NovelToon NovelToon
RAHIM UNTUK ISTRINYA

RAHIM UNTUK ISTRINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Ibu Pengganti / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Wiw1tt

Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.

Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.

Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.

Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RIBUT

Di ruang tengah, suasana pagi kini sedikit terasa berbeda, biasanya Ada Arga, Raisa dan Naira disana. Tapi karena Naira masih sakit ia tidak bisa turun terlebih dahulu. Dan sejujurnya baik Arga maupun Raisa belum ada yang menengok ke kamar Naira sama sekali.

Raisa sudah berdiri di dekat pintu sambil terus melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, tasnya ia sampirkan rapi di bahu. Arga mengambil kunci mobil, tapi langkahnya terhenti saat ia kembali melirik ke arah atas, tepatnya ke arah kamar Naira beberapa detik.

"Sebentar," ucap Arga tiba-tiba.

Raisa mengernyit tipis. "Kita sudah hampir terlambat!."

Arga tidak langsung menjawab ia hanya melihat Raisa dengan gerakan seolah harus menunggunya sebentar.

"Aku cek Naira dulu." Jelas Arga.

Ekspresi Raisa masih tenang, tapi matanya mengikuti punggung Arga yang menjauh tanpa ragu.

🌻🌻🌻

Pintu kamar Naira terbuka pelan. Ia masih tertidur di atas ranjang. Posisi tubuhnya sedikit meringkuk, wajahnya masih terlihat pucat, napasnya juga masih panas. Selimut sedikit bergeser, membuat bahunya terbuka.

Arga berdiri di ambang pintu beberapa detik. Diam, Lalu ia masuk. Langkahnya tidak berisik. Ia mendekat ke sisi ranjang, menatap Naira sebentar, seolah memastikan kondisinya. Tangannya terangkat menyentuh kening Naira.

Masih hangat.

Arga menghela napas pelan nya pelan.

"Naira" panggilnya rendah sambil memegang pundak Naira.

Tidak ada respon. Ia kembali menepuk pelan bahu Naira.

"Bangun", Naira mengerjap pelan, alisnya sedikit berkerut. Butuh beberapa detik sampai ia benar-benar membuka mata. Pandangan Naira masih kabur, tapi langsung menangkap sosok Arga di depannya.

"Minum obat dulu," ucap Arga singkat. Nada suaranya tetap datar Seperti biasa. Tapi tangannya sudah lebih dulu meraih gelas air di meja samping.

Ia membantu Naira sedikit bangun,.tidak terlalu lembut, tapi juga tidak kasar. Tangannya menahan punggung Naira agar tidak goyah.

Naira menurut. Ia meminum obat itu dengan tangan sedikit gemetar. Arga tidak melepaskan pegangannya sampai Naira selesai.

"Udah" Ucap Naira pelan sambil menjauh kan gelas itu dari mulutnya.

Arga mengambil kembali gelas itu, lalu tanpa banyak bicara menarik selimut Naira agar sedikit lebih rapi sampai menutupi bahunya yang tadi terbuka.

Gerakan kecil Refleks. Tapi terasa.

Naira menatap Arga lalu tatapannya beralih ke arah jendela yang masih tertutup rapat.

"Masih pagi" ucap Arga lirih memberitahu.

Arga sempat berhenti sepersekian detik. Tangannya kembali naik menyibakkan sedikit rambut Naira yang menempel di keningnya karena keringat.

Singkat, Tapi cukup membuat Naira diam.

"Istirahat, saya suka ada orang yang sakit di rumah ini" tambahnya.

Naira tidak menjawab. Hanya menatap.

Arga berdiri, ekspresinya kembali netral seperti biasa.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan keluar.

🌻🌻🌻

Di luar pintu Raisa berdiri. Ia tidak masuk, Tatapannya jatuh ke arah Arga yang baru saja keluar dari kamar Naira. Arga tidak terkejut dan Wajahnya masih tetap tenang.

Terlalu tenang.

"Lama," ucap Raisa.

