Kisah ini mengikuti seorang wanita penjelajah novel yang berpindah dari satu dunia cerita ke dunia lain. mulai dari romansa manis, cinta masa sekolah, hingga dunia CEO yang penuh intrik.
Dalam setiap dunia, ia tidak pernah sendirian. Sebuah sistem hologram setia membimbing, membantu, sekaligus menemaninya menyelesaikan berbagai misi yang telah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di depan gedung Argantara Group terasa begitu panas bagi Luna, namun bukan karena terik matahari, melainkan karena amarah yang membakar dadanya. Ia berdiri mematung, menatap nanar ke arah lobi mewah di mana ia dulu bebas keluar masuk.
Kini, ia adalah orang asing. Identitasnya sebagai "pencuri data" telah tersebar luas di seluruh divisi perusahaan. Bukan hanya dipecat secara tidak hormat, Luna juga mendapati kenyataan pahit bahwa namanya telah masuk dalam daftar hitam industri, membuatnya mustahil untuk melamar pekerjaan di tempat lain.
"Sial!" umpat Luna dengan suara rendah namun tajam.
Giginya bergelatuk. Ia yakin ini adalah perintah Liam, tapi dalang di balik semua kehancurannya pastilah Clarissa. Wanita itu telah merebut posisinya, merebut perhatian Devan, dan kini menghancurkan reputasinya.
Namun, Luna tidak akan menyerah. Seberkas ingatan dari kehidupan sebelumnya melintas di benaknya. Devano. Saudara kembar Devan yang memiliki ambisi gelap untuk merebut apa pun yang dimiliki kakaknya. Jika ia tidak bisa masuk melalui pintu depan Devan, maka ia akan masuk melalui celah yang diciptakan oleh musuh Devan sendiri.
Tanpa membuang waktu, Luna merogoh tasnya dan segera memesan taksi melalui ponselnya. Begitu mobil taksi datang, ia langsung masuk dan menyebutkan sebuah alamat elit: kediaman Devano Xaverius Argantara.
Selama perjalanan, jemari Luna saling bertaut erat. Otaknya bekerja keras menyusun strategi. Ia tahu Devano tidak akan membantunya secara cuma-cuma. Ia harus menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh pria licik itu.
"Devano selalu mengincar apa pun milik Devan," batin Luna dengan tatapan nyalang ke arah jendela. *"Dan sekarang, kelemahan terbesar Devan adalah Clarissa. Jika aku bisa menawarkan cara untuk menyingkirkan wanita itu, Devano pasti akan tertarik."*
Luna menarik napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia menolak percaya bahwa perasaan Devan padanya telah hilang sepenuhnya.
"Tidak, Devan masih mencintaiku. Dia hanya belum mengingat kenangan indah kami di kehidupan sebelumnya. Aku hanya perlu menyingkirkan penghalang bernama Clarissa, lalu aku akan membuat Devan sadar bahwa hanya aku yang layak di sisinya."
Taksi itu terus melaju, membawa Luna menuju rencana besar yang penuh risiko, sementara di rumah sakit, nyawa ibunya tengah berada di ujung tanduk tanpa ia pedulikan lagi.
Tak butuh waktu lama, Luna tiba di depan gerbang megah kediaman Devano. Setelah membayar taksi menggunakan *QRIS* di ponselnya, ia melangkah turun dengan penuh percaya diri.
Luna menghampiri pos penjagaan dan bertanya pada satpam yang berjaga, "Permisi, apakah Tuan Devano ada di dalam?"
Satpam itu tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah menilai apakah wanita ini layak menginjakkan kaki di kediaman majikannya. Luna merasa risih; ia sempat mengira satpam itu berpikiran mesum, namun dugaannya melesat jauh saat satpam itu bertanya dengan nada dingin, "Siapa Anda?"
"Bisakah saya bertemu dengannya?"
"Sudah membuat janji?"
"Belum. Tapi katakan saja, saya Luna Sanjaya. Kekasih dari Tuan Devan Argantara," ucap Luna berbohong demi mendapatkan akses masuk.
Mendengar nama keluarga Argantara disebut, satpam itu akhirnya mengalah. Ia masuk ke area dalam untuk melapor pada bodyguard yang berjaga di pintu utama. Tak lama kemudian, satpam itu kembali dan membuka gerbang. "Silakan masuk."
Luna menghela napas lega. Saat melangkah masuk dengan kawalan bodyguard, ia menyadari bahwa rumah Devano tak kalah mewah dari milik Devan; sama-sama megah, luas, dan memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi.
Luna dibawa menuju ruang kerja Devano. Di sana, pria itu duduk dengan angkuh sambil menikmati cerutu dan segelas *wine* mahal. Auranya sangat dominan, layaknya sosok antagonis yang tak tersentuh. Di ruangan itu, hanya ada Devano, sekretaris pribadinya yang bernama Kenzo, dan kini Luna.
