NovelToon NovelToon
Liora Dan Sunyi Yang Berdarah

Liora Dan Sunyi Yang Berdarah

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Mafia / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siska putri

Hampir tiga tahun menjalani rumah tangga bersama Lucas Ethan Harrington sang mafia penguasa berbahaya hingga Liora Grace percaya bahwa cintanya akhirnya berlabuh dengan tenang. Namun keyakinan itu runtuh ketika masa lalu Lucas kembali hadir seorang wanita yang pernah mengisi hatinya sebelum Liora.
namun , siapa sangka jika sebenarnya Liora lah orang yang paling berbahaya dan kejam hingga hampir seluruh dunia begitu memburu dan mengharapkan kematiannya.
apa yang sebenarnya terjadi pada Liora ?
bagaimana jika hal yang sebenarnya adalah Liora telah mengulang waktu ? atau adakah seseorang yang sengaja membangkitkan jiwanya?

yukssss baca kelanjutannya 💃🏻🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

percakapan sederhana

“W-what?!” Lucas masih menatap Liora seolah tidak percaya dengan arah percakapan yang baru saja terjadi.

Liora melipat kedua tangannya di dadanya dan menatapnya tajam. “Kau sendiri yang bilang merasa merugi. Jadi sekarang kita bicara soal hitung-hitungan, bukan?” ujar Liora angkuh.

Lucas menarik napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang jelas bukan kemarahan semata. “Aku tidak pernah bilang menyesal menikahimu.” kilahnya .

“Barusan kau bilang merugi.”

“Itu bukan maksudnya.”

“Lalu apa?” balas Liora cepat.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Udara di ruangan terasa lebih tegang daripada biasanya bukan seperti saat mereka membahas perang atau strategi, tetapi sesuatu yang jauh lebih pribadi.

Lucas akhirnya mengusap wajahnya frustasi seolah mencoba menyusun kalimat yang tidak biasa ia gunakan.

“Aku merugi,” katanya pelan, “karena sejak kau masuk ke hidupku, setiap keputusan yang kuambil tidak pernah lagi hanya tentang kemenangan.” jelas lucas.

Liora mengernyit bingung " maksudmu?"

“Dulu semuanya sederhana. Jika seseorang mengancam wilayahku, aku hancurkan. Jika seseorang mencoba bermain di belakangku, aku hilangkan. Tidak ada keraguan.” jelas Lucas . Ia menatap Liora dalam. “Sekarang aku harus memikirkan apakah setiap langkah yang kuambil akan menyeretmu ke dalam bahaya.”

Liora terdiam.

Nada suara Lucas tidak keras, namun justru itulah yang membuat kalimatnya terasa lebih berat.

“Jadi ya,” lanjut Lucas, “jika bicara soal logika, aku memang ‘merugi’. Karena aku tidak lagi bebas bertindak sesuka hati.” ungkap lucas terus terang .

Liora menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Aku tidak pernah memintamu melindungiku.” balas Liora.

memang benar jika selama ini ia sama sekali tidak meminta Lucas untuk melindunginya. jadi jangan salahkan dirinya jika berbicara seperti itu .

Lucas tersenyum tipis, hampir sinis. “Itu masalahnya. Kau tidak pernah meminta. Tapi aku tetap melakukannya.”

Keheningan jatuh lagi.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ekspresi Liora sedikit melunak, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Kalau begitu jangan lindungi aku,” katanya. “Aku bisa berdiri sendiri.” ujar Liora meski ia mengucapkannya setengah hati .

Lucas menggeleng pelan. “Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku tetap akan melindungimu.”

Liora mendesah pelan, kesal namun juga tidak tahu harus membalas apa.

“Lucas, aku bukan anak kecil yang kau temukan di gang hujan itu lagi.”

“Dan aku bukan pria yang hanya lewat tanpa peduli seperti malam itu,” jawab Lucas cepat.

Kalimat itu membuat Liora diam sejenak. Kenangan yang baru saja muncul di pikirannya terasa semakin nyata.

Ia mengingat malam ketika pertama kali melihat pria itu dingin, tanpa ekspresi, namun entah kenapa menjadi satu-satunya orang yang tidak membuatnya ingin melarikan diri.

“Kadang aku berpikir,” kata Liora pelan, “hidupku berubah terlalu cepat sejak malam itu. Dari seseorang yang tidak punya nama… menjadi istri seorang pemimpin mafia.”

Lucas menatapnya. “Kau ingin hidup yang berbeda?”

Liora tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah jendela, memandang halaman mansion yang mulai gelap karena malam turun perlahan.

“Aku tidak tahu hidup seperti apa yang seharusnya kumiliki,” katanya akhirnya. “Tapi satu hal yang kutahu… aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya bertahan karena tidak punya pilihan.”

Lucas mendekat beberapa langkah, berhenti tidak jauh di belakangnya.

“Sekarang kau punya pilihan.”

Liora menoleh. “Benarkah?”

“Jika kau ingin pergi, aku tidak akan menghentikanmu.”

Liora mengangkat alis sedikit. “Kau serius?”

Lucas tidak langsung menjawab, namun sorot matanya cukup jelas.

“Namun,” lanjutnya pelan, “itu tidak berarti aku akan membiarkan dunia menyentuhmu begitu saja setelah kau pergi.”

Liora terkekeh kecil tanpa humor. “Kau benar-benar tidak bisa melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikmu, ya?”

Lucas menatapnya dalam. “Kau bukan milikku.”

“Lalu?”

“Kau seseorang yang kupilih untuk tetap ada di sisiku.”

Kalimat itu membuat Liora seketika bungkam. Bukan karena romantis, tetapi karena Lucas jarang sekali berbicara dengan cara seperti itu.