Arga mengangguk singkat. "Dia belum minum obat." Ucap Arga sambil mengelus kepala Raisa lembut.

Raisa tersenyum tipis dan menyingkirkan tangan Arga dari kepalanya. "Sampai harus kamu yang bangunin?"

Arga menatapnya. "Iya." Jawaban itu langsung Tanpa ragu. Arga berjalan mendahului Raisa dan mau tidak mau Raisa mengikutinya dari belakang.

"Aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Raisa.

Arga berhenti sebentar. "Boleh"

Raisa tersenyum tipis, Hening satu detik.

"Kamu kenapa akhir-akhir ini beda?"

Arga menghela napas pelan Mendengar pertanyaan Raisa."Kita lagi ada masalah besar Raisa.Masalah Bank, Wajar kalau aku beda."

"Bukan itu," potong Raisa cepat. "Yang aku maksud sikap kamu ke Naira"

Arga langsung mengerutkan keningnya. Ekspresinya berubah sedikit.

"Raisa... "

"Kamu bangunin Naira sendiri," lanjut Raisa, nada suaranya masih terkontrol tapi jelas menekan.

"Kamu pegang Naira diluar perjanjian kita, kamu rapihin selimut Naira, Arga!"

Hal-hal kecil Tapi diucapkan satu per satu seperti bukti.

Arga mengusap wajahnya sebentar. "Itu hal biasa."

"Biasa?" Raisa tertawa kecil. "Sejak kapan kamu jadi orang yang ‘biasa’ ngelakuin hal kayak gitu?" Arga mulai tidak sabar.

"Dia lagi sakit Raisa!"

"Aku juga pernah sakit," balas Raisa cepat. "Tapi kamu nggak pernah sedetail itu, Kamu selalu nyuruh Dokter buat Cek keadaan aku, dan selalu nyuruh Bi ira buat kasih obat ke aku!!"

Sunyi. Kalimat itu menggantung. Arga menatapnya, rahangnya mengeras sedikit.

"Kalo kamu lupa aku juga kasih Apapun yang kamu mau Raisa, ngga usah membesar-besarkan masalah sepele kaya gitu" Ucap Arga tanpa tenaga.

"Aku cuma ngingetin Kamu Arga, ingat perjanjian awal kita, kamu cuma boleh nyentuh Naira untuk menyelesaikan kewajiban kamu supaya kamu cepat dapet keturunan," jawab Raisa sambil tersenyum tipis.

"Tapi nyatanya, kamu mulai membiasakan hal-hal kecil seperti tadi"

Arga menggeleng. "Kamu terlalu jauh."

Raisa mengangkat alis. "Aku?"

"Kamu overthinking," tegas Arga. "Ini cuma hal kecil."

"Justru dari hal kecil kelihatan," potong Raisa lagi. "Kamu mulai Terbiasa sama kehadiran Naira, Arga!"

Arga menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menahan dan mengontrol emosinya yang sebentar lagi akan meluap.

"Raisa, aku lagi banyak pikiran, please kasih ak... "

"Aku juga," balas Raisa. "Tapi aku nggak cari ‘pelarian’ ke orang lain."

Deg.

Arga langsung menatap tajam.

"Kamu nuduh aku? Suka sama Naira?." Ucap Arga dengan sedikit emosi

"Itu fakta Arga, Fakta yang keliatan," jawab Raisa tanpa mundur.

Hening menegang. Arga mulai kehilangan kontrol emosinya sedikit demi sedikit. Ia terus menarik Nafasnya dalam.

"Terus Kamu mau aku gimana?" ucapnya lebih Lembut dari sebelumnya. "Nggak peduli sama orang yang lagi sakit di rumah kita?"

"Aku nggak bilang jangan peduli!" suara Raisa Kini naik. "Tapi kamu terlalu..." Ia berhenti sebentar. Mencari kata yang sesuai dengan apa yang ada di kepala Raisa.

".... terlalu terlibat."

Arga tertawa pendek. Tidak ada lucunya.

"Serius? Kita ribut cuma gara-gara itu?"

