum juga kegiatanku dimulai,pagi-pagi sudah disibukkan dengan masalah yang nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
g lebay...sesuai realita di masyarakat
buat lanjutannya ya Kaka
kita tunggu lho..
semangat terus thor trus berkarya ya ❤❤❤
aku suka critanya😊
lanjut dong thor😢😢
mampir juga yuk di Mr. mafia or Mr. Psychopath?
Salam semangat
saya nyimak terus