“Dulu aku menikahimu karena perintah kakekku,” lanjut Lucas. “Tapi aku mempertahankan pernikahan ini karena pilihanku sendiri.”

Liora menatapnya lama, mencoba memastikan apakah pria itu serius atau hanya sedang mencoba menenangkan situasi.

“Aneh,” katanya pelan.

“Apa?”

“Aku kira kau akan menjawab dengan ancaman atau logika bisnis seperti biasa.”

Lucas mengangkat bahu tipis. “Aku bisa melakukannya kalau itu membuatmu lebih nyaman.”

Liora akhirnya tersenyum kecil, senyum yang jarang muncul tanpa sarkasme.

“Tidak perlu.”

Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam keheningan yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Namun Liora kemudian berkata, “Tetap saja… kalau aku benar-benar berpikir logis, seharusnya aku memang menolak menikahimu dulu.” ungkit Liora lagi .

Lucas menghela napas panjang, jelas mulai kehilangan kesabaran. “Kau mengulang lagi.”

“Karena itu fakta.”

Lucas menatapnya tajam. “Kalau kau menolak saat itu, kemungkinan besar kau tidak akan hidup sampai sekarang.”

“Ancaman?”

“Realita.”

Liora membuka mulut hendak membalas, namun berhenti. Ia tahu Lucas tidak berbohong. Pada faktanya hal apapun bisa terjadi saat itu .

Dunia tempat mereka berada bukan dunia yang memberi kesempatan kedua kepada orang tanpa perlindungan.

Lucas kemudian berkata lebih pelan, “Dan jika kau menolak saat itu… mungkin aku juga tidak akan menjadi seperti sekarang.”

Liora mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Lucas menatapnya beberapa detik sebelum menjawab, “Lebih kejam.”

Kalimat itu singkat, namun cukup untuk membuat Liora memahami maksudnya.

Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana hidup Lucas sebelum dirinya masuk ke mansion ini sebelum ada seseorang yang sesekali berani menentangnya, memarahinya, atau sekadar berbicara tanpa takut.

“Aku tidak pernah mengira akan mengatakan ini,” kata Liora pelan, “tapi mungkin… aku juga tidak benar-benar menyesal.”

Lucas sedikit memiringkan kepala. “Hanya ‘mungkin’?”

“Jangan berharap terlalu banyak.” sinis Liora .

Lucas akhirnya tertawa pendek, sesuatu yang jarang terdengar dari dirinya.

“Setidaknya itu kemajuan.”

Liora memutar bola matanya malas namun sudut bibirnya masih terangkat tipis.

Beberapa detik kemudian Lucas berkata, “Ngomong-ngomong, tentang perhitungan yang kau sebut tadi…”lucas menggantung ucapannya.

Liora menatapnya curiga. “Apa lagi?”

Lucas mendekat satu langkah. “Kalau kita benar-benar menghitung, tiga tahun terakhir aku sudah memberi makanmu, tempat tinggal, pengamanan, dan—”

Liora langsung memukul ringan bahunya. “Lucas!”

Lucas menahan tawa. “Kau yang memulai pembicaraan soal logika.”

“Kalau begitu aku juga akan menghitung,” balas Liora cepat. “Siapa yang mengurus rumah ini saat kau sibuk perang? Siapa yang menenangkan orang-orangmu saat mereka hampir saling bunuh? Dan siapa yang membuatmu tetap punya alasan untuk pulang?”

Lucas terdiam sejenak.

Kali ini bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena jawabannya terlalu jelas.

Ia menatap Liora lebih lama dari biasanya, lalu berkata pelan, “Baiklah. Kalau begitu kita impas.”

“Tentu saja.” Liora mengangkat dagu nya tinggi tinggi seolah ia setara dengan Lucas .

Lucas menggeleng kecil, namun sorot matanya jauh lebih lembut dibanding beberapa menit sebelumnya.

Di luar, suara kendaraan patroli kembali terdengar melewati halaman, mengingatkan bahwa dunia mereka tidak pernah benar-benar tenang.

Namun di dalam ruangan itu, untuk beberapa saat, tidak ada perang, tidak ada perburuan, tidak ada masa lalu yang mengejar.

Hanya dua orang yang meski dimulai dari paksaan, perhitungan, dan kesepakatan dingin perlahan menyadari bahwa hubungan mereka telah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dihitung dengan logika apa pun.

1
Ria Irawati
jadi ternyata sebenarnya Lucas ekperimen
pojok_kulon
semoga ini akhir peperangan
j_ryuka
masih ada suara
j_ryuka
oh kakeknya
Suo
liora ni bukan manusia ya😭
j_ryuka
jangan kiamat dulu plis 🥺
j_ryuka
waduh ini siapa
Ria Irawati
makin grenget aja bacanya..
rajin update ya thor
pojok_kulon
Liora kamu harus lagi
j_ryuka
acak acak lagi dunia ini
Ria Irawati
update terus ya kak..
ceritanya makin seru
only siskaa: 😭😭 akan author usahakan biar Istiqomah upp 😭😭
total 1 replies
pojok_kulon
Liora harus lebih kuat dari kekuatan Helix
Suo
kok bisa, si liora ni homunculus apa gmna
j_ryuka
pilih pilih-pilih
pojok_kulon
so sweet banget Lucas🤭🤭🤭
Ria Irawati
emang belum selesai Arga.. sabar ya🤭 liat kamu panik aku gemes banget🤣
Suo
selamatkan diriiii😭
Panda%Sya🐼
Bisa-bisanya ya dia berkata manis disaat keadaan genting
Panda%Sya🐼
Aku cuma berharap si Arga nggak bising lagi. Sumpah dia itu kayak pajangan aja disana deh😭😭
Panda%Sya🐼
Hoohh siapa ituuuu🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!