Raisa menatapnya. "Iya. Karena itu bukan 'cuma itu'. "

Arga menggeleng lagi, kali ini lebih keras.

"Aku lagi ngurus masalah bank, Raisa," ucapnya, nadanya mulai berat. "Dokumen palsu, risiko hukum, semua bisa berantakan..."

"Dan di tengah itu kamu masih sempat memberi perhatian ke Naira?! MAKSUD AKU DISINI ADA BANYAK PELAYAN ARGA! ADA BI IRA, KENAPA KAMU NGGA NYURUH BI IRA BUAT NGURUS NAIRA KAYA KAMU NYURUH BI IRA BUAT NGURUS AKU?!!!" potong Raisa.

Seketika Kesabaran Arga habis.

"Karena Naira bisa memberikan Aku keturunan!" ucap Arga spontan.

Sunyi.

Kalimat itu Salah arah.

Raisa membeku.

Matanya langsung berubah.

"O-oh..." suaranya pelan. "Ke-Keturunan? Jadi aku ... "

Arga langsung sadar, Seketika muka nya langsung berubah.

"Bukan, aku ngga bermaksud..."

"O-oke, I'm so sorry buat semuanya, aku cuma takut kehilangan kamu Arga, Tapi, ya... Aku emang ngga bisa ngasih kamu keturunan, i'm so sorry Arga," potong Raisa yang langsung berjalan keluar rumah dengan cepat.

"Brengsek" Umpat Arga sambil menjambak rambutnya sendiri. Sumpah Demi apapun ia tidak bermaksud mengatakan itu, ia hanya terbawa emosi.

🌻🌻🌻

MENURUT KALIAN DISINI YANG SALAH SIAPA GUYSSS

1
Atifah Diani
lanjuttttt
Dewi Andika
kyknya author ny kehabisan ide🤭
Wiw1tt: LANJUTTTT
total 1 replies
Atifah Diani
lanjuttttt
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
zoya
kapan lanjut nya thot
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
Atifah Diani
lanjuttttt
Wiw1tt: LANJUT!!!
total 1 replies
anis abdullah
Reno bener gk sih
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
zoya
blm up ka
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
zoya
Lanjut ka
Wiw1tt: gass lanjuttt
total 1 replies
Atifah Diani
lanjuttttt
Wiw1tt: gass lanjuttt
total 1 replies
Dewi Andika
atau jgn2 raisa thor.. oh my god..
Wiw1tt: Mungkin aja si, kan raisa emang udah ngga suka sama Naira tuh 🤔
total 1 replies
anis abdullah
Kq aq curiga Raisa ya dalang dibalik semua ini
Wiw1tt: Tapi bisa jadi yang lain nihhh
total 1 replies
Atifah Diani
lanjut
Dewi Andika
duh.. curiga deh kalau reno tu sebenarnya ada hati ma naira🤭
Dewi Andika
syukaa👍
Wiw1tt: YUK LANJU!! UDAH UP LAGI NIH💪
total 1 replies
Datu Zahra
Raisa 👎
Wiw1tt: YUK LANJU!! UDAH UP LAGI NIH💪
total 1 replies
Datu Zahra
Bikin Naira kuat lah kak othor, lawan itu Raisa.
anis abdullah
Udah jatuh cinta tp egonya lbh tinggi
Wiw1tt: YUK LANJUT GUYSS!! 😍
total 1 replies
Dewi Andika
udah gk sabar liat kelanjutannya smpe naira melahirkan..
Wiw1tt: YUK LANJUT!! 😍
total 1 replies
Datu Zahra
Raisa ambisius, Arga bodoh. Pasangan cocok, memuakkan
Wiw1tt: UDAH UP LAGI NIHH, YUK LANJUT LAGI🤭
total 1 replies
Nada Afifah
jadi naira sakit, begitu juga jadi raisa dan arga, lanjut dong thor, sampai bawa mimpi, jujur aku suka gaya penyampaiannya , semangat 😍😍
Wiw1tt: UDAH UP NIHH, YUK LANJUT LAGII💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!