"Menarik... Aku tidak tahu kalau kakakku tersayang memiliki kekasih," ucap Devano remeh. Matanya menilai penampilan Luna yang tampak biasa-biasa saja di matanya—jauh berbeda jika dibandingkan dengan kecantikan Clarissa yang berkelas. Luna merasa tersinggung dengan tatapan meremehkan itu. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengutarakan maksudnya. "Tuan Devano, mari kita bekerja sama. Kita harus menyingkirkan ancaman terbesar kita terlebih dahulu."
Devano mengangkat alisnya, tampak sedikit tertarik. "Siapa yang ingin kau singkirkan?" tanyanya dengan suara dingin yang seolah menembus tulang.
"Clarissa."
TAK!
Gelas kristal di tangan Devano seketika pecah. Cairan merah di dalamnya tumpah mengotori meja kerja yang mahal. Suasana di ruangan itu mendadak mencekam.
"Beraninya kau bicara seperti itu!" bentak Devano.
Luna membeku. Ia tidak mengerti. Dalam ingatannya di kehidupan sebelumnya, Devano adalah orang yang akan membunuh Devan dan pasangannya tanpa ragu di gudang terbengkalai. Seharusnya dia membenci siapa pun yang ada di pihak Devan, bukan? Lalu kenapa dia terlihat semarah ini?
"Ka-karena Cla—"
Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, Devano sudah bangkit dan berdiri tepat di depan Luna. Ia mencengkeram dagu Luna dengan kasar, memaksanya menatap kilatan amarah di matanya.
"Clarissa adalah wanita yang aku sukai," desis Devano tajam.
Damn!
Jantung Luna seolah berhenti berdetak. Kenyataan apa ini? Kenapa semua alur berubah drastis? Apakah ini butterfly effect karena kehadiran Clarissa?
"Maaf... Maafkan aku, aku tidak tahu," ucap Luna terbata-bata, menahan rasa sakit di dagunya. "Jika Anda menyukainya, baik, aku tidak akan mengajak bekerja sama untuk menyingkirkannya. Tapi... Devan hanya bisa menjadi milikku!"
Luna berusaha mempertahankan egonya, meskipun kini ia sadar bahwa ia sedang berdiri di depan singa yang jauh lebih berbahaya dari yang ia duga.
Devano melepaskan cengkeramannya dari dagu Luna dengan kasar, hingga wajah wanita itu terlempar ke samping. Ia kembali duduk di tepi meja kerjanya dengan gestur angkuh. Kenzo tetap berdiri mematung di posisinya, seolah ledakan kemarahan tuannya barusan hanyalah hiburan harian yang biasa.
"Oh, jadi kau menginginkan Devan, dan aku menginginkan Clarissa," gumam Devano sambil mengusap sisa wine di tangannya. "Jadi, apa rencana jeniusmu untuk memisahkan mereka?"
Luna sempat gemetar, namun ia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia harus terlihat berguna jika ingin bertahan di sini. "Itu mudah. Kita buat Devan menjauhi Clarissa dengan cara membuatnya terlihat 'kotor' di mata suaminya sendiri. Devan sangat posesif, dia tidak akan sudi menyentuh barang yang sudah disentuh pria lain."
Devano menyeringai, tampak mulai tertarik. "Jadi, pria yang akan membuatnya 'kotor' itu adalah aku?"
"Iya, Anda menebak dengan benar. Dengan beg—"
"Maaf jika saya harus menyela pembicaraan kalian," potong Kenzo tiba-tiba. Suaranya yang tenang namun dingin membuat Luna menoleh kesal. "Rencana bodoh seperti itu hanya akan membuat Tuan Devano terlihat menjijikkan di hadapan Nyonya Clarissa. Anda ingin memilikinya, Tuan, bukan membuatnya membenci Anda seumur hidup."
Devano menoleh ke arah sekretarisnya, menahan kekesalan karena pembicaraannya dipotong. "Lalu, apa maksudmu, Kenzo? Kau punya ide yang lebih baik?"
"Tuan, saya punya rencana yang lebih elegan," jawab Kenzo tanpa ekspresi.
"Apa itu?"
Kenzo melangkah maju dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Devano. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan itu, hingga perlahan seringai di wajah Devano melebar. Pria itu tertawa puas, tawa yang terdengar sangat jahat dan penuh kemenangan.
"Luar biasa... Aku setuju. Itu jauh lebih bersih daripada rencana murahan wanita ini," ucap Devano sambil melirik Luna dengan tatapan meremehkan.
Luna hanya bisa terdiam dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia merasa terancam, namun selama tujuannya mendapatkan Devan tercapai, ia bersedia menjadi pion dalam permainan gelap dua pria di depannya ini.
Bersambung.....